NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI KABIN MOBIL

Setengah jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Hanya deru mesin mobil yang mengisi ruang di antara Dea dan Vhirel, menciptakan atmosfer kaku yang seolah membekukan udara. Hingga akhirnya, mobil berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua berarsitektur elegan—calon lokasi butik yang sejak lama Dea idamkan, tempat di mana mimpi menjadi seorang desainer mulai tumbuh sejak Ia masih duduk di bangku SMA.

​Vhirel mematikan mesin, namun jemarinya masih bertumpu pada kemudi. Ia menoleh pelan. "Mau Kakak temani dulu ke dalam?"

​"Nggak usah," sambar Dea cepat, bahkan sebelum Vhirel menyelesaikan kalimatnya. Suaranya datar, sedingin es. "Kakak langsung pergi saja. Katanya tadi ada meeting penting?"

​Vhirel tertegun sesaat, lalu mengangguk pelan sambil melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit. Masih ada cukup waktu untuk mengejar jadwal pukul delapan di kantor.

​"Ya uudah kalau gitu," ucap Vhirel lembut, mencoba mencairkan ketegangan. "Kakak jemput kamu siang nanti, ya?"

​"Hmm," Gumam Dea singkat tanpa menoleh sedikit pun.

​Vhirel tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia justru mematung, membiarkan matanya terpaku pada profil samping wajah adiknya. Di bawah cahaya pagi yang masuk melalui kaca jendela, Andrea tampak berbeda. Sorot matanya yang tajam dan bibirnya yang mengerucut karena kesal justru memberikan kesan tegas yang menawan.

​Andrea kalau lagi marah ternyata cantik juga, batin Vhirel. Detik berikutnya, ia mengerjap kaget dengan pikirannya sendiri. Ah, apaan sih! Sadar, Vhirel! Dea adik lo!

​"Ka-kamu kapan turun jadinya?" Tanya Vhirel kikuk.

"Kakak usir aku?!"

Vhirel menghembuskan napasnya gusar, lebih kepada perasaannya sendiri daripada kesalahpahaman adiknya.

"Ribet banget ya jadi cewek,” kata Vhirel dengan nada setengah meninggi. Kali ini, ia justru tak ingin kalah, seolah mempertahankan dirinya sendiri dari perasaan yang tak ia pahami sepenuhnya. Rahangnya mengeras, tatapannya berpaling, memilih bertahan pada kalimat itu daripada mengakui kebingungannya sendiri. ​"Ini... salah. Itu... salah."

Hening sesaat.

Detik berikutnya, terdengar suara isak pelan—tertahan, seolah berusaha disembunyikan, namun tetap berhasil merobek keheningan di antara mereka dan membuat Vhirel menoleh ke arah sang adik.

"Hey, kenapa nangis?!" Kata Vhirel.

"Si-siapa yang nangis?!" Balas Dea mengusap kasar wajahnya. Ia sendiri pun bingung—tak mengerti kenapa air mata itu tiba-tiba jatuh, seolah perasaannya memilih luruh tanpa sempat ia cegah. "Aku gak nangis! cuma kelilipan!"

Vhirel tertawa ringan. "Oh, ya? Cuma karena Kakak agak ninggiin suara sedikit tadi… masa langsung kalah gitu?”

"Enggak!” Tandas Dea cepat, menegakkan bahunya seolah ingin meyakinkan—entah Vhirel atau dirinya sendiri.

Vhirel menoleh lagi, nadanya turun, tak lagi menantang. “Kalau gitu… senyum, dong,” ucapnya pelan. “Kalau kamu beneran nggak kenapa-kenapa.”

"Gak mau. Males!"

Vhirel mendesis, suara gesekan udara di sela giginya itu terdengar antara gemas dan kesal yang tertahan. Ia bergerak maju satu tindak, memperpendek jarak hingga aroma parfumnya yang samar mulai mendominasi udara di sekitar mereka.

​“Males?” Ulang Vhirel dengan nada rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya. “Sejak kapan kamu punya hak buat males di depan Kakak? Balas dong.... masa gitu aja, males?!”

Vhirel kemudian memiringkan kepala, menatap lurus ke dalam matanya, mencari celah di balik pertahanan yang dibangun tembok tinggi bernama 'gengsi' itu. Tangannya terangkat kemudian, jemarinya hampir menyentuh ujung dagu lawan bicaranya, namun ia berhenti tepat satu sentimeter sebelum kulit mereka bertemu.

Deg!

Vhirel mematung. Detik itu juga, udara di sekitarnya terasa seolah membeku, meninggalkan sensasi sesak yang mendadak. ​Niat awalnya sederhana—hanya ingin membujuk adik semata wayangnya, satu-satunya orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Namun, keputusan untuk memperpendek jarak justru menjadi bumerang bagi kewarasannya sendiri.

Di bawah cahaya mentari yang menerobos masuk ke celah jendela kaca mobilnya, wajah adiknya tampak begitu dekat, hingga ia bisa merasakan embusan napas yang beraturan itu menyentuh kulitnya.

​Ada sesuatu yang berdesir tajam di balik dadanya, sebuah perasaan asing yang mencuat tanpa izin. Itu bukan lagi sekadar kasih sayang seorang kakak yang protektif. Ada getaran tak wajar yang membuat jemarinya mendadak kaku dan jantungnya berpacu di luar kendali. Dan, saat itu juga ia menyadari bahwa batas yang ia jaga selama ini mendadak terlihat kabur dan berbahaya.

Tak jauh berbeda Dengan Vhirel, Dea pun demikian. Ia bisa merasakan panas menjalar dari leher hingga ke pipinya. Jarak yang tersisa di antara mereka bukan lagi sekadar ruang kosong, melainkan medan magnet yang menariknya untuk tetap diam, tak mampu berpaling. Aroma maskulin yang khas dari tubuh kakaknya itu kini terasa begitu memabukkan, meluluhkan pertahanan "males" yang tadi ia suarakan dengan angkuh.

Ada kilat ketakutan yang selaras dengan debar jantungnya. Ketakutan karena ia menyadari bahwa debaran ini bukan lagi bentuk manja seorang adik kepada kakaknya. Di balik binar mata Vhirel yang goyah, Dea melihat refleksi dirinya sendiri—seorang gadis yang sedang jatuh ke dalam jurang perasaan yang salah, namun entah mengapa, ia tak ingin diselamatkan.

Drrt... drrt...

Getaran ponsel di konsol tengah memecah keheningan, bunyinya pendek namun cukup untuk menarik perhatian keduanya. Terasa seperti sengatan listrik yang menyentaknya kembali ke realitas. Keduanya mendadak berpaling dan menjauh saking terkejutnya.

Dengan gerakan kaku, Vhirel meraih ponselnya. Layar ponsel yang menyala terang di tangannya itu kini seolah menjadi penyelamat—sebuah alasan konkret untuk memutus kontak mata yang masih terasa panas. "Halo?"

Dea memalingkan wajah ke arah jendela. Di sana, ia bersembunyi di balik bayangannya sendiri, sesekali menarik napas dalam—namun yang justru terasa adalah aroma parfum maskulin Vhirel yang berpadu dengan bau khas interior mobil, hingga membuat dadanya terasa semakin sesak.

"Siapkan saja agendanya untuk hari ini."

Tuuuut.

Vhirel akhirnya memutuskan panggilan. Ada urusan yang menunggu, ada tanggung jawab yang tak bisa ia tunda—namun matanya justru sempat melirik ke arah Dea yang masih memalingkan wajah ke jendela.

Vhirel akhirnya membuka pintu mobil dan turun lebih dulu, membiarkan udara luar masuk menggantikan keheningan yang sempat menyesakkan. Ia berdiri sejenak, menatap bangunan tua di hadapan mereka, lalu menghembuskan napas panjang sebelum berjalan memutari kap mobil. Sesaat kemudian, ia membuka pintu di sisi Dea.

"Hubungi Kakak kalau udah selesai." Kata Vhirel, begitu gadis itu berhasil turun dari mobilnya.

"Iya, Kak." Angguk Dea singkat.

"Kamu yang semangat." Lanjut Vhirel. "Jadi bos itu gak gampang. Penuh komitmen kuat dan tanggungjawab yang besar. Terutama..."

Kalimat Vhirel menggantung di udara.

"Terutama apa?" Desak Dea.

"Kamu jangan lagi marah soal ini..." Ungkap Vhirel dengan suara rendah. "... jadi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain, karena siapa tahu ada konsumen yang datang dengan cerita dan sikapnya masing-masing, karena nggak semuanya sempurna, tapi tetap perlu diterima. Kamu paham kan maksud Kakak apa?"

"Iya, Kak." Angguk Dea.

"Iya udah, kalau gitu Kakak pergi dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Vhirel segera masuk ke dalam mobilnya. Mesin menyala, pedal gas diinjak, dan kendaraan itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis di belakangnya.

Kini, giliran Dea yang mematung di tepi jalan. Pandangannya mengikuti mobil kakaknya hingga benar-benar menghilang dari ujung pandangan. Dadanya masih terasa penuh oleh perasaan yang tak kunjung menemukan bentuk—kesal pada sikap Vhirel yang menyebalkan, sekaligus bingung oleh sisi lain kakaknya yang tiba-tiba muncul dan membuat hatinya sendiri semakin sulit ia pahami.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!