"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Nathan Turun Tangan
Di saat dunia merobek kelopakku satu per satu,
Kau datang bukan dengan perisai, tapi dengan api.
Kau bakar semua fitnah, kau telanjangi kepalsuan,
Dan di hadapan kamera yang haus darah,
Kau genggam tanganku erat,
Lalu kau bisikkan pada dunia:
"Berdiri di sampingku, atau berlutut di hadapannya."
—Mawar yang Tak Lagi Sendiri
---
Ruang konferensi pers di Menara Wijaya pagi itu terasa seperti gelanggang gladiator.
Lampu kamera berkedip liar, puluhan wartawan berebut posisi, mikrofon berjejal di atas meja panjang berlapis beludru merah. Di balik layar, Alana berdiri mematung, menatap pantulan dirinya di cermin rias.
Matanya sembab. Bukan karena menangis—ia sudah lupa caranya menangis setelah tiga tahun terakhir ini. Tapi kurang tidur selama empat malam berturut-turut meninggalkan jejak semburat ungu di bawah kelopak matanya.
"Kau yakin ingin tampil sendirian?" Lucas muncul dari balik pintu, gawai di tangan, keringat di pelipis. "Persiapan sudah delapan puluh persen. Tapi kalau kau mundur sekarang, tidak ada yang akan menyalahkanmu."
Alana menoleh pelan. "Mundur? Kau pikir Viola akan berhenti kalau aku mundur?"
Lucas menghela napas. "Video itu—"
"Adalah versi terburuk dari diriku tiga tahun lalu." Alana memotong, suaranya datar seperti permukaan danau beku. "Sekarang, biar mereka lihat versi terbaiknya."
Ia berdiri. Gaun berwarna merah marun membalut tubuhnya—warna darah, warna keberanian, warna mawar yang mekar setelah badai. Tapi sebelum ia melangkah menuju pintu, Lucas mengangkat tangannya.
"Ada yang harus kau tahu."
Alana menatapnya.
"Nathan Pramana baru saja masuk ke gedung. Dengan dua pengacara top dan satu tim humas dari Singapura."
Dahi Alana mengernyit. "Aku tidak memintanya datang."
"Dia juga tidak peduli kau meminta atau tidak."
---
Di ruang konferensi, hiruk-pikuk wartawan mencapai puncak saat pintu terbuka. Tapi bukan Alana yang masuk.
Nathan Pramana melangkah ke podium dengan setelan gelap yang membuatnya tampak seperti patung marmer yang berjalan. Di belakangnya, dua pria berkacamata dengan map tebal, dan seorang wanita anggun yang segera mengambil alih pengaturan mikrofon.
"Selamat pagi," suara Nathan terdengar jelas, tanpa basa-basi. "Saya Nathan Pramana, CEO Pramana Group. Mulai hari ini dan seterusnya, saya akan menjadi juru bicara resmi untuk Nyonya Alana Wijaya-Hartanto dalam semua urusan publik."
Ruangan meledak.
"Apa maksudnya, Pak Nathan?"
"Ada hubungan apa Anda dengan Nyonya Alana?"
"Apakah ini konflik kepentingan?"
Nathan mengangkat tangan. Ruangan perlahan diam. Ia menunggu beberapa detik—cukup lama untuk membuat semua orang tidak nyaman, cukup singkat untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali.
"Tiga hari lalu, sebuah rekaman video disebarkan ke publik," lanjutnya. "Rekaman yang konon menunjukkan Nyonya Alana dalam kondisi... bagaimana wartakan mengatakannya? 'Tidak stabil secara mental'? 'Perempuan yang hancur'?"
Ia tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.
"Saya ingin bertanya pada kalian semua. Kalau suami kalian berselingkuh dengan sahabat kalian di rumah kalian sendiri selama tiga tahun, lalu mengambil alih perusahaan ayah kalian yang sudah dibangun selama empat dekade, lalu membuat kalian bangkrut dan terisolasi—apa kalian akan tersenyum manis di pesta? Apa kalian akan tetap 'stabil secara mental'?"
Seorang wartawan berani angkat bicara. "Tapi itu tidak menjawab isi rekaman—"
"Itu menjawab KONTEKS rekaman," potong Nathan tajam. "Konteks yang sengaja kalian lupakan karena kalian lebih suka sensasi daripada kebenaran. Rekaman itu menunjukkan seorang wanita di titik terendah hidupnya. Dan kalian menyebarkannya seolah itu adalah kejahatan."
Ia membuka map di depannya. "Saya punya beberapa dokumen. Pertama, laporan psikolog forensik yang menyatakan bahwa kondisi Nyonya Alana dalam rekaman adalah respons wajar terhadap trauma berkepanjangan. Kedua, bukti bahwa rekaman itu diedit dan dipotong dari konteks aslinya—ada bagian yang sengaja dihapus. Dan ketiga..."
Ia mengangkat satu lembar kertas. Semua kamera zoom in.
"Ini adalah pernyataan resmi dari tiga investor internasional yang menyatakan bahwa mereka tetap akan bekerja sama dengan Nyonya Alana. Bukan meskipun ada rekaman itu. Tapi karena mereka melihat rekaman itu sebagai bukti ketahanan mental yang luar biasa."
Ruangan hening.
Dan di tengah keheningan itu, pintu belakang terbuka.
Alana melangkah masuk.
---
Ia berjalan melewati lorong di antara kursi-kursi wartawan yang membeku. Langkahnya mantap, dagunya terangkat, matanya lurus ke depan. Gaun merahnya seperti semburat api di tengah lautan abu-abu.
Nathan menyingkir dari podium saat ia mendekat. Mereka bertukar pandang sejenak—cukup lama untuk kamera menangkapnya, cukup dalam untuk membuat seratus spekulasi lahir.
Alana berdiri di belakang mikrofon.
Ia menatap wartawan satu per satu.
"Namaku Alana Wijaya," ucapnya pelan, tapi jelas. "Bukan Alana Hartanto. Sudah kubuang nama itu sejak tiga bulan lalu. Dan hari ini, kalian mungkin ingin bertanya: apakah aku malu dengan rekaman itu?"
Ia berhenti sejenak.
"Aku tidak malu. Itu aku. Itu aku tiga tahun lalu, saat aku masih percaya bahwa diam adalah emas, bahwa kesabaran akan membuahkan hasil, bahwa jika aku cukup baik, cukup diam, cukup sabar—semua akan membaik."
Suaranya bergetar sedikit. Tapi ia terus maju.
"Itu aku saat aku masih berpura-pura tidak tahu suamiku tidur dengan sahabatku di kamar sebelah. Itu aku saat aku masih menahan diri untuk tidak berteriak setiap malam. Itu aku saat aku masih berpikir bahwa mencintai berarti mengorbankan diri sendiri."
Ia menatap kamera paling depan—tepat ke lensa, tepat ke mata jutaan orang yang menonton.
"Tapi lihat aku sekarang."
Senyum tipis mengukir bibirnya. Bukan senyum palsu yang ia kenakan selama tiga tahun. Tapi senyum nyata, senyum yang lahir dari keyakinan.
"Aku tidak lagi diam. Aku tidak lagi sabar. Aku tidak lagi mengorbankan diriku untuk orang yang tidak pantas. Dan rekaman itu? Biarkan itu jadi pengingat: dari luka itulah aku belajar berduri. Dari kehancuran itulah aku membangun kembali kerajaanku."
Seorang wartawan wanita di baris depan tiba-tiba bertepuk tangan.
Wartawan di sebelahnya ikut.
Dan kemudian, perlahan, ruangan itu bergemuruh dalam tepuk tangan.
---
Nathan mendekat lagi. Ia berdiri di samping Alana, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa mereka adalah satu tim.
"Satu pertanyaan lagi," seru seorang wartawan. "Apa hubungan Anda berdua? Murni bisnis, atau ada yang lebih?"
Nathan menoleh ke Alana. Memberinya ruang untuk menjawab.
Alana menarik napas.
"Pak Nathan Pramana adalah partner bisnis saya. Dan juga..."
Ia berhenti.
Semua orang menahan napas.
"...seseorang yang percaya pada saya bahkan saat saya sendiri tidak percaya pada diri saya. Apakah itu cinta? Mungkin. Tapi yang pasti, itu adalah sesuatu yang lebih berharga dari sekadar label."
Nathan menatapnya. Dan untuk pertama kalinya di depan publik, ia tersenyum—bukan senyum diplomatis, tapi senyum tulus yang membuat wajah dinginnya mencair.
"Cukup?" tanyanya pelan.
"Cukup," jawab Alana.
Mereka berjalan keluar bersama, meninggalkan ruangan yang masih bergemuruh. Lampu kamera terus berkedip di belakang mereka, menangkap punggung tegap Alana dan bahu kokoh Nathan yang berjalan berdampingan.
---
Di dalam mobil, setelah pintu tertutup rapat, Alana baru berani menghela napas panjang.
Tangannya gemetar.
Nathan melihatnya. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan itu, menggenggamnya erat.
"Kau hebat," katanya.
Alana menatapnya. "Kau tahu mereka akan menyebutku wanita yang pakai laki-laki untuk membersihkan namanya? Wanita lemah yang butuh pria kuat?"
"Biarkan mereka bicara." Nathan mengangkat tangannya, mencium punggung jarinya pelan. "Kau dan aku tahu yang sebenarnya. Yang lain? Tidak penting."
Alana menutup mata.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu terakhir, ia merasa aman.
---
Sore harinya, media sosial gempar.
Tagar #MawarBerduri trending nomor satu. Cuplikan konferensi pers diputar berulang kali. Komentar mengalir deras—mayoritas mendukung, sisanya sinis, beberapa mencibir.
Tapi di sebuah apartemen mewah di kawasan selatan, Viola Santoso mematikan televisi dengan remote yang gemetar di tangannya.
Wajahnya pucat.
Di layar ponselnya, notifikasi bermunculan. Pesan dari nomor-nomor yang dulu selalu membalasnya dalam hitungan detik. Sekarang? Semua hijau—dibaca, tapi tidak dijawab.
Ia mencoba menelepon Richard.
Tidak diangkat.
Satu lagi.
Tidak diangkat.
"Kalian berdua..." desisnya, suara serak menahan amarah. "Kalian pikir kalian menang?"
Ia membuka laptop. Membuka folder tersembunyi.
Di dalamnya, puluhan file video dan foto. Bukan hanya tentang Alana.
Tapi tentang Nathan Pramana juga.
Tentang rahasia yang tidak pernah diketahui publik.
Tentang masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam.
"Kalau aku jatuh," bisik Viola, senyum tipis mengembang di wajahnya yang mulai kehilangan pesona, "aku akan bawa kalian berdua bersamaku."
---
Di tempat lain, di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota, Richard Hartanto duduk di lantai dengan botol bir di tangannya.
Televisi di depannya masih menayangkan ulang konferensi pers tadi.
Ia melihat Alana—Alana yang dulu selalu diam, selalu menurut, selalu menunduk.
Sekarang wanita itu berdiri tegak di podium, disanjung, dipuja, dan...
...bersama Nathan Pramana.
Botol bir diremasnya hingga pecah. Darah mengalir dari tangannya, tapi ia tidak merasakan sakit.
"Aku yang pertama," desisnya. "Aku suaminya. Aku yang berhak."
Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ia tahu: Alana sudah bukan miliknya lagi. Bahkan mungkin, tidak pernah benar-benar miliknya.
Dan pengetahuan itu lebih menyakitkan dari serpihan botol yang menusuk telapak tangannya.
---
Malam itu, Alana duduk di balkon penthouse-nya, memandang lampu kota yang berkelap-kelip.
Nathan berdiri di sampingnya, dua gelas wine di tangan.
"Terima kasih," kata Alana, suaranya nyaris tak terdengar.
"Untuk apa?"
"Untuk hari ini. Untuk percaya padaku. Untuk..."
Nathan menggeleng. "Kau tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan ini untuk diriku sendiri juga."
Alana menoleh. "Maksudmu?"
Nathan menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya, ia menceritakan sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Kau tahu kenapa aku sangat memahami lukamu? Karena aku juga pernah di posisimu. Bertahun-tahun lalu. Orang yang kupercaya menghancurkanku. Tapi saat itu, tidak ada yang membelaku. Tidak ada yang percaya padaku."
Alana membelalak.
"Aku selamat," lanjut Nathan. "Tapi lukanya masih ada. Sampai sekarang. Dan saat aku melihatmu berjuang sendirian... aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi. Bukan padamu."
Keheningan mengalir di antara mereka. Tapi bukan keheningan yang canggung—keheningan yang penuh pengertian.
Alana meraih tangannya. Nathan membalas genggamannya.
Di bawah gemerlap lampu kota, dua jiwa yang terluka menemukan ketenangan sejenak.
---
Ponsel Alana bergetar.
Pesan dari Lucas: "Viola bergerak. Dia gali sesuatu tentang Nathan. Masa lalu. Sesuatu yang besar. Kita harus bicara. SEKARANG."
Alana membaca pesan itu. Wajahnya berubah.
Nathan melihat perubahan itu. "Apa?"
Alana mengangkat ponselnya, menunjukkan layar.
Nathan membaca. Otot rahangnya menegang.
"Ada apa?" tanya Alana. "Apa yang Viola cari?"
Nathan diam beberapa saat. Lalu ia menatap Alana dengan mata yang tiba-tiba terlihat lelah—sangat lelah.
"Aku pernah bilang padamu, aku percaya padamu, kan?"
Alana mengangguk.
"Sekarang, aku akan minta kau percaya padaku. Tapi sebelum itu, kau harus tahu sesuatu. Sesuatu yang mungkin mengubah caramu memandangku."
Ia berhenti.
"Aku bukan hanya Nathan Pramana, pengusaha sukses. Aku juga..."
---
Layar ponsel Alana kembali bergetar. Kali ini telepon dari Lucas. Ia mengangkat.
"Alana! Cepat nyalakan TV! Semua stasiun! Mereka—mereka punya—"
Suara Lucas terputus oleh teriakan di latar belakang.
Dan di balkon itu, dari dalam ruangan, terdengar suara televisi yang menyala otomatis—berita dini hari.
Penyiar wanita dengan wajah tegang membacakan berita utama:
"BREAKING NEWS: CEO Pramana Group, Nathan Pramana, diduga terlibat dalam skandal penggelapan dana perusahaan lima tahun lalu. Kasus yang sempat ditutup secara misterius ini kembali mencuat setelah seorang sumber anonim menyerahkan bukti-bukti baru ke kejaksaan tinggi. Nathan Pramana dijadwalkan diperiksa besok pagi. Sementara itu, nama Nyonya Alana Wijaya juga disebut-sebut dalam dokumen tersebut sebagai—"
Nathan mematikan televisi dari jarak jauh melalui ponselnya.
Tapi sudah terlambat.
Alana sudah mendengar.
Sudah melihat.
Dan di matanya, untuk pertama kalinya malam itu, Nathan melihat sesuatu yang selama ini ia takutkan: keraguan.
---
"Nathan," suara Alana bergetar, "apa yang tidak kau katakan padaku?"
Nathan menatapnya. Di bawah sinar bulan, bayang-bayang jatuh di wajahnya, membuatnya tampak seperti patung kuno yang menyimpan seribu rahasia.
"Aku akan jelaskan semuanya. Tapi kau harus percaya—"
"Jangan bilang aku harus percaya padamu!" potong Alana, suaranya meninggi. "Aku baru saja belajar percaya lagi, Nathan! Aku baru saja membuka diri! Dan sekarang—"
"Dan sekarang kau akan menutupnya lagi?" Nathan melangkah maju. "Seperti yang selalu kau lakukan? Setiap kali sesuatu tidak sesuai ekspektasi, kau mundur? Kau lari? Kau kunci dirimu di balik tembok yang kau bangun sendiri?"
Alana terpukul.
"Itu tidak adil."
"Hidup tidak adil," balas Nathan. "Kau tahu itu lebih baik dari siapa pun."
Mereka saling menatap. Udara di antara mereka terasa berat, penuh kata-kata yang tidak terucap.
---
Ponsel Nathan bergetar. Ia melihat layar, lalu menghela napas panjang.
"Itu pengacaraku. Besok pagi aku harus ke kejaksaan."
Alana diam.
"Aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan," kata Nathan pelan. "Tapi ada banyak hal dari masa laluku yang memang... tidak mudah dijelaskan. Dan mungkin, setelah kau tahu semuanya, kau akan pergi. Dan aku tidak akan menyalahkanmu."
Ia berbalik, berjalan menuju pintu.
"Nathan."
Ia berhenti.
"Besok, setelah semua ini selesai," suara Alana terdengar di belakangnya, "kau akan jelaskan semuanya. Dari awal. Tanpa ada yang disembunyikan."
Nathan menoleh. "Dan kau?"
Alana tersenyum tipis—senyum yang mirip dengan senyum Nathan saat konferensi pers tadi: tidak sampai ke mata, tapi tetap nyata.
"Aku akan dengar. Lalu aku akan putuskan apakah aku percaya atau tidak."
Untuk pertama kalinya malam itu, Nathan tersenyum benar-benar.
"Itu lebih dari cukup."
---
Pintu tertutup.
Alana berdiri sendirian di balkon, angin malam membelai wajahnya.
Di bawah, lampu kota masih berkelap-kelip, sama seperti sebelumnya. Tapi sekarang, semuanya terasa berbeda.
Ponselnya bergetar lagi.
Pesan dari Viola: "Aku tahu kau pikir kau menang. Tapi pertandingan baru saja dimulai, sayang. Dan aku punya kartu yang tidak akan pernah bisa kalian kalahkan. Tunggu saja."
Alana membaca pesan itu tiga kali.
Lalu ia menatap langit malam, di mana bintang-bintang berkelap-kelip seolah tidak peduli pada drama di bawahnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu?" bisiknya pada angin. "Dan siapa sebenarnya Nathan Pramana?"
---
Di kejaksaan tinggi, berkas setebal buku telepon diletakkan di meja penyidik.
Di halaman pertama, tercantum nama:
TERLAPOR: NATHAN PRAMANA
KASUS: PENGELAPAN DANA, KORUPSI, DAN PENGHILANGAN BUKTI
Tapi di halaman terakhir, terselip satu nama yang tidak seharusnya ada:
SAKSI KUNCI: ALANA WIJAYA
Dan di sudut ruangan, sesosok bayangan tersenyum dalam gelap.
Viola Santoso baru saja menekan tombol send.
Besok, dunia akan terbakar.
Bersambung...(*❛‿❛)→
Akankah Alana percaya pada Nathan?
Apa rahasia masa lalu yang selama ini disembunyikan?
Dan bagaimana Viola bisa memiliki akses ke dokumen rahasia kejaksaan?
Satu hal yang pasti: mawar ini belum selesai berduri.
Dan badai sesungguhnya, baru akan datang.