NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 H-7 Diklat

Seminggu sebelum diklat, aku mulai bangun dengan badan yang rasanya belum istirahat. Alarm bunyi, aku matiin, terus bengong sebentar sambil ngitung di kepala apa aja yang belum beres. Daftar itu panjang, dan anehnya selalu berhenti di hal-hal kecil yang kalau dilihat orang lain mungkin sepele.

Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Gerbang sekolah masih setengah kebuka. Satpam lagi nyapu, nyapa singkat. Aku balas anggukan.

Di ruang pramuka, lampu belum dinyalain. Aku nyalain satu, duduk, buka tas. Kertas, pulpen, map, semua keluar. Aku susun lagi dari awal. Bukan karena berantakan, tapi karena itu caraku buat nenangin kepala. HP-ku getar.

Grup pramuka. Rara nanya soal jumlah peserta fix. Aku jawab cepat. Dia bales “oke”. Satu kata. Selesai. Aku taruh HP. Lanjut kerja.

Jam pertama lewat. Jam kedua. Anak-anak mulai datang satu-satu. Ada yang langsung ribut, ada yang duduk sambil ngeluh capek. Aku senyum, ngerespon seadanya. Biasanya aku ikut nimbrung. Hari itu aku nggak punya energi buat itu.

“Teh, ini gimana?” tanya Sela sambil nunjuk kertas. Aku berdiri, ngejelasin. Pelan, satu-satu. Dia manggut.

“Oke. Makasih, Teh.”

Aku senyum. “Iya.”

Rara datang agak siang. Rambutnya rapi, tasnya keliatan berat. Dia langsung duduk, buka buku catatan. “Kita cek ulang rundown,” katanya.

“Oke,” jawabku. Kami duduk berseberangan. Aku baca poin-poin yang sudah kubikin. Dia ngangguk, sesekali nyoret. Nggak ada diskusi panjang. Nggak ada bercandaan kecil kayak biasanya.

Aku nunggu dia nanya. Nunggu dia komen. Tapi dia fokus ke catatannya. Aku ngomong duluan. “Bagian logistik, aku sama Faris nanti ke persewaan.”

“Iya,” jawabnya. “Nanti kabarin aku aja hasilnya.” Aku manggut. Kalimatnya biasa. Tapi rasanya beda. Kayak ada jarak yang nggak kelihatan tapi kerasa. Jam istirahat, ruang pramuka makin rame. Ada yang makan, ada yang tidur-tiduran. Aku berdiri di pojok, nempel di papan, ngecek daftar lagi. Tanganku pegal. Faris dateng. “Na, nanti sore bisa ke sekolah lagi?”

“Bisa,” jawabku cepat. “Kenapa?”

“Ada tambahan data. Rara minta dicek.”

Aku ngangguk. “Oke.” Aku nggak nanya kenapa nggak dia sendiri yang ngecek. Aku terbiasa nerima. Kalau ditanya, aku jawab. Kalau diminta, aku kerjain. Siang itu panas. Kipas angin cuma muter udara panas. Kepalaku mulai berat. Aku minum, tapi rasanya nggak ngaruh.

Tara duduk di sebelahku. “Kamu pucet.”

“Kurang tidur,” jawabku.

Dia ngeliat aku lama. “Kamu kenapa, sih?”

Aku mikir sebentar. “Nggak apa-apa.”

Dia nggak maksa. Cuma angguk. Aku bersyukur dia nggak maksa. Aku sendiri juga nggak tau harus jelasin apa. Sore, sekolah agak sepi. Anak-anak kelas bawah pulang duluan. Tinggal kami yang masih mondar-mandir. Aku, Faris, sama dua orang lagi ngecek ulang barang. “Ini jumlahnya pas?” tanya Faris. Aku hitung lagi. “Pas.” Kami diem sebentar. Habis itu lanjut lagi. Capeknya mulai terasa di pundak, di leher. HP-ku bunyi.

Rara: “Gimana?”

Aku jawab: “Sudah dicek. Aman.”

“Oke.” Lagi-lagi, selesai di situ. Aku duduk di bangku panjang, narik napas. Aku ngerasa aneh karena hal kecil begini bisa bikin aku kepikiran. Tapi makin aku coba cuek, makin kepikiran.

Malamnya, di rumah, aku buka laptop. Aku buka lagi file-file. Aku cek lagi jadwal, nama, angka. Aku takut ada yang kelewat. Bukan karena aku perfeksionis, tapi karena aku tau, kalau ada yang salah, aku yang bakal nyalahin diri sendiri duluan. Jam sembilan lewat. Mataku perih. Aku kirim update ke grup kecil panitia inti. “Nanti tolong dicek lagi ya. Kalau ada yang kurang, bilang.”

Rara baca. Balas agak lama. “Iya.” Aku nutup laptop. Rebahan. Badanku capek, tapi kepalaku masih muter. Aku mikir soal minggu lalu. Soal ketawa-ketawa yang sekarang mulai jarang. Soal obrolan yang sekarang jadi pendek. Aku nyari-nyari kesalahan. Aku mikir, mungkin aku ada salah ngomong. Mungkin aku ada lupa sesuatu. Aku bangun, minum, balik lagi ke kasur. Besoknya, H-6, rasanya lebih berat.

Di sekolah, beberapa adik kelas nyapa aku. “Teh, nanti diklatnya seru, kan?”

Aku senyum. “Harusnya.”

“kak Rara keren, ya.”

Aku senyum lagi. “Iya.” Aku nggak nambah apa-apa. Aku nggak koreksi. Aku nggak bilang aku juga ada di situ. Aku ngerasa nggak perlu. Tapi di dalam, ada rasa greget yang nggak jelas. Bukan marah. Lebih ke bingung. Di ruang pramuka, Rara lagi ngomong sama Bu Santi. Aku denger sekilas. “Nanti koordinasinya sama aku aja, Bu.”

Bu Santi ngangguk. “Iya.” Aku berdiri di pintu, nunggu. Mereka selesai. Rara keluar duluan. Aku masuk. “Bu, ini data terbaru,” kataku sambil nyodorin kertas. Bu Santi terima. “Oh iya. Makasih, ya.”

“Iya, Bu.” Suaranya ramah. Tapi nggak ada lanjutan. Nggak ada pembahasan. Aku keluar lagi. Di koridor, aku ketemu Tara. “Gimana?” tanyanya.

“Biasa,” jawabku. Dia ngelirik ke arah ruang guru. “Kamu nggak apa-apa?” Aku tarik napas. “Capek aja.” Itu jawaban paling jujur yang bisa aku keluarin. Sore itu, kami rapat kecil lagi. Rara memimpin. Aku duduk, nyatet. Sesekali aku ngingetin hal teknis. Dia angguk. Lanjut. Beberapa kali, idenya diambil. Disebut. Tapi namaku nggak. Aku nggak langsung ngerasa sakit. Lebih ke kosong. Kayak nonton diri sendiri dari luar. Rapat selesai. Anak-anak bubar. Aku beresin kursi. Ngerapihin meja. Kebiasaan lama. Rara pamit duluan. “Aku pulang dulu, ya.”

“Iya,” jawabku. Aku nunggu. Nggak ada kalimat tambahan. Nggak ada, “Makasih ya,” atau “Capek banget, ya.” Dulu ada. Sekarang nggak. Aku berdiri sendiri di ruangan itu. Lampu tinggal satu. Bau kertas, debu, sama keringat. Aku duduk. Diam.

Aku nggak sedih. Aku juga nggak marah. Aku cuma ngerasa sendirian di tengah banyak orang. H-5 sampai H-4 lewat dengan pola yang sama. Datang pagi, pulang sore. Kerja, jawab, beresin. Ketawa seperlunya. Ngobrol seperlunya. Orang-orang masih nganggep aku ada. Tapi posisiku kayak bayangan. Aku mulai jarang nimbrung di grup. Bukan karena sengaja. Aku cuma capek nunggu balasan pendek. Suatu sore, Tara ngajak pulang bareng. “Kamu kenapa makin diem?” tanyanya di motor. “Lagi mikir,” jawabku.

“Mikir apa?”Aku diem lama. “Nggak tau.” Itu jawaban paling jujur. H-3, aku mulai ngerasa badan nggak enak. Kepala pusing, perut nggak enak. Tapi aku tetep datang. “Aku aja yang berangkat,” kata Faris waktu aku keliatan lemes.

“Enggak,” jawabku. “Aku masih bisa.” Aku nggak mau ninggalin. Bukan karena aku nggak percaya orang lain. Tapi karena aku takut. Takut kalau aku nggak ada, semuanya tetap jalan, dan aku benar-benar nggak dibutuhin. Pikiran itu bikin aku nggak nyaman. Tapi aku nggak bisa ngusirnya. H-2, kami finalisasi. Semua hampir beres. Orang-orang mulai santai. Ada yang ketawa, ada yang bercanda. Aku duduk di pojok, ngecek ulang. Tanganku dingin. Rara lewat. “Na, nanti pagi kamu bisa datang lebih awal?”

“Iya,” jawabku. “Jam berapa?”

“Jam enam.”

“Oke.” Itu aja. Malam sebelum H-1, aku susah tidur. Aku mikir, ini kenapa jadi berat banget. Padahal dari luar, semuanya terlihat baik-baik aja. Proposal tembus. Kegiatan jalan. Orang-orang seneng. Aku bangun, duduk di kasur, ngerasa capek yang nggak kelar-kelar.

Aku sadar satu hal kecil: aku mulai ngerasa asing di tempat yang dulu bikin aku betah. Dan itu bikin aku greget. Karena aku nggak tau salahnya di mana. Besok pagi, aku tetap bangun. Tetap pakai seragam. Tetap berangkat lebih awal. Karena meski capek, bingung, dan greget, aku belum siap buat berhenti.

H-7 sampai H-1 itu bukan cuma soal persiapan diklat. Buat aku, itu awal dari retak kecil yang belum kelihatan jelas. Dan aku masih pura-pura nggak apa-apa.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!