Asiyah Musfiroh adalah fenomena di Pondok Pesantren Ar-Rahma. Kecerdasannya melampaui logika; mengkhatamkan 30 juz Al-Qur'an hanya dalam setahun hingga dijuluki sang "Permata". Namun, cahaya itu justru mengundang takdir yang tak pernah ia pilih.
Ustadz Ahmad Zafran Al Varo, pengajar muda yang karismatik, terpikat pada kedalaman ilmu dan adab Asiyah. Tanpa menunggu lama, di depan wali santri, Zafran mengutarakan khitbahnya. Tanpa diskusi, apalagi restu sang putri, orang tua Asiyah langsung menerima lamaran sang Ustadz.
Bagi semua orang, ini adalah pernikahan impian. Namun bagi Asiyah, ini adalah penjara. Ia terjepit di antara pengabdian kepada orang tua dan kejujuran hatinya yang menolak sosok Zafran yang dianggapnya terlalu "sempurna".
"Bagaimana mungkin aku bisa menjaga wahyu Tuhan di dalam dadaku, jika hatiku dipenuhi kepura-puraan terhadap imam yang tidak pernah kupinta?"
Saat ketaatan berbenturan dengan rasa, mampukah cinta tumbuh di sela-sela ayat suci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khaassyakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIDANG PARA PENJAGA KALAM
Suasana Masjid Jami Ar-Rahma pagi itu terasa lebih mencekam daripada hari biasanya. Karpet hijau tebal yang biasanya menjadi tempat santri bersila kini telah ditata dengan barisan kursi kayu berukir untuk para dewan kiai senior. Cahaya matahari masuk melalui celah ventilasi, membentuk garis-garis terang yang menyoroti debu yang beterbangan. Ini adalah hari Munaqasyah Kubra, ujian lisan terbuka yang akan menentukan apakah Asiyah layak mendapatkan sanad hafalan dan ijazah kelulusan tingkat tinggi.
Asiyah berdiri di ambang pintu masjid, meremas ujung kitab Fathul Qadir yang ia dekap. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ia tidak hafal, melainkan karena ia tahu bahwa ujian ini bukan sekadar soal ilmu. Ini adalah panggung politik bagi mereka yang tidak setuju dengan pengaruhnya di pesantren.
"Kau terlihat pucat. Apakah kau meragukan apa yang sudah kau simpan di dalam dadamu selama ini?" suara Zafran mengejutkannya dari samping.
Asiyah menoleh, menatap suaminya yang tampak gagah dengan jubah hitam dan sorban putih. "Saya tidak ragu pada hafalan saya, Mas. Saya hanya ragu pada niat orang-orang yang duduk di depan sana. Mereka seolah sedang menunggu saya melakukan satu kesalahan kecil untuk menghancurkan segalanya."
Zafran tersenyum, lalu berbisik sangat pelan agar tidak terdengar santri lain. "Ingatlah, mereka hanya menguji lisanmu. Tapi Allah sedang melihat keteguhan hatimu. Majulah, tunjukkan pada mereka bahwa makmumku bukan wanita sembarangan."
Asiyah mengangguk, lalu melangkah menuju kursi panas di tengah ruangan. Di depannya, lima kiai sepuh duduk dengan wajah tanpa ekspresi, termasuk Kiai sepuh Ar-Rahma dan beberapa pengurus yang selama ini bersikap sinis. Zafran duduk di jajaran penguji sebagai sekretaris sidang.
"Bismillah. Sidang terbuka atas nama Asiyah Musfiroh Al Hilwah dimulai. Silakan dimulai dengan pembacaan Surah Al-An'am ayat seratus lima puluh satu beserta tafsirnya," buka Kiai Sepuh dengan suara berat.
Asiyah menarik napas sedalam mungkin. Begitu ia membuka mulut, suara bening dan tartilnya yang sempurna memenuhi ruangan. Tidak ada satu pun huruf yang meleset, tidak ada satu pun tajwid yang cacat. Namun, ketegangan baru dimulai saat sesi tanya jawab dibuka.
"Asiyah, dalam statusmu sebagai istri seorang pengajar, bagaimana kau memandang posisi wanita dalam mengambil keputusan hukum jika itu bertentangan dengan kehendak suaminya?" tanya seorang kiai senior dengan nada menjebak.
Ruangan mendadak senyap. Ini bukan pertanyaan hafalan, ini adalah pertanyaan prinsip yang sangat personal.
"Izin menjawab, Kiai. Islam menjunjung tinggi ketaatan pada suami, namun ketaatan itu tidak bersifat absolut jika menyangkut kebenaran ilmu dan hukum Allah. Dalam kaidah ushul fiqih, tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Khalik. Jika seorang istri memiliki hujah yang lebih kuat berdasarkan nas yang sahih, maka diskusi intelektual adalah jalannya, bukan ketundukan buta," jawab Asiyah dengan nada bicara yang sangat berwibawa.
Kiai tersebut mengernyitkan dahi. "Tapi bukankah itu bisa memicu pembangkangan atau nusyuz dalam rumah tangga?"
"Tentu tidak, Kiai. Selama diskusi itu dilakukan dengan adab. Seorang suami yang berilmu seperti Mas Zafran, maksud saya Ustadz Zafran, pasti akan menghargai hujah yang benar karena kebenaran tidak memiliki jenis kelamin," tegas Asiyah sembari melirik Zafran sekilas.
Zafran menunduk, mencoba menyembunyikan senyum bangganya. Ia melihat beberapa penguji lain mulai berbisik-bisik, terkesan dengan keberanian Asiyah.
"Cukup soal teori. Sekarang, sambung ayat ini," potong Kiai lain, mencoba menjatuhkan fokus Asiyah dengan potongan ayat yang sangat mirip di beberapa surah berbeda.
Asiyah menjawabnya tanpa jeda. Satu jam berlalu, dua jam, hingga jam ketiga. Asiyah terus dibombardir dengan pertanyaan yang semakin sulit, namun ia tetap tegak. Kelelahan mulai tampak di wajahnya, keringat dingin membasahi dahi, namun sorot matanya tetap tajam.
"Pertanyaan terakhir dari saya," ujar Zafran tiba-tiba, membuat seluruh ruangan menoleh padanya.
Asiyah menatap suaminya dengan bingung. Zafran tidak ada dalam jadwal pemberi pertanyaan utama.
"Asiyah, jika suatu saat kau harus memilih antara melanjutkan pendidikanmu ke luar negeri demi umat, atau tinggal di sini demi kenyamanan rumah tangga yang baru kita bangun, mana yang akan kau pilih berdasarkan perspektif Maqashid Syariah?" tanya Zafran.
Pertanyaan itu terasa seperti hantaman di dada Asiyah. Ia tahu Zafran sedang mengujinya di depan umum mengenai komitmen mereka semalam di meja makan.
Asiyah terdiam sejenak, menatap mata Zafran. "Bismillah. Dalam perspektif Hifdzun Aql atau menjaga akal, menuntut ilmu adalah kewajiban yang luas manfaatnya bagi umat. Namun, dalam Hifdzun Nasl atau menjaga keluarga, keharmonisan adalah fondasi. Saya tidak akan memilih salah satu, tapi saya akan mengupayakan keduanya. Karena pernikahan yang berkah adalah yang menjadi wasilah bagi ilmu, bukan menjadi penghalangnya."
Kiai Sepuh Ar-Rahma menggebrak meja pelan, bukan karena marah, tapi karena kagum. "Cukup! Kami sudah mendengar cukup banyak. Silakan keluar sejenak untuk dewan kiai bermusyawarah."
Asiyah berdiri dengan kaki yang gemetar. Begitu sampai di luar masjid, ia hampir terjatuh jika tidak segera memegang tiang penyangga. Zulfa dan beberapa santriwati lain berdiri di kejauhan, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Sepuluh menit kemudian, Zafran keluar dan menghampiri Asiyah. Wajahnya tampak sangat tenang.
"Bagaimana hasilnya, Mas?" tanya Asiyah dengan suara yang hampir habis.
Zafran tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melepas sorban putihnya dan menyampirkannya ke bahu Asiyah. "Kau lulus dengan predikat Mumtaz. Dewan kiai tidak punya alasan lagi untuk meragukanmu. Bahkan mereka yang membencimu pun terpaksa mengakui kecemerlanganmu hari ini."
Asiyah menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan. Rasa syukur yang luar biasa membuncah di dadanya. Segala lelah mengupas bawang, sindiran santri, dan tekanan pengurus senior seolah terbayar lunas.
"Terima kasih sudah memberikan pertanyaan sulit itu tadi. Itu membuat saya benar-benar berpikir tentang masa depan kita," ucap Asiyah sembari menghapus air matanya.
"Aku hanya ingin mereka tahu bahwa istriku tidak hanya menghafal kata, tapi juga menghafal makna. Sekarang, kembalilah ke rumah. Beristirahatlah. Aku yang akan mengurus administrasi kelulusanmu," ujar Zafran sembari menatap Asiyah dengan penuh cinta.
"Tapi Mas, ada satu hal lagi. Ustadzah Salamah menatap saya dengan cara yang sangat aneh saat saya keluar tadi. Seolah-olah kemenangan ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih buruk," bisik Asiyah khawatir.
Zafran menggenggam tangan Asiyah, menguatkan. "Selama kau berada dalam ridha Allah dan ridha suamimu, tidak ada satu pun manusia yang bisa menjatuhkanmu. Biarkan mereka dengan rencananya, kita punya Allah sebagai sebaik-baik pelindung."
Asiyah berjalan pulang ke kediaman mereka dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi ia bahagia, di sisi lain ia merasakan ada awan gelap yang mulai berkumpul di langit Ar-Rahma. Namun, malam itu ia memutuskan untuk tidak memikirkannya. Ia ingin menikmati momen keberhasilannya sebagai seorang santri sekaligus istri yang telah memenangkan martabatnya kembali.
Sesampainya di rumah, Asiyah melihat sebuah kejutan kecil di atas meja. Ada sebuah kitab klasik yang sangat langka berjudul Siyar A’lam an-Nubala, hadiah kelulusan dari Zafran. Di halaman pertamanya tertulis: Untuk istriku, sang pembawa cahaya. Teruslah bersinar, meski malam mencoba menelanmu.
Asiyah memeluk kitab itu erat-pelat. Ia menyadari bahwa perjuangannya di Ar-Rahma belum berakhir, namun sekarang ia tahu bahwa ia tidak akan pernah berjuang sendirian lagi.