Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpindah tubuh
Tut...
Tut...
Tut...
Bunyi alat medis terdengar memenuhi ruang,
Tampak seorang gadis terbaring di sepetak kamar steril. Terdapat satu buah sofa empuk di sudut ruang, sebuah meja kaca serta layar televisi berukuran sedang.
"Ng...?" Gadis itu mengernyit,
Terusik bunyi alat EKG yang ada di samping ranjangnya. (Elektrokardiografi, suatu sinyal yang dihasilkan oleh aktivitas listrik otot jantung, alat ini membantu merekam kondisi jantung pasien dengan memasang elektroda pada badan)
Aroma obat tercium jelas, angin sejuk yang menerpa serta selimut tebal menutupi tubuh, semuanya dapat ia rasakan.
"..." perlahan membuka mata, mendapati langit kamar. Matanya menyipit, beradaptasi dengan cahaya lampu yang lumayan terang.
"Hh?!"
Reta terbelalak, dibuat termenung oleh situasi sekitar. Tubuhnya masih teringat jelas, bagaimana rasa sakit ketika ajal menjemput, bahkan pengkhianatan yang diterima.
"Kok, aku bisa ada di rumah sakit?" bergumam, menoleh ke segala sisi.
Memandang dinding serba putih, serta baju pasien di tubuhnya. Reta melirik heran benda pipih yang menempel di dadanya,
"Tu-tunggu...a--pa aku masih hidup?"
CEKLEK...
Suara pintu terbuka,
Reta menoleh ke arah pintu kaca yang perlahan terbuka, memandangi suster sedang berjalan membawa papan berisi lembar kertas.
Suster itu masih fokus menatap tulisan yang dibawa, guna melakukan cek rutin pada setiap pasien.
Lalu matanya memandang, tersenyum santai menyapa gadis yang telah sadarkan diri.
Namun sedetik kemudian matanya tertegun. "...?"
"Dokter!" pekiknya berlari keluar ruangan, meninggalkan Reta begitu saja.
"Dia kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan wajahku?" Reta merasa cemas,
Reflek kedua tangannya bergerak meraba pipi.
Toel...
Toel...?
Reta justru terkesan menekan kulit kenyal yang terasa lebih halus dan kencang dari sebelumnya,
"Aku butuh cermin!"
Langkah kaki terdengar,
Membuat Reta kembali melirik ke arah pintu. Mendapati pria berjas putih yang datang bersama perawat tadi,
Dokter juga tampak terkejut, bertatap mata dengan pasiennya. Melangkah mendekat ke samping ranjang lalu meraih stetoskop yang mengalung di leher,
"Ini keajaiban. Cepat hubungi keluarganya!" seru Dokter dengan riang,
Suster mengangguk bahagia, berlari meninggalkan ruang. Sedangkan pria itu masih berdiri memberikan usapan lembut di ujung kepala Reta,
"Gadis hebat! Terima kasih ya, sudah berjuang." imbuhnya kemudian menyusul pergi keluar,
Reta terdiam melihat punggung yang telah menghilang dari pandangan. Kembali termenung menelaah perkataan tadi,
"Jadi aku beneran selamat?"
Tak berselang lama, pintu kembali terbuka, kini ada sepasang orang asing yang masuk ke dalam ruangan.
"Lho, apa mereka salah kamar?" batin Reta kebingungan,
Hingga mengenali salah satu pria yang baru saja masuk.
"Leo?"
"Apa mungkin semalam, Lia sempat nelpon Leo buat menolongku." bergumam dalam hati,
Tak mau berpikir keras, Reta pun tersenyum menyapa temannya itu.
Leo tampak terharu, berlari mendekati ranjang dan menunduk memberi pelukan hangat. "Akhirnya kamu sadar,"
"Huhuhu..."
Tangis pecah terdengar, mengalun dari pasangan paruh baya di belakang.
"Lho, apa-apaan ini? Reaksi mereka berlebihan banget!" sontak Reta dalam hati,
Mulai mendorong jauh tubuh pria yang masih memeluknya. Reta merasa aneh dengan sikap Leo, karena baru kali ini pria itu berani memberi pelukan meski telah berteman lama.
Tak sekedar pelukan, tiba-tiba saja Leo melayangkan kecupan.
CUP! Ciuman singkat telah mendarat di pipi Reta,
Sontak Reta mematung kebingungan. Bukannya menyesal, pria tadi malah tersenyum haru bertingkah seperti keluarga.
"Dasar babi! Sembarangan main cium wajah orang!" Reta menggerutu dalam hati,
Kedua lengannya menepuk cepat lalu mendorong jauh. Berusaha mengusir Leo tapi tak berhasil, tenaganya terlalu lemah untuk melawan,
"Anakku, akhirnya kamu sadar." ucap Citra, ibu Leo.
Wanita itu tersenyum dengan mata sembab, berjalan ke samping ranjang.
"Siapa yang anakm---"
"...!" suaranya tertahan,
Dikagetkan oleh suara asing yang keluar dari mulutnya. Terdengar lebih lembut, padahal Reta terkenal memiliki suara melengking.
"Ehem...ehem."
Berulang kali berdehem, mencubit singkat lehernya sembari bersiap berbicara.
"Sebenarny--Hh?!"
Reflek menutup mulut, panik mendengar suara sendiri yang terasa asing.
"Kenapa suaraku berubah?" ucapnya dalam hati,
Bangkit duduk menemukan cermin menggantung di seberang ranjang. Tanpa sengaja Reta menatap dirinya sendiri,
Bagaimana dia meiliki, rambut hitam terurai panjang? Padahal sebelum ini, dia sempat mewarnai rambut yang telah dipotong pendek.
Terlebih lagi sejak kecil Reta tak pernah memiliki rambut panjang melebihi pundak.
Lalu dari mana asalnya rambut hitam itu?
Sedetik kemudian, Reta tersadar jika seluruh wajahnya juga berubah.
Berganti dengan wajah yang tampak lebih muda, mata sebulat almond, hidung mancung, bibir tipis merah muda, serta tahi lalat kecil di atas bibir.
Semua itu tidak dimiliki oleh Reta. Wajahnya yang dulu lebih tegas dan nampak garang,
"Aaa!!!" pekik Reta mengejutkan semua orang,
"K-kenapa,aku jadi sangat cantik dan sangat muda!" benaknya mulai panik,
Bagaimana kalau dokter tadi adalah penipu yang menjadikan wajahnya sebagai bahan percobaan?
"Ada apa sayang? Apa ada yang sakit?" ucap Citra, langsung memapah lembut punggung putrinya.
Wajahnya penuh khawatir, membelai pipi dan menangkup dagu agar gadis itu menoleh padanya.
Reta terdiam tak tahu harus apa. Menerima perlakuan hangat dari wanita yang langsung memeluk begitu erat,
Aroma wangi di tubuh Citra membuatnya tenang.
"Hangatnya...jadi seperti ini rasanya dipeluk dengan tulus?" batin Reta menyembunyikan wajah dalam dekapan,
Reta terdiam sejenak, menelaah semua kejadian aneh yang menerpa diri.
"Kalau dilihat reaksi mereka...jangan-jangan aku pindah ke tubuh adiknya Leo?"
"Kalau gak salah, dari kecil adik Leo punya sakit jantung..."
"Dia pernah bilang, umurnya beda 6 tahun...itu berarti adik Leo umur 20."
"Tapi...kenapa aku bisa masuk ke tubuh adiknya?" pikir Reta mengerutkan alis,
"Dan kalau aku ada disini, dimana adik Leo yang asli? Apa jangan-jangan, dia juga berpindah ke tubuhku?!"
"Mm, Kak!" Reta menoleh, memanggil dengan senyum kaku.
"Ah, sial! Aneh banget," hardiknya dalam hati.
"Iya?" Leo menjawab ramah,
Memasang senyum lebar penuh riang menatap adiknya.
"Kak Re--ta...apa kabar?"
Ucapan singkat itu langsung menghapus senyum di wajah Leo.
Dia menunduk lesu, matanya tampak menahan tangis seakan teringat sesuatu yang amat menyedihkan.
"1 minggu lalu...mobil yang dinaiki Reta mengalami kecelakaan." ucap Leo merendahkan suara,
"Mobil itu masuk ke dalam jurang dan Reta ga bisa diselamatkan,"
"Berarti---aku beneran meninggal? Terus apa yang terjadi dengan adik Leo...apa dia yang asli juga meninggal?" bergumam dalam hati,
"Dari mana kamu tahu nama teman kakak?'
"Ha? Mm, aku..." Reta terbata-bata, " Aku---pernah dengar, kakak curhat soal Kak Reta ke mama."
Dengan asal Reta menjawab agar tak dicurigai. Laki-laki itu malah mengangguk seperti mengiyakan tuduhan tadi,
"Lah! Berarti Leo pernah curhat soal aku ke mamanya?"
"Ah! Bodo amat, pasti cuma curhatan gak penting."