NovelToon NovelToon
CAHAYA DI RAHIM SUNYI

CAHAYA DI RAHIM SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Drama
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.

"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."

Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.

Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.

Haruskah Haniyah kembali...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IJAB DI BALIK DINGINNYA TATAPAN

Malam yang dinanti tiba dengan semilir angin kota yang sejuk. Farel berdiri di depan gerbang rumah Ratih dengan setelan kemeja hitam yang pas di tubuh tegapnya. Tidak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Farel seketika mematung. Pemandangan di depannya benar-benar melumpuhkan logika militernya yang biasanya selalu siaga.

Ratih keluar dengan penampilan yang berbeda 180 derajat. Tidak ada jas kantoran yang kaku atau celana kulot yang maskulin. Malam ini, ia memakai gamis anggun berwarna pastel dengan hijab senada yang terjuntai menutupi dadanya. Riasan wajahnya tipis namun sangat menonjolkan kecantikan alaminya.

"Kenapa, Pak Pahlawan? Apakah aku begitu cantik sehingga Anda terpesona sampai lupa berkedip?" goda Ratih sambil berjalan mendekat dengan senyum kemenangan.

Farel berdehem, mencoba menetralisir rasa gugup yang mendadak menyerang. Namun, bibirnya justru mengkhianati pikirannya. "Iya, Anda sangat cantik, Nona," katanya dengan suara rendah namun jujur.

Ratih tertawa kecil, matanya berbinar mendengar pengakuan itu. "Kalau begitu cepatlah lamar aku, biar aku jadi milikmu sepenuhnya dan tidak ada lagi pria lain yang berani melirikku."

Farel langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia terkejut bukan main mendengar keberanian Ratih yang begitu frontal tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Melihat Farel yang mendadak mati kutu, Ratih segera mengibaskan tangannya.

"Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya bercanda, jangan sampai jantungmu copot. Sekarang sebaiknya kita segera pergi sebelum restorannya tutup," ujar Ratih. Tanpa ragu, ia merangkul lengan kekar Farel dan menariknya menuju mobil jip yang terparkir di depan.

Restoran yang dipilihkan Haris ternyata memiliki suasana yang sangat romantis. Mereka dibawa ke sebuah meja di sudut balkon yang menghadap pemandangan lampu kota. Di atas meja, lilin-lilin kecil menyala di antara kelopak bunga mawar merah yang ditata sangat apik. Farel merasa sangat tidak nyaman dengan suasana itu, ia merasa seperti ikan yang dipaksa keluar dari air.

"Bosmu ternyata jauh lebih mengerti romansa daripada asistennya yang kaku seperti robot ini," sindir Ratih sambil duduk dengan anggun.

"Maaf, saya memang tidak terbiasa dengan tempat seperti ini," jawab Farel pelan.

Pelayan segera menyajikan hidangan pembuka hingga menu utama yang semuanya sudah dipesan oleh Haris. Haris tahu betul bahwa jika menyerahkan urusan menu pada Farel, asistennya itu mungkin hanya akan memesan air mineral dan makanan paling praktis. Sepanjang makan malam, Ratih mencoba mencairkan suasana dengan berbagai cerita, namun Farel tetap lebih banyak diam.

"Farel, tempat ini indah tapi kalau kamu diam saja, rasanya seperti di kuburan. Sepi sekali," keluh Ratih sambil meletakkan sendok penutupnya.

Farel menarik napas panjang. Ia menatap Ratih dengan pandangan yang lebih lembut namun tetap serius. "Maafkan saya, Ratih. Seumur hidup saya, saya tidak pernah tahu cara memperlakukan wanita. Fokus saya selama ini hanya pada tugas, keluarga, dan loyalitas kepada Bos Haris."

Ratih terdiam, ia melihat ada kejujuran yang dalam di mata pria itu.

"Beberapa hari ini saya merasakan hal aneh. Saya tidak pandai berkata-kata manis seperti pria di film, tapi saya selalu ingin memastikan Anda aman dan berada di dekat saya," lanjut Farel, suaranya sedikit bergetar. "Apakah Anda bersedia menikah dengan saya? Pria kaku yang tak bisa menjanjikan hal romantis, tapi berjanji akan melindungi Anda dengan nyawanya?"

Ratih tersenyum lebar. Akhirnya, pria es di depannya luluh juga. "Aku menerima lamaranmu, Farel. Jadi, mana cincinnya?"

Farel tersentak. Ia meraba sakunya dan baru menyadari bahwa ia tidak menyiapkan apa pun karena lamaran ini murni dorongan dari hatinya saat itu juga. "Maaf, saya belum sempat membelinya. Saya akan membawanya besok, sekalian kita ke kantor KUA."

"Apa? Besok? Kamu serius mengajakku menikah besok?" tanya Ratih terkejut.

"Iya, saya tidak mau menunda lagi. Jika Anda setuju, kita langsung mendaftarkan pernikahan besok pagi," jawab Farel dengan ketegasan seorang prajurit.

Ratih sempat ragu, namun ia takut jika ia menolak, Farel akan berubah pikiran kembali menjadi gunung es yang sulit ditembus. "Baiklah, aku setuju. Besok pagi aku tunggu di KUA."

Keesokan paginya di rumah besar keluarga Haris, suasana sarapan mendadak riuh. Haris yang baru saja menyesap kopi panasnya langsung tersedak hingga terbatuk-batuk mendengar laporan dari Farel.

"Apa? Kau mau menikah hari ini di KUA? Tanpa persiapan, tanpa pesta, bahkan tanpa memberi tahu kami lebih awal?" seru Haris sambil menepuk keningnya.

"Iya, Bos. Ratih tidak keberatan. Kami ingin yang simpel saja," jawab Farel dengan wajah tanpa dosa.

Haris menggelengkan kepala melihat asistennya yang benar-benar tidak paham psikologi wanita. "Farel, dengarkan aku. Wanita itu menginginkan pernikahan yang berkesan seumur hidup. Meskipun Ratih bilang tidak keberatan, di dalam hatinya ia pasti ingin momen ini dirayakan."

"Tapi kami sudah sepakat, Bos," bantah Farel.

"Sudahlah, percuma bicara denganmu," Haris akhirnya mengalah. "Pergilah ke KUA sekarang. Urus ijab kabulnya dengan saksi yang sudah aku siapkan. Setelah selesai, kalian langsung kembali ke rumah ini. Aku yang akan menyiapkan segalanya."

Begitu Farel pergi, Haris langsung bergerak cepat. Ia menghubungi tim dekorasi, katering, dan penjahit langganannya. Dalam hitungan beberapa jam saja, halaman belakang rumah keluarga Rosita sudah berubah menjadi taman pesta yang sangat cantik dan elegan. Rosita dan Haniyah pun ikut membantu menata suvenir dan mengundang kolega terdekat yang mengenal Farel dan Ratih.

Di kantor KUA, prosesi ijab kabul berlangsung dengan khidmat namun sangat sederhana. Haris telah mengirimkan dua orang saksi kepercayaannya untuk mendampingi Farel. Dengan satu tarikan napas dan suara yang lantang, Farel mengucapkan janji suci di depan penghulu.

"Saya terima nikahnya Ratih binti almarhum Bapak Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

Ketukan palu penghulu menandakan bahwa mereka kini resmi menjadi suami istri. Ratih mencium tangan Farel, dan untuk pertama kalinya, ia melihat senyum tipis yang tulus terukir di wajah suaminya.

"Sekarang kita ke rumah Bos Haris, ada hal yang harus kita urus di sana," ujar Farel sambil menuntun istrinya menuju mobil.

Sesampainya di rumah besar, Ratih ternganga melihat gerbang yang sudah dihiasi bunga-bunga indah. Di dalam, musik lembut mengalun dan puluhan tamu sudah hadir menyambut mereka dengan sorakan bahagia. Haniyah langsung menghambur memeluk Ratih yang masih memakai baju akad sederhananya.

"Selamat, Ratih! Selamat datang di keluarga besar kami!" seru Haniyah bahagia.

Haris menghampiri Farel dan menepuk bahunya. "Kau lihat? Wanita itu harus dimuliakan dengan pesta yang layak. Sekarang, bawa istrimu ganti baju, aku sudah menyiapkan gaun pengantin di dalam."

Ratih menatap Farel dengan mata berkaca-kaca, lalu menatap Haris dan Haniyah. "Terima kasih banyak. Aku tidak menyangka akan seindah ini."

Malam itu, pesta kecil namun mewah berlangsung dengan hangat. Farel yang biasanya berdiri di pojokan sebagai pelindung, kini menjadi raja sehari di pelaminan. Meskipun ia tetap terlihat kaku saat bersalaman dengan tamu, genggaman tangannya pada Ratih tidak pernah lepas, seolah ia sedang menggenggam seluruh dunia yang baru saja ia temukan.

1
Rara Ardani
ayo farel buka hatimu, jangan kaku gitu, kamu akan mendapatkan kebahagiaan an nanti 🤭🤭
Uba Muhammad Al-varo
kamu tidak nyaman karena pengabaian Ratih kan karena kamu ada rasa ke Ratih
Pujiastuti
sudah mulai ada rasa dihati Farel buat Ratih, tapi Farel belum menyadarinya
lanjut kak semangat 💪💪
Naufal hanifah
cerita nya bagus /Good//Good//Good/
Mira Hastati
bagus
Uba Muhammad Al-varo
farel....... akhirnya terpesona oleh Ratih karena kesederhanaannya dan merakyat 😊😊😊
Eliermswati
ayo farel kejar g ad loh cwe sbaik Ratih, yg g gengsi mkn pinggir jln itu justru lbh nikmat dan enk perut kenyang hti pun senang smga hani cpt smbh y dan bail2 sj
🤣🤣
Eliermswati
smga slmt y thor kshn Hani dah nunggu lm🙏🙏
Perempuan
Keingat dulu pernah keguguran anak pertama. membaca kondisi Niyah, perutku juga rasanya kram
Pujiastuti
semoga calon anak mereka aman dan ngak kenapa²

lanjut kak tetap semangat 💪💪
Salsa Billa
thor halunya kayak didunia sihir, masak pembangunan vila 3hr hampir siap huni,,, segaknya 6bln masih masuk akal 😁😁😁😁 tp ok lah namanya dunia halu
Uba Muhammad Al-varo
bagaimana pun keadaannya semoga Haniyah dan Ratih baik' saja dan secepatnya diketemukan dan diselamatkan oleh Haris, farel dan pasukannya
Eliermswati
ayo haris cptan tlng istrinya jngn smpe terjadi sesuatu sm mreka, thor jngn bkn hani keguguran y kshn kn dah nunggu lm 🙏🙏🙏
Wardah Saiful
romantis,sweet,ada.gemes2nya dikit,top deh❤️💪
Uba Muhammad Al-varo
tinggal sekarang Haniyah menjalani kehamilan ini dengan bahagia dan senang, semua masalahnya sudah terselesaikan dengan baik, hubungan antara ibu mertuanya sudah lebih baik lagi
Uba Muhammad Al-varo
Haris........ terus lindungi Niyah, jangan sampai Niyah terluka lagi
Perempuan
surat dokter yg menyatakan Haris mandul harus disiasati juga. Emaknya bisa saja marah krn merasa dibohongi. Emang lebih baik di desa aja dulu Ris., udaranya juga bagus utk kesehatan si Bumil tercinta
Enny Suhartini
semangat
Uba Muhammad Al-varo
ternyata Miss komunikasi yang terjadi antara Haniyah dan Haris, ayolah Niyah kalau ada sesuatu yang terjadi bicarakan dengan baik' dan terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman /Kiss/
Ayesaalmira
akhirnya masalahnya selesai,jika d bicarakan dgn baik2..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!