Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IJAB DI TENGAH KEDUKAAN..
Setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan selama hampir satu hari penuh, jip hitam milik Haris akhirnya memasuki pelataran vila di desa. Nabila, yang sudah menunggu dengan perasaan campur aduk antara rindu dan amarah, langsung berlari keluar begitu melihat debu jalanan tersingkap. Ia sudah menyiapkan rentetan omelan untuk pria yang menghilang tanpa kabar itu. Namun, langkahnya terhenti saat pintu mobil terbuka.
Bima turun dengan kemeja hitam yang tampak kusut. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang kentara. Tidak ada senyum tegas yang biasanya menyambut Nabila. Pria itu tampak seperti raga yang kehilangan nyawa.
"Bima? Kenapa kamu baru pulang? Dan kenapa pakaianmu..." kalimat Nabila menggantung di udara.
Haris segera turun dan menarik lengan adiknya menjauh sedikit. "Nabila, tahan dulu amarahmu. Bima baru saja kehilangan ibunya. Dia menghabiskan waktu selama dua Minggu ini karena ibunya sakit parah dan Dia harus berada di samping Ibunya sampai beliau meninggal. Ditambah lagi disana tidak ada sinyal, makanya dia tidak bisa mengabari Kamu."
Seketika, rasa marah dalam dada Nabila luruh, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit. Ia menatap Bima dengan pandangan penuh penyesalan. Nabila ingin sekali menghambur ke pelukan pria itu, ingin memberikan sandaran bagi duka yang begitu berat. Namun, saat ia melangkah maju, Ratih yang berdiri di ambang pintu vila segera berdehem.
"Nabila, tahan dirimu. Kalian belum mahram. Tidak baik berpelukan begitu di depan banyak orang meskipun dalam keadaan duka," tegur Ratih dengan nada yang lebih lembut dari biasanya.
Nabila terpaku, ia merasa bingung dan tidak berdaya melihat calon suaminya, tampak begitu rapuh. Haris yang memahami situasi ini segera memberikan solusi yang sudah ia pikirkan sepanjang jalan.
"Nabila, Bima, dengarkan Kakak. Tidak baik kalian terus begini tanpa ikatan resmi, apalagi Bima sekarang sendirian. Mama juga sudah setuju. Kita akan ke KUA hari ini juga untuk akad nikah. Sederhana saja, yang penting sah secara agama dan negara. Resepsi dan pesta bisa kita adakan setelah doa empat puluh hari ibunda Bima selesai," ujar Haris tegas.
Bima mendongak, menatap Haris dengan mata yang berkaca-kaca. "Tapi Pak Haris, saya sedang tidak pantas merayakan apa pun saat ini."
"Ini bukan perayaan, Bima. Ini adalah bentuk perlindungan dan pemenuhan amanah ibumu. Beliau ingin melihatmu menikah, bukan?" Rosita menimpali sambil mengusap bahu Bima dengan sayang.
Mendengar perkataan calon mertuanya akhirnya Bima, pun terdiam sejenak, karena yang di katakan Rosita benar adanya, "Baiklah, saya setuju," katanya dengan wajah pasrah.
Sore itu juga, rombongan berangkat ke kantor KUA kecamatan desa. Haris sudah menghubungi penghulu untuk mempercepat proses karena kondisi fisik Bima yang tampak sangat mengkhawatirkan. Bima terlihat memegang bahu kanannya sesekali, wajahnya semakin memutih menahan nyeri yang luar biasa akibat memaksakan diri mengurus pemakaman di Jawa dengan luka yang belum sembuh total.
Nabila tampil sangat anggun meskipun dalam persiapan yang mendadak. Ia mengenakan kebaya putih milik Haniyah yang sedikit dimodifikasi, dengan hijab senada dan selendang yang menjuntai cantik. Namun, fokusnya hanya tertuju pada pria yang duduk di depan penghulu itu.
Haris duduk sebagai wali, menggantikan mendiang ayah mereka. Suasana di dalam kantor KUA begitu khidmat dan sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan embusan angin dari jendela. Beberapa rekan polisi dari polsek tempat Nabila bertugas hadir sebagai saksi, memastikan bahwa komandan mereka mendapatkan pelindung yang sah secara hukum kantor.
"Saudara Bima Batara bin almarhum Ahmad, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik kandung saya, Nabila binti almarhum Ibrahim, dengan mas kawin Cincin logam mulia sepuluh gram dibayar tunai!" ucap Haris dengan suara lantang namun bergetar.
Bima menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Nabila binti almarhum Ibrahim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?" tanya penghulu.
"Sah!" seru para saksi serentak.
Suara Bima terdengar sangat parau saat mengucapkan kalimat tersebut. Setetes air mata jatuh di pipinya. Ia teringat mendiang ibunya yang sangat ingin berada di posisi itu sekarang. Haris pun tak kuasa menahan haru, ia tahu betapa besar beban yang sedang dipikul pria di depannya ini.
"Silakan, pengantin wanita mencium tangan suaminya," instruksi penghulu setelah doa selesai dipanjatkan.
Nabila mendekat dan meraih tangan kanan Bima. Saat kulit mereka bersentuhan, Nabila tersentak. Rasa panas yang tidak wajar menjalar ke telapak tangannya. Ia menatap wajah Bima yang kini sudah berkeringat dingin meskipun ruangan itu sejuk.
"Bima, tanganmu panas sekali. Kak Haris, Bima demam!" teriak Nabila spontan.
Haris langsung berdiri dan menghampiri mereka. "Bima, kau baik-baik saja?"
Bima berusaha tersenyum tipis, mencoba tetap tegar demi Nabila. Ia mengangkat tangan kirinya yang gemetar dan meletakkannya di atas kepala Nabila yang masih tertunduk menyalaminya. Ia membisikkan doa keberkahan untuk istrinya dengan suara yang nyaris hilang. Namun, tepat setelah kata 'amin' terucap, pandangan Bima mendadak gelap.
Tubuh tegap itu lunglai ke depan. Beruntung, dua rekan polisi yang berdiri di belakang Bima dengan sigap menahan tubuh pria itu sebelum menghantam lantai.
"Bima! Bima, bangun!" Nabila panik, ia memangku kepala suaminya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Cepat bawa ke mobil! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga!" perintah Haris dengan nada otoriter.
Rombongan pengantin itu berubah menjadi suasana darurat. Bima segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dokter yang memeriksa menyatakan bahwa Bima mengalami kelelahan ekstrem dan infeksi pada bekas luka tembaknya yang kembali terbuka karena aktivitas fisik yang dipaksakan selama di Jawa.
Di depan ruang perawatan, Nabila duduk diam dengan kebaya putihnya yang kini terkena noda keringat Bima. Ia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia baru saja menjadi seorang istri, namun tugas pertamanya bukan untuk melayani, melainkan untuk menjaga suaminya yang tengah berjuang melawan rasa sakit dan duka yang mendalam.
"Sabar, Nabila. Bima itu kuat. Dia hanya butuh istirahat," hibur Haniyah sambil mengusap punggung adik iparnya itu.
Nabila mengangguk, ia menggenggam tangannya sendiri. "Aku tidak akan membiarkannya berjuang sendirian lagi, Kak Hani. Sekarang dia punya aku."
Di dalam ruangan, Bima terbaring dengan infus di tangan. Meskipun masih pingsan, wajahnya tampak lebih tenang. Di luar, Haris dan Farel terus berjaga, memastikan bahwa keamanan dan kedamaian keluarga mereka tetap terjaga, meskipun badai baru saja menerjang di hari yang seharusnya paling bahagia bagi Nabila dan Bima.