"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA NYAWA DAN SANGKAR YANG MENYEMPIT
Dua bulan telah berlalu sejak malam perjamuan leluhur yang mengerikan itu. Bagi Alya, waktu terasa seperti lumpur hisap—semakin ia berjuang untuk bergerak, semakin dalam ia tenggelam dalam rutinitas kediaman Zhang yang menyesakkan. Namun, pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Langit Jakarta yang biasanya abu-abu tampak sedikit lebih cerah, namun di dalam perut Alya, badai kecil sedang mengamuk.
Ia berlutut di depan kloset kamar mandinya, memuntahkan cairan bening yang terasa asam. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ini bukan lagi sekadar mual karena ramuan pahit Mei Lin. Ini adalah rasa mual yang datang dari pusat eksistensinya.
Pintu kamar mandi terbuka. Mei Lin masuk tanpa ekspresi, membawa alat uji kehamilan di tangannya seolah itu adalah sebuah senjata.
"Lakukan sekarang," perintah Mei Lin datar.
Alya menerima benda plastik kecil itu dengan tangan gemetar. Sepuluh menit kemudian, dua garis merah muncul dengan sangat jelas. Dunianya seakan berhenti berputar. Di satu sisi, ada rasa syukur yang aneh; ia telah memenuhi tugasnya, yang berarti keselamatan ibunya terjamin. Namun di sisi lain, ia menyadari bahwa mulai detik ini, tubuhnya bukan lagi miliknya. Ia hanyalah sebuah wadah.
Kabar itu menyebar di kediaman Zhang lebih cepat daripada api. Sore harinya, Dr. Anindya Prasetyo, dokter kandungan pribadi keluarga Zhang, tiba dengan alat ultrasonografi portabel. Liang, Mei Hua, dan Madam Liu Xian berkumpul di kamar Alya—sebuah pemandangan langka yang membuat ruangan itu terasa sangat sempit.
Alya berbaring di tempat tidur, perutnya diolesi gel dingin. Saat layar monitor menampilkan gambar hitam putih yang kabur, dokter itu mengernyitkan dahi, lalu tersenyum lebar.
"Luar biasa," bisik Dr. Anindya. "Tuan Liang, Nyonya... ini bukan hanya satu. Ada dua kantung kehamilan. Selamat, Anda akan memiliki anak kembar."
Ruangan itu mendadak hening. Alya menahan napas. Ia menoleh ke arah Liang, berharap melihat secercah kebahagiaan di wajah pria itu. Namun, wajah Liang tetap kaku, meski matanya sedikit melebar. Ia menatap layar itu seolah sedang melihat laporan laba-rugi yang melonjak drastis.
"Dua?" Madam Liu Xian adalah yang pertama bersuara. Suaranya bergetar karena kegembiraan yang rakus. "Dua pewaris laki-laki? Ini adalah berkah leluhur!"
Namun, reaksi yang paling menarik adalah Lin Mei Hua. Wanita itu duduk di kursi roda di samping tempat tidur, tangannya menggenggam kain seprai dengan sangat kencang hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya yang pucat tampak semakin pasi. Ia segera memasang topeng malaikatnya, mengusap tangan Alya dengan gerakan yang terasa seperti cengkeraman.
"Oh, Alya sayang... terima kasih. Terima kasih banyak," bisik Mei Hua. Suaranya terdengar tulus, namun Alya bisa merasakan getaran kebencian yang merambat dari jemari Mei Hua. "Dua anak... ini lebih dari yang kita bayangkan."
Malam itu, Liang masuk ke kamar Alya secara pribadi. Bukan untuk urusan kontrak, tapi hanya berdiri di dekat jendela, menatap ke arah taman yang gelap.
"Kau memberikan lebih dari yang kuminta, Alya," ucap Liang tanpa menoleh. "Ibumu... operasinya sudah dijadwalkan minggu depan di Singapura. Aku sudah mengirimkan dana tambahan untuk adikmu."
"Terima kasih, Mas Liang," jawab Alya pelan. "Apakah... apakah Mas senang?"
Liang terdiam cukup lama. Ia berbalik, menatap Alya yang tampak begitu rapuh di bawah selimut besar. "Senang bukan kata yang tepat untuk dunia kita, Alya. Tapi aku menghargai kerja kerasmu."
Liang melangkah keluar, meninggalkan Alya dalam kesunyian yang mencekam. Kalimat "menghargai kerja kerasmu" terasa seperti belati yang menusuk hati Alya. Ia bukan seorang istri yang sedang mengandung, ia hanya karyawan berprestasi yang baru saja mencapai target tahunan.
Sejak pengumuman kehamilan kembar itu, pengawasan terhadap Alya meningkat sepuluh kali lipat. Ia dilarang meninggalkan kamar tanpa pengawalan dua orang pelayan. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah "Vitamin Tambahan" yang diberikan oleh Mei Hua secara pribadi setiap malam.
"Ini khusus untuk ibu yang mengandung anak kembar, Alya. Agar sarafmu tetap tenang dan bayi-bayi itu tidak stres," ucap Mei Hua sambil menyodorkan sebuah kapsul berwarna perak dan segelas air putih.
Alya meminumnya. Tak lama setelah meminum kapsul itu, ia mulai merasa dunianya menjadi kabur. Ia merasa ringan, hampir seperti melayang, namun pikirannya menjadi tumpul. Ia sering lupa apa yang ia lakukan satu jam sebelumnya. Ia menjadi lebih penurut, lebih pasif, dan hampir tidak pernah bertanya lagi.
Di sisi lain, di pusat kontrol digitalnya, Han Zhihao mulai menyadari perubahan pada data biometrik Alya.
"Detak jantungnya melambat di jam-jam tertentu... frekuensi gelombang otaknya menunjukkan tanda-tanda sedasi ringan," gumam Zhihao sambil menatap grafik di layarnya. Matanya yang merah karena kurang tidur berkilat marah. "Mei Hua, apa yang kau berikan padanya?"
Zhihao tahu ia tidak bisa langsung mengintervensi tanpa membongkar akses ilegalnya. Ia kemudian menghubungi Wei Jun.
"Jun, kau harus masuk ke rumah itu besok. Cari tahu apa yang mereka berikan pada Alya. Dia mulai tampak seperti boneka hidup," ucap Zhihao melalui telepon yang dienkripsi.
"Aku sudah merencanakannya, Zhi. Liang mengadakan syukuran kecil besok malam. Aku akan memastikan aku mendapatkan sampel apa pun yang dia konsumsi," jawab Wei Jun dengan suara yang rendah dan penuh tekad.
Acara syukuran kehamilan diadakan secara sangat tertutup. Hanya Empat Pilar Naga Timur yang hadir. Di ruang makan yang megah, Alya didudukkan di samping Liang, sebuah posisi yang secara teknis adalah kehormatan, namun secara praktis adalah panggung untuk memamerkan "wadah" yang berhasil.
Mei Hua duduk di seberang mereka, tampak semakin "lemah", sesekali terbatuk kecil ke dalam sapu tangan sutranya. Chen Yiren berdiri di belakang Liang, bertindak sebagai asisten sekaligus pengawas.
Luo Cheng adalah orang pertama yang memecah ketegangan. Ia menaruh segelas susu murni di depan Alya, menyingkirkan gelas anggur non-alkohol yang disediakan pelayan. "Minum ini. Kau butuh kalsium, bukan minuman gula yang hanya bagus untuk difoto."
Alya mendongak, matanya tampak sayu dan sedikit tidak fokus. "Terima kasih... Tuan Luo."
Wei Jun memperhatikan tatapan Alya yang kosong. Saat semua orang sibuk berdiskusi tentang proyek pelayaran baru Liang, Wei Jun sengaja menjatuhkan garpunya di dekat kaki Alya. Saat ia membungkuk untuk mengambilnya, ia melihat botol obat kecil yang terjatuh dari saku daster ibu hamil Alya—botol yang tadi diberikan Mei Hua untuk diminum nanti malam.
Dengan kecepatan tangan yang terlatih, Wei Jun menukar botol itu dengan botol kosong yang serupa yang ia bawa di sakunya.
"Kau tampak lelah, Alya. Apakah Liang tidak memberimu waktu tidur yang cukup?" tanya Wei Jun saat kembali ke posisinya, suaranya mengandung provokasi yang sengaja ditujukan pada Liang.
Liang mendengus. "Dia dirawat dengan sangat baik di sini, Jun. Dokter memantaunya 24 jam."
"Dirawat atau dikurung?" potong Luo Cheng kasar. "Lihat matanya. Dia bahkan hampir tidak tahu kita sedang membicarakannya."
Liang menatap Alya, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Alya biasanya akan menunduk malu atau menatapnya dengan penuh harap, tapi sekarang, Alya hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan hampa. Ada rasa tidak nyaman yang merayap di dada Liang, namun suara Mei Hua segera memecah pemikirannya.
"Dia hanya lelah karena membawa dua nyawa, Tuan-tuan. Jangan terlalu berlebihan. Bukankah begitu, Alya?" tanya Mei Hua manis.
"Iya... saya hanya lelah, Kak," jawab Alya, kata-katanya terdengar seperti robot yang diprogram.
Malam itu, di laboratorium pribadi milik Han Zhihao, Wei Jun menyerahkan botol obat yang ia curi. Zhihao segera melakukan analisis kimia cepat.
Hasilnya keluar dalam waktu satu jam.
"Diazepam dosis rendah dicampur dengan ekstrak tumbuhan yang menumpulkan kognisi," ucap Zhihao, wajahnya mengeras. "Ini bukan vitamin. Ini adalah alat untuk melakukan gaslighting biologis. Mereka ingin Alya tetap berada dalam kondisi linglung agar dia tidak bisa melawan atau melarikan diri saat mereka mengambil bayinya nanti."
Wei Jun memukul meja kerja Zhihao. "Mei Hua... wanita itu benar-benar iblis. Dia menggunakan penyakitnya untuk mendapatkan simpati Liang, sementara dia menghancurkan gadis malang itu."
"Liang harus tahu," ucap Luo Cheng yang baru saja sampai di sana.
"Liang tidak akan percaya," balas Zhihao dingin. "Bagi Liang, Mei Hua adalah cinta sejatinya yang sekarat. Jika kita menuduh Mei Hua tanpa bukti yang tak terbantahkan, Liang akan menutup akses kita ke rumah itu selamanya. Kita harus menunggu."
"Menunggu apa? Sampai Alya kehilangan kewarasannya?" teriak Luo Cheng.
"Menunggu sampai Alya sendiri yang menyadarinya," bisik Wei Jun. "Kita harus membantunya tanpa terlihat. Zhihao, ganti obat itu dengan suplemen saraf yang asli. Aku akan mencari cara agar Alya meminumnya tanpa diketahui Mei Lin."
Sementara itu, di kediaman Zhang, Alya sedang berbaring di tempat tidurnya. Efek obat tadi sore mulai memudar, dan untuk sesaat, pikirannya kembali jernih. Ia merasakan tendangan kecil di perutnya—dua kehidupan yang sedang berjuang untuk tumbuh.
Ia teringat kata-kata Madam Liu Xian tentang mengambil bayinya. Ia teringat tatapan tajam Chen Yiren. Dan ia teringat wajah Mei Hua saat memberikan vitamin itu.
Air mata jatuh di bantal sutranya. "Ibu... Alya ingin pulang..." bisiknya dalam gelap.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki di koridor. Ia segera memejamkan mata, berpura-pura tidur. Pintu kamarnya terbuka sedikit. Ia bisa mencium aroma parfum melati yang menyengat.
Itu Mei Hua.
Wanita itu mendekati tempat tidur Alya, menatap perut Alya yang mulai membuncit dengan tatapan yang penuh dengan kegilaan dan kebencian. Mei Hua mengulurkan tangannya, hampir menyentuh perut Alya, namun ia menariknya kembali seolah-olah kulit Alya adalah bara api.
"Tumbuhlah dengan cepat, anak-anakku," bisik Mei Hua. "Ibumu yang sebenarnya sudah menunggu. Dan untukmu, Alya... nikmatilah sisa waktumu sebagai manusia. Karena setelah ini, kau hanya akan menjadi hantu di rumah ini."
Alya menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut Mei Hua bisa mendengarnya. Di bawah selimut, ia mengepalkan tangannya. Kepolosannya belum hilang sepenuhnya, tapi insting seorang ibu mulai bangkit. Ia mulai menyadari bahwa ia bukan berada di dalam sebuah keluarga, tapi di dalam sarang laba-laba yang siap menghisap darahnya sampai kering.