NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada yang berubah

Sampai di lobi, Lara berhenti sejenak sebelum melangkah lebih jauh. Ia merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat.

Paman, aku sudah sampai.

Tak butuh waktu lama, balasan dari Arka masuk.

Langsung saja ke ruangan.

Lara menghela napas ringan, lalu melangkah tanpa ragu. Langkahnya santai, nyaris terlalu santai untuk ukuran seseorang yang memasuki gedung perusahaan besar dengan reputasi tinggi. Ia melewati resepsionis tanpa berhenti, menyusuri koridor yang sudah sangat dikenalnya meski sudah lama tak menginjakkan kaki di sini.

Seperti kemarin, kehadiran Lara kembali mencuri perhatian.

Beberapa karyawan yang berpapasan tak bisa menyembunyikan tatapan penasaran. Gadis muda dengan pakaian sederhana, wajah cantik alami, dan aura yang terlalu “bebas” untuk berada di lantai direktur. Dan yang paling mencolok—ia melangkah lurus menuju ruangan Arka, tanpa janji, tanpa izin tertulis, tanpa prosedur.

Hal itu tentu saja tidak luput dari mata Sintia.

Sekretaris pribadi Arka itu menghentikan langkahnya di depan meja kerjanya, rahangnya mengeras saat melihat Lara sudah berdiri di depan pintu ruangan direktur. Bahkan Sintia sendiri harus selalu punya alasan profesional yang jelas untuk masuk, sementara gadis itu—datang dan pergi sesukanya.

Tangannya mengepal pelan.

Siapa sebenarnya dia?

Kenapa pak Direktur membiarkannya sebebas ini?

Ketukan Lara di pintu hanya dua kali, ringan dan singkat. Tak menunggu jawaban lebih lama, ia membuka pintu dan masuk.

Arka yang sedang berdiri di dekat jendela refleks menoleh. Tatapan dinginnya yang biasa ia pakai di ruang kerja seketika melunak begitu melihat Lara.

“Kamu sudah sampai,” ucapnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

“Iya,” jawab Lara sambil tersenyum kecil. “Aku nggak ganggu, kan?”

Arka menggeleng. “Tidak. Masuk saja.”

Pintu tertutup kembali, menyisakan Sintia di luar dengan perasaan yang makin sulit ia definisikan—antara kesal, penasaran, dan cemburu yang tak ingin ia akui.

Di dalam ruangan, Lara menatap sekeliling dengan mata berbinar samar. Meski baru kemarin berada di sini, tetap saja ada rasa nostalgia yang menyelinap. Ruangan ini terasa asing sekaligus akrab.

Ia melangkah mendekat dan mengeluarkan map dari tasnya.

“Paman, aku ke sini mau minta data,” ucap Lara to the point. “Formulir kampusku belum bisa dikumpulin karena data wali belum lengkap.”

Arka mengangguk, menerima map itu. Ia membacanya sekilas, lalu duduk di kursinya. “Data apa saja?”

“Nama lengkap, alamat, nomor identitas, pekerjaan,” jawab Lara sambil menghitung di jari. Lalu ia berhenti sejenak, tersenyum kecut. “Aku sadar… aku hampir nggak tahu apa-apa soal Paman”

Ucapan itu membuat Arka terdiam sepersekian detik.

Ia menatap Lara—bukan sebagai direktur, bukan sebagai wali, tapi sebagai seseorang yang tiba-tiba disadarkan betapa jauhnya ia selama ini berdiri dalam hidup gadis itu.

“Kamu bisa tanya,” ucap Arka akhirnya, suaranya lebih pelan. “Seharusnya sejak dulu.”

Lara tertegun. Ada sesuatu dalam nada suara itu—seperti epenyesalan yang tidak diucapkan.

Arka mulai mengisi formulir dengan rapi. Sementara itu, Lara duduk di sofa, memperhatikannya diam-diam. Cara Arka bekerja masih sama seperti dalam ingatannya—tenang, fokus, dan nyaris tak terganggu apa pun. Bedanya, kini Lara tidak lagi hanya menunggu dari jauh.

Beberapa menit kemudian, Arka menyerahkan kembali map itu.

“Sudah.”

Lara menerima map itu dengan dua tangan. “Makasih, Paman.”

Setelah formulir itu selesai diisi dan kembali ke tangan Lara, Arka tidak langsung kembali ke laptopnya. Ia menutup map itu, lalu bersandar ke kursinya.

“Kamu nggak perlu langsung pulang,” ucapnya datar tapi jelas. “Tunggu saja di sini. Kita pulang bareng.”

Lara mengangguk tanpa berpikir panjang. “Oh… iya.”

Sebagai basa-basi—atau mungkin lebih tepatnya kebiasaan lama yang mulai ia hidupkan kembali—Arka mengambil botol minumnya dan berkata santai,

“Tadi perjalanan kamu ke sini lancar? Biasanya jam segini macet.”

Dalam benaknya, Arka sudah membayangkan Lara duduk manis di kursi belakang taksi online, wajah lelah, mata menerawang menatap lampu merah yang tak kunjung hijau.

“Lancar kok,” jawab Lara ringan. “Aku nggak jadi naik taksi.”

Arka mengangguk sambil minum.

“Diantar Axel. Naik motor.”

Uhukk.

Arka tersedak.

Ia menahan batuknya dengan menutup mulut, meneguk air sekali lagi agar napasnya kembali normal. Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung sebelum ia akhirnya menoleh ke Lara.

“Siapa?” tanyanya, memastikan. Nadanya terdengar biasa—terlalu biasa.

“Axel,” ulang Lara polos. “Temanku di kampus.”

Arka mengangguk pelan. Wajahnya netral, tapi rahangnya sedikit mengeras. Ia menaruh botol minum ke meja dengan gerakan yang sedikit lebih keras dari biasanya.

“Oh,” katanya singkat.

Hening kembali menyelimuti ruangan.

Lalu Arka bertanya lagi, seolah itu hanya pertanyaan biasa yang keluar begitu saja,

“Kalian… sudah dekat?”

Lara mengernyit samar, lalu mengangguk. “Iya, sih. Menurutku sudah dekat.”

Jawaban itu jatuh seperti palu kecil di dada Arka.

“Dekat bagaimana?” tanya Arka lagi, kali ini matanya menatap Lara lebih serius.

Lara berpikir sejenak. “Ya… sering bareng, ngobrol nyambung, saling bantu. Teman yang nyaman gitu.”

Ia tersenyum kecil, lalu menambahkan tanpa beban,

“Mungkin dekat versi Paman beda sama dekat versi aku.”

Kalimat itu membuat Arka terdiam.

Ia menyadari satu hal yang sangat mengganggunya: Lara tidak berbohong. Tidak mengelak. Tidak menyembunyikan apa pun. Dan justru itu yang membuat dadanya terasa lebih sesak.

“Teman, ya,” gumam Arka pelan, lebih ke dirinya sendiri.

Lara mengangguk. “Iya. Teman.”

Namun Arka tahu, sejak kapan kata teman terdengar setipis itu?

Ia mengalihkan pandangan ke jendela, mencoba mengatur napas dan emosinya. Ia kesal—bukan pada Axel, bukan pada Lara—melainkan pada dirinya sendiri.

Karena ia sadar, ia tidak punya hak untuk merasa seperti ini.

Tapi perasaannya tidak peduli soal hak.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Arka menyadari satu hal yang tak bisa lagi ia abaikan:

Ia bukan hanya takut kehilangan Lara sebagai tanggung jawab.

Ia takut kehilangan Lara—titik.

Entah sejak kapan perasaan itu mulai berubah.

Arka sendiri tidak bisa menunjuk satu titik pasti. Perubahan itu datang pelan—terlalu pelan sampai ia mengiranya hanya ilusi lelah atau rasa tanggung jawab yang berlebihan.

Namun sejak sore itu, sejak nama Axel meluncur begitu mudah dari bibir Lara, Arka menyadari ada hal yang mengganggunya lebih dari yang ia kira.

Ada keinginan tipis.

Hampir tak terlihat.

Namun nyata.

Keinginan untuk memiliki.

Bukan dalam arti sempit atau murahan. Bukan juga keinginan yang berani ia akui. Lebih tepatnya, sebuah dorongan untuk meraih kembali sesuatu yang dulu pernah ia lepaskan dengan sadar—demi alasan yang saat itu ia anggap benar.

Ia memandang Lara yang kini duduk santai di sofa ruangannya, menunduk menatap ponsel, jemarinya sesekali bergerak membalas pesan entah dari siapa. Arka tidak bertanya. Ia tidak ingin tahu.

Padahal ia ingin tahu.

Kesadaran itu membuat Arka menghela napas pelan.

Axel… hanyalah seorang remaja.Masih muda.Masih hijau.

Dan justru itulah masalahnya.

Arka tidak melihat Axel sebagai ancaman besar—belum. Tapi ia cukup cerdas untuk memahami bahwa ancaman tidak selalu datang dalam bentuk yang matang dan berbahaya. Kadang, ancaman datang dalam wujud kehadiran yang konsisten, perhatian yang tulus, dan kebersamaan yang tanpa beban. Hal-hal yang dulu pernah ia miliki. Lalu ia lepaskan.

Lara berbaring telentang di atas ranjang kamarnya setelah akhirnya melepas penat seharian mengerjakan tugas. Lampu kamar masih menyala temaram. Ia menatap langit-langit putih yang terasa terlalu kosong untuk pikirannya yang justru penuh.

Entah kenapa, belakangan ini ada sesuatu yang terasa… berbeda.

Perubahan itu tidak datang tiba-tiba, melainkan merayap pelan, hampir tak terasa. Lara mencoba mengingat-ingat, dan tanpa sadar pikirannya berhenti pada satu titik—empat hari lalu. Tepat sejak ia datang ke kantor Arka membawa formulir kampus itu.

Sejak hari itu, Arka berubah.

Tidak drastis. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk disadari.

Arka jadi lebih perhatian.

Hampir setiap hari ponsel Lara bergetar karena pesan darinya. Bukan pesan penting. Bukan juga perintah atau pengingat serius. Sekadar bertanya sudah makan atau belum. Perjalanan hari ini lancar atau tidak. Bahkan hal remeh seperti menanyakan jadwal kuliahnya besok.

Hal-hal kecil yang dulu jarang—atau bahkan tidak pernah—terjadi.

Lara menggeser tubuhnya sedikit, memiringkan badan sambil menatap kosong ke dinding. Dadanya terasa aneh. Bukan tidak nyaman, tapi juga bukan sepenuhnya tenang.

Contoh paling sederhana… es krim.

Lara mendengus kecil saat mengingatnya.

Arka tahu ia suka es krim. Itu bukan rahasia besar. Tapi selama ini, kesukaannya itu seperti hanya menjadi catatan lama yang terlupakan. Bahkan sebulan lalu, Arka tidak pernah bertanya apa makanan favoritnya, cemilan kesukaannya, atau sekadar ingin membelikan sesuatu.

Namun sekarang?

Freezer apartemen hampir penuh dengan berbagai varian es krim—semuanya rasa favorit Lara.

Seolah Arka tiba-tiba teringat. Atau… baru sekarang ingin mengingat.

“Kenapa baru sekarang sih…” gumam Lara pelan, nyaris tak terdengar.

Ia tidak tahu apakah perubahan ini seharusnya membuatnya senang atau justru bingung. Lara bukan tipe orang yang mudah berprasangka. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Arka hanya sedang lebih longgar pekerjaannya. Atau mungkin hanya kebetulan.

Tapi bagian kecil dalam dirinya tidak sepenuhnya percaya pada kata kebetulan.

Lara menarik selimut hingga ke dada, menatap langit-langit lagi sambil menghela napas panjang.

Ia tidak berani menebak lebih jauh.Tidak ingin lagi berharap. Dan yang paling ia takutkan—ia tidak ingin salah paham.

Perhatian kecil yang kini Arka tunjukkan—pesan singkat, pertanyaan sederhana, keberadaannya yang terasa lebih dekat—semuanya membuat Lara merasa dilihat. Diakui.Dan diingat.

Tanpa ia sadari, Lara mulai mencari validasi dari Arka.

Ia mulai memperhatikan nada pesan Arka. Menunggu balasan darinya lebih lama dari yang seharusnya. Bahkan kadang merasa lega hanya karena Arka menanyakan hal sepele yang sebenarnya tidak penting.

Bukan karena Lara manja. Bukan pula karena ia menuntut lebih. Lara hanya takut.

Takut bahwa setelah semuanya mulai membaik, Arka akan kembali menarik diri. Takut bahwa kehangatan ini hanya sementara. Takut suatu hari nanti, tanpa penjelasan apa pun, Arka kembali menghapusnya dari kehidupannya—seperti yang pernah ia rasakan dulu.

Itu sebabnya Lara tidak berani bersikap berlebihan. Tidak berani berharap terlalu tinggi. Ia hanya ingin memastikan satu hal sederhana:

Bahwa kali ini… Arka tidak akan pergi lagi.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!