Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
Malam itu, Mansion Martinez terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Leonor, kesunyian itu justru memacu detak jantungnya lebih kencang.
Begitu mereka tiba, Julian langsung menarik Edgar ke ruang kerja pribadi untuk membahas merger besar yang sempat tertunda karena drama keguguran kemarin. Sementara itu, Mommy Isabella yang masih kelelahan karena terlalu bersemangat di fashion show, memberikan kecupan hangat di dahi Leonor sebelum masuk ke kamarnya sendiri.
"Istirahatlah, Sayang. Kau Luar Biasa hari ini," bisik Isabella.
Leonor masuk ke dalam kamar luas milik Edgar. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Keberhasilan fashion show tadi memberinya rasa percaya diri yang belum pernah ia rasakan. Ia teringat pada sebuah kotak kecil yang ia sembunyikan di balik tumpukan kain rancangannya, sebuah lingerie sutra berwarna merah marun dengan aksen renda hitam yang sangat halus.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, Leonor mulai menanggalkan pakaiannya. Ia mengenakan lingerie itu, yang membalut tubuh ringkih namun berlekuk indahnya dengan sempurna. Ia membiarkan rambut hitam panjangnya tergerai acak, dan menyemprotkan sedikit parfum beraroma vanila dan cendana yang menjadi favorit Edgar.
"Malam ini, biarlah drama Daddy dan Mommy itu menjadi awal yang nyata," gumamnya pelan.
Hampir satu jam berlalu sebelum terdengar suara langkah kaki di lorong. Edgar masuk ke dalam kamar dengan wajah yang tampak lelah, tangannya sibuk melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Ia baru saja akan mengeluh tentang betapa kaku ayahnya jika bicara soal bisnis, namun kata-katanya tertelan di tenggorokan.
Edgar mematung di ambang pintu. Matanya membelalak menatap Leonor yang berdiri di samping tempat tidur besar mereka, hanya diterangi oleh lampu tidur yang temaram.
"Sayang...?" Edgar bergumam, suaranya tiba-tiba menjadi serak. Matanya menyapu setiap lekukan tubuh istrinya yang kini terpampang nyata dalam balutan kain tipis itu. "Apa ini... bagian dari kejutan untuk kesuksesanmu tadi?"
Leonor berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit ragu namun menggoda. Ia berdiri tepat di depan Edgar, tangannya meraih kerah kemeja pria itu. "Aku lelah berbohong pada Mommy, Edgar. Aku ingin... aku ingin butir pasir itu benar-benar ada di sini nanti."
Edgar merasakan seluruh rasa lelahnya menguap seketika, digantikan oleh gairah yang membuncah. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Leonor, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. "Kau tahu kan, kalau kau melakukan ini, aku tidak akan bisa melepaskan mu sepanjang malam?"
Leonor mendongak, menatap mata Edgar yang kini berkilat penuh damba. "Tapi aku masih sedikit takut... kau tahu, ini pertama kalinya bagiku."
Edgar mengecup kening Leonor dengan sangat lama dan lembut. Ia teringat kembali pada drama konyol yang ia ciptakan di depan ayahnya tempo hari tentang guncangan hebat. Kali ini, tidak ada lagi drama. Edgar menatap Leonor dengan kejujuran yang murni.
"Aku berjanji, Sayang," bisik Edgar di bibir Leonor. "Aku akan sangat pelan. Aku akan menjagamu seperti porselen paling berharga di dunia ini. Aku tidak akan membiarkanmu merasa sakit seperti saat menstruasimu kemarin."
Leonor merasa lega mendengar janji itu. Edgar membimbingnya menuju ranjang dengan kelembutan yang luar biasa. Tidak ada lagi sosok Edgar yang sombong, yang ada hanyalah seorang suami yang memuja istrinya. Edgar menanggalkan kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang atletis di bawah cahaya lampu yang remang.
Malam panjang itu dimulai dengan ciuman-ciuman lembut yang menyusuri setiap jengkal kulit Leonor. Edgar benar-benar menepati janjinya. Setiap sentuhannya penuh dengan kehati-hatian, seolah ia sedang menangani kain sutra paling mahal dari rancangan Leonor.
Meski sempat ada drama kesakitan kecil dan napas yang tertahan dari bibir Leonor saat penyatuan itu terjadi, Edgar segera berhenti dan menenangkan Leonor dengan bisikan-bisikan manis.
"Bernapaslah, Sayang... Aku di sini," gumam Edgar, menyeka keringat di dahi Leonor.
Di tengah malam yang sunyi di mansion itu, kedua jiwa yang awalnya dipertemukan oleh dendam dan persaingan akhirnya menyatu dalam ikatan yang paling suci. Rasa canggung yang tadi mendominasi kini berganti dengan kenyamanan yang luar biasa. Leonor membenamkan wajahnya di ceruk leher Edgar, menghirup aroma maskulin suaminya yang kini terasa seperti rumah baginya.
Edgar menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, namun tangannya tidak berhenti membelai perut rata Leonor, gerakan yang kini bukan lagi sebagai bahan candaan, melainkan sebagai sebuah doa.
"Semoga setelah malam ini," bisik Edgar pelan, "Daddy tidak perlu lagi berbohong pada Mommy Isabella."
Leonor tersenyum di dalam kegelapan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Edgar, mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai stabil. "Aku harap begitu, Edgar. Aku ingin memberikan Mommy cucu yang nyata."
Edgar terkekeh pelan, ia mencium puncak kepala Leonor. "Tidurlah, Istriku. Besok pagi kita harus menghadapi Mommy yang pastinya akan menanyakan apakah Daddy sudah berbuat baik malam ini."
Leonor memejamkan mata dengan hati yang penuh. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang hancur karena David Gonzales akan berakhir seindah ini di tangan pria yang dulu ia benci. Di balik pintu kamar yang tertutup rapat, mereka tidak lagi hanya bermain peran. Mereka adalah Edgar dan Leonor, yang sedang merajut masa depan mereka sendiri, helai demi helai, seperti gaun terindah yang pernah Leonor ciptakan.
Malam itu, di bawah langit Beverly Hills, doa-doa Isabella Martinez seolah ikut mengangkasa bersama napas teratur kedua pengantin baru itu. Dan Leonor berharap, dalam beberapa minggu ke depan, ia benar-benar bisa menunjukkan pada dunia bahwa ia bukan lagi anak yang tak diakui, melainkan seorang wanita, seorang desainer, dan seorang ibu yang dicintai sepenuhnya oleh keluarga Martinez.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰