NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa Di Kandang Global

Bagas terbang ke New York untuk menghadapi sidang dunia. Di sana, ia akan bertemu dengan sosok misterius yang selama ini mengendalikan Nexus Group dari balik layar, seorang jenius yang ternyata adalah mantan mentor Bapak di Perancis yang merasa "dikhianati" oleh kepergian Bapak dulu.

Panggung kini berpindah ke markas PBB di New York. Ini bukan lagi soal mekanik, melainkan soal diplomasi tingkat tinggi dan konfrontasi dengan hantu dari masa lalu Bapak.

New York di bulan Februari terasa seperti kulkas raksasa. Bagas berdiri di depan gedung markas besar PBB, mengenakan jaket almamater SMK-nya yang sudah usang di balik mantel wol pemberian Pak Baron. Ia sengaja tidak memakai setelan jas mahal; ia ingin dunia melihatnya sebagai simbol rakyat kecil yang sedang mereka sidangkan.

Di dalam aula Sidang Umum, suasana sangat mencekam. Perwakilan dari negara-negara adidaya menatapnya dengan pandangan mengadili. Di barisan penonton VIP, duduk seorang pria tua dengan kursi roda elektrik. Rambutnya putih perak, matanya tajam dan penuh kebencian yang intelektual. Pria itu adalah Professor Gerhard Vance, mantan kepala riset di Cherbourg dan mentor Bapak Suryo tiga puluh tahun lalu.

Vance bukan sekadar akademisi dialah otak di balik Nexus Group yang ingin mengomersialkan setiap penemuan ilmiah demi kekuasaan.

"Saudara Bagas Pratama," suara sekretaris jenderal bergema. "Anda dituduh melakukan destabilisasi ekonomi global. Tindakan Anda menyebarkan teknologi tanpa kontrol dapat memicu keruntuhan pasar dan konflik bersenjata. Apa pembelaan Anda?"

Bagas melangkah ke podium. Ia tidak membawa teks pidato. Ia hanya membawa sebuah lampu LED kecil dan sebuah dinamo rakitan di tangannya.

"Saya tidak datang untuk membela diri," ujar Bagas, suaranya tenang namun bergema kuat melalui mikrofon. "Saya datang untuk bertanya: Sejak kapan cahaya matahari menjadi ilegal? Sejak kapan keinginan seorang anak di pelosok Papua untuk belajar di malam hari dianggap sebagai ancaman bagi keamanan dunia?"

Professor Vance tiba-tiba mengangkat bicara dari kursinya. "Jangan berpuisi, Bagas! Ayahmu, Suryo, adalah seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab sains. Dia mencuri riset kita dan menyembunyikannya selama tiga dekade. Teknologi itu adalah milik laboratorium kami, milik kemajuan yang terorganisir, bukan milik orang-orang di gang yang tidak tahu cara merawat mesin!"

Bagas menoleh ke arah Vance. Ini adalah momen yang ia tunggu. "Professor Vance, ayah saya tidak lari. Dia menyelamatkan teknologi ini dari orang-orang seperti Anda yang ingin mematok harga pada setiap napas manusia. Ayah saya memilih jadi tukang las agar ilmu ini tetap murni, bukan menjadi senjata pemeras."

Bagas kemudian melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia mengaktifkan alat di tangannya, yang tersambung ke layar raksasa di aula tersebut. Layar itu menampilkan peta panas dunia. Titik-titik cahaya mulai muncul di area-area paling gelap di bumi: pedalaman Afrika, pegunungan Andes, hingga pulau-pulau kecil di Indonesia.

"Saat kita bicara di sini, sudah ada sepuluh ribu unit generator yang berhasil dirakit secara mandiri oleh rakyat di seluruh dunia menggunakan data yang saya unggah," lanjut Bagas. "Kalian bisa memenjarakan saya. Kalian bisa membekukan rekening saya. Tapi kalian tidak bisa mematikan sepuluh ribu cahaya itu. Ide ini sudah lepas dari genggaman saya, dan ia tidak akan pernah bisa kalian tangkap kembali."

Argumen Bagas memicu perdebatan sengit. Negara-negara berkembang mulai bersuara membela Bagas. Mereka muak dengan ketergantungan energi selama berabad-abad. Suasana sidang yang tadinya ingin menghukum Bagas, perlahan berubah menjadi pemberontakan terbuka terhadap dominasi negara-negara besar.

Vance tampak sangat geram hingga wajahnya memerah. "Ini adalah kekacauan! Kamu menghancurkan peradaban, Bagas!"

"Tidak, Professor," balas Bagas tajam. "Saya hanya menghancurkan tagihan listrik Anda. Peradaban justru baru saja dimulai ketika energi tidak lagi menjadi beban, melainkan hak dasar."

Sidang itu berakhir tanpa keputusan bulat. Kekuatan opini publik dunia terlalu besar untuk menjatuhkan vonis pada Bagas. Di luar gedung, ribuan orang berkumpul melakukan aksi diam dengan membawa lampu, menciptakan lautan cahaya di tengah malam New York yang dingin.

Namun, Vance tidak menyerah begitu saja. Saat Bagas berjalan keluar gedung, Vance mencegatnya di koridor sunyi.

"Kamu pikir kamu menang, Nak?" bisik Vance dingin. "Data yang kamu unggah itu memiliki satu cacat fatal yang sengaja ayahmu simpan. Dalam penggunaan jangka panjang, frekuensi magnetiknya akan melemah dan mesin itu akan berhenti berfungsi selamanya dalam waktu tiga bulan. Hanya aku yang tahu cara menstabilkannya secara permanen. Tanpaku, 'cahaya' duniamu akan segera padam."

Bagas terdiam. Ia teringat tatapan ragu Bapak saat ia menekan tombol upload dulu. Apakah benar Bapak menyembunyikan "kunci terakhir" itu?.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!