Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lobang Cinta
Dewa tersentak dari lelap, kepalanya terangkat pelan. Di hadapannya, gadis itu berdiri dengan tatapan sulit dibaca—bukan marah, bukan juga lembut, tapi terlalu tegak seperti manekin sesak napas.
"Maaf, Bu. Saya… ketiduran."
"Kamu belajar sampai larut?" Suaranya lebih rendah dari biasanya seperti orang buang angin.
"Kerja, Bu. Sampai tengah malam."
Ia mengangguk singkat melangkah ke sudut meja, meraih lima buku sekaligus—terlalu banyak untuk satu genggaman.
Dan, sengaja atau tidak, buku-buku itu terlepas.
Bruk.
Kertas dan sampul berserakan di lantai, menciptakan kekacauan kecil di antara mereka.
Dewa refleks membungkuk, dua kepala hampir beradu, dua napas nyaris bertemu.Tangan mereka bergerak di antara halaman-halaman terbuka, saling menyentuh bayangan satu sama lain tanpa benar-benar bersentuhan.
Dan di tengah riuh sunyi itu, tangan kiri Dian—untuk pertama kalinya di depan Dewa—keluar dari saku blazernya.
Dewa melihatnya.
Cincin itu.
Lingkaran tipis berkilau di jari manisnya, menangkap cahaya lampu perpustakaan yang temaram.
Dewa membeku. Buku di tangannya menggantung di udara. Dian juga berhenti. Tubuhnya menegang tidak menarik tangannya untuk menyembunyikannya kembali.
Ia hanya diam.
Menunggu.
Detik mengalir lambat. Hening mengental di antara mereka, sampai debu melayang pun berhenti.
Dewa berdiri lebih dulu mengulurkan buku yang telah ia kumpulkan tanpa pertanyaan, komentar tentang cincin mematahkan sesuatu di dalam dadanya.
"Ini, Bu, bukunya sudah lengkap."
Dian menerima, ujung jari mereka hampir bersentuhan.
Hampir.
Jarak sekian sentimeter itu terasa seperti lautan.
"Terima kasih, Anda boleh pulang sekarang. Saya… bisa sendiri."
Dio mengangguk. Kakinya ingin segera melangkah pergi, membawa semua tanya berdesakan di dada
Tapi ia melihat wajah, bayangan sepi di sana, Sesuatu yang tak terucapkan.
"Bu," katanya, lebih berani dari yang ia rasakan. "Boleh ibu saya antar pulang? Sekarang sudah jam sepuluh malam, perpustakaan mau tutup tidak aman kalau sendiri."
"Baiklah," katanya akhir menatap "Tunggu saya."
Pukul sepuluh malam jalanan lengang.
Perempuan itu duduk di boncengan motor lebih kaku daripada pagi. Kedua tangannya menggenggam tas kerja sebagai jangkar agar ia tidak condong ke depan. Atau tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Dewa mengemudi lambat, terlalu lambat.
karena ia tidak ingin perjalanan ini cepat selesai. Setiap belokan membuat tubuh perempuan itu bergoyang. Setiap kali itu pula ia menegakkan punggung, menjaga jarak. Tangannya tak pernah terangkat untuk memegang apa pun, apalagi pinggangnya
Lalu lubang itu datang.
Rem mendadak,
Gedubrak !
Tubuhnya terlempar kedepan, sesuatu menempel di punggung laki laki itu, membuat jantungnya copot "Maaf, Bu, Lubang, saya tidak sengaja."
Wajahnya memerah seperti udang rebus, berusaha mengatur jarak, terlalu dekat untuk disebut aman, terlalu jauh untuk disebut intim.
Apartemen Anggrek muncul terlalu cepat.
Perempuan cantik itu turun dengan gerakan tergesa, jika ia lambat sedetik saja, mukanya runtuh dicoret coret."Terima kasih hari ini."
"Besok, Bu?"
Ia mengangkat wajah tersenyum tipis, rapuh dan nyata. "Jam enam," katanya berbalik menutup pintu apartemen
Dewa masih duduk di atas motor berbisik, "Gue gila, atau… dia yang gila."
Mungkin keduanya.
\=\=\=
Di dalam apartemen, Dian melepas blazer dengan gerakan cepat, udara terasa panas meski AC menyala berdiri di depan cermin.
Cincin di jari kirinya berkilau.
"Dewa," bisiknya pelan. "Mahasiswa culun, asistensi koplak, penggiling patah, kopi tumpah, dan terakhir, lobang.
Wajahnya memerah menahan malu dan berbisik didalam hati, " Enak Lo Dewa, kena dua gunung kembar.
Dian tertawa terbahak bahak, berguling guling di sofa, seumur umur hampir paruh baya ia merasakan jantungnya copot, wajah tersipu malu. ' Mudah mudahan besok ada lubang besar lagi."
--
"Dew..."
Dewa tersentak. Es teh plastik di tangannya hampir tumpah, Roby sudah berdiri di pintu kamar kostnya, menatapnya dengan alis terangkat.
"Apa yang yang terjadi dengan lo?' Ia masuk tanpa diminta duduk di kursi plastik satu-satunya yang ada di kamar sempit itu.
Dewa mendengus pelan, "Gue lagi mikirin sesuatu."
"Mikirin apa?"
" Gue seperti mahasiswa bodoh."
Roby hanya diam dengan sorot tajam mengorek informasi'. Dan kalau ia sudah mulai seperti ini, tidak ada gunanya kabur.
"Lo," kata Roby. "Gue mikirin lo."
"Gue kenapa?"
"Lo akhir-akhir ini beda, pulang malem terus. Kalo ditanya Lo cuma senyum-senyum sendiri kenapa, Dew?"
Ia menghela napas tahu pertanyaan ini akan datang cepat atau lambat. "Gue... sekarang jadi asisten pribadi."
"Asisten pribadi?" Roby mengerutkan dahi. "Asisten pribadi siapa? Bos lo? warung makan ayam penyet?"
"Bukan, dosen."
Ia mengerjap mata, ingatan nya mencoba menebak, "Dosen? Dosen mana? Pak Indra? Bu Siti, Mr Doni ?atau Bu Dwi?"
"Yang galak."
"Yang mana? Banyak dosen galak di kampus."
Dewa hanya diam, entah dirinya yang bodoh atau Roby pura pura sengaja gak tahu.
"Siapa?"
"Dian Wulandari, M.Si."
Laki laki itu membelalak, mulutnya menganga—"Haa...?"Dian—Dian Wulandari? —" Ia tercekik tawa. "Yang galak—serem—salah kirim cincin ?"
Dewa menatap pasrah."Iya, Rob. Itu dia."
"Astaga—" Roby mengusap air matanya "Lo—asisten pribadi ibu Dian Wulandari? Yang—yang—"
"Lo udah ngomong itu tiga kali, Roby, Setan."
"Karena gue gak percaya!" Ia bangkit duduk di kursi. "Bu Dian? Dosen killer membuat mahasiswa nangis sekelas? ngasih nilai kaya ngitung beras"
Dewa mengangguk lemah.
"Dan lo sekarang jadi asisten pribadinya? Lo anter jemput? Lo temenin di perpustakaan? Lo—" Ia berhenti matanya menyipit, mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki, " Masalah Lo bukan asisten, Dewa, tapi cincin itu seharusnya bukan untuknya ..."
" Gue gak ngerti, mengapa ia mengangkat gue sebagai asisten dosen."
"'Mungkin dia kasihan meliat nilai Lo jeblok, otak Lo kan lemah."
" Enak aja lo, bangke."
" Lagian Lo mau aja dan niat Lo bukan itu tapi meminta hak Sasha," Roby tertawa kecil, " Lo sadar gak umurnya berapa?"
" Ngapain Lo tanya begitu ?"
" Dian Wulandari, perawan tua, gak laku laku."
Telinga Dewa naik satu senti, matanya membesar," Lo jangan hina begitu ? Bu Dian orangnya baik."
"Tiga puluh delapan itu tua, dodol, dibandingkan Lo dua puluh dua, 15 tahun jaraknya, kaya' nyusu ma emak."
Dewa menendang pantat nya, " Gue gak ngerasa."
"'Terserah Lo deh, cuma pesan gue, hati hati, pikiran orang dewasa berbeda dengan anak ingusan kaya' Lo."
"Lo seharusnya bantu gue, anjir..bukannya matahin."
Roby tertawa ngakak, " Lo udah terperangkap dalam permainan yang Lo buat sendiri."
" Maksudnya?"
" Dari awal seharusnya lo cepat tanggap, mengambil nya."
" Lo gak liat wajahnya menyembunyikan cincin itu? Lo tega? mungkin dia suka dan tidak berharap ada orang yang mengaku."
" Lo aja yang ke ge- eran, terus gimana sasha?"
Dewa terdiam seribu bahasa.