"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Pikiran Strategi Gu jingshen
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 19.00 PM]
[Lokasi: Ruang Kerja CEO Gu Corp, Pusat Kota Shenzhen]
Ruangan luas di lantai paling atas gedung Gu Corp itu tenggelam dalam kegelapan. Tidak ada lampu gantung yang menyala, hanya ada berkas cahaya biru dari layar laptop dan lampu meja kecil yang menerangi wajah Gu Jingshen. Suasana begitu hening, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu ledakan konflik keluarga ini.
Jingshen menyandarkan punggungnya, memijat pangkal hidungnya yang terasa nyeri. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop. Ada sebuah notifikasi pesan dari Lin Xia yang masuk sesaat sebelum rapat panas tadi dimulai.
"Tuan Gu Jingshen, bagaimana keadaan Anda? Apakah kepalanya masih sakit? Jangan lupa makan siang dan minum air putih yang banyak."
Jingshen menatap pesan itu cukup lama. Jarinya sudah menyentuh kolom balasan, namun ia mengurungkan niatnya. Ia teringat dokumen di flashdisk-nya. Jika ia terus dekat dengan Lin Xia sekarang, ayahnya—Tuan Besar Gu—pasti akan menjadikan wanita itu sebagai sasaran untuk menekan Jingshen.
Lebih baik kau menjauh dariku untuk sementara, Xia. Ini demi keselamatanmu, batin Jingshen pedih. Ia meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas sepatah kata pun.
Ia kemudian menekan tombol interkom. "Ah Cheng, masuklah."
Pintu terbuka pelan, Ah Cheng melangkah masuk dengan wajah siaga. "Ya, Tuan?"
"Duduklah," perintah Jingshen dingin. "Bagaimana dengan progres perusahaan di Shanghai?"
"Semuanya berjalan sesuai rencana, Tuan. Perusahaan investasi 'Sheng-Li Capital' yang Anda dirikan di Shanghai sudah terdaftar secara resmi. Tidak ada nama 'Gu' di dalam dokumen publik manapun. Semua menggunakan nama samaran dan wali amanat yang sudah kita siapkan," lapor Ah Cheng.
Jingshen mengangguk. "Bagus. Mulailah instruksikan broker kita untuk membeli saham minoritas Gu Corp yang tersebar di pasar secara perlahan. Gunakan dana dari rekening rahasia di Shanghai. Aku ingin dalam sebulan, kita sudah memegang setidaknya tujuh persen saham tambahan di luar saham warisan ibuku."
"Tapi Tuan, jika Tuan Besar mengetahui ada aliran dana asing yang mencoba membeli saham perusahaan..."
"Dia tidak akan tahu," potong Jingshen tajam. "Dia terlalu sibuk mengawasi Yanran dan menekan pergerakanku di kantor pusat. Ini adalah sekoci penyelamat kita. Jika suatu saat dia mencoba menendangku keluar, aku akan memastikan aku keluar dengan membawa fondasi Gu Corp bersamaku."
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 19.30 PM]
[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]
Di sisi lain kota, Lin Xia masih duduk di meja pojoknya. Laptopnya sudah tertutup, namun ia tetap diam di sana, berkali-kali melirik layar ponselnya yang tetap gelap. Tidak ada balasan. Tidak ada tanda-tanda pesan dibaca.
Xiao Li yang sedang berdiri di balik meja bar memperhatikan sahabatnya itu sejak tadi. Ia menghela napas, merasa iba melihat Lin Xia yang tampak begitu gelisah. Ia segera meracik secangkir Caramel Macchiato hangat dengan hiasan bunga di atasnya.
Xiao Li berjalan mendekat dan meletakkan kopi itu di meja Lin Xia. "Minumlah. Wajahmu sudah lebih pahit dari kopi tanpa gula."
Lin Xia mendongak, tersenyum lemah. "Terima kasih, Li. Aku hanya... merasa aneh. Tadi pagi dia tampak begitu manusiawi walaupun ada terlihat lelah akibat semalam bersama papa, tapi sekarang dia menghilang tanpa kabar."
"Laki-laki memang begitu, Xia. Apalagi tipe CEO seperti dia. Mungkin dia sedang sibuk menghitung uangnya sampai lupa cara mengetik," hibur Xiao Li. "Ngomong-ngomong, Lin Feng sudah kembali ke klubnya. Katanya ada tumpukan berkas yang harus ia selesaikan. Setidaknya cafe kita kembali tenang sekarang."
Lin Xia menyesap kopinya. "Lin Feng itu... dia benar-benar membantu hari ini, kan?"
"Ya, meski dia berisik, tapi dia pria yang baik," jawab Xiao Li singkat, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 20.00 PM]
[Lokasi: Kediaman Utama Keluarga Gu, Shenzhen]
Di kediaman megah keluarga Gu, suasana ruang keluarga tampak kontras dengan kesepian di kantor Jingshen. Tuan Besar Gu duduk di kursi kebesarannya sambil membaca laporan ekonomi, sementara Nyonya Gu sedang merajut syal wol.
Gu Yanran masuk ke dalam ruangan dengan wajah lesu. Rambutnya sedikit berantakan setelah rapat yang menguras emosi tadi siang.
"Baru pulang? Bagaimana perkembangan Yan Technology?" tanya Tuan Besar Gu tanpa mengalihkan pandangan dari laporannya.
"Baik, Pa. Semuanya terkendali, meski Kak Jingshen tadi siang bersikap sangat menyebalkan di ruang rapat," jawab Yanran sambil menjatuhkan diri ke sofa.
Nyonya Gu mendongak, tersenyum lembut. "Kamu sudah pulang, Nak? Mandi dulu sana, Mama sudah masak makanan kesukaan kalian berdua—ikan asam manis dan sup iga. Oh ya, di mana kakakmu? Kenapa dia belum pulang?"
Yanran melirik jam di dinding. "Aku tidak tahu, Ma. Di kantor tadi suasananya sangat dingin. Mungkin dia sedang lembur untuk membuktikan bahwa dia lebih rajin dariku. Mama telepon saja dia."
Nyonya Gu meletakkan rajutannya, raut wajahnya berubah cemas. Ia segera mengambil ponsel dan mendial nomor putra sulungnya. Di ujung telepon, setelah beberapa nada sambung, suara Jingshen yang terdengar sangat lelah menjawab.
"Halo, Ma?"
"Jingshen, ini sudah jam delapan malam. Kenapa belum pulang? Mama sudah masak banyak untuk makan malam keluarga," ucap Nyonya Gu lembut.
"Maaf, Ma. Pekerjaan di kantor sangat menumpuk. Aku tidak akan pulang malam ini. Aku akan tidur di ruang istirahat perusahaan saja agar besok bisa langsung mulai bekerja pagi-pagi," jawab Jingshen.
Nyonya Gu menghela napas. "Jangan terlalu memaksakan diri, Nak. Tubuhmu butuh istirahat, apalagi setelah semalam..."
"Aku baik-baik saja, Ma. Sampaikan salamku untuk Yanran dan... katakan pada Papa aku sudah menyelesaikan laporan yang dia minta," potong Jingshen dengan suara datar.
Setelah menutup telepon, Jingshen kembali menatap kegelapan di luar jendela. Di tangannya, ia memegang flashdisk merah yang berisi masa lalu kelam keluarganya. Ia tahu, mulai malam ini, ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi anak yang patuh. Ia telah memilih jalannya sendiri—jalan pedang untuk merebut kembali keadilan, meskipun itu berarti ia harus mengasingkan diri dari orang-orang yang ia cintai.
Di cafe, Lin Xia akhirnya menyerah. Ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Li, aku pulang dulu ya. Mungkin dia benar-benar sedang sibuk."
Lin Xia berjalan keluar cafe, menatap langit malam Shenzhen yang bertabur lampu, tidak menyadari bahwa di sebuah kantor tinggi di pusat kota, pria yang ia tunggu sedang menatap ke arah yang sama dengan hati yang sama hancurnya.