NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Semen, Pasir, dan Cemburu Buta

Pembangunan Balai Kreatif Sukamaju resmi dimulai. Sejak matahari baru saja mengintip di balik bukit, halaman luas di samping Kedai Harapan sudah berubah menjadi medan tempur penuh material. Tumpukan pasir, tumpukan batu kali, dan gunungan karung semen menjadi pemandangan baru bagi warga desa.

Rian, yang kini sudah benar-benar pulih—meski sesekali masih mengaduh jika mengangkat beban terlalu berat—bertindak sebagai komandan lapangan. Ia tidak lagi memakai kemeja flanel rapi. Hari ini ia hanya mengenakan kaus oblong putih tipis yang sudah terkena bercak semen, topi proyek pinjaman, dan sebuah meteran yang terselip di saku belakang celananya.

"Jon! Itu pondasi sebelah kiri kurang dalam lima senti! Jangan malas mencangkul, nanti bangunannya miring ke kiri kayak orang stroke!" teriak Rian sambil memegang cetakan desainnya.

Gia keluar dari kedai membawa nampan berisi belasan gelas kopi hitam dan gorengan panas. Ia berhenti sejenak, memperhatikan Rian yang sedang sibuk mengarahkan para pemuda desa. Ada sesuatu yang berbeda saat melihat Rian bekerja sebagai arsitek di lapangan; ia tampak sangat hidup, sangat berwibawa, namun tetap rendah hati.

"Kopi, kopi! Jangan sampai tenaga habis sebelum jam makan siang!" seru Gia.

Para pemuda desa langsung bersorak dan menyerbu nampan Gia. Rian pun ikut mendekat, mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju.

"Makasih, Neng Bos. Tahu aja kalau asistenmu ini butuh kafein buat jaga kewarasan," ujar Rian sambil menyambar segelas kopi.

"Asisten? Sejak kapan kamu turun pangkat?" Gia terkekeh.

"Sejak aku sadar kalau di proyek ini, yang punya tanah dan yang punya modal kopi itu kamu. Aku mah cuma kuli berijazah," sahut Rian sambil nyengir miring.

Namun, suasana cair itu sedikit terganggu saat sebuah mobil kabin ganda (double cabin) berwarna merah menyala berhenti di depan lokasi proyek. Seorang pria muda dengan penampilan sangat sporty—mengenakan kacamata hitam mahal dan jam tangan outdoor—turun dengan gaya yang sangat percaya diri.

"Selamat siang! Apa benar ini lokasi proyek Balai Kreatif Sukamaju?" tanya pria itu.

Gia mengerutkan kening. "Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?"

Pria itu melepas kacamatanya, menampakkan wajah tampan dengan senyum yang sangat terlatih. "Nama saya Erlangga. Saya pemilik Langka Coffee Roastery di kota. Saya dengar dari Pak Kades, kalian sedang membangun pusat pelatihan kopi dan desain. Saya datang untuk menawarkan kerja sama sebagai pemasok alat-alat kopi modern dan mesin espresso kelas dunia."

Rian yang sedang meminum kopinya langsung tersedak. Ia menatap Erlangga dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ada insting "wilayah" yang mendadak bangkit di dalam dirinya.

"Pemasok? Maaf, Mas Erlangga, tapi kami sudah punya rencana untuk menggunakan alat-alat lokal yang lebih terjangkau buat warga," ujar Rian, melangkah maju berdiri sedikit di depan Gia.

Erlangga tersenyum tipis, matanya melirik ke arah Rian dengan tatapan meremehkan, lalu kembali fokus pada Gia. "Lokal memang bagus, tapi kalau mau standar internasional, kalian butuh sentuhan profesional. Saya lihat potensi Kedai Harapan ini luar biasa. Apalagi baristanya cantik seperti Anda, Nona Gia."

Gia sedikit tersipu, namun Rian justru mendengus keras. "Standar internasional itu bukan soal mesin, Mas. Tapi soal hati orang yang menyeduhnya. Lagian, proyek ini tujuannya pemberdayaan, bukan pamer alat mewah."

"Tentu, tentu," sahut Erlangga santai, mengabaikan ketegasan Rian. "Gia, bagaimana kalau kita bicarakan ini lebih lanjut sambil makan siang di kota? Saya punya beberapa katalog yang mungkin menarik minat Anda."

Gia melirik Rian yang wajahnya sudah mulai mendung. "Eh, sebenarnya saya sedang sibuk di kedai, Mas Erlangga. Mungkin lain kali—"

"Hanya sebentar, Gia. Ini demi kemajuan desa, kan? Seperti yang Anda cita-citakan," potong Erlangga dengan nada persuasif yang sangat halus.

Rian mengepalkan tangannya di balik punggung. Ia merasa harga dirinya tersenggol. Bukan karena soal mesin kopi, tapi karena cara pria ini menatap Gia.

"Maaf, Mas Langka atau siapa tadi," sela Rian dengan suara yang tiba-tiba berat. "Gia nggak bisa pergi. Siang ini jadwalnya dia bantuin saya buat ngitung beban atap bangunan. Sangat teknis dan... sangat butuh kehadiran dia."

Erlangga menaikkan sebelah alisnya. "Ngitung beban atap? Bukannya itu tugas arsitek?"

"Gia itu asisten utama saya. Tanpa dia, atapnya bisa roboh menimpa orang-orang sombong yang suka datang tiba-tiba," jawab Rian tajam.

Gia menahan tawa melihat Rian yang sedang dalam mode cemburu buta. Ia tahu Rian sedang membual soal "hitung beban atap", tapi ia juga merasa senang karena dibela.

"Baiklah, kalau begitu. Ini kartu nama saya," Erlangga menyerahkan secarik kartu wangi kepada Gia. "Hubungi saya kalau Anda butuh bantuan yang lebih... modern."

Setelah mobil merah itu pergi, Rian langsung merampas kartu nama itu dari tangan Gia dan meletakkannya di atas tumpukan batu bata.

"Modern, modern... mukanya aja yang modern, tapi etikanya jadul banget," gerutu Rian sambil kembali memungut cangkulnya.

"Cemburu ya?" goda Gia sambil mengikuti Rian.

"Nggak! Siapa yang cemburu? Aku cuma khawatir dia mau nipu warga pakai harga mesin yang dimark-up!"

"Masa?" Gia menarik-narik ujung baju Rian. "Tapi kok tadi bilangnya aku asisten utama? Memangnya aku tahu soal beban atap?"

Rian berhenti mencangkul, ia berbalik dan menatap Gia dengan wajah serius namun telinganya memerah. "Kamu memang asisten utama, Gia. Bukan cuma buat proyek ini, tapi buat hidupku. Kalau kamu pergi makan siang sama orang kayak gitu, siapa yang jagain hatiku biar nggak roboh?"

Gia tertegun. Kalimat Rian yang biasanya jail kini terdengar sangat tulus dan "manusiawi". Ia tersenyum lebar, lalu mengusap sisa semen di pipi Rian.

"Tenang aja, Tukang Utang. Selera aku bukan orang yang pakai kacamata hitam di bawah pohon beringin. Selera aku itu orang yang kausnya bau semen tapi jago bikin aku ngerasa aman."

Rian tersenyum lebar, semangatnya mendadak kembali berlipat ganda. "Oke! Jon! Tambah semennya! Hari ini kita harus selesaikan pondasi depan!"

Namun, di balik kegembiraan itu, Gia melirik kartu nama Erlangga yang tergeletak. Ia merasa pria itu bukan sekadar pengusaha kopi biasa. Ada sesuatu di balik tawaran kerja samanya yang terasa terlalu terencana. Apakah ini serangan baru dari sisa-sisa koneksi Mahendra, ataukah sekadar persaingan bisnis yang akan membuat perjalanan Kedai Harapan semakin berliku?

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!