💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — EMOTIONAL CRACK
Hujan turun tanpa peringatan.
Alinea berdiri mematung di halte depan gedung Volt-Tech, memeluk tasnya erat-erat seolah benda itu adalah perisai terakhirnya.
Lampu-lampu kota yang berpendar mulai memantul di aspal basah, menciptakan siluet yang kabur—atau mungkin memang matanya saja yang sedang terlalu penuh.
Langkah kaki terdengar dari belakang. Beraturan. Tenang.
Alinea tahu siapa itu tanpa perlu menoleh.
Arsenio.
Lelaki yang selalu punya ketenangan yang mengintimidasi. Selalu tepat waktu. Dan selalu, tanpa pengecualian, memegang kendali.
“Kamu lupa bawa payung.”
Suara itu terdengar rendah dan stabil. Tak ada riak, seolah dunia di sekitar mereka tidak baru saja jungkir balik. Seolah semuanya masih baik-baik saja.
Alinea tertawa kecil. Sebuah tawa yang sumbang, bukan karena ada yang lucu, melainkan karena ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Tawa itu kering, menguap begitu saja di antara aroma aspal basah dan dinginnya hujan.
“Makasih. Tapi yang kehujanan bukan cuma aku.”
Alinea akhirnya menoleh.
Jarak mereka tak sampai satu meter. Tirai hujan yang jatuh di antara mereka justru membuat jarak sempit itu terasa intim. Terlalu intim, hingga Alinea bisa mencium aroma kayu dan hujan yang menguar dari pakaian Arsenio.
Arsenio memegang sebuah payung, namun ia tak membiarkannya terbuka. Ia hanya berdiri mematung di sana, membiarkan tetesan air mengenai bahunya, membasahi jas mahalnya tanpa peduli. Ia seolah ingin membuktikan bahwa ia juga bisa basah, bahwa ia juga bisa hancur bersama Alinea sore itu.
“Kita belum selesai bicara,” katanya.
Alinea mengangguk pelan. “Iya. Makanya jangan pakai bahasa direksi lagi.”
Deretan mobil meluncur lewat, membelah genangan dengan suara desis yang monoton. Lampu merah di persimpangan berganti hijau, namun dunia di halte itu seolah berhenti berputar.
Dan akhirnya, Alinea bertanya.
Suaranya tidak tinggi, tidak pula meledak dengan drama yang sia-sia. Ia hanya melepaskan sebuah tanya yang jujur—sebuah kejujuran yang terasa lebih tajam daripada dinginnya hujan yang menusuk kulit.
“Kalau ini bukan kontrak lagi… ini apa?”
Pertanyaan itu terdengar begitu sederhana di udara yang basah.
Namun bagi Arsenio, pertanyaan itu seperti sebuah sistem yang tiba-tiba kehilangan server pusatnya. Seluruh logika dan kendali yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik. Kosong. Error.
Arsenio membuka mulut, mencoba memanggil kembali kata-kata yang biasanya ia susun dengan sempurna. Namun, tak ada yang keluar. Hanya udara dingin yang masuk memenuhi parunya, sementara ia terpaku menatap kejujuran di mata Alinea.
Seumur hidupnya, Arsenio tak pernah mengenal kata buntu.
Rapat krisis yang mencekam? Ia punya solusinya. Investor yang mengamuk? Ia bisa menjinakkannya. Akuisisi yang nyaris gagal? Semua bisa ia bedah dengan analisis yang presisi.
Namun sekarang, di depan satu perempuan yang rambutnya mulai lepek tersapu gerimis—seorang perempuan yang matanya menyimpan ribuan kemungkinan untuk pergi—ia mendadak kehilangan kompas.
Seluruh algoritma di kepalanya mati total. Ia kosong. Ia bukan lagi CEO Volt-Tech yang tak terkalahkan, ia hanya seorang lelaki yang sedang ketakutan.
Alinea menatapnya.
“Kamu yang bilang aku bukan sementara.”
Diam.
“Kamu yang klaim aku di depan publik.”
Diam lagi.
“Tapi kamu nggak bisa jawab ini apa?”
Hujan semakin deras.
Arsenio memejamkan mata sejenak, membiarkan dinginnya hujan menyentuh kelopak matanya.
Keheningan ini bukan karena ia tak punya jawaban. Justru sebaliknya—ini karena ia tahu. Ia tahu dengan seluruh sel di tubuhnya. Dan bagi lelaki yang selama ini hidup dalam kepastian angka, jawaban itu adalah monster yang membuatnya ketakutan.
Kejujuran itu terlalu besar untuk ia tanggung, dan terlalu nyata untuk ia ucapkan.
“Alinea…” suaranya lebih rendah dari biasanya. Tidak resmi. Tidak formal.
“Saya tidak terbiasa mendefinisikan sesuatu yang belum bisa saya ukur.”
Alinea tersenyum miris.
“Nah itu dia. Kamu masih mau ukur.”
Alinea mundur setengah langkah.
“Aku bukan grafik, Arsenio.”
“Aku tahu.”
“Tapi kamu memperlakukanku seperti variabel yang bisa disesuaikan.”
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan keras. Namun, dentumannya menghantam lebih telak daripada kegagalan bisnis mana pun yang pernah ia lalui.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arsenio merasa perlu membangun pertahanan. Bukan demi reputasi korporat yang ia agungkan, bukan pula untuk harga diri di depan publik. Ia merasa defensif karena dirinya sendiri—karena ego yang selama ini ia jaga rapat-rapat, kini telanjang di depan mata Alinea.
“Saya tidak pernah berniat—”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Hening.
Hujan kini tak lagi sekadar gerimis, ia turun dengan rakus, membasahi rambut Alinea hingga sepenuhnya lepek.
Dalam satu gerakan yang murni refleks, Arsenio akhirnya membuka payung itu. Bunyi kepakan kain payung yang meregang terdengar seperti satu-satunya suara di dunia. Ia melangkah mendekat, menghapus jarak yang tersisa, dan menaungi Alinea di bawah lingkaran hitam yang sama.
Arsenio melakukannya tanpa berpikir. Tanpa analisis. Hanya sebuah insting purba untuk tidak membiarkan perempuan itu kedinginan sendirian.
Alinea menatapnya.
“Lihat? Bahkan ini refleks kontrol.”
Arsenio membeku.
Selama ini, Arsenio tak pernah menyadari bahwa caranya mencintai selalu terasa seperti instruksi kerja. Ia bergerak secara otomatis—mengambil alih situasi, menstabilkan keadaan, mengatur setiap jengkal hidup agar tetap pada orbitnya.
Namun di bawah payung yang sama, ia baru tersadar. Semua perlindungan itu mungkin bukan kenyamanan bagi Alinea.
Mungkin selama ini, ia bukan sedang menjaga. Ia sedang mengekang. Ia bukan sedang memayungi melainkan ia sedang membatasi ruang gerak Alinea untuk sekadar merasakan rintik hujan di wajahnya sendiri.
“Kamu tahu apa yang paling bikin aku takut?” Alinea melanjutkan pelan.
Arsenio tidak menjawab.
“Bukan keluarga kamu. Bukan netizen. Bukan Nadia.”
Alinea menelan ludah.
“Aku takut suatu hari kamu sadar ini cuma glitch.”
Kata itu menggantung di antara mereka, berat dan menyesakkan.
Glitch. Sebuah kesalahan sistem sementara. Sesuatu yang seharusnya bisa di-reset dengan satu ketukan tombol logika.
Namun, detak jantung Arsenio meningkat tajam—ia bisa merasakannya begitu jelas, berdenyut liar di balik dadanya yang biasanya sedingin es. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, ia menolak. Ia tidak ingin mereduksi gemuruh di dadanya menjadi sekadar istilah teknis.
Arsenio tidak ingin memperbaikinya. Ia ingin merasakannya—meskipun itu berarti ia harus hancur.
“Itu bukan glitch,” ucapnya pelan.
“Lalu apa?”
Arsenio kembali terdiam.
Namun, keheningan kali ini terasa berbeda. Bukan lagi keheningan seorang penguasa yang sedang menimbang strategi, melainkan keheningan sebuah bendungan yang tak lagi sanggup menahan beban air.
Dan di situlah, tepat di bawah naungan payung yang gelap, retakan itu terjadi.
Tanpa suara. Tanpa ledakan. Hanya sebuah garis halus yang membelah topeng kesempurnaannya, membiarkan segala ketakutan dan kerapuhan yang selama ini ia kunci rapat-rapat, perlahan merembes keluar ke permukaan.
Arsenio tak pernah tumbuh dengan bahasa perasaan.
Di rumahnya, kasih sayang tak punya kosa kata. Ruang makannya penuh dengan standar tinggi, pencapaian yang harus dipahat, dan prestise yang harus dijaga. Cinta tak pernah dibahas di sana—ia hanya disiratkan lewat kewajiban yang tuntas ditunaikan.
Arsenio adalah arsitek yang tahu cara membangun imperium dari nol. Ia adalah analis yang mampu membaca arah pasar sebelum orang lain menyadarinya.
Namun, berdiri di bawah hujan dan mengakui bahwa satu perempuan—hanya satu—bisa mengguncang seluruh pondasi sistem hidupnya hingga ke akar? Itu adalah anomali yang tak ada dalam manual operasionalnya. Ia sedang menghadapi variabel yang tak bisa ia hitung dengan logika mana pun.
“Saya…” Arsenio berhenti. Mengulang. “Aku…”
Kata itu terasa asing di lidahnya.
Alinea memperhatikan perubahan kecil itu.
“Saya tidak merasa stabil ketika kamu menjauh,” lanjutnya akhirnya.
Alinea terdiam.
“Itu bukan sesuatu yang bisa saya kontrol.”
Napasnya sedikit lebih berat sekarang.
“Dan itu membuat saya takut.”
Pengakuan pertama itu akhirnya meluncur.
Bukan kata cinta yang manis, bukan pula janji yang muluk. Melainkan sebuah pengakuan yang telanjang dan gemetar: takut.
Alinea terpaku. Ia tak pernah menyangka kata itu yang akan keluar dari bibir seorang Arsenio. Ia siap untuk kemarahan, ia siap untuk penolakan, atau bahkan kebisuan yang dingin. Namun, melihat lelaki yang biasanya berdiri tegak sebagai pilar Volt-Tech itu mengaku kalah pada rasa takutnya... itu lebih mengejutkan daripada petir yang menyambar di atas gedung mereka.
“Kamu takut kehilangan kontrol?”
Arsenio menggeleng pelan.
“Saya takut kehilangan kamu.”
Dan dunia seolah berhenti berputar selama sepersekian detik yang menyakitkan.
Hujan tetap turun dengan ritme yang sama, mobil-mobil tetap meluncur melewati halte, namun segalanya terasa berbeda. Kalimat singkat itu menembus lebih dalam daripada klaim publik mana pun yang pernah dibuat Arsenio.
Bukan tentang siapa yang memiliki siapa, tapi tentang siapa yang akhirnya berani meletakkan seluruh pertahanannya di bawah kaki orang lain. Di tengah bisingnya kota, pengakuan itu adalah satu-satunya suara yang bergema di telinga Alinea.
Alinea menatapnya lama.
“Kamu tahu itu artinya apa?”
Arsenio tidak menjawab lebih jauh.
Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu, melainkan karena ia memang belum menemukan definisinya. Selama ini, hidupnya adalah kamus tentang pencapaian, bukan tentang rasa. Ia tahu cara mengukur risiko, tapi ia tidak punya kosa kata untuk menjelaskan mengapa dadanya terasa sesak saat melihat Alinea siap melangkah pergi.
Ia hanya diam di sana, memegang payung untuk mereka berdua, membiarkan keheningan itu menjadi jawaban sementara—bahwa ia sedang belajar untuk tidak sekadar memahami, tapi juga merasakan.
“Aku nggak butuh kamu sempurna,” kata Alinea lirih. “Aku nggak butuh CEO yang selalu tahu jawabannya.”
Alinea mendekat satu langkah.
“Yang aku butuh cuma satu :jangan jadikan aku keputusan strategis.”
Arsenio menatapnya.
“Aku nggak mau jadi langkah yang kamu ambil karena itu paling efisien.”
Hening.
Hujan mulai reda.
“Kamu mau aku jadi apa?” tanya Arsenio akhirnya.
Alinea tersenyum kecil. Sedih tapi hangat.
“Pilihanku. Bukan proyekmu.”
Suara Alinea tidak tajam, tapi kata-katanya mengiris udara seperti pisau presisi. Di bawah payung yang sama, Arsenio merasakan retakan kedua. Dan yang ini, jauh lebih dalam. Lebih merusak.
Jika retakan pertama tadi menghancurkan topeng logikanya, retakan ini menghantam langsung ke jantung otoritasnya. Selama ini ia merasa sedang menyelamatkan, sedang menjaga. Namun Alinea baru saja menamparnya dengan kenyataan pahit adalah bahwa selama ini, Arsenio memperlakukan hidup Alinea tak lebih dari sekadar variabel yang harus ia stabilkan.
Arsenio tidak langsung menjawab. Keheningan itu kini tak lagi terasa seperti kegagalan sistem, melainkan sebuah pengakuan yang sunyi.
Perlahan, ia menurunkan payungnya. Suara kain yang menguncup terdengar pelan di tengah gerimis yang kini hanya tinggal rintik kecil. Ia tak lagi mencoba menaungi Alinea, tak lagi mencoba menjadi atap bagi hidup perempuan itu.
Ia membiarkan hujan yang tipis menyentuh wajahnya, membiarkan dirinya terpapar pada ketidakpastian yang selama ini ia hindari. Dengan payung yang tertutup di samping tubuhnya, ia akhirnya berdiri di sana bukan sebagai pelindung yang dominan, melainkan sebagai manusia yang setara—yang siap untuk basah, dan siap untuk dilepaskan.
“Aku tidak tahu bagaimana menyebut ini,” katanya pelan. “Tapi setiap kali kamu tidak ada di ruangan, rasanya ada yang salah.”
Alinea menahan napas.
“Setiap kali kamu marah, saya merasa… bersalah.”
Arsenio menatap tangannya sendiri, seolah mencoba memahami sensasi asing itu.
“Dan ketika saya mengatakan kamu tidak sementara… itu bukan karena saham.”
Alinea hampir berbisik. “Lalu?”
“Karena saya tidak ingin ada kemungkinan kamu pergi.”
Sunyi.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada pernyataan megah yang memecah kesunyian.
Hanya ada dua orang yang berdiri mematung di atas trotoar basah yang memantulkan cahaya lampu jalan. Di sekitar mereka, dunia tetap bergerak dengan kesibukannya yang buta, sementara mereka terjebak dalam ruang hampa di antara rintik gerimis.
Mereka hanya berdiri di sana, membawa beban perasaan yang bahkan belum sempat mereka beri nama. Sebuah rasa yang terlalu baru untuk dipahami, namun terlalu berat untuk diabaikan.
“Kalau kamu belum bisa jawab ini apa,” ucap Alinea pelan, “jangan janjikan apa-apa.”
Arsenio menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba merumuskan masa depan. Tidak ada analisis risiko, tidak ada target yang harus dicapai. Ia melepaskan semua algoritma di kepalanya.
Hanya ada mereka berdua. Di trotoar basah, di bawah rintik yang sama.
Sederhana, kan?
Seorang lelaki yang kehilangan kata-kata, dan seorang perempuan yang tidak lagi butuh penjelasan.
Arsenio hanya berkata jujur.
“Saya ingin mencoba.”
Kata itu kecil.
Tapi tulus.
“Mencoba apa?”
“Belajar tidak mengontrol semuanya.”
Hening.
“Belajar memilih kamu bukan karena perlu… tapi karena mau.”
Dan di situlah emotional crack itu benar-benar pecah.
Bukan ledakan besar yang bising. Hanya sebuah keruntuhan yang terjadi perlahan, seperti pasir yang luruh dari genggaman.
Alinea melangkah maju. Ia mendekat, memangkas sisa jarak di antara mereka, hingga ia bisa merasakan hangat tubuh Arsenio di tengah dinginnya rintik hujan.
Sederhana. Hanya dua manusia yang akhirnya berhenti berpura-pura.
“Kalau suatu hari kamu sadar ini terlalu rumit?”
Arsenio menjawab tanpa jeda.
“Maka saya akan tetap di sini. Tidak kabur.”
Jawaban itu tidak sempurna. Sama sekali tidak puitis.
Tidak ada janji manis atau kalimat yang tersusun rapi seperti laporan bisnisnya. Namun, jawaban itu nyata. Mentah, kikuk, dan tanpa topeng.
Dan mungkin, kejujuran yang berantakan itulah yang selama ini Alinea tunggu. Bukan solusi, bukan perlindungan—hanya Arsenio yang apa adanya.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi.
Tak ada ciuman. Tak ada pelukan dramatis di bawah lampu jalan. Hanya tangan mereka yang bergerak pelan, saling mencari dan bertaut di tengah rintik gerimis.
Bukan karena publik. Bukan karena sorot kamera. Bukan pula karena tuntutan kontrak yang selama ini membelenggu.
Mereka saling menggenggam hanya karena satu hal yaitu mereka sama-sama memilih untuk tidak pergi malam itu.
Alinea menarik napas panjang.
“Oke.”
Arsenio menatapnya.
“Oke?”
“Kita nggak kasih nama dulu.”
Alinea tersenyum kecil.
“Tapi jangan bilang aku sementara lagi.”
Arsenio mengangguk.
“Tidak akan.”
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, hubungan mereka tidak lagi berdiri di atas strategi yang matang. Tidak juga di atas penyangkalan yang melelahkan.
Melainkan di atas sesuatu yang jauh lebih rapuh, namun jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah mereka bangun sebelumnya—
Kejujuran.
Saat mereka berjalan beriringan menuju parkiran, Arsenio menyadari satu hal, ia belum bisa mendefinisikan ini. Belum bisa menyebutnya cinta, apalagi menjanjikan masa depan yang rapi.
Tapi ia tahu pasti—ia tidak ingin kembali ke versi dirinya yang lama. Ini bukan glitch. Ini adalah perubahan sistem permanen.
Di sisinya, Alinea sadar mereka sedang melangkah ke wilayah yang tidak aman. Masalah keluarga, status, dan tekanan publik masih berdiri tegak di depan sana. Belum ada yang selesai. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian menghadapinya.
Emotional crack itu tidak menghancurkan mereka. Ia hanya membuka celah. Dan dari celah itulah, sesuatu mulai tumbuh.
Belum sempurna. Belum pasti. Tapi nyata.
Dan untuk malam ini... itu sudah cukup.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨