kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Pagi itu, ketenangan di depan "Warung Barokah" pecah oleh deru mesin mobil-mobil mewah yang tampak sangat asing di jalanan desa yang sempit. Debu beterbangan saat iring-iringan MPV hitam mengkilap berhenti tepat di depan rumah kayu Alendra.
Alendra, yang saat itu sedang memanggul tabung gas 12kg dengan kaos oblong yang basah oleh keringat, membeku. Ia meletakkan tabung gas itu pelan-pelan di atas tanah.
Pintu mobil terbuka. Kakek Suhadi turun lebih dulu dengan tongkat kayunya, disusul oleh Papa Afkar yang tampak kaku dan Mama Monika yang langsung menutup hidungnya melihat debu jalanan. Di belakang mereka, Papa Tono dan Mama Selena, orang tua Patricia, berlari kecil dengan wajah penuh kecemasan sekaligus kerinduan.
"Alendra?!" pekik Mama Monika. Ia nyaris pingsan melihat putra mahkota Suhadi Group kini berpenampilan seperti kuli angkut dengan handuk kecil melilit di leher dan wajah yang terbakar matahari.
"Masya Allah, Alen... kamu nak," Papa Tono memeluk menantunya itu, tidak peduli dengan baju Alendra yang kotor.
" bagaimana kabarmu nak?" tanya Tono menatap sendu pada menantunya.
" Alhamdulillah, Alen lebih bahagia di sini, bisa bersama dengan Patricia 24 jam" balasnya tersenyum.
Di teras rumah yang sederhana, keluarga besar itu berkumpul. Kakek Suhadi menatap sekeliling dengan mata tajamnya. Ia melihat tumpukan beras, jerigen minyak, dan tabung gas. Namun, ia juga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di kantor pusat, ketenangan di mata cucunya beberapa bulan yang telah hilang.
"Jadi, ini keputusanmu?" tanya Kakek Suhadi, suaranya berat dan berwibawa.
Alendra mengangguk mantap. Ia memanggil Ardiansyah, adiknya yang tampak paling terpukul melihat kondisi kakaknya. Alendra mengeluarkan sebuah amplop cokelat kusam dari laci meja warung.
"Ardi," Alendra memegang bahu adiknya. "Mulai hari ini, semua saham, otoritas, dan tanggung jawab Suhadi Group resmi aku serahkan padamu. Aku sudah menandatangani surat pengunduran diriku secara permanen."
"Tapi Bang! Kamu yang beberapa bulan ini membuat perusahaan ini sampai ke puncak!" Ardiansyah memprotes dengan suara serak.
"Aku bekerja keras sampai ke puncak tapi aku meruntuhkan rumah tanggaku sendiri, Di," jawab Alendra tenang. "Sekarang, aku ingin membangun hidupku dari tanah ini. Kamu lebih dari mampu memimpin mereka. Jadilah pemimpin yang punya hati, jangan sepertiku yang dulu.".
Alendra bangkit, mengambil air mineral untuk keluarga nya, tidak ada jus ataupun makanan mahal di sana.
___
Pintu rumah terbuka. Patricia keluar dengan balutan daster sederhana dan kerudung instan, tangannya mengusap perutnya yang sudah besar.
"Mama... Papa..."
Mama Selena langsung lari memeluk putrinya. Isak tangis pecah di teras rumah itu. Papa Tono hanya bisa mengusap kepala putrinya, bersyukur melihat wajah Patricia yang kini jauh lebih berisi dan bercahaya dibandingkan saat di kota.
"Kamu bahagia di sini, Nak?" tanya Mama Monika dengan nada yang kini lebih lembut, seolah hatinya melunak melihat kesederhanaan yang ternyata bisa menciptakan senyum tulus di wajah menantunya.
"Sangat bahagia, Ma. Di sini, Mas Alen bukan milik perusahaan. Di sini, dia milikku dan calon cucu Mama sepenuhnya," jawab Patricia sambil melirik Alendra yang sedang mengelap tangan kotornya agar bisa meletakkan minuman dan cemilan di atas meja kecil yang berada di tengah-tengah tikar.
Meskipun awalnya merasa canggung, keluarga besar itu akhirnya duduk melingkar di atas tikar pandan yang digelar di teras samping rumah. Patricia memasak sayur lodeh dan ikan asin, hasil belanja di pasar desa tadi pagi.
Kakek Suhadi mencicipi sambal buatan Patricia. "Ini lebih enak daripada masakan koki bintang lima di Jakarta, kakek jadi teringat saat Najwa baru datang ke kota" gumam sang Kakek, membuat semua orang tertawa.
"Ardi," celetuk Alendra sambil mengunyah tempe goreng. "Jangan lupa kirim kabar tentang keponakanku Akmal dan Aira. Maaf aku tidak bisa datang menjenguk mereka sekarang, gas LPG lagi banyak pesanan hari ini."
Ardiansyah tertawa pedih sekaligus bangga. "Bang Alen... Bang Alen. CEO yang takut kehilangan pelanggan gas."
semuanya tertawa sambil menikmati makanan yang di masah oleh Patricia, tidak menyangka seorang nona muda yang dulu sangat di manja kini bisa memasak makanan sederhana namun sangat terasa istimewa.
**
Sore harinya, saat keluarga besar bersiap pulang, Papa Afkar mendekati Alendra. Ia memberikan sebuah pelukan erat, pelukan ayah ke anak yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan.
"Ayah bangga padamu, Alen. Menjadi pria bukan berarti menguasai gedung tinggi, tapi tahu kapan harus berlutut demi orang yang dicintai."
Alendra tersenyum membalas pelukan papanya" terimakasih pah, Alen sangat bahagia di sini .
Mobil-mobil mewah itu akhirnya meninggalkan desa satu per satu. Ardiansyah melambaikan tangan dari kaca mobil, membawa beban perusahaan di bahunya, sementara Alendra tetap berdiri di depan warungnya.
Alendra merangkul bahu Patricia, menatap matahari terbenam di balik gunung. "Besok kita harus pesan stok beras lebih banyak, Cia. Sepertinya berkah dari keluarga tadi bakal bikin warung kita makin ramai."
Patricia menyandarkan kepalanya di bahu Alendra yang kini terasa jauh lebih kokoh dari dulu. "Iya, Mas. Tapi sekarang... istirahatlah. Ayah butuh tenaga buat antar gas besok pagi."
***
Malam itu, hujan turun dengan rintik yang tenang di atas atap seng rumah kayu mereka. Suara katak bersahutan dari sawah belakang rumah, menciptakan melodi alami yang damai. Di dalam kamar yang beraroma kayu jati dan minyak telon, Alendra sedang sibuk menata bantal di atas kasur lantai yang kini sudah dilapisi sprei bunga-bintang yang baru dicuci.
Alendra menoleh ke arah Patricia yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melipat mukena. Ia berdehem pelan, mencoba menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang,perasaan yang bahkan tidak ia rasakan saat memimpin rapat umum pemegang saham.
"Cia.." panggil Alendra lembut.
"Iya, Mas?"
"Anu... ini kasurnya kan sudah Mas bersihkan. Debu-debunya sudah Mas usir pakai jurus pamungkas. Kasihan kalau Mas tidur di gudang lagi, nanti kalau ada tikus yang mau ajak Mas main catur bagaimana?" Alendra memasang wajah memelas yang dibuat-buat, persis seperti anak kecil yang takut gelap.
Patricia menahan senyum di balik cadar tipis yang belum ia lepas. "Kan Mas sudah biasa tidur sama tabung gas. Kenapa sekarang takut sama tikus?"
"Tabung gas itu dingin, Sayang. Tidak bisa dipeluk, keras pula. Kalau peluk tabung gas, yang ada punggung Mas malah bunyi krek," timpal Alendra sambil merangkak mendekat di atas kasur, menatap Patricia dengan mata yang berbinar penuh harap.
Patricia terdiam sejenak. Ia mendengarkan suara guntur kecil di kejauhan. Dulu, suara itu akan membuatnya menggigil ketakutan, teringat malam kelam saat itu .Namun kini, melihat pria di depannya yang rela kapalan demi menjual sembako, rasa takut itu perlahan memudar, digantikan oleh rasa aman yang nyata.
Patricia melepas cadarnya perlahan, memperlihatkan wajahnya yang kini lebih segar dan bercahaya. Ia mengangguk pelan, hampir tak terlihat.
"Tidurlah di sini, Mas. Kasihan kalau punggungnya sakit terus, nanti tidak kuat angkut galon besok pagi," ucap Patricia malu-malu.
Alendra seolah mendapat lotre triliunan rupiah. Wajahnya berseri-seri. "Beneran? Ini Mas tidak mimpi kan? Tolong cubit Mas, Cia! Eh, jangan kencang-kencang, nanti Mas biru-biru dikira habis dikeroyok ibu-ibu pelanggan gas."
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
kasian juga ya...
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/