Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 : Lancang
Sebelumnya.
Ainur tiba di dekat pintu besi tembok pagar. Kali ini menggunakan teleportasi tidak dia mengerti. Dwipangga menyuruhnya memejamkan mata, entah berapa lama tapi diyakininya jika hanya sebentar saja, kini dirinya sudah sampai di hunian para manusia durjana.
Ainur terdiam ketika melihat sosok mba Neng berdiri di tengah-tengah sedikit ke dalam, seolah menunggu kepulangannya.
Awalnya ia terkejut, tapi ditepisnya perasaan itu. Mulai beradaptasi dan menerima kalau dirinya juga bukan lagi seutuhnya manusia normal, bahkan sudah menikah dengan manusia setengah siluman.
Entah apa yang dikatakan oleh pelayan wanita tersebut dengan Dwipangga – mereka seperti melakukan komunikasi lewat telepati. Ainur mulai memperhatikan hal-hal kecil, instingnya perlahan tajam.
"Saya kembali dulu, Diajeng.” Dwipangga langsung menghilang dari pandangan mata kosong Ainur.
'Diajeng? Tadi dia manggil aku seperti itu ‘kan?’ masih sulit mempercayai, merasa ada yang salah dengan pendengarannya – sapaan itu bermakna rasa hormat, dan artinya bahkan lebih dalam dari itu
Ainur menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran yang menurutnya tidak bermutu. Kemudian melangkah cepat tetap terlihat anggun.
Mba Neng minggir kesamping, memberikan jalan. Kala Ainur sudah masuk ke dalam, pintu langsung dia tutup cepat.
“Apa kamu tidak ingin sedikit bermain dengan seseorang yang hampir saja melecehkanmu, Ainur?”
Deg.
Secepat mungkin Ainur berbalik, menatap tak percaya pada wanita berpakaian pelayan. Matanya memperhatikan bibir terkatup. “Mbak, tadi kamu bicara ‘kan? Jadi, ndak bisu?”
Jelas-jelas barusan Ainur mendengar suara tegas, tenang, tanpa emosi.
“Aku bisu. Akan tetapi, kamu bisa mendengar kata hatiku.” Mba Neng maju mengikis jarak, berdiri tepat dihadapan Ainur, hanya ada sedikit ruang sebagai pemisah.
Ainur masih memperhatikan bibir yang menutup rapat. “Bagaimana aku bisa mendengar suara batinmu, mbak?”
“Salah satu keistimewaan setelah kamu dipersunting oleh Raden Dwipangga.”
“Jadi kamu orangnya Dwipangga?” tanyanya kemudian saat mulai bisa menerima keanehan yang entah keberapa kalinya semenjak bermimpi di lorong gelap.
“Bukan. Namun kami saling kenal, tepatnya demi menjagamu tetap hidup walaupun sudah dijejali oleh berbagai macam racun.”
Ainur mundur satu langkah. Pernyataan mba Neng membuatnya sulit percaya. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada kata yang mampu keluar.
Ujung jemari mba Neng saling bertautan layaknya wanita Jawa nan anggun. “Ainur … aku bibimu, adik Larasani, anak ki Daru.”
Ainur tersentak, napasnya tertahan, kepala menggeleng mencoba menyangkal. Akan tetapi dia sendiri saja tidak kenal keluarga ibu kandungnya, tak pernah mendengar apalagi melihat potretnya.
“Boleh aku tahu cerita lengkapnya?” akhirnya dia bertanya pelan, nyaris berbisik.
Mba Neng mengangguk. “Nama asliku Arkadewi, bermakna bidadari penerang keluarga. Sedangkan arti nama ibumu – wanita penyabar, menyenangkan. Pada kejadian laknat itu, mba Larasani menyembunyikan diriku di dalam lemari penyimpanan makanan. Dilarang keluar sampai tidak mendengar suara apapun.”
“Ayah kami, yaitu kakekmu. Melawan enam orang kroco para manusia biadab. Disaat hampir berhasil mengalahkan, tiba-tiba sebuah panah beracun menancap di lehernya. Beliau tumbang, matanya terbuka lebar melihat ke lemari, menyadari kalau putri bungsunya menyaksikan detik-detik kematiannya lewat lubang kecil” ekspresi Arkadewi tetap sama.
“Mba Larasani sengaja mencari perkara agar Tukiran bersama lainnya tidak menggeledah rumah. Hal itu dilakukan demi melindungiku yang masih berumur sepuluh tahun. Di depan mataku – gadis masih sangat belia, memiliki sifat terpuji, penyayang – digilir tiga pria dewasa berhati iblis. Setelahnya mba Larasani pingsan, dan dipanggul dalam keadaan tanpa busana _”
“Biadab!” Ainur luruh, meninju tanah, tangisnya pecah.
“Kejadian itu merenggut separuh jiwaku. Meninggalkan dendam. Setiap helaan napas hanya memikirkan bagaimana caranya bisa tinggal di atap yang sama sampai detik-detik kematian mereka. Singkat cerita, kesempatan itu tiba, dua tahun setelah terlunta-lunta, hidup seorang diri di dalam hutan, mempelajari ilmu bela diri melalui kitab milik Romo (bapak) – aku mendengar tentang kutukan, dan sosok ki Ageng.” Arkadewi mendongak melihat taburan bintang.
"Karena rasa penasaran, ki Ageng mengangkatku jadi salah satu muridnya. Mengajari meracik tumbuhan herbal menjadi racun mematikan, dan juga ilmu kanuragan, mengasah insting agar tajam, pandangan awas, gerakan tangkas _”
“Rasa penasaran akan apa, Bibi?” ia ingin memanggil wanita ini dengan sebutan yang benar.
“Keturunan Romo, ki Daru … terlahir sepaket dengan keistimewaan. Ibumu memiliki rahim kuat, di dalam tubuhnya ada semacam kekuatan pelindung. Namun sayang, dia belum sempurna mengasah kelebihannya sudah dijadikan alat pemuas nafsu serta wadal tumbal. Akan tetapi, kamu bukti nyata – bisa selamat, terlahir sehat padahal sudah dipaksa luruh," ungkapnya tenang.
"Sementara aku, tidak ada yang bisa membaca pikiran, masa lalu serta masa depan diriku. Hal tersebut membuat ki Ageng berambisi ingin menguak misteri.” Dia melangkah maju, melewati keponakannya.
“Cukup sampai disini, selebihnya masih ada waktu untuk kamu mendengarkan, sekarang mari kita mulai membalaskan dendam.”
Ainur berdiri, berjalan dengan langkah sedikit sempoyongan, setiap bentar menghapus lelehan air mata.
Tante dan keponakan itu tetap berjarak, tidak ada pelukan melepaskan rindu, maupun ungkapan sayang, sekadar mengucapkan kalimat penyemangat saja, tak ada.
“Wesa?” Ainur nyaris memekik, memandang jijik pada tubuh tanpa busana, tergeletak di bawah pohon kelapa.
“Bagian mana miliknya yang sangat ingin kamu berikan pelajaran?” Arkadewi membungkuk, mengambil gunting pemotong rumput, memberikan kepada Ainur. “Lakukanlah! Anggap saja sebagai latihan agar kedepannya tak lagi sungkan-sungkan bila ingin membalaskan dendam.”
Sedikit ragu, tapi dia tetap mengambil gunting yang memiliki panjang hampir selengannya.
“Bayangkan saja saat dia melecehkanmu melalui kata-kata, tatapan mata. Dan bayangkan juga kalau sampai Wesa berhasil melakukan hal hina terhadap tubuhmu. Sama seperti yang dilakukan Daryo bertahun-tahun lamanya!”
Seruan, kalimat tajam sarat penghinaan itu mematik amarah Ainur. Dadanya terasa panas, darah berdesir, rasa benci membuatnya melangkah maju.
Ujung gunting menjepit pelan lengan lemas Wesa, diletakkan di atas perut, lalu ....
Krakk!
Satu jari terpisah dari tangan. Ainur menyeringai, melemparkan jempol yang tadi mengusap bibir sambil empunya memandang rendah dirinya.
“Cukup menyenangkan,” dia terkikik, suara tawanya terdengar lain. Ainur kembali memotong tiga jari lainnya, tersisa telunjuk.
“Cukup!” Arkadewi merebut gunting yang akan diarahkan pada bukti keperkasaan Wesa.
Selanjutnya skenario layaknya tengah disekap, habis dihajar pun dilakoni oleh wanita yang dipandang sebelah mata, pelayan rendahan.
Arkadewi menghantamkan keningnya ke tiang yang ada paku tempat menggantung lampu minyak. Meninju pipi dekat sudut bibir.
Ainur hampir histeris, tapi urung saat melihat ekspresi sang bibi tetap sama. Datar, samasekali tidak mengerang sakit, maupun mengernyit.
Mba Neng menelan pil tanpa minum air, dan memberikan satu butir ke Ainur. Sebelum kesadaran direnggut, mereka bekerja sama saling mengikat anggota tubuh.
***
Citranti terus menangis, suaminya sedang diobati oleh ki Ageng, ada juga seorang dokter tengah menjahit luka menganga.
Wanita hamil itu sedikit memaksa jawaban atas pertanyaan yang sudah sekian kali diajukan. “Siapa manusia jahat yang berani menyiksa suamiku layaknya binatang, ki Ageng …?”
Mata ki Ageng terpejam, tangannya menekan kepala pria yang masih tidak sadarkan diri.
Tiba-tiba ekspresi wajah sedikit berkeriput itu mengeras, suaranya menggeram. “Lancang! Dia memang pantas mendapatkan ini!”
.
.
Bersambung.
menghanguskan mu si paling pintar.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??