NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 17

“Aku tidak punya waktu untuk sandiwara,” ucapnya pelan namun terdengar jelas di mikrofon.

Ruangan mendadak hening.

Helena berdiri setengah dari kursinya, jantungnya berdegup cepat. Ia ingin yakin ada sesuatu antara mereka berdua. Dan membuat Helena semakin tersenyum lebar.

Jay melanjutkan, tatapannya tak lepas dari Jackman.

“Aku tidak tahu apa tujuanmu bermain kotor seperti ini.

Tapi jika ini caramu menguji kesetiaanku… kau memilih target yang salah.”

Bisikan mulai terdengar di antara para tamu. Kata bermain kotor bukanlah istilah ringan di lingkaran mereka.

Jackman tersenyum tipis, namun sorot matanya berubah gelap.

“Kau menuduh ayahmu sendiri?” tanyanya rendah.

“Yang tahu tentang dia hanya kau,” jawab Jay tanpa ragu.

Atmosfer berubah drastis. Bukan lagi pesta amal. Ini duel tak terlihat antara dua pria paling berbahaya di ruangan itu.

Jackman mendekat satu langkah.

“Jika aku ingin menghancurkanmu,” bisiknya dingin, “aku tidak akan melakukannya dengan cara seceroboh ini.”

Kalimat itu membuat Jay terdiam sepersekian detik.

Karena Jackman benar.

Jika ini permainan Jackman, ia pasti tidak akan meninggalkan jejak berupa pesan anonim yang murahan.

Ponsel Jay kembali bergetar.

Pesan baru masuk.

Sebuah alamat.

Dan satu kalimat:

Waktumu 30 menit.

Tatapan Jay kembali membeku.

Kini bukan hanya kemarahan yang ada di matanya.

Tapi juga ketakutan yang tak pernah ia izinkan muncul sebelumnya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jay menyerahkan mikrofon kembali pada MC.

“Aku akan menyelesaikan ini,” katanya singkat.

Lalu ia berbalik meninggalkan panggung, meninggalkan para tamu yang tercengang—dan seorang ayah yang kini menyadari bahwa permainan ini mungkin jauh lebih besar dari sekadar konflik keluarga.

Malam yang seharusnya mengukuhkan Jay sebagai penerus, justru menjadi malam di mana seseorang berani menantangnya secara terbuka.

Langkah Jay tak pernah ragu saat keluar dari gedung megah itu. Senyum diplomatisnya telah hilang. Yang tersisa hanya dingin dan perhitungan.

Begitu pintu mobil tertutup, suaranya berubah menjadi perintah.

“Hubungi semua tim bayangan. Aktifkan protokol hitam. Retas seluruh CCTV radius lima kilometer dari alamat ini. Aku mau tahu mobil apa yang membawanya. Plat nomor, rute, wajah—semuanya.”

Drew yang sudah duduk di kursi depan langsung bergerak cepat.

“Baik Tuan.”

“Drew?” Kata Jay singkat. Wajahnya nampak heran.

“Iya Tuan. Saya sudah tahu.”

“Tapi lukamu…”

“Sudah sembuh tuan. Sesaat yang lalu alarm pelacak Nona Anna berbunyi. Dan kemudian hilang. Saya yakin anda pasti cemas.”

Jay mengangguk pelan.

Tablet tipis di tangannya menyala. Beberapa pengawal lain—yang selama ini menyamar sebagai pejalan kaki, pedagang, hingga pengemudi ojek—mulai masuk ke jaringan kota.

Jay mengepalkan rahang.

Tiga puluh menit.

Layar menampilkan potongan kamera lalu lintas. Sebuah van hitam tanpa plat depan. Bergerak cepat. Berhenti sebentar di gang sempit. Lalu berbelok menuju distrik hiburan malam.

“Sektor Selatan,” gumam Drew. “Menuju kawasan klub elit.”

Salah satu pengawal bersuara melalui earpiece.

“Kami temukan. Van itu masuk ke parkiran bawah tanah klub Velvet Noir. Area VIP lantai tiga.”

Jay menatap layar beberapa detik lebih lama.

“Siapkan akses darurat. Lumpuhkan listrik lantai tiga selama tiga puluh detik saat aku masuk. Jangan sentuh lantai lain.”

“Baik, Tuan.” Kata Drew.

Namun laporan berikutnya membuat suasana di dalam mobil membeku.

“Seluruh tim pengawas Nona Anna… tidak merespons.” kata Drew.

“Apa maksudmu tidak merespons?” suara Jay merendah.

“Pos penjaga kopi di sudut timur kosong. Penjual bunga yang biasa standby hilang. Sopir taksi yang menjadi backup ditemukan tidak sadar di apartemennya. Mereka semua disabotase. Tanpa suara. Tanpa jejak kasar.”

Seseorang tahu. Seseorang tahu bahwa Jay telah mengawasi Anna selama ini. Dan orang itu cukup pintar untuk membersihkan semua mata Jay sebelum bergerak.

Tatapan Jay berubah tajam.

“Berarti ini bukan penculikan acak,” bisiknya. “Ini pesan.”

Mobil berhenti kasar di depan klub.

Lampu neon menyala keunguan. Musik menghentak keras dari dalam. Orang-orang tertawa tanpa tahu bahwa di lantai atas, hidup seseorang sedang dipertaruhkan.

Jay masuk dengan para pengawal terlatih. Begitu juga Drew yang masuk menjaga Jay.

Begitu Jay melangkah masuk, beberapa pria berbadan besar mencoba menghadangnya.

Mereka bahkan tidak sempat menyentuhnya. Dua pengawal Jay muncul dari sisi berbeda. Gerakan cepat. Sunyi. Terukur.

Lift pribadi terbuka. Lantai tiga. Dan tepat saat pintu lift terbuka— Listrik padam.

Gelap total.

Jeritan kecil terdengar dari ruangan VIP. Dalam kegelapan itu, Jay bergerak seperti bayangan.

Ketika lampu kembali menyala tiga puluh detik kemudian, dua pria penjaga Club sudah tergeletak di lantai. Satu memegang lengan yang terkilir, satu lagi tak sadarkan diri.

Di sudut ruangan, Anna terduduk di sofa mewah, napasnya tersengal. Pergelangan tangannya masih terikat longgar—jelas mereka belum sempat melakukan apa pun.

Jay berdiri di hadapannya.

Wajahnya setengah tertutup bayangan lampu kristal yang berkelip.

Anna menatapnya bingung. Takut. Dan marah.

“Siapa?” Siapa kau?!” suaranya gemetar. “Apa kalian semua gila? Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Jay terdiam sepersekian detik. Ia ingin menyebut namanya. Ingin mengatakan bahwa selama ini ia selalu ada di sekelilingnya. Bahwa ia tak pernah benar-benar sendirian. Namun itu akan membuka semuanya. Dan jika musuh tahu seberapa dalam ia peduli. Mereka akan menjadikannya titik lemah.

Jay melepas jasnya dan menyampirkannya di bahu Anna. Jay juga membuka ikatan di pergelangan tangan Anna.

“Kau tidak perlu tahu siapa aku,” katanya rendah. “Yang penting… kau aman.”

Anna menepis tangannya.

“Aman? Aku diculik! Dan sekarang pria asing muncul seolah pahlawan?!”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Jay melihat ketakutan murni di mata Anna. Gadis yang selalu mandiri dan selalu pulang dengan tanpa rasa takut meski pun tengah malam. Gadis yang selama ini ia cintai hingga memunculkan obsesi gilanya.

Dan kini Anna ketakutan, karena situasi yang terlalu besar untuk ia pahami.

Dari belakang, terdengar suara Drew.

“Tuan, kita harus pergi. Polisi mulai bergerak. Dan—ada satu hal lagi. Server CCTV klub ini sudah dibersihkan sepuluh menit sebelum kita tiba.”

Jay membeku.

Artinya… ada pihak lain yang sudah mengantisipasi kedatangannya.

Ini bukan hanya tentang Anna. Ini tentang seseorang yang tahu cara kerja Jay. Seseorang yang cukup dekat. Jay menatap Anna sekali lagi.

“Percayalah padaku. Setidaknya untuk malam ini.”

Jay kemudian menarik tangan Anna. Menggandengnya dengan tangan besar dengan genggaman yang erat.

Di luar ruangan, langkah kaki terdengar.

Bukan polisi.Langkah yang lebih teratur.Lebih terlatih. Jay menyadari satu hal yang membuat darahnya mendingin—

Malam ini bukan penyelamatan sederhana. Ini jebakan. Dan ia mungkin baru saja masuk tepat ke tengah papan permainan musuhnya.

Bersambung

1
thabita
upp y
esuhartn
upp
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!