NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 12: Marking Territory

Dua minggu telah berlalu sejak Arsen membuka hati tentang Anjani. Dua minggu di mana hubungan mereka perlahan berubah dari hubungan tawanan dan penawan menjadi sesuatu yang lebih... kompleks.

Arsen menepati janjinya. Ia mencoba memberikan lebih banyak kebebasan pada Aluna memperbolehkan Aluna berjalan-jalan di taman tanpa ditemani bodyguard (meski ia mengawasi dari jendela), memperbolehkan Aluna menelepon ibunya seminggu dua kali (dengan speaker, tentu saja), dan bahkan memperbolehkan Aluna kembali mengerjakan tugas akhir kuliahnya.

Tetapi beberapa hal tidak berubah Aluna masih harus tidur di kamar Arsen, masih harus menemani Arsen ke setiap meeting, dan masih harus makan di pangkuan Arsen saat makan malam.

Pagi itu, Aluna terbangun dengan Arsen sudah duduk di tepi tempat tidur, menatapnya dengan senyum tipis.

"Bangun, sayang," ucapnya sambil tangannya mengelus rambut Aluna dengan lembut. "Hari ini kita ada acara penting."

Aluna mengucek matanya, masih mengantuk.

"Acara apa?"

"Gala dinner Asosiasi Pengembang Properti Indonesia," jawab Arsen. "Semua CEO dan investor besar akan hadir. Dan aku ingin... memperkenalkan tunanganku secara resmi."

Aluna langsung terjaga sepenuhnya.

"Tunangan? Arsen, kita belum..."

"Aku tahu," potong Arsen sambil tangannya berpindah ke pipi Aluna, mengusap dengan lembut. "Kita belum resmi bertunangan. Tetapi di mata dunia... kamu adalah tunanganku. Dan malam ini, aku akan memastikan semua orang tahu itu."

Ada kilatan sesuatu di mata kelamnya sesuatu yang possessive, yang menandai.

"Kenapa?" tanya Aluna pelan. "Kenapa Anda harus memberitahu semua orang?"

Arsen terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam.

"Karena di dunia ini banyak pria yang akan menginginkanmu begitu mereka melihatmu," jawabnya jujur. "Investor, kolega, bahkan kompetitor. Dan aku tidak akan membiarkan satupun dari mereka berpikir bahwa mereka punya kesempatan."

Tangannya bergerak ke belakang leher Aluna, menarik Aluna lebih dekat.

"Aku akan menandai mu, Aluna," bisiknya dengan suara yang rendah dan berbahaya. "Aku akan memastikan semua orang tahu bahwa kamu... milikku."

Sore hari, Bu Sinta membawa sebuah kotak besar ke kamar Aluna atau lebih tepatnya, ke kamar Arsen di mana Aluna sekarang tinggal.

"Dari Tuan Arsen, Nona," ucap Bu Sinta sambil meletakkan kotak itu di tempat tidur dengan senyum.

Aluna membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya, terbungkus tissue paper mewah, adalah sebuah gaun yang paling indah yang pernah Aluna lihat.

Gaun malam berwarna midnight blue biru gelap yang hampir hitam dengan potongan off shoulder yang elegan, rok panjang mengembang, dan taburan kristal Swarovski di seluruh permukaan gaun yang membuat gaun itu berkilauan seperti langit malam berbintang.

Di samping gaun, ada sepasang heels emas tinggi, clutch berlian kecil, dan...

Aluna tersentak melihat kotak perhiasan kecil berwarna biru tua dengan logo yang sangat ia kenal, Tiffany & Co.

Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu.

Di dalamnya, sebuah kalung berlian yang mengambil napasnya.

Bukan sekadar kalung berlian biasa. Ini adalah liontin berbentuk huruf "A" tetapi bukan "A" untuk Aluna. "A" yang dihiasi berlian-berlian kecil yang berkilauan, dan di bagian belakang liontin, terukir dengan huruf kecil, "Property of Arsen Mahendra".

Milik Arsen Mahendra.

Aluna menatap ukiran itu dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya marah ia bukan properti. Bukan barang yang bisa ditandai dan dimiliki.

Tetapi sebagian lain bagian yang sudah mulai terbiasa dengan possessiveness Arsen merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang mungkin... bangga? Bahwa seseorang mencintainya begitu intens hingga ingin semua orang tahu.

"Nona suka?" tanya Bu Sinta dengan senyum.

Aluna tidak tahu harus menjawab apa. Jadi ia hanya mengangguk pelan.

Malam tiba dengan cepat. Aluna sudah siap dengan gaun yang sempurna di tubuhnya, makeup natural yang membuat wajahnya bersinar, dan rambut yang ditata setengah sanggul dengan beberapa helai tergerai di bahu.

Tetapi kalung itu belum ia pakai masih tergeletak di kotak perhiasannya.

Ketukan di pintu membuat ia menoleh. Arsen masuk, mengenakan tuxedo hitam yang dipotong sempurna di tubuhnya, dasi kupu-kupu hitam, dan rambut yang ditata rapi ke belakang. Ia terlihat seperti pangeran gelap dari dongeng tampan, berbahaya, dan sangat... menggoda.

Mata kelam Arsen menelusuri tubuh Aluna dari atas ke bawah perlahan, menilai setiap detail.

"Sempurna," gumamnya dengan suara serak. "Kamu... sempurna."

Ia berjalan mendekat, dan barulah ia menyadari bahwa kalung itu belum terpasang di leher Aluna.

"Kenapa kamu tidak memakainya?" tanyanya sambil meraih kotak perhiasan itu.

"Saya... saya tidak yakin..."

"Putar," perintah Arsen lembut.

Aluna menurut, memutar tubuhnya membelakangi Arsen.

Arsen mengeluarkan kalung itu dari kotaknya, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, ia melingkarkan kalung itu di leher Aluna. Jemarinya menyentuh kulit leher Aluna saat mengaitkan pengait kalung, membuat Aluna menggigil.

"Di sana," bisik Arsen tepat di telinga Aluna dari belakang. "Sekarang kamu sempurna."

Tangannya tidak langsung melepaskan leher Aluna. Ia membiarkan jemarinya menyusuri tulang selangka Aluna dengan lembut, turun ke liontin yang sekarang tergantung sempurna di dada Aluna.

"Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Arsen dengan suara rendah.

Aluna menatap pantulan mereka di cermin besar Arsen berdiri di belakangnya, tinggi dan dominan, tangannya menyentuh liontin di dada Aluna.

"Artinya kamu milikku," lanjut Arsen sambil bibirnya menyentuh bahu telanjang Aluna dengan lembut. "Di mata semua orang. Di mata dunia. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu. Tidak ada yang boleh mendekatimu. Karena kamu... sudah ditandai."

Ia memutar tubuh Aluna menghadapnya, tangan-tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.

"Aku tahu ini possesive," ucapnya pelan. "Aku tahu ini salah. Tetapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menandai mu. Untuk tidak membuat semua orang tahu bahwa kamu... tunanganku."

Aluna menatap mata kelam itu mata yang dipenuhi dengan cinta yang gelap, yang obsesif, tetapi juga... tulus.

"Baiklah," bisiknya pelan. "Saya akan memakainya. Saya akan... menjadi tunangan Anda malam ini."

Senyum paling lebar yang pernah Aluna lihat muncul di wajah Arsen. Ia menarik Aluna ke dalam pelukannya, memeluk erat.

"Terima kasih," bisiknya di rambut Aluna. "Terima kasih karena membiarkanku... memilikimu."

Gala dinner diadakan di ballroom hotel bintang lima yang sangat mewah. Begitu Arsen dan Aluna tiba, semua mata langsung tertuju pada mereka.

Arsen Mahendra yang terkenal dingin dan tidak pernah membawa pasangan ke acara publik, sekarang berjalan dengan seorang wanita cantik di lengannya tangan mereka bertautan erat, dan tatapan Arsen pada wanita itu penuh dengan... kepemilikan.

"Arsen!" sapa seorang pria paruh baya dengan setelan mahal. "Lama tidak bertemu! Dan ini... siapa?"

Arsen menarik Aluna lebih dekat, lengannya melingkari pinggang Aluna dengan possessive.

"Aluna Pradipta," perkenalkan Arsen dengan nada yang memperingatkan jangan coba-coba. "Tunanganku."

Pria itu terbelalak, begitu juga beberapa orang di sekitar mereka yang mendengar.

"Tunangan? Wah, selamat Arsen! Kamu akhirnya..."

"Ya," potong Arsen dengan senyum dingin. "Akhirnya. Dan Aluna... sangat spesial bagiku."

Tangannya di pinggang Aluna menekan dengan lembut sebuah tanda kepemilikan yang jelas.

Sepanjang malam, Arsen memperkenalkan Aluna pada semua orang investor, CEO perusahaan besar, pejabat pemerintah. Dan setiap kali, ia selalu menekankan satu hal, "Tunanganku."

Aluna bisa merasakan tatapan-tatapan iri dari wanita-wanita di ruangan itu tatapan yang mengatakan "bagaimana dia bisa mendapatkan Arsen Mahendra?" Tetapi Aluna juga merasakan tatapan dari pria-pria tatapan yang membuat Arsen langsung menarik Aluna lebih dekat, tatapan yang membuat rahang Arsen mengeras.

Saat makan malam dimulai, mereka duduk di meja VIP. Arsen, tentu saja, memaksa Aluna duduk sangat dekat dengannya kursi mereka hampir menempel.

Di tengah makan malam, seorang pria muda mungkin sekitar usia Arsen menghampiri meja mereka dengan senyum yang terlalu percaya diri.

"Arsen," sapanya. "Lama tidak bertemu sejak konferensi di Singapura."

Arsen mengangguk dingin.

"Darren."

Jadi ini Darren rival bisnis Arsen yang pernah disebutkan. Pria itu tampan dengan cara yang licin, senyumnya terlalu lebar, matanya terlalu tajam.

Dan mata itu sekarang menatap Aluna dengan minat yang sangat jelas.

"Dan ini pasti tunangan yang semua orang bicarakan," ucap Darren sambil mengulurkan tangannya pada Aluna. "Darren Wijaya. Senang bertemu dengan wanita yang bisa menaklukkan hati Arsen yang dingin."

Sebelum Aluna bisa menjabat tangan itu, Arsen sudah berdiri tubuhnya menghalangi Aluna dari Darren.

"Dia tidak perlu berkenalan denganmu," ucap Arsen dengan suara yang berbahaya rendah.

Darren tertawa, tetapi ada sesuatu yang gelap di matanya.

"Possesive seperti biasa, Arsen? Kamu tidak berubah."

"Tidak untuk hal yang penting," balas Arsen dingin. "Dan Aluna... sangat penting."

Tangannya meraih tangan Aluna, menarik Aluna berdiri di sampingnya.

"Kami permisi," ucap Arsen sambil membawa Aluna menjauh dari Darren.

Tetapi sebelum mereka menjauh, Aluna mendengar Darren berbisik cukup keras untuk didengar Arsen, "Wanita cantik. Berapa lama kamu bisa menahannya sebelum dia kabur seperti Anjani?"

Arsen berhenti seketika. Tubuhnya menegang. Tangan yang memegang tangan Aluna mengerat hingga hampir menyakitkan.

Aluna bisa merasakan amarah yang mengalir dari tubuh Arsen amarah yang berbahaya, yang mengancam akan meledak.

"Arsen," bisik Aluna cepat. "Jangan. Dia hanya provokasi."

Arsen memutar tubuhnya perlahan menghadap Darren. Matanya... mengerikan. Seperti predator yang siap membunuh.

"Jangan pernah," desis Arsen dengan suara yang membeku, "menyebut namanya lagi. Dan jangan pernah pernah membandingkan Aluna dengannya."

Ia melangkah lebih dekat pada Darren, mengabaikan semua orang yang mulai memerhatikan.

"Aluna tidak akan pergi," lanjutnya dengan suara yang bergetar karena amarah. "Karena aku akan memastikan dia tahu betapa berharganya dia bagiku. Tidak sepertimu yang tidak pernah bisa mempertahankan siapa pun karena kamu tidak tahu artinya mencintai."

Darren tersenyum tipis senyum yang menyebalkan.

"Kita lihat saja, Arsen. Kita lihat berapa lama dia bertahan dengan sifat possesive mu yang menyeramkan."

Sebelum Arsen bisa meledak, Aluna dengan cepat menarik tangan Arsen.

"Arsen, ayo pergi," bisiknya. "Tolong."

Arsen menatap Aluna, dan melihat tatapan memohon di sana membuat amarahnya sedikit mereda. Ia menarik napas dalam, lalu mengangguk.

Tanpa kata-kata lagi, ia membawa Aluna keluar dari ballroom menuju balkon pribadi yang sunyi.

Di balkon, Arsen berdiri menghadap ke pemandangan kota dengan tangan terkepal di pagar. Tubuhnya masih gemetar karena amarah.

Aluna berdiri di belakangnya, tidak tahu harus berkata apa.

"Maaf," ucap Arsen tiba-tiba tanpa berbalik. "Maaf kamu harus melihat itu. Aku hampir... aku hampir kehilangan kontrol."

"Tidak apa-apa," bisik Aluna sambil melangkah lebih dekat. "Saya mengerti."

Arsen berbalik, menatap Aluna dengan tatapan yang penuh dengan emosi yang kompleks.

"Darren benar," ucapnya pahit. "Aku possesive. Aku menyeramkan. Dan suatu hari... kamu akan kabur dariku seperti..."

"Tidak," potong Aluna tegas. Ia melangkah lebih dekat, tangannya menyentuh dada Arsen. "Saya tidak akan kabur. Saya sudah bilang, ingat? Saya akan tetap di sini."

Tangannya bergerak ke wajah Arsen, memaksa pria itu menatapnya.

"Ya, Anda possesive. Ya, kadang Anda terlalu mengontrol. Tetapi saya tahu itu karena Anda takut. Dan saya... saya tidak akan meninggalkan Anda hanya karena Anda punya luka."

Air mata menggenang di mata Arsen.

"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa kamu mau tetap bersamaku?"

Aluna terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.

"Karena di balik semua possessiveness itu... saya melihat pria yang mencintai saya dengan segenap hatinya. Dengan cara yang salah, mungkin. Tetapi... nyata."

Ia mengangkat tangannya, menyentuh kalung di lehernya.

"Dan mungkin... sebagian dari saya sudah mulai mencintai pria itu juga."

Mata Arsen terbelalak. Ia menatap Aluna seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

"Kamu... kamu mencintaiku?" bisiknya hampir tidak terdengar.

Aluna mengangguk pelan, senyumnya melembut.

"Saya rasa... ya. Saya mulai mencintai Anda, Arsen Mahendra."

Untuk sesaat, dunia berhenti berputar.

Lalu Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang erat, yang putus asa, yang penuh dengan emosi yang meluap.

"Terima kasih," isaknya di rambut Aluna. "Terima kasih. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Ia melepaskan pelukan cukup untuk menatap wajah Aluna, lalu menciumnya ciuman yang berbeda dari sebelumnya. Bukan ciuman possessive atau dominan. Ini ciuman yang lembut, yang penuh dengan cinta yang tulus, yang penuh dengan... harapan.

Aluna membalas ciuman itu dengan lembut, tangannya melingkari leher Arsen, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan pelukan itu.

Saat mereka terpisah, Arsen menyentuh kalung di leher Aluna dengan lembut.

"Kamu benar-benar milikku sekarang," bisiknya dengan senyum yang tulus senyum pertamanya yang benar-benar bahagia. "Bukan karena paksaan. Bukan karena kontrak. Tetapi karena kamu memilih untuk menjadi milikku."

Aluna tersenyum.

"Dan Anda... milik saya juga."

Arsen tertawa pelan suara yang jarang Aluna dengar, suara yang hangat dan tulus.

"Ya," ucapnya sambil mencium kening Aluna. "Aku milikmu. Selamanya."

Mereka berdiri di balkon itu, memeluk satu sama lain di bawah langit malam berbintang, dengan kalung berlian itu berkilauan di dada Aluna tanda kepemilikan yang akhirnya Aluna terima dengan hati yang rela.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Aluna merasa... damai.

Damai dalam pelukan pria yang mencintainya dengan cara yang gelap.

Pria yang kini... ia cintai juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!