Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Normal, Lalu Menghilang
Perjalanan kami sempat kembali berjalan dengan baik. Beberapa hari setelah semua kekacauan itu, suasana di antara kami terasa lebih ringan. Yeye kembali seperti saat pertama kali dia menghubungiku setelah pulang. Dia menelepon lagi, suaranya terdengar lebih hangat, dan kami kembali berbincang cukup lama. Kebiasaan lama perlahan muncul kembali—telepon di malam hari, cerita tentang aktivitas masing-masing, tawa kecil yang muncul di sela percakapan. Untuk sesaat, aku merasa tenang, seolah semua yang sempat retak telah menemukan jalannya sendiri untuk pulih.
Aku mulai percaya bahwa mungkin semua yang terjadi sebelumnya hanyalah fase lelah. Bahwa tekanan pekerjaan, jarak, dan masalah hidup sempat membuatnya kewalahan. Aku memilih memercayai itu, karena rasanya lebih mudah daripada terus mencurigai perubahan yang belum tentu punya jawaban. Aku ingin percaya bahwa kami masih berada di jalur yang sama.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Beberapa hari kemudian, Yeye kembali seperti orang yang kemarin. Perubahannya bahkan terasa lebih jelas. Pesanku tidak lagi dibalas, bukan tertunda, tapi benar-benar dibiarkan. Story yang kuunggah tidak pernah dia lihat. Kehadiranku perlahan menghilang dari perhatiannya, seolah aku tidak lagi berada di ruang yang sama dengannya, meski namaku masih ada di daftar kontaknya.
Setiap hari aku menulis pesan. Kadang singkat, hanya menanyakan kabarnya. Kadang lebih panjang, sekadar menceritakan hariku. Aku menulis bukan untuk menuntut, melainkan untuk mempertahankan koneksi yang terasa makin rapuh. Namun tidak satu pun pesan itu dibaca. Aku seperti berbicara sendiri, menaruh perasaan di ruang kosong yang tidak pernah dijawab.
Aku mulai kelelahan secara emosional.
Ada rasa malu karena terus berharap, ada rasa sedih karena diabaikan. Aku bertanya pada diriku sendiri, sejak kapan aku harus berjuang sendirian untuk sesuatu yang seharusnya dijalani berdua. Tapi di saat yang sama, aku belum sanggup benar-benar berhenti.
Akhirnya, aku menulis pesan panjang. Pesan yang berisi semua yang selama ini kupendam. Aku menuliskan perasaanku dengan jujur—tentang rindu yang tidak tersampaikan, tentang bingung yang terus mengganggu, tentang rasa sakit karena merasa tidak dianggap. Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya ingin dia tahu apa yang kurasakan, apa yang aku alami dalam diam.
Pesan itu pun tidak dibalas.
Hari-hari berlalu, lalu berganti minggu. Aku menunggu tanpa kepastian. Ada masa di mana aku mulai menerima kemungkinan bahwa semuanya mungkin sudah berakhir, meski tidak pernah diucapkan dengan jelas. Aku mencoba menurunkan harapan, mencoba menguatkan diriku sendiri, meski setiap kali ponselku bergetar, hatiku masih bereaksi.
Sampai akhirnya, setelah beberapa minggu, pesan darinya masuk.
Dia mengatakan bahwa dia juga menyayangiku. Bahwa dia juga mencintaiku. Namun saat ini, dia sedang tidak baik-baik saja. Terlalu banyak masalah yang menumpuk dalam hidupnya.
Dia merasa tidak mampu memikirkan perasaan siapa pun, termasuk perasaannya sendiri. Karena itu, dia memilih mengesampingkan semuanya untuk sementara waktu dan fokus menyelesaikan masalahnya.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Ada rasa lega karena akhirnya aku mendapat jawaban. Ada kehangatan kecil karena perasaanku tidak sepenuhnya sepihak. Namun bersamaan dengan itu, ada kesedihan yang lebih dalam. Karena cinta yang diakui tanpa kehadiran tetap terasa kosong.
Kata “menyukai” dan “mencintai” terdengar indah, tapi kehilangan maknanya ketika tidak diiringi tindakan.
Di titik itu, aku mulai memahami sesuatu yang pahit. Bahwa tidak semua rasa yang saling ada bisa berjalan beriringan. Kadang, seseorang memilih bertahan
caranya sendiri, sementara yang lain harus belajar menerima, sendirian.
Dan aku pun berada di posisi itu—masih mencintai, masih peduli, tapi perlahan mulai belajar bagaimana caranya melepaskan harapan, tanpa harus membenci kenangan yang pernah ada.