Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MATI KUTU
Calista memanfaatkan keheningan itu, dia mendekat ke arah kursi para menteri.
"Kalian semua duduk di sini untuk menghakimiku karena aku terlalu kuat untuk menjadi seorang ibu susu, tapi kalian lupa satu hal," ucap Calista mengangkat tangannya yang dirantai tinggi-tinggi.
"Jika aku benar-benar menggunakan sihir iblis, apakah menurut kalian rantai perak kecil ini bisa menahan ku?" tanya Calista, tersenyum miring.
Dengan satu sentakan yang sangat cepat dan menggunakan teknik tuas yang tepat, bukan kekuatan kasar, Calista menekan sambungan rantai perak itu pada sudut meja marmer di dekatnya.
PRAK
Rantai itu patah. Bukan karena sihir, tapi karena Calista yang berjiwa Yura tahu titik terlemah dari logam perak yang cenderung lunak.
Bagi seorang agen rahasia seperti Yura, hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari nya, dulu waktu dia belum berpindah jiwa ke tubuh Calista ini.
Melihat apa yang di lakukan Calista, membuat seluruh orang yang ada di Aula tersentak.
Pengawal maju satu langkah, tapi Jayden mengangkat tangannya, memberi perintah untuk tetap diam.
"Aku bisa membunuh kalian semua di ruangan ini sebelum pengawal itu sempat berkedip jika aku mau," ucap Calista tenang, menjatuhkan patahan rantai ke lantai.
"Tapi aku tidak melakukannya. Kenapa? Karena aku adalah pelindung Lorenzo Florist. Dan saat ini, musuh terbesar bayi itu bukan aku, tapi orang-orang yang lebih takut pada posisinya daripada keselamatan nyawanya," lanjut Calista, menatap dingin semua orang yang ada di sana.
"Jika persidangan ini dilanjutkan dengan niat membunuhku, maka aku akan mulai menyebutkan satu per satu nama menteri di sini yang memiliki catatan keuangan gelap dengan kediaman Isabella, sang Mantan Ibu Suri yang terhormat. Bagaimana, Baron Harry? Ingin saya mulai dari Anda?" tanya Yura menatap tirai Isabella.
Baron Harry dibuat gemetar, dia menatap ke arah tirai Isabella untuk meminta bantuan, namun tidak ada suara dari sana.
Isabella tahu, jika dia terus mendesak, maka Calista mungkin benar-benar akan membongkar seluruh jaringan mata-matanya.
"Sial! Dari mana wanita rendahan itu tahu semua ini," batin Isabella, mengepal kan tangan nya, dengan wajah memerah.
Niat hati ingin membuang Calista dari sisi Pangeran Lorenzo, justru dirinya mendapatkan kejutan yang tidak terduga dari Ibu Susu yang dia anggap lemah itu.
Suasana di aula berubah drastis, para pengikut Isabella langsung menunduk kan kepala nya, dengan keringat dingin yang membanjiri pelipis mereka.
"Cih! Tikus-tikus menjijikan," batin Calista, berdecih sinis.
Jayden berdiri dari kursinya, jubah kebesarnya berkibar saat dia berjalan turun ke tengah aula.
"Sepertinya sudah jelas," ucap Jayden dengan suara yang menggema.
"Calista tidak menggunakan sihir. Dia menggunakan kecerdasan dan kemampuan yang unik. Mengingat dia telah menyelamatkan nyawa Pangeran Mahkota dari pembunuhan dan racun, aku menyatakan bahwa tuduhan ini tidak berdasar!" lanjut Jayden, tegas.
"Tapi Grand Duke-"
Baron Harry mencoba memprotes, walaupun dirinya sedang berada di ambang batas hancuran.
"Apa? Kau ingin kita bisa melanjutkan persidangan ini dengan agenda pemeriksaan korupsi dewan menteri. Mana yang kau pilih?" tanya Jayden, menatap dingin pada Baron Harry.
"T-tuduhan dibatalkan. Nona Calista dinyatakan bersih," jawab Baron Harry, menelan ludahnya kasar.
Tidak ada yang berani angkat bicara lagi, bahkan wanita tua di balik tirai tadi, sudah tidak ada suaranya.
"Saya keluar," ucap Calista, dingin.
Calista memberikan hormat yang sangat tidak tulus, hampir seperti mengejek.
Dia kemudian berbalik dan berjalan keluar dari Aula Agung tanpa menunggu instruksi lebih lanjut.
Setelah Calista keluar dari tempat sidang itu, Jayden menyusulnya, langkah kakinya yang berat terdengar terburu-buru.
"Kau benar-benar gila," ucap Jayden saat mereka sudah cukup jauh dari kerumunan.
"Kau mematahkan rantai perak itu? Kau tahu itu bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap simbol suci?" tanya Jayden, sebenarnya sangat penasaran dengan kekuatan Calista.
"Itu perak murahan, Jayden. Kau harus memesan yang lebih berkualitas jika ingin menahan ku lain kali," jawab Calista santai, mulai berjalan menuju paviliun Lorenzo.
"Tunggu dulu," ucap Jayden menarik lengan Calista, memaksanya berhenti.
"Lepas," ucap Calista dingin.
"Bagaimana kau tahu tentang putra Baron Harry? Itu informasi rahasia yang bahkan Owen butuh waktu seminggu untuk mencarinya," tanya Jayden, tanpa melepaskan melepaskan tangan Calista.
Calista tersenyum misterius, sebenarnya dia tahu semua itu dari potongan memori Calista yang asli, Calista asli pernah tidak sengaja menguping Ajeng berbicara dengan pelayan lain tentang bagaimana mereka harus berterima kasih pada Ibu Suri karena telah menempatkan putra Baron Silas.
Dan Yura hanya menghubungkan titik-titiknya dengan insting agen rahasianya.
"Aku punya cara-caraku sendiri, dan Anda tidak perlu tahu Grand Duke," jawab Calista
"Sekarang lepaskan tangan ku, aku punya bayi yang harus diberi makan, dan aku yakin dia merindukanku," ucap Calista, menatap tangan yang di pegang Jayden, dingin.
"Ibu ku tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti itu, kau baru saja menyatakan perang terbuka padanya," ucap Jayden melepaskan pegangannya, namun matanya tetap tertuju pada Calista.
"Bagus, aku memang lebih suka perang yang terlihat daripada racun di dalam bubur. Setidaknya dalam perang, aku tahu ke mana harus mengarahkan tusuk konde ku," jawab Calista sambil terus berjalan.
Sesampainya di paviliun nya, Calista langsung mengambil Lorenzo dari gendongan pengasuh.
Bayi itu langsung tertawa saat melihat Calista, seolah tahu pahlawannya telah kembali.
"Kalian berdua boleh pergi," ucap Calista, pada mereka berdua.
"Kami permisi, Nona," ucap mereka berdua, sopan.
Setelah dua pengasuh itu pergi, Calista duduk di ranjang, mulai menyusui Lorenzo.
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu, namun kali ini terasa lebih aman karena pasukan pribadi Jayden kini berjaga di setiap jengkal koridor.
Tiba-tiba, Yura merasakan sesuatu yang aneh di balik bantalnya, sambil tetap menggendong Lorenzo, tangan kirinya meraba bawah bantal.
Dia menemukan sebuah belati kecil yang sangat indah, dengan gagang berlapis emas dan permata biru.
Ada secarik kertas kecil yang terlilit di sana.
"Gunakan ini. Tusuk konde terlalu memalukan untuk pelindung seorang Raja"
--J
Calista menatap belati itu, lalu melirik ke arah pintu, di mana Jayden mungkin masih berdiri di luar.
Sebuah senyuman kecil, kali ini tulus, muncul di wajahnya.
"Lumayan juga seleramu, Grand Duke," gumam Calista, menyimpan kembali belati kecil itu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama, dari arah taman belakang paviliun, terdengar suara kepakan burung merpati yang membawa pesan.
Calista menajamkan pendengarannya, bukan hanya satu, tapi puluhan merpati.
Isabella sedang menggerakkan pion-pion nya di luar istana, wanita tua itu benar-benar sangat ambisius.
"Drama ini baru saja dimulai, ya?" bisik Calista pada Lorenzo yang mulai tertidur.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.