Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran di Bawah Langit Malam
Udara dingin yang menembus tenda seolah tak berarti saat Jane melihat layar ponselnya kembali menyala.
Julius: Aku tahu kau belum tidur. Keluarlah, mari duduk bersamaku sebentar. Api unggunnya masih hangat.
Jane menarik napas panjang, merapatkan jaket couple-nya, dan memberanikan diri membuka ritsleting tenda. Di sana, di bawah naungan bintang-bintang yang memenuhi langit hutan, Julius duduk sendirian. Wajahnya yang diterpa cahaya api terlihat lebih lunak, tidak ada lagi topeng pewaris Randle yang kaku.
"Duduk di sini," perintah Julius lembut sambil menepuk sisi batang pohon di sampingnya.
Begitu Jane duduk, tanpa diduga, Julius berlutut di hadapannya. "Luruskan kakimu," ucapnya. Jane yang kini sudah tak lagi merasa canggung mengikuti perintah itu. Julius menarik kaki Jane ke atas pangkuannya, lalu dengan jemari yang kuat namun berhati-hati, ia mulai memijat betis dan telapak kaki Jane.
Jane bisa merasakan setiap pijatan itu menghancurkan rasa lelah akibat pendakian tadi siang. Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang magis. Hanya ada suara kayu yang berderak terbakar dan deru napas mereka.
Tiba-tiba, Julius mendongak, matanya mengunci mata Jane dengan intensitas yang mematikan. "Jane... apa kau punya pacar?"
Jane menggeleng pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Tidak, Julius."
Tanpa peringatan, Julius memajukan wajahnya dan mendaratkan ciuman hangat di pipi Jane. Jane mematung, jantungnya berdegup hingga ke telinga. Namun, Julius tidak berhenti di sana. Ia menangkup wajah Jane dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap bibir Jane yang tadi sempat ia perhatikan kering.
"Bolehkah aku mencium bibirmu?" bisik Julius, meminta izin dengan suara yang begitu rendah dan penuh kerinduan.
Jane tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya terpaku dalam keterkejutan yang manis. Julius perlahan mendekat. Awalnya, lumatan itu terasa ragu-ragu, seolah ia takut Jane akan menjauh. Namun saat ia merasakan napas Jane yang memburu, ciuman itu berubah menjadi lembut dan dalam.
Jane menegang, otaknya seolah meledak. Apa yang terjadi? Apakah ini nyata? Pikirannya kacau antara sosok Julius yang dingin dan pria yang sekarang sedang mencicipi bibirnya dengan penuh perasaan ini.
Julius melepaskan tautan bibir mereka sejenak, dahi mereka masih bersentuhan. "Balaslah, Jane... tolong balas aku," bisiknya serak.
Seolah digerakkan oleh insting yang terpendam, Jane memejamkan mata dan mulai membalas ciuman itu. Ia melingkarkan tangannya di leher Julius, membalas kehangatan yang diberikan pria itu. Dunia seolah berhenti berputar, hanya ada mereka berdua di tengah hutan yang sunyi.
"ASTAGA!"
Suara ritsleting tenda yang terbuka dengan kasar memecah suasana. Jane dan Julius tersentak dan langsung menjauh.
Di depan tenda seberang, Clark berdiri mematung dengan botol minum di tangannya. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Ia baru saja berniat keluar untuk mencari minum karena haus, tapi pemandangan di depannya jauh lebih mengejutkan daripada grafik saham yang anjlok.
"J-Jules? Jane?" suara Clark bergetar. "Gue... gue rasa gue salah liat. Gue kayaknya halusinasi karena oksigen di sini tipis."
Clark segera menarik tangannya dari ritsleting tenda. Dengan gerakan secepat kilat, ia masuk kembali ke dalam kegelapan tendanya, jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia melihat fluktuasi saham paling ekstrem sekalipun. Ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan, berusaha meredam napasnya.
Gue nggak liat apa-apa. Gue nggak liat Julius Randle nyium Jane. Gue cuma mimpi buruk karena kurang oksigen, batin Clark dalam kepanikan yang luar biasa. Ia sangat mengenal Julius; jika pria itu tahu momen intimnya terganggu, Clark mungkin tidak akan selamat sampai di bawah gunung.
Di luar, suasana kembali hening, namun sisa-sisa getaran emosi masih menggantung di udara. Julius perlahan melepaskan tautan bibir mereka, namun tangannya tidak beranjak dari wajah Jane. Ia menatap Jane dengan tatapan yang benar-benar telanjang, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kedinginan.
Julius menarik napas panjang, lalu menyandarkan dahinya ke dahi Jane. Suaranya yang biasanya terdengar seperti perintah, kini terdengar sangat rapuh.
"Jane..." bisiknya. "Terima kasih."
Jane masih terpaku, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. "Untuk apa, Julius?"
Julius tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang membuat Jane merasa seolah dialah satu-satunya wanita di dunia ini. "Terima kasih karena sudah membalasnya. Dan kau harus tahu satu hal..." ia menjeda sejenak, menatap langsung ke dalam mata Jane. "Ini adalah ciuman pertamaku."
Jane tersentak. Matanya membelalak tak percaya. "Pertama? Tapi... kau dan Grace... publik bilang..."
"Itu semua naskah, Jane," potong Julius cepat. "Selama ini aku tidak pernah membiarkan siapapun menyentuhku lebih dari sekadar formalitas. Tapi malam ini, di sini, aku ingin menjadi diriku sendiri. Bukan sebagai pewaris, bukan sebagai tunangan Grace, tapi sebagai pria yang sejak lama memperhatikanmu dari baris depan kelas."
Jane merasa dunia di sekitarnya mendadak hilang. Pengakuan Julius bahwa ini adalah ciuman pertamanya membuat Jane merasa sangat istimewa. Ternyata, selama ini Julius menjaga dirinya hanya untuk momen ini untuk seorang gadis tekstil yang selalu merasa tidak terlihat.
"Julius, aku..." Jane tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu.
"Kau tidak perlu menjawab sekarang," ucap Julius sambil menarik Jane ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Jane bersandar di dadanya yang bidang. "Cukup tahu bahwa mulai malam ini, naskah hidupku sudah berubah. Dan kau adalah peran utamanya."
Di dalam tenda yang tak jauh dari sana, Clark masih terjaga. Ia mendengar sayup-sayup suara bisikan mereka. Ia tahu, mulai besok, dinamika geng somplak ini tidak akan pernah sama lagi. Rahasia besar ini akan menjadi beban sekaligus bukti bahwa sang Matahari akhirnya menemukan bulannya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍😍😍
Kasian Clark 🤣