Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Boleh Mati Sia-sia
Tiga saudara kembar yang dibesarkan di Moonveil terbaring di atas satu dipan yang sama, dengan Lily di tengah-tengah mereka. Eri meringkuk setia di bawah dipan, menolak dijauhkan dari sang putri. Ketiganya menatap langit-langit kamar yang sunyi. Malam telah larut, namun tak satu pun dari mereka mampu memejamkan mata. Kesunyian justru memperkeras luka yang belum sempat mengering.
Pangeran Lian tampak paling gelisah. Napasnya berat, dadanya naik turun tidak teratur. Ia tidak mengatakan apa pun, namun Pangeran Leo dan Putri Lily mengetahui isi pikirannya. Sejak dalam kandungan, mereka sudah terikat satu sama lain.
“Hari ini… adalah mimpi buruk.” ujar Pangeran Leo dengan suara parau.
Pangeran Lian menelan napas, “Kalau saja ibunda tidak menyelamatkanku, mungkin ibunda dan ayahanda masih hidup.” katanya lirih.
“Kakak,” panggil Putri Lily cepat. Ia menoleh, menatap wajah Lian yang dibasahi bayangan penyesalan. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”
Tangannya meraih tangan kakaknya, hangat dan menenangkan.
“Ini sudah takdir,” lanjut Lily lembut. “Tak seorang pun bisa menduga hari ini akan terjadi. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memastikan ibunda dan ayahanda tidak mati sia-sia.”
Pangeran Lian memejamkan mata, rahangnya mengeras menahan emosi. Pangeran Leo mengangguk perlahan,
“Mari berbagi tugas untuk membalas semua ini.” ucapnya pelan, namun sarat dendam.
Mereka bertiga saling mendekat. Pangeran Lian dan Leo memeluk saudari mereka yang berada di tengah, seakan berjanji tanpa kata bahwa apa pun yang terjadi mereka akan tetap berdiri bersama. Memeluk Lily adalah kekuatan baru bagi keduanya.
___
Pangeran Leo dan Putri Lily menyusuri pasar besi yang telah mereka tandai sebelum meninggalkan istana. Derap langkah mereka menyatu dengan hiruk pikuk rakyat, namun kewaspadaan tak pernah surut. Putri Lily menutupi wajahnya dengan cadar gelap, menyembunyikan identitas dan ekspresinya. Pangeran Leo mengenakan pakaian sederhana seorang pengawal, tanpa lambang dan kemewahan.
“Ini pengrajin pisau terakhir dalam daftar kita,” ucap Lily pelan, menatap sebuah toko alat tajam di hadapan mereka. Bangunannya cukup luas, namun letaknya tersembunyi di perbatasan Agartha… tempat yang sempurna untuk transaksi yang tak ingin diketahui siapa pun.
Mereka melangkah masuk dengan dagu terangkat. Deretan pisau, pedang, dan belati terpajang rapi di dinding kayu. Lily mengamati satu per satu dengan cermat, sementara Leo memperhatikan gerak-gerik pemilik toko. Namun tak satu pun bilah yang menyerupai belati yang mereka cari.
Pangeran Leo lalu menyelipkan tangannya ke balik pakaian, mengeluarkan pelangkat Kaisar Imperial Agartha. Seketika wajah pemilik toko berubah. Senyum ramah terukir terlalu cepat.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuanku?” katanya dengan suara dibuat-buat tenang.
Putri Lily melangkah maju. Tatapannya menembus, seolah menelanjangi jiwa lelaki itu. Ia membuka gulungan kain di tangannya, memperlihatkan belati yang terukir di gagangnya.
Wajah pemilik toko seketika panik.
“S-saya tidak memiliki belati seperti ini.” katanya terbata, mundur selangkah.
Lily mencondongkan tubuhnya sedikit. “Kami bahkan tidak bertanya apakah kau memilikinya.” ucapnya dingin.
Darah seakan menghilang dari wajah pemilik toko.
Putri Lily menatapnya tajam. “Kami tidak datang untuk menawar. Apa yang keluar dari mulutmu akan menentukan tanggal kematianmu.”
Pangeran Leo melangkah mendekat, bayangannya menutup cahaya di wajah lelaki itu. “Katakan!” perintahnya singkat dan membekukan.
Pemilik toko langsung bersujud, dahinya menghantam lantai kayu. “Ampuni hamba, Tuanku! Benar… benar hamba yang membuat belati itu. Namun hamba sungguh tidak tahu siapa yang memesannya.”
“Kakak,” ujar Lily tanpa mengalihkan pandangan, “sebaiknya kita bawa dia ke penjara bawah tanah istana kekaisaran.”
Pemilik toko mendongak dengan mata melotot ketakutan. “Mohon ampun, Tuanku! Tolong jangan bawa hamba!”
Ia gemetar, lalu berkata tergesa, seolah takut pikirannya terlambat dari pedang maut.
“Pembeli belati itu seorang wanita… wanita paruh baya. Ia memiliki pelangkat yang sama dengan milik Tuanku.”
Putri Lily dan Pangeran Leo saling menatap. Pelangkat itu hanya dimiliki oleh anggota inti Imperial Agartha. Dan wanita tua…? Sebuah bayangan nama mulai terbentuk di benak mereka, nama yang terlalu dekat dengan istana..
___
Pengawal kerajaan memasuki kediaman Trianon membawa sebuah kotak hitam besar.
Ia menunduk hormat, “Salam untuk Lady Erivana.”
*Kata ‘Lady’ terasa seperti besi panas menempel di telinga Erivana. Tangannya mengepal perlahan. Ini belum berakhir*, batinnya mendidih. Aku tidak akan membiarkan panggilan ini berlangsung lama.
“Apa ini?” tanya Erivana dengan suara kaku.
“Hadiah dari Yang Mulia Kaisar Aurelian, Lady.” jawab pengawal. Ia meletakkan kotak itu di depan Erivana, lalu mundur tanpa menunggu izin lebih jauh.
Erivana melangkah mendekat, membuka penutup kotak itu perlahan.
Bugh
“AAAAAAA!”
Jeritannya merobek udara. Sebuah kepala manusia menggelinding keluar dari kotak, menghantam lantai yang dingin. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, mata terbuka tanpa cahaya. Bau anyir menyeruak di seluruh ruangan.
“Pangeran Evan…!”
Teriakan Erivana pecah menjadi ratapan. “Tidak… tidak… Pangeran Evan!”
Langkah kaki tergesa terdengar dari ambang pintu.
“Ibunda?” Putri Aster masuk bersama Alexius. “Ada apa…”
Matanya jatuh pada lantai.
“AAAAA!” Aster menjerit histeris, lututnya melemas. “Kakak… Kakak Evan…!”
Alexius memejamkan mata, ia berdiri seperti patung yang retak dari dalam. Kabar tentang pengkhianatan Pangeran Evan telah menyebar di kalangan prajurit sejak kemarin. Sebagai seorang ayah, dadanya remuk. Namun sebagai kesatria Agartha, ia tahu pengkhianatan di medan perang adalah aib yang akan tercatat dalam sejarah keturunannya.
“Suamiku!” Erivana menangis, mengguncang lengan Alexius. “Putra kita! Dia dibunuh! Pangeran Aurelian telah menghabisi nyawa anak kita! Kita tidak bisa diam saja!”
Dengan tangan gemetar, ia meraih pedang di sisi ruangan.
“Aku akan membalasnya!”
“Hentikan, Erivana!” kata Alexius dingin.
Erivana terhenyak. “Bagaimana kau bisa setenang ini?” isaknya. “Itu putramu!”
Alexius menatapnya tegas. “Mengancam keselamatan Kaisar Agartha demi membela seorang pengkhianat,” ucapnya perlahan, “akan membuat hukuman gantung menantimu, Erivana.”
Pedang di tangan Erivana bergetar.
“Kematian Yang Mulia Kaisar Lexus dan Permaisuri Isolde Anastasia,” lanjut Alexius, setiap kata menghujam, “adalah akibat langsung dari pengkhianatan Pangeran Evan. Ia menyerang dari dalam di tengah peperangan. Karena dia, Agartha pulang membawa kekalahan. Kesalahannya tidak dapat diampuni.”
Erivana terhuyung, pikirannya kosong.
Suara Alexius bergetar, “Kematian tanpa siksaan, adalah satu-satunya belas kasihan yang tersisa baginya.”
Pedang itu jatuh dari genggaman Erivana, berdenting di lantai. Ia runtuh terduduk, tubuhnya gemetar hebat.
Evan… putraku…
Sejak kemarin Pangeran Evan belum kembali, namun ia sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana ia bisa disebut seorang ibu?
“Ibunda…” Putri Aster memeluk Erivana erat, menangis tanpa suara.
Alexius berlutut. Dengan tangannya sendiri ia merapikan kepala Pangeran Evan, mengangkatnya dengan hati-hati seolah masih ada sisa kehangatan yang bisa dijaga. Tanpa kata ia berbalik pergi, melaksanakan tanggung jawab terakhirnya sebagai seorang ayah: menyatukan tubuh putranya di dalam tanah. Tanpa prosesi, apalagi ratapan istana. Bahwa tubuh Pangeran Evan diizinkan bersatu kembali dengan kepalanya, itu bukan hak.
Itu adalah kebaikan terakhir dari Kaisar Aurelian.
Semangat yahhh
Semangat berkarya ya author kece 💪
Love sekebon untuk author kece ❤️❤️
Karyamu keren
Ini sy gasspool bacanya dr season 1 ke season 2 🔥💪
udah 3 bab loh sy nangis 😅
cerita yang ditunggu2..
semoga
semangat kk othor