Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah... Maaf.
Saat jenazah Victor telah dievakuasi dan dibawa ke istana, Raja langsung bersimpuh di lantai dan memeluk putranya itu, "Kau pasti sedang bercanda kan? Ayo buka matamu. Hentikan candaanmu ini. Sama sekali tak lucu. Victor! Bangun!" sambil mengguncangkan tubuh Victor. Raja mengusap lembut wajahnya. Saat menyentuh wajah Victor, Raja merasakan kulit Victor yang dingin serasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Raja menangis histeris.
Para bangsawanpun berdatangan memenuhi istana, begitu juga dengan Sylvaine dan ayahnya. Saat melihat tubuh Victor terbujur kaku, Sylvaine berlari mendekatinya dan menangis. Beberapa bangsawan mulai berbisik membuat asumsi-asumsi yang memojokkan pihak Sylvaine.
Terdengar samar, "Bukankah mendiang Putra Mahkota Victor sebelumnya bersama Putri Mahkota menuju kediamannya bersama-sama, ya. Tapi kenapa saat Putra Mahkota tertimpa musibah seperti saat kembali sendiri tanpa Putri Mahkota."
"Eh.. kau benar. Seperti sesuatu yang sudah direncanakan aja ya..."
"Tapi kan Putra Mahkota meninggal sebelum naik tahta dan menikahi Putri Mahkota."
"Masuk akal juga sih, Putri Mahkota tak diuntungkan posisinya sekarang."
"Biarpun begitu, dia kan sangat disayangi Raja. Jelas saja dia berpeluang besar akan naik tahta meskipun tak memiliki darah Raja di tubuhnya."
"Atau jangan-jangan demi bisa menjadi istri Raja, makanya dia mengambil langkah ekstrem seperti ini."
"Itu masuk akal juga, toh dibandingkan mendiang Putra Mahkota, dia lebih dekat dengan Raja."
"Benar, aku juga setuju dengan pendapatmu. Sekarang tak ada hambatan sama sekali baginya untuk menjadi istri Raja."
"Ya kan? Mau jadi apa kerajaan ini kelak?"
"Banyak bangsawan-bangsawan berpengaruh yang sudah dipihak Putri Mahkota. Jelas tak akan ada banyak yang menentang jika dia menikah dengan Raja."
"Tetap saja sangat menjijikkan!"
"Tunggu! Raja kan masih punya putra yang lain. Pangeran Kedua."
"Kau lupa, Pangeran Kedua meninggalkan istana sejak tiga tahun lalu. Secara tak langsung, Raja sudah membuangnya dari daftar pewaris. Lagipula keberadaan Pangeran Kedua tak ada yang tahu. Bisa saja malah sudah meninggal sejak lama kan. Mana bisa orang yang terbiasa hidup nyaman sejak lahir langsung berubah drastis menjalani hidup keras di dunia luar. Kau kan tau dengan jelas sifat Pangeran Kedua seperti apa."
"Ah, kau benar. Pangeran Kedua bahkan tak tega menyakiti kelinci atau hewan-hewan kecil lainnya. Mana mungkin bisa bertahan di dunia luar yang tak senyaman di istana."
Baik Raja maupun Sylvaine mendengar samar tentang percakapan-percakapan yang dilakukan para bangsawan itu. Lalu Raja menoleh ke arah Sylvaine dengan tatapan kecewa bercampur marah dan berbisik, "Temui aku di ruang kerjaku saat pihak kuil mengurus jenazah putraku."
Sylvaine hanya mengangguk dan dalam hatinya, 'Aku harus membuktikan bahwa kematian Victor tak ada kaitannya denganku. Bagaimana ini, aku harus segera menemukan caranya sebelum menghadap Yang Mulia. Rumor buruk ini benar-benar merugikanku! Aku harus segera menemukan penyebab sekaligus dalang dari kematian Victor. Sudah jelas, ini bukan musibah biasa. Apa motifnya? Kurasa yang paling penting membersihkan namaku terlebih dahulu.'
***
Sylvaine menghadap Raja, Tatapan Raja padanya masih sama seperti sebelumnya. Sylvaine memulai bicara, "Yang Mulia, ijinkan saya untuk menyampaikan pendapat saya."
"Bicaralah! Jangan sampai kau mengecewakanku!"
"Saya bersumpah dan bersedia diselidiki jika itu bisa membuktikan bahwa saya tidak ada kaitannya dengan kematian Putra Mahkota. Paman... maksudku Yang Mulia, saya benar-benar tak bersalah."Ucap Sylvaine.
"Tanpa kau berkata begitu, sudah jelas kau akan diselidiki! Rumor yang beredar bisa berdampak besar pada kerajaan. Kau sudah kuanggap sebagai putriku sendiri. Jika kau terbukti terlibat dan memiliki rencana menjijikkan, aku sendiri yang akan memenggal langsung kepalamu di depan semua orang dan seluruh keluargamu!" Kata Raja.
"Mungkin ini terdengar lancang, namun bukankah sebaiknya membawa kembali Pangeran Kedua?" Tanya Sylvaine.
"Aku hanya memiliki satu putra, dan putraku itu telah meninggal!" Teriak Raja.
"Hanya ini pilihan terbaik, Yang Mulia. Saya sangat paham bahwa Pangeran Kedua sangat membuat Anda malu." Jawab Sylvaine.
"Kerajaan akan benar-benar hancur jika bocah aib itu yang menjadi Raja!" Teriak Raja.
"Saya bisa mengawasinya, bukan saya pasti mengawasinya. Mungkin ini terdengar buruk, tapi anda cukup menjadikannya Raja pajangan saja." Ucap Sylvaine.
"Lancang sekali kau! Mengatakan rencana macam itu! Arogan! Kau pikir siapa kau! Merencanakan mempermainkan kerajaanku di depanku langsung. Entahlah dari hadapanku! Kurung dirimu sampai hasil penyelidikan tentangmu keluar." Raja murka dan berteriak pada Sylvaine.
Sylvaine berjalan keluar setelah meminta ijin untuk undur diri. Raja merasa lemas, dia meremas dada kirinya yang terasa nyeri. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Tok.. tokk..tokkk.
"Siapa?" Tanya Raja terdengar tak bertenaga.
"Silas Corven ingin menghadap Yang Mulia."
Raja bergumam pelan, "Silas Corven.. Silas Corven, oh ajudan Victor. Untuk apa dia ingin menemuiku? Apa dia telah menemukan petunjuk tentang kematian..." sejenak jeda "..Victor? Dia memang sangat kompeten, tak ada salahnya untuk menemuinya."
"Biarkan dia masuk." Ucap Raja dengan lantang agar ajudannya mendengar perintahnya.
Silas memohon ijin masuk dan menghadap Raja. Tanpa berbasa-basi dia mengatakan tujuannya menghadap Raja, "Saya hanya ingin menyampaikan ini." Sambil menyodorkan amplop kecil yang tersegel dengan segel Putra Mahkota.
Raja menerima surat itu dan bertanya, "Apa perintah Victor padamu tentang surat ini?"
"Mendiang Putra Mahkota berpesan 'Sampaikan ini pada ayahku jika hal buruk terjadi padaku' hanya itu pesan beliau." Silas memohon untuk undur diri, Raja mengijinkannya.
Raja cukup lama memandangi surat yang dipegangnya itu sambil membolak-balikkan sisi suratnya seolah menerka-nerka isi suratnya. Rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu, antara tak ingin membuka dan sangat ingin membukanya. Lalu menarik napas panjang dan membuka secara perlahan serta hati-hati segel amplopnya seolah itu sesuatu yang sangat berharga. Raja mengeluarkan surat di dalam amplop, membuka pelan lipatan demi lipatan dan memantapkan hati untuk membacanya.
'Ayah... Maaf. Saat ayah membaca ini, pasti telah terjadi sesuatu buruk padaku. Dan itu bukan salah ayah. Saya hanya ingin meminta hal terakhir untuk ayah, bawa kembali Theo, bawa kembali adikku. Berikanlah sedikit perhatian ayah padanya, jika itu memberatkan ayah cukup berikan dia satu kesempatan terakhir. Saya tak meminta ayah untuk menganggapnya sebagai pengganti saya, hanya saja tolong kabulkan permintaan terakhir dari putra kebanggaan dan kesayangan ayah ini. Supaya saya tak malu saat bertemu Ibunda. Supaya saya bisa dengan gagah berani mengatakan pada Ibunda bahwa saya telah menepati janji yang saya buat dengan beliau di hari kelahiran Theo yaitu melindungi adikku tersayang.
Anda bisa menyuruh Silas Corven untuk menjemput adikku tersayang. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya menyayangi ayah.'
Raja merasa hatinya tertusuk banyak jarum sekaligus, rasa sakit terasa di semua sisi. "Garrick." Panggil Raja pada ajudannya yang berada di luar.
Ajudannya masuk dan menghadap Raja, lalu Raja berkata, "Antar aku ke kamar istriku."
Tanpa bertanya, Garrick menuntun pelan Raja namun menyadari bahwa Raja mengenggam erat selembar kertas. Sesampai di kamar mendiang istrinya, Raja berbaring di ranjang dan berkata,"Bacalah ini. Kau ajudan dan orang yang paling kupercaya." Raja menyodorkan surat yang digenggamnya. Garrick menerima dan membacanya. Setelah itu Raja bertanya, "Bagaimana pendapatmu?"
Bersambung...