NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Seminggu sudah berlalu sejak pesta pernikahan megah itu digelar. Bagi orang luar yang melihat foto-foto mereka di media sosial, Citra Anindya mungkin dibayangkan sedang menikmati bulan madu romantis di Bali atau bersantai di spa mewah sambil luluran. Namun kenyataannya, pagi ini Citra sedang berdiri di pinggir jalan raya yang berdebu, menunggu angkutan umum dengan seragam pelayan yang disembunyikan rapat-rapat di balik jaket hoodie kedodoran yang warnanya sudah memudar.

Sebelum keluar rumah tadi, Citra sempat berpamitan pada Putra yang sedang memanaskan mesin mobil sport keluaran terbarunya di halaman depan mansion. Kontras sekali; mobil itu mengkilap tanpa debu sebutir pun, sementara Citra berdiri dengan sepatu kets yang solnya sudah mulai tipis.

"Mas... saya berangkat kerja dulu, ya," pamit Citra sopan, berdiri canggung di dekat pilar garasi, meremas tali tas selempangnya.

Putra bahkan tidak menoleh sedikit pun. Pria itu sibuk mengecek jadwal meeting di ponsel pintarnya. Wajahnya datar, seolah suara Citra hanyalah gangguan frekuensi radio yang tidak penting.

"Terserah," jawabnya dingin tanpa ekspresi. "Asal kamu ingat satu hal: jangan sampai ada wartawan atau kolega bisnis saya yang tahu kalau istri Putra Aditama masih bekerja jadi kacung restoran. Kalau sampai nama saya tercoreng gara-gara pekerjaan rendahmu itu, kamu tahu akibatnya."

"Ba-baik, Mas. Saya akan hati-hati. Saya janji nggak akan bikin Mas malu," jawab Citra lirih, menunduk dalam.

Tanpa basa-basi lagi, Putra masuk ke dalam mobil mewahnya. Mesin menderu halus, lalu mobil itu melaju pergi meninggalkan Citra yang terbatuk terkena sedikit asap knalpot. Ia sama sekali tidak menawarkan tumpangan, padahal arah kantor pusat Aditama Group dan restoran tempat Citra bekerja sebenarnya satu jalur.

Citra menghela napas panjang, menatap mobil suaminya yang menghilang di tikungan jalan komplek elit itu. "Hati-hati di jalan, Mas..." gumamnya pada angin lalu, sebelum berlari kecil mengejar angkot biru yang baru saja lewat.

Sesampainya di restoran, Citra merasa sedikit lebih hidup, meski hatinya masih nyeri. Aroma bumbu dapur yang kuat, suara spatula beradu dengan wajan, dan teriakan pesanan dari koki membuatnya merasa "pulang". Di sini, setidaknya ia merasa berguna.

"Cit! Ya ampun, gue kira lo bakal resign trus jadi sosialita!" seru Chika, teman sesama pramusaji, saat melihat Citra masuk ke ruang ganti karyawan.

Chika langsung menyambar tangan Citra, matanya membelalak melihat cincin berlian yang melingkar di jari manis sahabatnya. "Gila... ini asli? Sumpah lo masih mau kerja? Laki lo kan Pak Putra yang sering makan siang di sini itu, kan? Dia tajir melintir, Cit! Ngapain lo capek-capek ngelap meja lagi?"

Citra tersenyum kecut. Ia melepas cincin mahalnya pelan-pelan, lalu memasukkannya ke dalam saku resleting terdalam tas kumalnya demi keamanan. Ia tidak mau mengambil risiko cincin seharga rumah itu hilang atau kotor terkena saus.

"Bosen di rumah, Chik. Lagian... aku nggak mau bergantung sama suami orang. Eh, maksudnya suami sendiri," jawab Citra berdalih, menutupi fakta bahwa Putra tak memberinya uang sepeser pun.

Beberapa rekan kerja lain yang sedang istirahat hanya melirik sekilas. Mereka memang tahu Citra menikah dengan Putra Mahesa Aditama, salah satu pelanggan VIP restoran mereka. Tapi respons mereka biasa saja, bahkan cenderung acuh tak acuh.

Bagi mereka, pernikahan Citra terasa tidak nyata. Bagaimana mungkin seorang CEO kaya raya menikahi pelayan polos seperti Citra? Mereka berpikir mungkin itu hanya nikah kontrak, atau Citra hanya dijadikan istri simpanan yang tidak dianggap. Toh, buktinya Citra masih bekerja keras, masih naik angkot, dan masih mau disuruh-suruh mengepel lantai. Tidak ada aura "Nyonya Besar" sama sekali pada diri Citra.

"Halah, paling lakinya pelit," bisik salah satu karyawan dapur sambil lalu. "Liat aja si Citra, masih kucel gitu. Nggak ada bedanya sama kita."

Jam makan siang tiba. Restoran mulai ramai dipadati pegawai kantoran.

Citra sibuk mondar-mandir membawa nampan berisi es teh manis dan piring nasi gila. Keringat mulai membasahi dahinya, sedikit melunturkan bedak tipisnya. Kakinya pegal luar biasa bekas berdiri di pelaminan kemarin, tapi ia tetap memaksakan tersenyum ramah pada setiap pelanggan.

"Selamat siang, selamat datang. Untuk berapa orang?" sapa Citra ramah saat lonceng pintu berbunyi.

Namun, senyum di bibir Citra seketika membeku.

Dua orang pelanggan baru saja masuk. Yang satu adalah wanita cantik dengan setelan blazer kerja yang elegan dan rambut tergerai indah, sedangkan yang satunya lagi... adalah suaminya sendiri.

Putra Mahesa Aditama.

Pria itu masuk dengan langkah tegap dan gaya angkuhnya yang khas. Kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan misterius dan dingin. Ia sedang berbicara serius dengan wanita di sebelahnya mungkin sekretaris atau klien bisnis penting.

Jantung Citra berdegup kencang karena panik. Ia ingin kabur ke dapur, sembunyi di balik karung beras, tapi kakinya terpaku di lantai. Mata Putra di balik kacamata hitam itu sekilas menyapu ruangan, dan berhenti tepat di wajah Citra yang pucat.

Hening sejenak. Waktu seolah berhenti.

Chika yang berdiri di dekat meja kasir menyenggol lengan Citra pelan. "Eh, Cit. Tuh suami lo dateng. Sana layani. Kali aja dapet tip gede dari suami sendiri," goda Chika tanpa tahu situasi sebenarnya.

Citra menahan napas, takut Putra akan marah atau memaki-makinya di depan umum karena dianggap "memalukan".

Tapi reaksi Putra sungguh di luar dugaan, dan jauh lebih menyakitkan daripada amarah. Pria itu hanya menatap Citra datar, seolah sedang melihat orang asing yang tidak ia kenal sama sekali, lalu membuang muka dengan cuek. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, tidak ada tanda-tanda pengakuan.

"Meja nomor empat kosong?" tanya Putra dingin pada Citra, nadanya seperti berbicara pada tembok atau mesin penjawab otomatis.

Citra tersentak, rasa nyeri menghantam ulu hatinya hingga sesak. Suaminya sendiri... menganggapnya tidak ada. Di depan teman-temannya yang tahu status mereka, Putra memilih bersikap seolah Citra adalah hantu.

"Ko-kosong, Pak. Silakan..." jawab Citra dengan suara bergetar, berusaha tetap profesional meski tangannya dingin.

Putra melenggang melewati Citra begitu saja. Aroma parfum mahalnya aroma maskulin yang sama yang Citra cium setiap pagi di kamar mandi saat menyiapkan air hangat tertinggal di udara, menusuk indra penciuman Citra. Wanita di sebelah Putra tersenyum sopan pada Citra, tidak tahu bahwa pelayan berseragam lusuh yang ia lewati adalah istri sah dari bos besar di sebelahnya.

"Mbak, saya minta menu," panggil Putra dari meja nomor empat, tanpa menoleh, masih sibuk dengan ponselnya.

Citra menarik napas panjang, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia mengambil buku menu dan berjalan mendekati meja suaminya dengan langkah berat. Tangannya gemetar hebat saat meletakkan buku menu di hadapan Putra.

"Silakan... Pak," ucap Citra lirih, menekan rasa sakit di dadanya.

Putra membuka buku menu tanpa melihat wajah Citra sedikit pun. "Saya pesan black coffee tanpa gula dan sandwich tuna. Cepat. Saya tidak punya banyak waktu."

"Baik... Pak," jawab Citra parau.

Saat Citra berbalik hendak pergi ke dapur, ia mendengar wanita di sebelah Putra bertanya dengan nada heran, "Pak Putra, pelayannya kok kayaknya gemetar gitu ya? Sakit kali? Atau dia takut sama Bapak?"

Dan jawaban Putra terdengar jelas di telinga Citra, meremukkan sisa-sisa hatinya yang masih utuh menjadi debu.

"Biarkan saja. Itu bukan urusan kita. Pelayan memang tugasnya melayani, bukan untuk diperhatikan. Abaikan saja."

Citra mempercepat langkahnya menuju dapur. Di balik tembok pemisah area cuci piring, ia bersandar lemas sambil memegang nampan kosong erat-erat di dada. Air matanya jatuh satu per satu, bercampur dengan keringat.

Di rumah, ia dianggap pembantu yang tak kasat mata. Di luar rumah, ia dianggap orang asing yang tak berharga. Pernikahan ini bukan hanya dingin, tapi benar-benar membekukan seluruh harga dirinya, membuatnya merasa kerdil di hadapan dunia suaminya yang megah. Rekan-rekan kerjanya yang melihat kejadian itu hanya mengangkat bahu, semakin yakin bahwa Citra hanyalah "istri pajangan" yang nasibnya tak lebih baik dari mereka.

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!