🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 | Baku Tembak di Sungai Thames
...----------------{🔖}----------------...
Malam di London tidak pernah benar-benar hitam; ia adalah gradasi kelabu pekat yang basah oleh sisa hujan. Aku berdiri di dek belakang The Obsidian, sebuah kapal pesiar super mewah milik Samantha Holdings yang membelah aliran Sungai Thames menuju pelabuhan Tilbury. Di tangan ku, MP5K dengan peredam suara terasa dingin, sedingin firasatku sejak meninggalkan kastil Lady Elizabeth.
"London adalah labirin yang terbuat dari kabut dan sejarah," gumam ku, mata ku memindai tepi sungai yang gelap melalui kacamata thermal. "Dan malam ini, labirin itu sedang mencoba menelan kita bulat-bulat. Aku bisa merasakan keberadaan mereka. Bau minyak senjata, frekuensi radio yang terenkripsi, dan niat membunuh yang memadat di udara."
Aku melirik ke arah Satya. Ia berdiri di dekat pagar dek, menatap jembatan Tower Bridge yang menjulang di kejauhan. Ia tidak memakai rompi anti-peluru. Ia tidak memegang senjata. Ia hanya berdiri di sana dengan tangan di saku celana, kemeja hitam nya berkibar tertiup angin sungai yang kencang.
"Satya, masuk ke dalam," kata ku dengan nada otoriter yang biasanya ku gunakan di markas kepolisian Shanghai. "Sensor bawah air mendeteksi tiga unit penyelam taktis, dan ada dua helikopter tanpa lampu navigasi yang bergerak mendekat dari arah Greenwich. Ini bukan sekadar penjemputan, ini adalah pengepungan."
Satya tidak menoleh. Kedua mata nya menyala redup, memberikan pantulan merah-emas pada air sungai yang keruh. "Mereka mengirim The Valkyries, Chen. Tentara bayaran paling elit yang dimiliki The Sovereign. Mereka tidak datang untuk membunuh ku. Mereka membawa jaring elektromagnetik dan obat bius dosis tinggi. Mereka pikir aku adalah spesimen yang bisa dikurung."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," balas ku, memeriksa magasin cadangan di rompi taktis ku.
"Jangan gunakan peluru jika tidak perlu, Chen," bisik Satya. "Malam ini, biarkan sungai ini menjadi saksi bahwa hukum fisika bisa ditekuk oleh kehendak."
TIIIIIT! TIIIIIT!
Alarm kapal berbunyi. Tiba-tiba, dari kegelapan di sisi kiri dan kanan kapal, empat perahu motor cepat (RHIB) muncul entah dari mana. Mereka melaju tanpa lampu, memecah ombak dengan kecepatan gila.
"Kontak! Jam tiga dan jam sembilan!" teriak ku melalui radio internal kapal.
TAT-TAT-TAT-TAT!
Rentetan peluru senapan mesin mulai menghantam dinding baja The Obsidian. Aku segera tiarap di balik kursi santai yang terbuat dari serat karbon, membalas tembakan dengan presisi. Aku melihat satu orang di perahu motor itu terjatuh ke air, namun sisa nya mulai menembakkan pengait (grappling hooks) ke arah pagar dek.
"Mereka naik!" seru ku.
Dua tentara bayaran berpakaian taktis hitam legam melompat melewati pagar. Mereka bergerak dengan sinkronisasi mesin. Sebelum mereka sempat membidikkan senjatanya ke arah Satya, aku menerjang. Aku menghantamkan popor senjata ku ke rahang salah satu dari mereka, memutar tubuh nya, dan menjadikan nya tameng hidup saat rekan nya melepaskan tembakan.
"Satya, merunduk!" teriak ku.
Namun, Satya tetap berdiri tegak. Ia melangkah maju dengan ketenangan yang mengerikan. Saat seorang tentara bayaran lain nya mencoba menerjang nya dengan pisau komando, Satya hanya mengangkat tangan kiri nya sedikit.
BZZZT!
Udara di sekitar tangan Satya seolah-olah bergetar. Pisau baja itu berhenti hanya satu inci dari dada nya, tertahan oleh dinding tekanan yang tak terlihat. Satya menatap mata prajurit itu.
"Kau berjuang untuk uang," suara Satya bergema, bukan di telinga, tapi langsung di dalam kesadaran semua orang yang ada di dek. "Aku berjuang untuk takdir. Perbedaan nilai kita terlalu besar untuk kau tanggung."
Tiba-tiba, prajurit itu menjerit histeris. Ia menjatuhkan pisau nya dan memegangi kepala nya dengan kedua tangan, darah mulai mengalir dari telinga dan mata nya. Ia berlutut, hancur secara mental dalam hitungan detik.
"Apa itu?" pikir ku ngeri sambil terus membalas tembakan ke arah perahu motor. "Itu bukan sekadar hipnotis. Itu adalah penghancuran mental total."
Suara gemuruh helikopter kini terdengar tepat di atas kepala kami. Lampu sorot raksasa menyala, membutakan ku sejenak.
"SUBJEK TERIDENTIFIKASI! GUNAKAN JARING!" teriak suara dari helikopter.
Sebuah tabung besar diluncurkan dari helikopter, meledak di udara dan mengeluarkan jaring logam yang dialiri listrik ribuan volt. Jaring itu jatuh tepat ke arah Satya.
"SATYA!" aku berteriak, mencoba berlari ke arah nya, namun dua tentara bayaran lagi menahan ku dalam pertarungan tangan kosong yang sengit.
Satya mendongak. Pola fraktal di mata nya berputar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menciptakan pendaran cahaya yang menelan seluruh sosok nya. Ia tidak menghindar. Ia justru merentangkan kedua tangan nya.
"MENTAL CRUSH!" Satya menggumamkan kata itu dengan otoritas yang membelah malam.
Seketika, gelombang kejut yang kasat mata terpancar dari tubuh nya. Jaring logam yang jatuh itu mendadak terhenti di udara, berkerut seperti kertas yang diremas tangan raksasa, lalu terlempar kembali ke arah helikopter.
Namun, efek nya tidak berhenti di sana.
Para tentara bayaran yang sedang menyerang ku mendadak berhenti. Mereka mematung. Senjata mereka jatuh ke dek dengan denting logam yang nyaring. Di mata ku, aku melihat aura emas yang keluar dari Satya menyentuh setiap musuh di atas kapal.
Aku melihat wajah-wajah para tentara bayaran itu. Mereka tidak lagi memiliki ekspresi agresif. Mereka tampak kosong, seperti cermin yang pecah. Satu per satu, mereka jatuh pingsan. Pilot helikopter di atas sana kehilangan kendali; helikopter itu berputar liar seolah-olah pilot nya mendadak lupa cara menerbangkan mesin itu.
"Satya... berhenti! Kau akan menenggelamkan helikopter itu di atas kita!" teriak ku sambil memegangi kepalaku yang mulai terasa pening akibat radiasi energi yang dikeluarkan Satya.
Satya menurunkan tangannya. Helikopter itu berhasil menjauh dengan gerakan limbung, pilot nya mungkin baru saja mendapatkan kembali sebagian kesadaran nya namun dalam keadaan trauma berat.
Keheningan kembali menyelimuti Sungai Thames, hanya menyisakan suara mesin kapal yang terus menderu pelan. Dek kapal kini dipenuhi oleh tubuh-tubuh tentara bayaran yang tidak sadarkan diri.
Aku berdiri dengan kaki gemetar, menyeka darah di bibir ku. Aku mendekati Satya yang kini tampak sangat pucat. Garis-garis emas di leher nya berpendar terang sebelum perlahan memudar.
"Kau baik-baik saja?" tanya ku, suara ku parau.
Satya bersandar pada pagar kapal. Ia menarik napas panjang, keringat dingin membasahi dahinya. "Teknik Mental Crush... itu menuntut harga yang mahal, Chen. Aku tidak hanya menghancurkan niat mereka untuk menyerang, aku secara paksa mengganti seluruh memori mereka tentang pertempuran ini dengan rasa takut yang murni. Otak manusia tidak dirancang untuk menerima input data sebesar itu dalam satu detik."
"Kau menghapus pikiran mereka?" aku bertanya dengan ngeri.
"Aku menghapus diri mereka yang lama," jawab Satya. Ia menatap telapak tangan nya. "Bagi mereka, dunia ini sekarang adalah tempat yang asing. Mereka tidak akan pernah bisa memegang senjata lagi tanpa mengalami kejang-kejang. Itu adalah hukuman yang lebih baik daripada kematian."
Aku menatap pria di depan ku. Sebagai polisi, aku dilatih untuk menangkap dan mengadili. Tapi apa yang dilakukan Satya berada di luar yurisdiksi manusia mana pun. Ia baru saja melakukan eksekusi tanpa menyentuh tubuh korban nya.
"Kau benar-benar mulai berubah menjadi orang yang kejam, Satya," kata ku, mencoba memasukkan MP5K ku ke dalam tas taktis.
"Dunia ini tidak butuh detektif yang baik hati untuk menghadapi The Sovereign, Chen," Satya menoleh pada ku, dan untuk sekejap, aku melihat kelelahan yang luar biasa di mata nya. "Mereka mengirim tentara bayaran karena mereka pikir aku adalah target fisik. Mereka lupa bahwa perang yang sebenarnya terjadi di dalam ruang kesadaran. Jika aku tidak menghancurkan mental mereka malam ini, mereka akan terus datang dengan tentara yang lebih banyak."
Tiba-tiba, Meiling berlari keluar dari kabin dalam, diikuti oleh Lin Xia. Wajah mereka pucat pasi. Meiling segera memeluk Satya, memeriksa setiap inci tubuh nya.
"Aku mendengar suara tembakan... lalu keheningan yang aneh," Meiling berbisik, suara nya gemetar. "Satya, apa yang terjadi pada mereka?"
Ia melihat tubuh-tubuh yang tergeletak di dek tanpa luka tembak sedikit pun.
"Mereka hanya sedang beristirahat dari keserakahan mereka sendiri, Meiling," kata Satya lembut, mengusap wajah Meiling. "Masuklah ke dalam. Chen akan mengurus sampah ini di pelabuhan berikutnya."
Lin Xia mendekati ku, memberikan botol air mineral. "Detektif, Anda terluka?"
"Hanya beberapa memar, Xia," jawab ku. Aku meminum air itu dengan rakus, mencoba menghilangkan rasa mual akibat sisa energi Mental Crush tadi. "Pastikan semua sistem transmisi data kita tetap mati. The Sovereign pasti sedang mencoba melacak apa yang baru saja terjadi melalui satelit."
"Mereka tidak akan menemukan apa-apa," gumam ku sambil melihat Satya yang kini duduk di kursi dek, memejamkan mata nya. "Mereka hanya akan menemukan sekumpulan pria yang otak nya sudah dicuci bersih. Satya baru saja menunjukkan bahwa peluru bukan lagi ancaman bagi nya. Ancaman yang sebenarnya adalah seberapa jauh ia akan melangkah sebelum ia kehilangan kemampuan nya untuk mencintai manusia biasa."
Aku berdiri di pinggir dek, menatap air sungai yang terus mengalir di bawah jembatan London. Di kejauhan, sirine polisi mulai terdengar, namun aku tahu mereka tidak akan pernah bisa mengejar kapal ini. Kami sedang bergerak menuju Tilbury, menuju tahap berikutnya dari rencana gila Satya untuk menaklukkan Eropa.
"Chen," panggil Satya tanpa membuka mata.
"Ya?"
"Terima kasih. Tanpa tindakan mu di awal, aku tidak akan punya waktu untuk memfokuskan energi Mental Crush itu. Kau adalah satu-satu nya variabel fisik yang masih bisa ku percaya sepenuh nya."
Aku hanya mengangguk kecil. Pujian itu seharusnya membanggakan, tapi entah mengapa, hati ku terasa berat. Aku merasa sedang mengawal sebuah bom waktu yang memiliki wajah seorang teman.
Malam itu, Sungai Thames menjadi saksi bisu lahir nya teknik mematikan dari sang penguasa baru. Dan aku, Detektif Chen, menyadari bahwa dunia ku yang lama, dunia di mana hukum tertulis di atas kertas telah mati dan tenggelam di dasar sungai ini bersama keberanian para tentara bayaran itu.
...----------------{🔖}----------------...
btw mampir jg yah ke karyaku "dia bukan sugar daddy" trimz... 🙏
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee