NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Setelah beberapa tahun tanpa kabar dari Cheryl, Daven Teldford tidak lagi menjadi remaja yang sama. Jika dulu ia adalah matahari yang riuh di koridor sekolah, kini ia adalah badai salju yang tenang namun mematikan.

Kabar hilangnya Cheryl si Pipi Bakpao yang ceroboh, meninggalkan lubang besar di dadanya yang tak mampu diisi oleh piala football, nilai sempurna, ataupun perhatian dari gadis-gadis tercantik di Manhattan.

Daven bertransformasi menjadi sosok yang sangat dingin. Ia masih melakukan rutinitasnya sebagai bintang sekolah, namun matanya kehilangan binar jahil yang dulu selalu menyala saat ia melihat Cheryl melakukan kesalahan konyol.

Sifat riweh Daven tidak hilang, melainkan berubah menjadi obsesi terhadap keteraturan yang menyakitkan. Jika dulu ia riweh mengurus keperluan Cheryl, kini ia riweh mengurus dirinya sendiri agar tidak punya waktu untuk berpikir. Jadwalnya diatur hingga detik terakhir. Ia berlatih di lapangan hingga ototnya mati rasa, hanya agar saat sampai di rumah, ia langsung jatuh tertidur tanpa perlu menatap langit-langit kamar dan membayangkan di mana Cheryl berada.

Setiap kali ia melihat gadis lain yang pelupa, hatinya berdenyut perih. Pernah suatu kali, seorang siswi baru menangis karena kehilangan kunci lokernya di depan Daven.

Semua orang mengira Daven akan menolong seperti biasanya. Namun, Daven hanya menatap gadis itu dengan tatapan kosong yang menusuk.

"Jangan menangis hanya karena hal sepele seperti itu. Cari kuncimu, atau panggil tukang kunci. Menangis tidak akan merubah fakta bahwa kau ceroboh," ucapnya dengan suara sedingin es sebelum berjalan pergi.

Teman-temannya menjulukinya The Ice King. Mereka tidak tahu bahwa di balik kedinginan itu, Daven sedang menghukum dirinya sendiri karena gagal menjaga satu-satunya orang yang ia sayangi.

Nickholes Teldford bukan pria bodoh. Ia melihat putranya hancur. Berkali-kali Nick mencoba memancing Daven untuk bercerita.

"Daven, kau tahu Ayah bisa menemukan siapa pun di negara ini dalam hitungan jam, kan?" tanya Nick suatu malam di ruang kerja mereka. "Jika ada beban yang ingin kau lepaskan, bicaralah."

Daven mengepalkan tangannya di bawah meja. Harga dirinya sebagai seorang Teldford memberontak. Ia ingat bagaimana ayahnya dulu berjuang mendapatkan kembali ibunya dengan kekuatan sendiri. Ia tidak ingin dianggap lemah. Ia malu jika harus mengaku bahwa ia kehilangan jejak seorang gadis pelupa karena kecerobohannya sendiri tidak meminta alamat lebih awal.

"Aku tidak butuh bantuan siapa pun, Yah. Aku bisa mengurus hidupku sendiri," jawab Daven datar, meski di dalam saku celananya, ia sedang meremas kotak pensil usang milik Cheryl yang selalu ia bawa ke mana pun.

Di usianya yang menginjak 18 tahun, di tahun terakhir SMA, Daven memiliki sebuah kotak rahasia di bawah tempat tidurnya. Kotak itu berisi puluhan catatan kecil—hal-hal yang seharusnya ia katakan pada Cheryl setiap hari.

"Hari ini kau pasti lupa membawa payung, di New York sedang hujan deras. Apa kau basah kuyup di Brooklyn?"

"Aku melihat bakpao di kedai dekat sekolah tadi, rasanya tidak seenak pipimu saat kau marah."

"Aku diterima di Universitas Columbia, Cheryl. Kau di mana? Apakah kau juga akan kuliah atau kau lupa mendaftar karena jadwalnya terlewat?"

Setiap catatan itu diakhiri dengan rasa frustrasi yang mendalam. Daven sering merasa seperti orang gila. Ia benci betapa ia masih merindukan amarah Cheryl. Ia merindukan bagaimana pipi itu akan memerah saat ia mencubitnya. Ketiadaan Cheryl membuat dunia Daven terasa hambar, seperti makanan tanpa garam.

Saat malam kelulusan SMA, di saat semua teman-temannya berpesta dan merayakan masa depan, Daven berdiri sendirian di balkon aula hotel mewah tempat acara berlangsung. Ia menatap ke arah jembatan yang menghubungkan Manhattan dan Brooklyn di kejauhan.

Ia sudah menyerah untuk mencari. Ia berpikir bahwa mungkin Cheryl memang ingin melupakannya. Mungkin di Brooklyn, Cheryl menemukan pria lain yang tidak suka mencubit pipinya, pria yang mungkin jauh lebih lembut dan tidak menyebalkan seperti dirinya.

"Selamat lulus, Bakpao... di mana pun kau berada," bisik Daven ke arah angin malam.

"Aku akan pergi ke kampus baru besok. Aku akan memulai hidup baru sebagai pria yang kau ciptakan, pria dingin yang tidak akan membiarkan siapa pun masuk lagi ke hatinya."

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!