NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PATAH HATI PAK KETUA KELAS

Yusa yang melihat pemandangan suap-suapan itu merasa hatinya hancur berkeping-keping, kayak file korup yang nggak bisa di-restore lagi.

"Kalau gitu gue balik duluan ya. Permisi," ucapnya dingin, suaranya terdengar kaku banget sebelum dia langsung putar balik dan leave gitu aja.

"Yusa! Woi!" teriak Siska. "Idih, malah ghosting. Terus gue balik sama siapa dong nanti?"

"Sudah, sama gue saja," tawar Gery santai.

"Lho, lo kan harus antar Arini balik?"

"Habis antar Arini baru antar lo. Sudah, nggak usah rewel deh, setelan lo berisik banget," sahut Gery.

Arini merasa tidak enak kalau harus merepotkan sohib Rian itu. "Kita naik angkot saja bisa kok, Ger. Lagian sudah sore juga," ucap Arini menolak halus.

Ibu Rian yang mendengar itu langsung menolak tegas dengan vibe Bunda yang super protective. "Eh, jangan naik angkot. Bunda antar saja ya? Bahaya kalau anak cantik jalan sendirian sore-sore,".

"Nggak usah Bun, takut merepotkan Bunda..." balas Arini.

"Sudah, nggak apa-apa. Bunda malah senang kok direpotkan sama bidadari kayak kamu," potong Ibu Rian sambil tersenyum.

Rian menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam dan puas setelah melahap buburnya sampai habis. "Kamu pulang bareng Bunda saja ya. Aku lebih tenang kalau kamu pulang sama Bunda daripada naik angkot lagi," ucap Rian penuh perhatian.

Siska yang melihat interaksi mereka yang sweet parah langsung menyenggol lengan Gery. "Ger, Ger... ehem! Panas banget di sini ya, Ger? Berasa lagi di Bekasi, banyak nyamuk lagi," sindirnya pedas.

Gery tertawa keras. "Iya nih, nyamuknya gede-gede, bikin salting!".

Arini dan Siska pun tertawa bersama, sementara Rian hanya bisa tersenyum bahagia meski tubuhnya masih penuh luka dan dibalut perban. Malam itu, bukan hanya luka fisik Rian yang mulai recovery, tapi takdir baru di antara mereka pun mulai ter- update.

Arini menaruh piring yang sudah kosong di atas meja setelah selesai menyuapi Rian hingga suapan terakhir. Melihat hal itu, Ibu Rian yang baru saja masuk kembali ke kamar langsung menggoda putranya yang tampak kegirangan.

"Wah, memang benar ya, kalau disuapi Arini, makanannya langsung habis lahap begitu. Padahal tadi ditawarin Bunda bilangnya hambar," ucap Ibu Rian sambil tertawa kecil.

Rian tersenyum lebar ke arah Arini. "Mungkin kalau setiap hari disuapi kamu, aku bisa jadi gemuk, Bun. Hehe," candanya sambil melirik Arini.

"Yeeuu... kamu itu ya, bisa saja. Masa Arini disuruh menyuapi kamu terus setiap hari? Emangnya dia perawat pribadi kamu?" sahut Ibu Rian sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Siska yang sejak tadi memperhatikan dari ambang pintu ikut bersuara, "Aduh, pemandangan apa ini ya? Ehemm... berasa nonton drama romantis secara live nih! Chemistry-nya nggak ada lawan!".

"Ih, apa sih kamu, Siska!" seru Arini malu, wajahnya langsung auto-red.

Arini mendadak salting. Dia cepat-cepat berpamitan karena tidak ingin terus-menerus digoda oleh circle yang sangat kompor itu. "Ya sudah, kalau begitu aku mau pulang ya, Bun. Soalnya sudah sore, takut Ayah sama Mama nyariin," ucap Arini.

"Oh, ya sudah. Kalau gitu ayo Bunda antar pakai mobil," tawar Ibu Rian ramah.

"Terima kasih ya, Bun," jawab Arini sopan.

Rian menatap Bundanya dengan wajah serius, seolah-olah menitipkan harta paling berharga. "Bun, hati-hati ya di jalan. Titip Arini, jangan sampai lecet," pesannya.

Ibu Rian tertawa melihat tingkah protektif anaknya yang sudah overpower. "Pakai segala dititip-titip. Kamu ini, emangnya Arini paket ekspres? Ya sudah, sebentar ya, Bunda ambil mobil dulu,".

Arini hanya bisa tertawa kecil melihat interaksi ibu dan anak yang unik itu. Tak lama kemudian, Gery dan Siska pun berpamitan.

"Ya sudah, kalau gitu gue pulang ya, Yan. Cepat sembuh lo! Jangan lupa ngeramal keberuntungan gue besok. Ayo, Sis," ajak Gery.

"Gue balik duluan ya, Rin. Rian, cepat sembuh ya, biar bisa dating lagi sama Arini di sekolah, haha!" goda Siska sebelum melangkah keluar.

"Ya sudah, dah Siska! Dah Ger!" seru Arini sambil melambaikan tangan.

Tin tin! Suara klakson mobil Ibu Rian sudah terdengar di depan pagar rumah. Arini segera berdiri dan merapikan tasnya. "Rian, kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Arini pelan.

Suasana di dalam mobil terasa tenang saat Ibu Rian menyetir dengan santai. Namun, rasa penasaran tentang kemampuan meramal yang misterius itu membuat Arini akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Bunda, aku boleh tanya sesuatu?" panggil Arini pelan.

Ibu Rian menoleh sekilas lalu tersenyum. "Boleh dong, mau tanya apa? Tentang rahasia masa kecil Rian?".

"Memangnya benar kalau Rian bisa meramal, Bun?" tanya Arini ragu-ragu.

Ibu Rian tertawa mendengar pertanyaan itu, seolah itu hal paling wajar di dunia. "Rian memang bisa meramal. Kemampuan itu turunan langsung dari Bunda," jawabnya santai.

"Bunda juga bisa meramal?" tanya Arini makin kaget.

"Bisa. Kamu mau Bunda ramal? Tapi bayarnya pakai kesetiaan kamu ke Rian ya," goda Ibu Rian, membuat Arini sedikit gugup. "Bunda bisa meramal dapat ilmunya dari mana?" tanya Arini lagi.

"Kemampuan meramal Bunda turun-temurun dari kakek buyut. Sekarang mungkin sudah turun sepenuhnya ke Rian, dia yang paling peka. Tapi tidak semua anggota keluarga bisa, hanya mereka yang 'terpilih' saja," jelas Ibu Rian dengan nada yang sedikit lebih serius.

Arini mencoba mencerna informasi yang terasa surreal itu. "Cara meramalnya bagaimana, Bunda? Apa pakai bola kristal?".

"Biasanya, kita mendapat bayangan atau vision tentang apa yang akan terjadi saat melihat orang itu secara langsung," ungkap Ibu Rian.

"Oh, ya?" Arini teringat bagaimana Rian sering kali menatapnya dengan intens seolah sedang melihat masa depan mereka berdua.

"Iya. Eh, ini di mana rumah kamu, Arini? Biar Bunda nggak kelewatan," tanya Ibu Rian memecah lamunan Arini. "Itu di depan, Bun, yang ada pohon mangganya," tunjuk Arini ke sebuah rumah asri.

Mobil berhenti tepat di depan pagar. Ayah dan Mama Arini tampak bingung melihat anak mereka turun dari mobil mewah.

"Assalamualaikum, Yah, Mah," sapa Arini sambil menyalami kedua orang tuanya. "Kenalkan, ini Bunda—maksudnya ibunya Rian,".

Ibu Rian segera bersalaman dengan sopan. "Saya ibunya Rian, Pak, Bu. Saya antar Arini pulang karena dia habis menjenguk Rian yang sedang kecelakaan kemarin,".

"Rian kecelakaan?" tanya Mama Arini kaget. "Terus bagaimana keadaannya sekarang?".

"Iya, Bu. Tapi sekarang sudah mendingan. Apalagi pas Arini datang menjenguk, Rian langsung mau makan lahap, kayak dapet energy boost," ucap Ibu Rian sambil melirik Arini yang mulai salah tingkah.

"Wah, bisa begitu ya, Bu? Hebat bener pengaruhnya! Haha!" sahut Mama Arini sambil tertawa menggoda anaknya.

"Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu ya. Harus langsung pulang menemani pasien kesayangan Bunda," pamit Ibu Rian. "Terima kasih ya, Bunda, sudah antar aku pulang," ucap Arini.

Setelah mobil Ibu Rian menjauh, Mama Arini langsung mendekat dengan senyum jahil. "Cie, memanggil ibunya Rian kok 'Bunda'? Udah dapet restu jalur langit nih? Haha!" goda Mamanya.

"Nggak tahu, Mah. Bunda sendiri yang minta tadi," jawab Arini dengan wajah memerah.

"Bau-bau calon besan nih, Yah!" canda Mamanya lagi. Ayah Arini ikut tertawa kecil. "Biarin saja, Mah. Asal Arini bahagia, kita dukung. Lagipula dia sudah bisa milih yang terbaik," ucap Ayahnya bijak.

"Ih, Mamah sama Ayah apa sih! Sudah ah, aku masuk dulu mau ganti baju!" Arini langsung berlari masuk ke dalam rumah untuk menyembunyikan rasa malunya, meski di dalam hati, ia terus memikirkan kata-kata Ibu Rian tentang keluarga "terpilih".

1
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!