Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ABU KASTIL CENDRES
Suara dentuman kayu ek yang hancur berkeping-keping menggema bagaikan guruh di dalam ruang keluarga Château de Cendres. Pintu ganda setinggi tiga meter itu terpelanting ke dalam, engsel-engsel perunggunya terlepas paksa dari kusen batu, menciptakan awan debu tipis yang berputar di bawah cahaya lampu gantung kristal. Di ambang pintu, Maximilian Alfarezel dan Vivien Aksara berdiri layaknya malaikat maut yang bangkit dari dasar danau yang membeku. Pakaian taktis drysuit mereka yang masih basah meneteskan air hitam Danau Jenewa ke atas karpet Persia yang tak ternilai harganya. Di tangan mereka, pistol Glock yang dilengkapi peredam suara teracung lurus, stabil, dan siap mencabut nyawa.
Julian Vane terlonjak dari kursi kulitnya yang mewah. Gelas kristal di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer, pecah berkeping-keping dan menumpahkan anggur merah Bordeaux yang menyebar layaknya genangan darah segar. Wajah Julian yang tadinya dihiasi senyum penuh kemenangan kini memucat pasi, matanya terbelalak menatap kemunculan dua orang yang seharusnya berada ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, sibuk menghadapi kehancuran finansial mereka.
"Bagaimana... bagaimana kalian bisa melewati sensor?" desis Julian, suaranya bergetar hebat. Tangannya secara refleks meraba bagian dalam jas kasualnya, mencari senjata pelindung yang selalu ia bawa.
"Tangan di atas meja, Julian! Sekarang!" teriak Vivien dengan suara yang membelah keheningan ruangan. Pistol di tangannya terkunci tepat di tengah dahi pria pengkhianat itu. "Satu inci saja tanganmu masuk ke balik jas itu, aku akan melubangi kepalamu bahkan sebelum pelatukmu sempat ditarik."
Julian membeku. Ia tahu Vivien Aksara tidak sedang menggertak. Sorot mata wanita itu adalah sorot mata seorang anak yang kehilangan ayahnya, seorang ibu yang bayinya terancam, dan seorang istri yang lelah menjadi buruan. Perlahan, dengan tangan gemetar, Julian mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu, matanya melirik liar ke arah Elena Von Zurich.
Sang Matriark, Elena, masih duduk diam di atas kursi roda bermesinnya. Meskipun kejutan sesaat sempat melintas di mata tuanya yang abu-abu, wanita itu dengan cepat menguasai dirinya. Tidak ada kepanikan dalam gerakannya. Dengan ketenangan yang mengerikan, jemari keriput Elena menekan sebuah tombol merah kecil yang tersembunyi di sandaran tangan kursi rodanya—tombol panik yang terhubung langsung dengan barak kontraktor militer swasta di sayap timur kastil.
Satu detik. Dua detik. Lima detik berlalu. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada suara sirene yang memekakkan telinga. Tidak ada derap langkah sepatu bot militer yang bergegas menuju ruangan itu.
Maximilian melangkah maju secara perlahan, ujung sepatunya yang basah meninggalkan jejak di atas karpet. Ia tersenyum, sebuah senyuman dingin yang tidak mencapai matanya. "Kau memencet tombol itu dengan cukup keras, Elena. Sayang sekali, sinyalnya tidak pergi ke mana-mana. Kepala keamananmu yang bersembunyi di ruang peladen lantai bawah saat ini sedang tertidur pulas dengan tulang leher yang patah. Seluruh kastil ini sekarang berada dalam gelembung kedap sinyal."
"Kalian pikir ini adalah kemenangan?" ucap Elena, suaranya serak namun penuh dengan racun kesombongan yang mengakar selama puluhan tahun. "Kalian hanyalah anak-anak kecil yang bermain menjadi pembunuh bayaran. Membunuhku di sini tidak akan menghentikan apa pun. Phoenix bukanlah seorang manusia, Maximilian. Phoenix adalah sebuah ideologi. Ia adalah jaringan uang dan kekuasaan yang mengalir di pembuluh darah dunia. Jika aku mati, dewan direksi bayangan di London, New York, dan Tokyo akan memastikan nama Alfarezel dan Aksara dihapus dari sejarah umat manusia."
"Kami tidak datang untuk membunuhmu, Elena," sahut Maximilian, matanya menatap tajam ke arah wanita tua yang telah menghancurkan hidup ayahnya itu. "Kematian adalah sebuah kemewahan yang terlalu murah untuk orang sepertimu. Kau telah menggunakan uang untuk membeli jiwa orang-orang seperti ayahku, Arthur, dan Aksara. Kau menggunakan kekayaan untuk merasa menjadi tuhan. Malam ini, kami datang untuk mencabut status ketuhananmu itu."
Maximilian mengeluarkan sebuah perangkat tablet militer yang tebal dari dalam rompinya yang kedap air. Ia melemparkan sebuah kabel konektor ke arah Vivien. Vivien dengan sigap menangkapnya dan melangkah mendekati meja kerja antik di sudut ruangan, tempat sebuah terminal komputer utama milik Elena menyala terang. Vivien menancapkan kabel itu ke dalam port akses langsung.
"Gideon," panggil Maximilian melalui interkom di telinganya. "Kami sudah masuk ke terminal utama. Ruangan ini bersih. Bagaimana status peladen pusat?"
Suara Gideon terdengar jernih dari Jakarta. "Bara telah mengunci ruang peladen dari dalam. Dia sedang menahan serangan dari dua regu penjaga yang baru menyadari komunikasi mereka terputus. Kita punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum mereka menggunakan peledak C4 untuk membongkar pintu baja peladen itu. Aku butuh otorisasi biometrik Elena sekarang, Max!"
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Julian, mulai panik ketika melihat barisan kode meretas layar monitor Elena dengan kecepatan kilat. "Kalian tidak bisa meretas rekening pusat Phoenix! Itu dienkripsi dengan sistem pertahanan bank sentral Swiss!"
"Sistem yang dibangun oleh manusia, bisa dihancurkan oleh manusia, Julian," jawab Vivien dingin. Ia menodongkan senjatanya kembali ke arah Elena. "Letakkan tangan kananmu di atas pemindai sidik jari di mejamu, Elena. Dan dekatkan wajahmu ke pemindai retina. Sekarang."
Elena tertawa sumbang, tawanya terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Kau pikir aku akan menyerahkan akses ke perbendaharaan rahasia Phoenix begitu saja? Tembak saja aku, Vivien. Tembak aku di dada. Aku sudah tua, tubuhku sudah membusuk oleh penyakit. Kematian tidak menakutkan bagiku. Tapi jika aku mati tanpa memberikan akses itu, dana miliaran dolar yang ada di sana akan tetap tertidur selama seratus tahun ke depan, sementara kalian akan diburu sebagai pembunuh."
Maximilian berjalan mendekat, menyejajarkan wajahnya dengan Elena. Ia menatap lekat-lekat mata wanita itu, mencari titik lemah dari sang monster. "Kau benar, Elena. Kau tidak takut mati. Kau bahkan tidak takut kehilangan uang itu. Tapi aku tahu persis apa yang paling kau takuti."
Maximilian memberi isyarat kepada Vivien. Vivien mengetik beberapa perintah di layar, memunculkan sebuah dokumen digital yang terpampang di monitor raksasa ruangan itu. Itu adalah silsilah keluarga Von Zurich yang sangat rahasia.
"Menurutmu, mengapa Arthur, ayahku, tidak pernah membongkar rahasiamu selama ia ditawan?" bisik Maximilian dengan nada yang mengiris. "Ayahku adalah seorang arsitek informasi. Selama sepuluh tahun di ruang bawah tanahmu, ia tidak hanya diam. Ia melacak setiap aliran dana pribadimu. Kau mungkin terlihat seperti wanita tua yang kesepian dan tidak memiliki pewaris, Elena. Tapi ayahku menemukan kebenarannya. Kau memiliki seorang cucu perempuan, bukan? Disembunyikan di sebuah asrama elite di pegunungan Austria dengan nama palsu. Seorang gadis kecil berumur dua belas tahun yang sama sekali tidak tahu bahwa neneknya adalah monster."
Napas Elena seketika terhenti. Jemarinya yang bertengger di lengan kursi roda mencengkeram kulit jok hingga memutih. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang panjang, topeng ketenangan absolut Elena Von Zurich retak dan hancur berantakan.
"Jangan berani-berani menyebut namanya!" desis Elena, matanya kini memancarkan kepanikan yang buas.
"Gideon telah meretas satelit keamanan asrama itu. Kami tahu di mana dia. Kami tahu jadwal sekolahnya, kami tahu nama dokter pribadinya, kami tahu semuanya," lanjut Maximilian tanpa belas kasihan, membalikkan taktik psikologis yang selama ini digunakan Elena kepada ayahnya. "Jika kau tidak membuka peladen ini sekarang juga, aku tidak akan menyakiti anak itu. Tidak, aku bukan monster sepertimu. Tapi aku akan mengirimkan seluruh berkas kejahatanmu, bukti pendanaan terorisme, perdagangan manusia, dan pencucian uang, langsung ke setiap teman sekelasnya, ke kepala sekolahnya, dan ke publikasi media di seluruh Eropa, dengan melampirkan identitas aslinya sebagai cucu kandungmu."
"Tidak..." bibir Elena bergetar.
"Anak itu akan dikucilkan. Ia akan diburu oleh musuh-musuhmu. Nama Von Zurich yang ingin kau wariskan secara diam-diam kepadanya akan menjadi kutukan yang akan menghancurkan hidupnya bahkan sebelum ia dewasa. Ia akan membencimu seumur hidupnya, Elena. Ia akan tahu bahwa kemewahannya dibangun di atas tulang belulang orang tak berdosa."
"Kau bajingan!" teriak Julian Vane yang mencoba mengambil kesempatan dari kelengahan Maximilian. Dengan gerakan nekat, Julian menyambar sepotong kaca tajam dari pecahan gelas anggurnya di lantai dan menerjang ke arah Maximilian.
Namun, Vivien lebih cepat dari kilat. Ia tidak menembak kepala Julian. Ia menurunkan arah senjatanya dan melepaskan satu tembakan presisi. Pfft! Peluru kaliber 9mm menembus tempurung lutut kanan Julian.
Pria itu menjerit histeris, tubuhnya ambruk ke lantai, memegangi kakinya yang hancur sementara darah segar menyembur mengotori karpet. "Kakiku! Kau menghancurkan kakiku, jalang!"
"Itu untuk ayahku, Julian," ucap Vivien dengan napas memburu, pistolnya masih berasap. Ia kemudian memutar moncong senjatanya kembali ke arah Elena. "Sekarang, buka sistemnya. Atau aku yang akan menekan tombol 'Kirim' untuk menghancurkan hidup cucumu."
Mata Elena berkaca-kaca. Ego dan arogansinya yang setinggi Pegunungan Alpen akhirnya runtuh di bawah ancaman yang paling mendasar: naluri untuk melindungi garis keturunannya sendiri. Dengan tangan yang gemetar hebat, Elena menempelkan ibu jarinya ke pemindai biometrik di meja, kemudian mendekatkan matanya ke lensa pemindai retina.
Bip. Akses Diterima. Tingkat Otorisasi: Matriark Alpha.
Layar monitor berubah warna menjadi hijau terang. Jutaan baris data, ribuan nomor rekening lepas pantai, dan daftar nama dewan direksi bayangan Phoenix yang belum pernah tersentuh hukum, kini terbuka lebar di hadapan mereka.
"Gideon, sistem sudah terbuka. Lakukan sekarang!" perintah Maximilian.
Dari Jakarta, Gideon tidak membuang waktu satu milidetik pun. "Menjalankan Protokol Icarus, Max. Aku sedang mengunduh seluruh ledger buku besar mereka ke server aman Interpol. Tapi bukan hanya itu. Aku menggunakan otorisasi Elena untuk memicu transfer massal. Seluruh dana likuid Phoenix di rekening Swiss, Cayman, dan Panama... tiga ratus miliar dolar... sedang ditransfer keluar."
"Ke mana kau mengirim uangku?!" jerit Elena, mencoba menarik tangannya dari meja, namun Vivien menahannya dengan kuat.
"Kami tidak mengambilnya sepeser pun, Elena," jawab Maximilian sambil menatap layar yang menunjukkan angka saldo rekening-rekening raksasa itu menurun dengan kecepatan yang gila. "Gideon sedang mendistribusikan uang itu secara acak ke lebih dari dua puluh ribu rekening amal terverifikasi di seluruh dunia, dana kompensasi korban perang, dan lembaga kemanusiaan internasional melalui jaringan mata uang kripto yang tidak bisa dilacak balik atau dibatalkan. Uang darahmu sedang digunakan untuk menyembuhkan luka dunia yang kau ciptakan."
Di layar monitor, angka raksasa yang tadinya mencapai ratusan miliar dolar itu kini turun menjadi puluhan miliar, lalu jutaan, dan terus bergulir turun hingga akhirnya...
$0.00. Saldo Kosong.
Bersamaan dengan itu, suara dentuman ledakan mengguncang lantai dasar kastil. Lampu kristal di atas mereka berayun hebat.
"Max! Pintu peladen berhasil dijebol!" Suara Bara terdengar terengah-engah dari komunikator, diselingi suara tembakan otomatis yang memekakkan telinga. "Aku sudah menghancurkan rak peladen fisik dengan peledak termit! Data mereka sudah musnah. Aku sedang mundur melalui jalur ventilasi. Kalian harus keluar dari sana sekarang!"
"Kami bergerak, Bara! Bertemu di titik ekstraksi air!" balas Maximilian.
Maximilian menatap Julian yang masih mengerang kesakitan di lantai. Ia menendang pecahan kaca jauh dari jangkauan pria itu. "Nikmati sisa hidupmu di penjara Swiss, Julian. Tanpa uang Phoenix, kau tidak akan bisa menyuap sipir mana pun."
Kemudian, Maximilian menoleh ke arah Elena Von Zurich. Wanita tua itu tidak lagi berteriak. Ia menatap layar monitor yang menampilkan saldo nol itu dengan tatapan kosong. Mulutnya setengah terbuka, napasnya tersengal-sengal pendek. Dunia yang ia bangun selama tiga dekade, kekuasaan absolut yang membuatnya merasa tidak tersentuh, semuanya lenyap dalam waktu kurang dari dua menit. Ia kini bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang wanita tua yang sakit, miskin, dan akan segera ditangkap oleh pihak berwenang.
Tiba-tiba, mata Elena mendelik ke atas. Tangannya mencengkeram dadanya dengan sangat kuat. Ia terkena serangan jantung masif akibat syok psikologis yang tidak tertahankan. Tubuhnya kejang sesaat di atas kursi roda sebelum akhirnya terkulai lemas, matanya tetap terbuka menatap layar kosong di hadapannya, mencerminkan kehampaan jiwanya sendiri.
"Max... dia..." Vivien menunjuk ke arah tubuh Elena yang tidak lagi bergerak.
"Biarkan saja. Keadilan sudah ditegakkan dengan caranya sendiri," ucap Maximilian tanpa sedikit pun rasa kasihan. "Kita harus pergi. Pengawal pribadinya akan tiba di ruangan ini dalam hitungan detik."
Mereka berdua berlari keluar melalui pintu kaca balkon yang mengarah langsung ke halaman belakang kastil yang berbatasan dengan tebing danau. Angin malam musim dingin yang menusuk tulang langsung menyergap mereka. Di bawah sana, air Danau Jenewa yang hitam pekat menunggu.
Suara dobrakan terdengar dari dalam ruang keluarga. Lampu senter taktis menyapu balkon. Tembakan senapan serbu mulai memecah kaca-kaca jendela di sekitar mereka.
"Lompat!" teriak Maximilian.
Maximilian dan Vivien melompat dari tebing batu setinggi sepuluh meter itu, meluncur menembus kegelapan malam, dan menghantam permukaan air yang sedingin es dengan suara cipratan yang keras. Sensasi dingin yang ekstrem seketika melumpuhkan saraf-saraf mereka, namun adrenalin memompa darah mereka untuk terus bergerak. Di dalam air, mereka melihat lampu sorot dari helikopter mulai menyapu permukaan danau.
Mereka menyelam lebih dalam, menggunakan tabung rebreather mereka yang tersisa, berenang menyusuri dasar danau menjauhi perimeter kastil. Di tengah kegelapan air, bayangan Bara muncul, berenang mendekati mereka dan memberikan isyarat jempol. Sang mantan pasukan khusus itu berhasil lolos dari kepungan.
Ketiganya berenang dalam formasi ketat, menjauh dari Château de Cendres yang kini dikelilingi oleh hiruk-pikuk kepanikan. Empat puluh menit yang terasa seperti selamanya berlalu sebelum mereka akhirnya muncul ke permukaan air di dekat rumah perahu yang tersembunyi.
Gemetar hebat, bibir membiru, dan kelelahan yang luar biasa mendera tubuh mereka saat mereka menarik diri naik ke atas dermaga kayu. Maximilian terbatuk keras, memuntahkan sedikit air danau, sementara Vivien bersandar di dadanya, mengatur napasnya yang putus-putus. Bara duduk di tiang kayu, tersenyum tipis sambil memegangi lengan kirinya yang ternyata terkena peluru menyerempet.
Maximilian menoleh ke seberang danau. Di kejauhan, lampu-lampu merah dan biru dari mobil-mobil kepolisian federal Swiss mulai mengepung kastil Elena Von Zurich. Imperium Phoenix benar-benar telah menjadi abu. Tidak ada lagi rekening rahasia, tidak ada lagi dewan direksi bayangan, dan sang Matriark telah tewas oleh keserakahannya sendiri.
Vivien mengangkat kepalanya, menatap mata suaminya. "Kita menang, Max. Kita benar-benar bebas sekarang."
Maximilian merangkul bahu Vivien erat-erat, memberikan kehangatan tubuhnya di tengah malam musim dingin yang membeku itu. "Ya, Viv. Ayah kita akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Dan Alaric... putra kita akan tumbuh di dunia di mana nama Alfarezel dan Aksara adalah simbol keberanian, bukan kutukan."
Di atas mereka, awan mendung yang sejak tadi menutupi langit Eropa mulai terbelah, memperlihatkan cahaya bulan purnama yang menyinari permukaan Danau Jenewa. Cahaya itu memantul di atas air, bukan lagi sebagai bayangan yang menakutkan, melainkan sebagai jalan terang yang menuntun mereka pulang ke rumah yang sesungguhnya. Abu Kastil Cendres tertinggal di belakang, terkubur bersama masa lalu yang kelam, memberi ruang bagi harapan baru yang akan mereka bangun dengan tangan mereka sendiri.