Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan dalam Darah
Kegelapan di gudang belakang mansion Moretti terasa berbeda dengan keheningan di kamar Rebecca. Jika di atas sana ada aroma kayu cendana dan kehangatan selimut, di sini hanya ada bau karat, lembapnya semen, dan aroma amis ketakutan yang menguar dari tubuh manusia.
Julian Valenti terikat di sebuah kursi besi yang dipaku ke lantai. Pakaian mahalnya yang bermerek kini hanyalah kain kotor yang sobek di sana-sini. Wajahnya yang biasanya klimis dan angkuh kini bengkak, dengan darah yang mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Saat pintu besi gudang berderit terbuka, tubuh Julian tersentak hebat.
Maximilian masuk dengan langkah yang tenang, hampir elegan. Ia telah melepas kemeja putihnya yang tadi dipeluk Rebecca, menggantinya dengan kaus hitam ketat yang menonjolkan otot-otot lengannya yang kuat. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah pisau bedah kecil yang berkilat tertimpa lampu neon tunggal yang berkedip di langit-langit.
"M-Maximilian ... kumohon ..." suara Julian serak, nyaris tenggelam dalam isak tangis yang memalukan. "Aku tidak tahu kalau dia ... aku bersumpah paman Enzo yang menyuruhku ...."
Maximilian berhenti tepat di depan Julian. Ia tidak langsung memukul atau berteriak. Keheningan pria itu jauh lebih menyiksa daripada makian mana pun. Max menarik sebuah kursi kayu, membalikkannya, dan duduk tepat di hadapan Julian.
"Rebecca memintaku untuk tidak membunuhmu," suara Maximilian rendah, sangat datar, namun mengandung getaran yang membuat bulu kuduk Julian berdiri. "Dia terlalu murni untuk dunia ini. Dia berpikir bahwa dengan membiarkanmu hidup, lingkaran setan ini akan berhenti."
Maximilian mencondongkan tubuhnya, ujung pisau bedah itu kini menempel di pipi Julian yang bengkak. "Tapi aku tidak semurni itu, Julian. Aku adalah orang yang menghitung hutang hingga ke sen terakhir. Dan kau ... kau punya hutang yang sangat besar karena telah membuat tangannya yang bersih harus ternoda oleh darah malam ini."
"Aku minta maaf! Aku akan melakukan apa saja!" teriak Julian histeris.
"Tentu saja kau akan melakukannya," bisik Max.
Tanpa peringatan, Maximilian menggerakkan tangannya. Bukan tusukan yang mematikan, melainkan sayatan tipis namun dalam di punggung tangan Julian—tepat di tempat pria itu mencoba menyentuh Rebecca di kampus. Jeritan Julian pecah, menggema di dinding beton gudang yang dingin.
Selama satu jam berikutnya, Maximilian memberikan "pelajaran" yang tidak akan pernah dilupakan oleh Julian. Max bekerja dengan presisi seorang pemahat. Ia tidak mematahkan tulang leher atau menusuk jantung, karena Rebecca ingin pria ini hidup. Sebagai gantinya, ia mematahkan setiap jari di tangan kanan Julian—satu per satu—dengan tang besi, memberikan jeda di setiap retakan agar Julian bisa merasakan setiap sarafnya berteriak.
"Ini untuk setiap tatapan kotor yang kau berikan padanya di kampus," ucap Max saat jari telunjuk Julian hancur.
"Dan ini," Maximilian beralih ke telinga Julian, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari pisaunya, "adalah agar kau ingat bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi seorang Valenti jika aku sudah menandainya."
Vargo berdiri di sudut ruangan, hanya menonton dengan tangan bersilang. Ia sudah terbiasa dengan kekejaman tuannya, namun malam ini Maximilian tampak lebih personal. Ini bukan sekadar bisnis; ini adalah pembersihan sebuah penghinaan terhadap miliknya.
Setelah Julian pingsan untuk ketiga kalinya karena rasa sakit yang luar biasa, Maximilian berdiri. Ia menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan putih yang kemudian ia buang ke wajah Julian yang hancur.
"Cukup," perintah Max pada Vargo. "Dia masih bernapas. Itu sudah memenuhi janji saya pada Rebecca. Sekarang, bungkus dia. Kita akan mengirim paket ini kepada paman tersayangnya."
Pukul tiga dini hari. Kediaman Enzo Valenti sedang dalam kondisi siaga satu. Penjagaan diperketat setelah kekacauan di aula perjamuan. Namun, bagi tim taktis Moretti yang dipimpin oleh Liam, sistem keamanan Valenti hanyalah sebuah lelucon.
Enzo Valenti sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menatap botol wiski yang tinggal setengah, ketika suara hantaman keras terdengar dari depan gerbang utamanya. Sebuah mobil van hitam tanpa plat meluncur kencang, menabrak gerbang besi hingga roboh, lalu berhenti tepat di tengah air mancur depan rumah.
Para pengawal Enzo mengepung mobil itu dengan senjata terkokang. Pintu belakang van terbuka secara otomatis. Sebuah benda besar terlempar keluar, berguling di atas aspal yang basah oleh sisa hujan.
Enzo keluar dengan langkah tergesa, wajahnya merah padam karena amarah. Namun, saat lampu sorot tamannya diarahkan pada benda itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Itu adalah Julian.
Kondisinya sangat mengerikan. Ia dibungkus dengan bendera keluarga Valenti yang telah dicuri dari aula—bendera yang kini sudah tidak lagi berwarna emas dan merah, melainkan hitam karena lumuran darah dan kotoran. Julian masih bernapas, meskipun suaranya hanya berupa erangan lemah yang tidak manusiawi.
Kedua tangannya hancur, jari-jarinya menekuk ke arah yang tidak masuk akal. Di dahinya, terukir sebuah tanda menggunakan pisau bedah: simbol jangkar Moretti. Namun yang paling mengerikan adalah sebuah kotak perak yang diletakkan di atas dadanya yang naik-turun dengan sesak.
Enzo mendekat dengan tangan gemetar. Ia membuka kotak perak itu. Di dalamnya terdapat pin perak Moretti yang tadinya dipakai Rebecca, tergeletak di atas tumpukan lidah manusia—yang dipastikan milik informan Valenti yang membocorkan lokasi Rebecca sebelumnya.
Di bawah pin itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Maximilian yang rapi dan tegas:
"Aku mengembalikan keponakanmu sesuai permintaan 'istriku'. Dia ingin dia hidup. Tapi ingat, Enzo, ini adalah peringatan terakhir. Jika ada bayangan Valenti yang menyentuh radius satu meter dari Rebecca Moretti lagi, aku tidak akan mengirim paket. Aku akan datang sendiri untuk menjemput nyawamu."
Enzo jatuh terduduk di aspal di samping keponakannya yang sekarat. Ia menatap pin perak itu dengan ngeri. Ia menyadari satu hal: ia tidak sedang berperang dengan seorang pebisnis mafia biasa. Ia sedang berurusan dengan seorang pria yang baru saja menemukan satu-satunya hal berharga dalam hidupnya, dan pria itu akan membakar seluruh dunia hanya untuk menjaga hal itu tetap aman.
Kembali di mansion pegunungan, Maximilian melangkah masuk ke kamarnya dengan sangat tenang. Ia telah mandi dan berganti pakaian di bangunan terpisah agar bau darah tidak tercium oleh Rebecca.
Ia merayap naik ke ranjang, kembali ke posisi semula. Rebecca sedikit menggeliat dalam tidurnya, mencari kehangatan. Secara naluriah, ia menyusup ke dalam pelukan Maximilian, meletakkan tangannya yang kecil di dada pria itu.
Maximilian menatap wajah Rebecca yang kini tampak begitu damai dalam tidurnya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Di luar, matahari mulai mengintip dari balik cakrawala pegunungan, menandakan dimulainya hari baru.
Hari di mana nama Rebecca Sinclair benar-benar terkubur, dan Rebecca Moretti lahir sebagai ratu di sisi seorang monster.
"Kau aman sekarang, Tesoro," bisik Maximilian sebelum akhirnya ia ikut memejamkan mata, membiarkan kelelahan merenggutnya setelah malam yang paling berdarah namun paling menentukan dalam hidupnya.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣