NovelToon NovelToon
Mencintai OM Mafia

Mencintai OM Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.

​Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.

​Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.

​"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan dalam Darah

Kegelapan di gudang belakang mansion Moretti terasa berbeda dengan keheningan di kamar Rebecca. Jika di atas sana ada aroma kayu cendana dan kehangatan selimut, di sini hanya ada bau karat, lembapnya semen, dan aroma amis ketakutan yang menguar dari tubuh manusia.

Julian Valenti terikat di sebuah kursi besi yang dipaku ke lantai. Pakaian mahalnya yang bermerek kini hanyalah kain kotor yang sobek di sana-sini. Wajahnya yang biasanya klimis dan angkuh kini bengkak, dengan darah yang mengering di sudut bibir dan pelipisnya. Saat pintu besi gudang berderit terbuka, tubuh Julian tersentak hebat.

Maximilian masuk dengan langkah yang tenang, hampir elegan. Ia telah melepas kemeja putihnya yang tadi dipeluk Rebecca, menggantinya dengan kaus hitam ketat yang menonjolkan otot-otot lengannya yang kuat. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah pisau bedah kecil yang berkilat tertimpa lampu neon tunggal yang berkedip di langit-langit.

"M-Maximilian ... kumohon ..." suara Julian serak, nyaris tenggelam dalam isak tangis yang memalukan. "Aku tidak tahu kalau dia ... aku bersumpah paman Enzo yang menyuruhku ...."

Maximilian berhenti tepat di depan Julian. Ia tidak langsung memukul atau berteriak. Keheningan pria itu jauh lebih menyiksa daripada makian mana pun. Max menarik sebuah kursi kayu, membalikkannya, dan duduk tepat di hadapan Julian.

"Rebecca memintaku untuk tidak membunuhmu," suara Maximilian rendah, sangat datar, namun mengandung getaran yang membuat bulu kuduk Julian berdiri. "Dia terlalu murni untuk dunia ini. Dia berpikir bahwa dengan membiarkanmu hidup, lingkaran setan ini akan berhenti."

Maximilian mencondongkan tubuhnya, ujung pisau bedah itu kini menempel di pipi Julian yang bengkak. "Tapi aku tidak semurni itu, Julian. Aku adalah orang yang menghitung hutang hingga ke sen terakhir. Dan kau ... kau punya hutang yang sangat besar karena telah membuat tangannya yang bersih harus ternoda oleh darah malam ini."

"Aku minta maaf! Aku akan melakukan apa saja!" teriak Julian histeris.

"Tentu saja kau akan melakukannya," bisik Max.

Tanpa peringatan, Maximilian menggerakkan tangannya. Bukan tusukan yang mematikan, melainkan sayatan tipis namun dalam di punggung tangan Julian—tepat di tempat pria itu mencoba menyentuh Rebecca di kampus. Jeritan Julian pecah, menggema di dinding beton gudang yang dingin.

Selama satu jam berikutnya, Maximilian memberikan "pelajaran" yang tidak akan pernah dilupakan oleh Julian. Max bekerja dengan presisi seorang pemahat. Ia tidak mematahkan tulang leher atau menusuk jantung, karena Rebecca ingin pria ini hidup. Sebagai gantinya, ia mematahkan setiap jari di tangan kanan Julian—satu per satu—dengan tang besi, memberikan jeda di setiap retakan agar Julian bisa merasakan setiap sarafnya berteriak.

"Ini untuk setiap tatapan kotor yang kau berikan padanya di kampus," ucap Max saat jari telunjuk Julian hancur.

"Dan ini," Maximilian beralih ke telinga Julian, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari pisaunya, "adalah agar kau ingat bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi seorang Valenti jika aku sudah menandainya."

Vargo berdiri di sudut ruangan, hanya menonton dengan tangan bersilang. Ia sudah terbiasa dengan kekejaman tuannya, namun malam ini Maximilian tampak lebih personal. Ini bukan sekadar bisnis; ini adalah pembersihan sebuah penghinaan terhadap miliknya.

Setelah Julian pingsan untuk ketiga kalinya karena rasa sakit yang luar biasa, Maximilian berdiri. Ia menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan putih yang kemudian ia buang ke wajah Julian yang hancur.

"Cukup," perintah Max pada Vargo. "Dia masih bernapas. Itu sudah memenuhi janji saya pada Rebecca. Sekarang, bungkus dia. Kita akan mengirim paket ini kepada paman tersayangnya."

Pukul tiga dini hari. Kediaman Enzo Valenti sedang dalam kondisi siaga satu. Penjagaan diperketat setelah kekacauan di aula perjamuan. Namun, bagi tim taktis Moretti yang dipimpin oleh Liam, sistem keamanan Valenti hanyalah sebuah lelucon.

Enzo Valenti sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menatap botol wiski yang tinggal setengah, ketika suara hantaman keras terdengar dari depan gerbang utamanya. Sebuah mobil van hitam tanpa plat meluncur kencang, menabrak gerbang besi hingga roboh, lalu berhenti tepat di tengah air mancur depan rumah.

Para pengawal Enzo mengepung mobil itu dengan senjata terkokang. Pintu belakang van terbuka secara otomatis. Sebuah benda besar terlempar keluar, berguling di atas aspal yang basah oleh sisa hujan.

Enzo keluar dengan langkah tergesa, wajahnya merah padam karena amarah. Namun, saat lampu sorot tamannya diarahkan pada benda itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Itu adalah Julian.

Kondisinya sangat mengerikan. Ia dibungkus dengan bendera keluarga Valenti yang telah dicuri dari aula—bendera yang kini sudah tidak lagi berwarna emas dan merah, melainkan hitam karena lumuran darah dan kotoran. Julian masih bernapas, meskipun suaranya hanya berupa erangan lemah yang tidak manusiawi.

Kedua tangannya hancur, jari-jarinya menekuk ke arah yang tidak masuk akal. Di dahinya, terukir sebuah tanda menggunakan pisau bedah: simbol jangkar Moretti. Namun yang paling mengerikan adalah sebuah kotak perak yang diletakkan di atas dadanya yang naik-turun dengan sesak.

Enzo mendekat dengan tangan gemetar. Ia membuka kotak perak itu. Di dalamnya terdapat pin perak Moretti yang tadinya dipakai Rebecca, tergeletak di atas tumpukan lidah manusia—yang dipastikan milik informan Valenti yang membocorkan lokasi Rebecca sebelumnya.

Di bawah pin itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Maximilian yang rapi dan tegas:

"Aku mengembalikan keponakanmu sesuai permintaan 'istriku'. Dia ingin dia hidup. Tapi ingat, Enzo, ini adalah peringatan terakhir. Jika ada bayangan Valenti yang menyentuh radius satu meter dari Rebecca Moretti lagi, aku tidak akan mengirim paket. Aku akan datang sendiri untuk menjemput nyawamu."

Enzo jatuh terduduk di aspal di samping keponakannya yang sekarat. Ia menatap pin perak itu dengan ngeri. Ia menyadari satu hal: ia tidak sedang berperang dengan seorang pebisnis mafia biasa. Ia sedang berurusan dengan seorang pria yang baru saja menemukan satu-satunya hal berharga dalam hidupnya, dan pria itu akan membakar seluruh dunia hanya untuk menjaga hal itu tetap aman.

Kembali di mansion pegunungan, Maximilian melangkah masuk ke kamarnya dengan sangat tenang. Ia telah mandi dan berganti pakaian di bangunan terpisah agar bau darah tidak tercium oleh Rebecca.

Ia merayap naik ke ranjang, kembali ke posisi semula. Rebecca sedikit menggeliat dalam tidurnya, mencari kehangatan. Secara naluriah, ia menyusup ke dalam pelukan Maximilian, meletakkan tangannya yang kecil di dada pria itu.

Maximilian menatap wajah Rebecca yang kini tampak begitu damai dalam tidurnya. Ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya. Di luar, matahari mulai mengintip dari balik cakrawala pegunungan, menandakan dimulainya hari baru.

Hari di mana nama Rebecca Sinclair benar-benar terkubur, dan Rebecca Moretti lahir sebagai ratu di sisi seorang monster.

"Kau aman sekarang, Tesoro," bisik Maximilian sebelum akhirnya ia ikut memejamkan mata, membiarkan kelelahan merenggutnya setelah malam yang paling berdarah namun paling menentukan dalam hidupnya.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐞𝐡 𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐣𝐚
𝐰𝐚𝐥𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 𝐤𝐫𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭 𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐥𝐠 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢𝐜𝐮𝐥𝐢𝐤 𝐥𝐠? 𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐢𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠 😭😭🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐤𝐲𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚


𝐝𝐢 𝐛𝐚𝐛 𝟗𝟖 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐝𝐠𝐧 𝐡𝐞𝐥𝐢 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐮𝐢 𝐜𝐚𝐩𝐨𝟐 𝐭𝐮𝐚 𝐲𝐠 𝐦𝐬𝐡 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐝𝐥𝐦 𝐤𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥𝐢 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐣𝐮 𝐤𝐞 𝐭𝐦𝐩𝐭 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐢 𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐚𝐱 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐭𝐩 𝐣𝐠 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐢, 𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐫𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐩𝐞𝐥𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐤𝐞𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐛𝐫𝐢𝐤𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐝𝐢𝐥𝐞𝐝𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐒𝐜𝐚𝐫𝐥𝐞𝐭 𝐫𝐨𝐬𝐞́ 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐰𝐚𝐡 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐢𝐥 😘😘😘 𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐤𝐚𝐤𝐤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐨𝐡 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐚𝐱 𝐮𝐝𝐡 𝐝𝐢 𝐭𝐞𝐦𝐮𝐢𝐧 𝐲𝐚 𝐝𝐢 𝟗𝟖 𝐤𝐦𝐫𝐧, 𝐦𝐬𝐡 𝐝𝐢𝐫𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐲𝐚???

𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐦𝐩𝐭 𝐥𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐉𝐨𝐤𝐞𝐫, 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐚𝐢𝐤 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐤𝐬𝐚 𝐣𝐝 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐤𝐫𝐧 𝐤𝐞𝐚𝐝𝐚𝐚𝐧😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐲𝐠 𝐝𝐢𝐤𝐨𝐫𝐛𝐚𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐮𝐧𝐭𝐤 𝐩𝐞𝐧𝐜𝐚𝐩𝐚𝐢𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚🥺🥺😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐬𝐠𝐭 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚 𝐢𝐧𝐢...


𝐚𝐪 𝐣𝐝 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧-𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐚𝐪 𝐛𝐬 𝐣𝐝 𝐤𝐲𝐤 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚, 𝐚𝐪 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐧𝐮𝐡 𝟏 𝐩𝐞𝐫𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐈𝐧𝐝𝐨𝐧𝐞𝐬𝐢𝐚🤪🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 🤪🤪🤪 𝐛𝐢𝐚𝐫𝐢𝐧 𝐤𝐚𝐤 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐦𝐚 𝐤𝐨𝐫𝐮𝐩𝐭𝐨𝐫 𝐢𝐧𝐝𝐨 𝐲𝐠 𝐡𝐮𝐤𝐮𝐦𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐦𝐚𝐢𝐧𝐚𝐧
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐨𝐨𝐝 𝐣𝐨𝐛 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐦𝐚𝐭𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐦𝐡😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐬𝐨𝐦𝐛𝐨𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐡 𝐤𝐦𝐮, 𝐭𝐝𝐤 𝐏𝐞𝐫𝐜𝐲 𝐟𝐞𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐚𝐱𝐱𝐱😭😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐚𝐩𝐚𝐤𝐡 𝐦𝐚𝐱 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐫𝐮𝐭?
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐢𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢
total 2 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐠𝐰𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐠𝐰𝐞𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐠 𝐑𝐞𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 🤣🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 😘😘
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 🦾🦾🦾
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐞𝐜𝐜𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐤𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐨𝐧𝐢𝐧 𝐦𝐚𝐱 𝐝𝐞𝐜𝐡.....


𝐠𝐞𝐦𝐞𝐬 𝐚𝐪 𝐤𝐨𝐤 𝐦𝐬𝐭𝐢 𝐧𝐲𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐮𝐬𝐮𝐡 🥺🥺🥺
EsKobok: ngelonin gak tuh🤭🤣
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙢𝙪𝙨𝙪𝙝 𝙙𝙞𝙢𝙣 𝙢𝙣 😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!