Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Beban yang Nyata
Bayu masih terpaku di depan meja kayu tua itu, sementara suara jangkrik di sekitar panti asuhan seolah berhenti mengerik, memberikan ruang bagi keheningan yang mencekam. Tangannya yang kasar perlahan terulur, menjangkau amplop cokelat besar yang seolah-olah memiliki daya magis gelap untuk menarik seluruh perhatiannya malam itu.
Ibu jarinya menyusup di bawah lipatan amplop yang sudah tidak berperekat lagi, menandakan surat ini sudah dibaca berkali-kali oleh seseorang sebelum tergeletak di sana. Bayu menarik keluar selembar kertas tebal dengan kop surat resmi yang terlihat sangat kaku dan dingin, kontras dengan suasana panti yang penuh kasih.
Ia mendekatkan kertas itu ke arah lampu teras yang berkedip redup, mencoba menajamkan penglihatannya untuk membaca baris demi baris isi surat tersebut dengan sangat teliti. Kalimat-kalimat formal yang tertulis di sana terasa seperti serangan fisik yang menghujam jantungnya, membuat napas Bayu kembali memburu dengan tidak beraturan.
Panti asuhan ini, tempat ia dan Fahmi dulu menghabiskan masa kecil dengan berlarian tanpa beban, kini berada di ambang kehancuran yang sangat nyata. Surat itu menyatakan dengan tegas bahwa lahan panti akan disita dalam waktu dua minggu jika seluruh tunggakan pajak dan biaya administrasi sengketa tidak segera dilunasi.
"Dua minggu? Ini gila, mereka benar-benar tidak punya hati nurani sedikit pun," batin Bayu dengan amarah yang mulai memuncak hingga ke ubun-ubunnya.
Ia menatap nominal angka yang tertera di bagian bawah surat tersebut, sebuah deretan angka nol yang nampak sangat panjang dan juga sangat mengerikan. Jumlah total yang tertulis di sana sangat besar, jauh melampaui sisa saldo di rekening Bayu yang kini bahkan tidak cukup untuk membeli tiket bus kembali ke Jakarta.
Bayu meremas pinggiran kertas itu hingga sedikit lecek, merasakan beban kenyataan ini jauh lebih berat daripada ransel berisi surat penyitaan asetnya sendiri. Ia menyadari bahwa selama ini Nayla memikul rahasia ini sendirian, menyembunyikan badai besar di balik senyum ketegaran yang selalu ia tunjukkan kepada anak-anak yatim.
"Gimana bisa Nayla nanggung ini sendirian? Apa Fahmi tahu soal ini?" pikir Bayu sembari menoleh ke arah pintu dalam yang masih tertutup rapat.
Ia membayangkan betapa hancurnya perasaan anak-anak panti jika dalam empat belas hari ke depan, mereka harus diusir paksa oleh petugas pengadilan dari rumah mereka. Bayu merasakan kilatan amarah dan rasa iba yang bercampur aduk, menciptakan pusaran emosi yang sangat menyakitkan di dalam rongga dadanya yang terasa sesak.
Tiba-tiba, suara derit pintu kayu yang terbuka memecah keheningan teras samping tersebut, membuat Bayu tersentak dan hampir menjatuhkan surat yang sedang dipegangnya. Nayla keluar dari pintu dalam sambil membawa sebuah nampan kayu yang berisi dua gelas air putih, nampaknya ia berniat memberikannya kepada Dokter Heru atau pengurus lain.
Langkah kaki Nayla mendadak terhenti di ambang pintu, matanya membelalak lebar saat menangkap sosok Bayu yang sedang berdiri di teras samping pantinya. Ia benar-benar terkejut melihat Bayu berada di sana, apalagi saat menyadari bahwa surat rahasia di atas meja itu kini sudah berpindah ke tangan pria itu.
Nayla terpaku di tempatnya berdiri, tubuhnya nampak mematung seolah-olah seluruh persendiannya telah terkunci oleh rasa malu dan juga rasa takut yang amat besar. Ia meletakkan nampan kayu itu di atas meja dengan tangan yang bergetar hebat, hingga bunyi dentingan gelas kaca terdengar sangat nyaring di kesunyian malam Isya.
Gelas-gelas itu bergoyang tidak stabil di atas nampan, menyebabkan air putih di dalamnya tumpah sedikit dan membasahi permukaan meja kayu yang sudah mulai lapuk. Nayla tidak berusaha mengelap tumpahan air tersebut, ia justru tertunduk lesu di depan Bayu dengan bahu yang nampak merosot, kehilangan seluruh sisa tenaganya.
Ia tidak bisa berkata-kata, lidahnya seolah kelu dan membeku untuk memberikan penjelasan atau sekadar mengusir Bayu dari area yang seharusnya menjadi privasinya. Nayla hanya bisa menatap ujung sandalnya sendiri dengan napas yang terdengar pendek-pendek, seolah-olah ia sedang menunggu vonis mati yang akan segera dijatuhkan padanya.
Bayu menatap Nayla yang kini nampak begitu rapuh, sangat jauh berbeda dengan sosok wanita tegar yang tadi sore ia lihat sedang mengasuh anak-anak yatim. Ia ingin sekali membuka suara, ingin menanyakan sejak kapan masalah ini ada, namun ia merasa suaranya sendiri tertahan oleh rasa bersalah yang tak kalah besarnya.
"Ternyata ini alasan kenapa kamu kelihatan capek banget setiap hari, bukan cuma soal Haikal," bisik Bayu di dalam benaknya dengan perasaan yang sangat getir.
Ia melihat jemari Nayla yang masih gemetar di pinggiran nampan, sebuah pemandangan yang membuat hati Bayu terasa seperti sedang diiris oleh sembilu yang sangat tajam. Nayla nampak sangat terpukul karena rahasia paling pahit yang ia simpan rapat-rapat kini telah terbongkar di depan mata orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat karib.
Bayu tidak mengatakan apa pun secara lisan, ia hanya diam berdiri sembari tetap memegang surat peringatan terakhir itu dengan genggaman yang sangat erat. Di dalam kepalanya, skenario buruk mulai bermunculan satu per satu, memperlihatkan masa depan panti asuhan yang nampak sangat suram jika bantuan tidak segera datang.
"Seratus juta dari Rian ... kalau gue ambil, panti ini selamat. Nayla nggak perlu lagi ketakutan kayak gini," batin Bayu dengan godaan yang kembali menyerang pertahanannya.
Ia merasa seolah-olah semesta sedang menyudutkannya ke sebuah pilihan yang mustahil, pilihan antara menjaga kejujuran atau menyelamatkan masa depan puluhan anak manusia. Bayu meraba ponsel di saku celananya yang robek, merasakan benda elektronik itu kembali bergetar pelan sebagai tanda ada panggilan masuk dari Jakarta.
Getaran itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafnya, mengingatkan Bayu bahwa waktu yang dimiliki panti asuhan ini terus berdetak menuju kehancuran. Panggilan dari Rian seolah-olah menjadi suara iblis yang menawarkan jalan keluar instan di tengah labirin penderitaan yang sedang dialami oleh Nayla saat ini.
Bayu menatap Nayla yang masih tertunduk, lalu beralih menatap layar ponsel yang menyala di dalam sakunya, menciptakan cahaya remang yang menembus kain celananya yang tipis. Di ambang malam yang semakin larut ini, Bayu menyadari bahwa ia sedang memegang beban yang sangat nyata, sebuah beban yang bisa menentukan hidup dan mati panti asuhan.
"Satu klik untuk terima panggilannya, dan semua masalah ini selesai. Tapi apa gue sanggup liat muka Ibu kalau gue balik jadi bajingan?" pikir Bayu penuh kebimbangan.
Keheningan di antara mereka berdua terasa sangat berat, seolah-olah udara di teras samping panti itu telah berubah menjadi timah yang menekan paru-paru hingga sulit bernapas. Nayla masih tidak berani mengangkat wajahnya, ia hanya diam dalam getaran tubuhnya yang semakin menjadi-jadi di bawah tatapan diam dari seorang Bayu.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰