“Orang bilang, masakan Bara bisa bikin orang menangis, jatuh cinta, atau mati. Tergantung niat pemesannya.”
Bara Mahendra, koki pelit yang terjebak masa lalu, hanya ingin hidup tenang dan cuan. Namun, di *Bara's Kitchen*, ketenangan adalah mitos. Bersama Lintang, admin Gen Z gila konten, dan Mang Ojak dengan mobil bututnya, Bara harus menghadapi pesanan-pesanan tak masuk akal.
Siapkan nyali sebelum mencicipi. Karena di dapur ini, kenyang saja tidak cukup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W. Prata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 3 - CH 14 : TROJAN BUAYA
Pukul 05.45 WIB. Kota X masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang. Namun di lantai dua Bara's Kitchen, suhunya masih terasa seperti simulasi padang pasir.
Bara berdiri di depan meja stainless dengan mata sembap, kantung mata hitam yang menyaingi panda, dan napas yang berbau kopi sisa semalam. Tangannya yang terbungkus sarung tangan oven tebal mencengkeram ujung kawat loket yang menyembul dari bagian "pantat" roti buaya raksasa itu.
"Tahan napas... Mang Ojak, pegangin kepalanya. Lintang, pegang pinggiran loyangnya. Jangan sampe rotinya ikut ketarik dan patah di tengah," instruksi Bara dengan suara parau.
"Udah, Mas! Tarik cepetan, gue udah kebelet pipis dari jam empat!" erang Lintang yang matanya masih setengah terpejam.
Bara menarik napas panjang. Dia memasang kuda-kuda, lalu menarik kerangka kawat itu perlahan.
Kreeek... sroooot.
Berkat pelumas mentega dan aluminium foil yang dioleskan Bara dengan brutal semalam, gulungan kawat itu meluncur keluar dari perut roti buaya tanpa merobek dinding bagian dalamnya. Ketika kawat sepanjang satu setengah meter itu sepenuhnya tercabut dan dilempar ke lantai berdenting keras, Bara langsung menyalakan senter HP-nya dan mengintip ke dalam lubang di pantat roti buaya tersebut.
Gelap. Dalam. Dan kopong sempurna. Keraknya keras kecokelatan berkat tembakan api blowtorch, menopang struktur roti itu layaknya kubah beton.
"Berhasil..." Bara menghembuskan napas lega yang panjangnya menyaingi napas naga. "Anatomi lambung kosongnya sempurna. Nggak ada yang bantat, nggak ada yang ambruk."
Roti buaya itu benar-benar terlihat mengerikan. Panjangnya dua meter lebih. Mulutnya menganga lebar memamerkan gigi-gigi tajam dari adonan yang dipanggang kering. Sisik di punggungnya berdiri garang. Dan yang paling epik sekaligus creepy adalah sepasang matanya. Permen pelega tenggorokan warna merah itu telah meleleh selama proses pemanggangan, menyebar dan mengeras, memberikan efek mata merah menyala yang seolah menatap langsung ke dalam jiwa siapa pun yang melihatnya.
"Gila. Kalau rotinya hidup, gue kayaknya orang pertama yang digigit," gumam Lintang bergidik ngeri.
Namun kebanggaan Bara sebagai chef merangkap arsitek dadakan itu terhenti ketika suara deru mesin motor gede terdengar dari luar ruko, memecah keheningan subuh. Suaranya berat, menggelegar, dan berhenti tepat di depan rolling door lantai satu.
DEG.
Ketiganya membeku. Jantung Lintang seolah anjlok ke lambung. Mang Ojak langsung komat-kamit merapal Ayat Kursi dengan kecepatan rapper bawah tanah.
"Waktunya judgement day," desis Bara. Dia melepas sarung tangannya. "Tang, Mang Ojak. Apapun yang dikeluarin Bang Kobra dari tasnya nanti... entah itu narkoba, senjata api rakitan, atau potongan ginjal manusia... lo berdua diem aja. Jangan ada yang teriak. Jangan ada yang lari. Kalau kita pura-pura bego, polisi nggak punya bukti kuat buat masukin kita ke sel dengan pasal kaki tangan sindikat."
"M-mas... baju tahanan warna oren itu bikin kulit gue keliatan kusam tau nggak..." Lintang mulai menangis tanpa air mata.
DOR! DOR! Pintu rolling door di bawah digedor dengan brutal.
Bara menelan ludah, berjalan turun ke lantai satu, dan membuka gembok rolling door. Begitu pintu besi itu ditarik ke atas, aroma tajam kemenyan dan minyak srimpi langsung menampar wajah Bara.
Bang Kobra berdiri di sana. Jaket kulit hitamnya masih sama, namun kali ini ada sebatang rokok kretek menyala di bibirnya. Dan yang membuat adrenalin Bara melonjak naik adalah: tangan kanan pria raksasa itu menenteng sebuah tas duffel hitam besar yang terlihat sangat, sangat berat.
"Pagi, Bang," sapa Bara berusaha menutupi tremor di tangannya.
"Barang gue kelar?" Bang Kobra tidak membalas sapaan, suaranya menggeram dalam.
"Selesai, Bang. Sempurna sesuai request. Kopong seratus persen. Silakan naik ke dapur."
Bang Kobra melangkah masuk. Sepatu botnya berderit menaiki tangga kayu. Bara mengikutinya dari belakang, matanya tak lepas dari tas duffel hitam yang berayun-ayun seirama dengan langkah berat si preman pasar.
Sesampainya di dapur lantai dua, Bang Kobra menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam dan dipenuhi bekas luka itu menatap mahakarya Bara di atas meja stainless.
Asap kretek mengepul dari hidungnya. Selama lima detik yang terasa seperti lima jam, Bang Kobra diam. Lintang sudah bersembunyi di balik kulkas dua pintu, sementara Mang Ojak pura-pura sibuk mencuci spatula yang sudah bersih sejak semalam.
"Sempurna," geram Bang Kobra. Sebuah senyum tipis yang lebih mirip seringai serigala muncul di wajahnya yang menyeramkan. Dia berjalan mendekati pantat roti buaya itu, memeriksa lubang selebar dua jengkal yang sengaja disisakan Bara.
Bang Kobra meletakkan tas duffel hitamnya di atas meja, tepat di sebelah roti. Bunyinya gedebuk berat.
"Kalian bertiga," Bang Kobra menoleh. Matanya menyapu Bara, Lintang, dan Mang Ojak. "Tutup mata. Atau mau gue tutupin selamanya?"
"T-tutup mata, Bang! Siap!" Lintang langsung berbalik menghadap kulkas, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Mang Ojak memejamkan mata kuat-kuat sambil memeluk sink tempat cuci piring.
Bara memejamkan mata. Tapi sebagai pemilik ruko dan penanggung jawab atas segala hal yang terjadi di dapurnya, insting survival-nya memberontak. Dia memicingkan sebelah matanya sedikit. Sangat sedikit. Cukup untuk melihat siluet pergerakan Bang Kobra.
Terdengar bunyi ritsleting tas dibuka. Sreeeeet.
Bara menahan napas. Otaknya sudah mengkalkulasi berapa tahun hukuman penjara untuk pasal penyelundupan sabu-sabu kelas kakap di Kota X.
Bang Kobra merogoh ke dalam tas. Dia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus plastik hitam tebal. Bentuknya kotak. Pria itu memasukkannya ke dalam perut buaya, mendorongnya jauh ke dalam menggunakan tongkat kayu penggilas adonan milik Bara.
Satu kotak masuk. Lalu Bang Kobra mengeluarkan tumpukan lain. Kali ini bentuknya lebih pipih, diikat dengan karet.
Sinar lampu neon dapur memantul dari celah plastik yang sedikit robek di tumpukan kedua itu. Bara memicingkan matanya lebih fokus.
Warnanya... emas? Dan yang tumpukan kotak tadi... itu bukan serbuk putih. Itu lembaran kertas warna merah. Ratusan... tidak, mungkin ribuan lembar pecahan seratus ribu yang diikat erat.
Bara tercengang. Itu bukan narkoba. Itu uang tunai dan emas batangan!
"Udah cukup. Buka mata lo pada," perintah Bang Kobra. Dia melempar tas duffel yang sudah kempis itu ke lantai.
Bara pura-pura baru membuka mata, meski jantungnya masih berdebar kencang. "Udah diisi, Bang?"
"Udah," Bang Kobra menepuk perut roti buaya itu. Bunyinya kini tidak lagi nyaring kopong, melainkan padat berisi. "Sekarang, tutup lubang pantatnya. Segel yang rapi. Gue nggak mau ada yang tau kalau buaya ini habis dibedah."
Bara mengangguk cepat. Rasa takutnya tergantikan oleh kebingungan yang luar biasa. Dia mengambil sisa adonan yang sudah disiapkan semalam, menutupi lubang menganga di pantat buaya itu, memolesnya dengan kuning telur agar warnanya menyatu, lalu menyalakan blowtorch.
Sambil menembakkan api biru untuk mematangkan segel adonan itu secara instan, jiwa kepo Gen Z Bara tidak bisa ditahan lagi. Risiko dibacok preman diabaikannya sejenak.
"Maaf, Bang," Bara berbicara sambil terus menggerakkan blowtorch-nya. "Kalau boleh nanya... ini buat apaan ya? Kalau buat selundupan... kenapa harus repot-repot pake roti buaya?"
Bang Kobra melirik Bara. Tatapannya sedingin es batu. Tapi kemudian, pria raksasa itu mendengus pelan, seolah menertawakan sesuatu yang ironis.
"Lo tau Haji Muhidin? Bos sindikat pelabuhan utara Kota X?" suara Bang Kobra berat bergema.
"Tau, Bang. Siapa yang nggak tau beliau di kota ini," jawab Bara berhati-hati. Semua orang tau, berurusan dengan Haji Muhidin sama dengan menyerahkan nyawa.
"Gue... mau ngelamar anak gadisnya hari ini," kata Bang Kobra datar.
UHUK! Lintang yang masih sembunyi di balik kulkas tak sengaja tersedak ludahnya sendiri.
Bara nyaris menjatuhkan blowtorch-nya. Preman pasar berwajah seram, bau menyan, banyak tato, mau ngelamar anak bos mafia pelabuhan?
"Masalahnya," Bang Kobra melanjutkan, matanya menatap mata merah menyala roti buaya itu. "Bapaknya nggak setuju. Anak buah Haji Muhidin udah diinstruksiin buat nembak di tempat siapa pun dari kelompok gue yang berani masuk ke wilayah utara bawa barang berharga buat seserahan."
Bara mulai merangkai puzzle yang berantakan di kepalanya. "Jadi... Abang masukin uang panai dan emas maharnya ke dalem perut roti buaya ini?"
"Trojan Horse," Bang Kobra tersenyum miring. "Atau dalam kasus lo, Trojan Buaya. Anak buah Haji Muhidin otaknya isinya otot semua. Kalau mereka liat gue dan rombongan dateng bawa kardus seserahan biasa atau brankas, pasti disita dan gue dihabisin. Tapi kalau mereka liat gue dateng cuma bawa arak-arakan Roti Buaya tradisional Betawi..."
"...Mereka bakal mikir Abang cuma bawa makanan adat buat ngemis restu. Mereka bakal biarin rombongan Abang masuk sampe ke depan muka Haji Muhidin," sambung Bara, takjub dengan jeniusnya taktik kriminal pria di depannya ini.
"Tepat," Bang Kobra mematikan rokok kreteknya ke asbak di dekat kompor. "Dan begitu gue di depan bapaknya, gue tinggal belah perut buaya ini. Surprise. Mahar lima ratus juta cash dan emas batangan. Di depan keluarga besarnya, Haji Muhidin pantang nolak tamu yang udah bawa mahar masuk rumah. Harga diri mafia tua."
Bara mematikan blowtorch. Segel pantat buaya itu sudah matang, cokelat sempurna menyatu dengan bagian tubuh lainnya. Sama sekali tidak terlihat bahwa perut roti itu baru saja diisi harta karun setengah miliar rupiah.
Bara menatap Bang Kobra dengan campuran rasa takut dan respect. Lelaki ini mengerikan, tapi usahanya untuk mendapatkan cinta benar-benar di luar nalar. Jauh lebih gentleman daripada si Adrian buaya darat kemarin yang cuma bisa nyogok pakai duit lima juta.
"Selesai, Bang. Segelnya udah kuat. Buayanya siap berangkat tempur," lapor Bara.
Bang Kobra mengangguk puas. Dia merogoh kantong jaket kulitnya lagi, lalu melemparkan dua buah gepokan uang ratusan ribu yang diikat karet gelang ke atas meja stainless, tepat di sebelah buaya seharga setengah miliar itu.
"Ini sepuluh juta sisa pelunasan lu," kata Bang Kobra. Dia menatap Bara lekat-lekat. "Lu koki gila, tapi rapi kerjanya. Owe... eh, gue suka gaya lu. Jaga mulut lu, atau gue yang jahit mulut lu sama asisten lu itu."
"Aman, Bang. Mulut kita udah dilas mati," jawab Bara mantap sambil memasukkan gepokan uang itu ke dalam apronnya.
Bang Kobra memanggil dua anak buahnya yang sedari tadi menunggu di bawah. Mereka mengangkat loyang raksasa berisi buaya itu dengan hati-hati menuruni tangga.
Lima menit kemudian, deru mesin motor gede dan mobil pick-up itu perlahan menjauh, membelah kabut pagi Kota X, membawa sebuah roti buaya seberat hampir lima puluh kilogram yang menyimpan rahasia terbesar dan termahal di dalamnya.
Bara berdiri di tengah dapur yang berantakan, bau sangit sisa pembakaran blowtorch masih menguar. Dia mengeluarkan dua gepok uang dari apronnya.
Sepuluh juta, ditambah uang DP sepuluh juta kemarin. Total dua puluh juta dalam dua hari, kalau dihitung sama kasus adrian tambah delapan juta jadi total dua puluh delapan juta cuma dari 2 roti. Ruko Bara's Kitchen mendadak punya likuiditas kas setara minimarket.
Lintang merangkak keluar dari balik kulkas, wajahnya masih pucat. "Mas... kita baru aja ngebantuin preman nyelundupin duit mahar setengah miliar ngelewatin penjagaan bos mafia."
"Gue tau, Tang," Bara menatap uang di tangannya dengan pandangan kosong. "Ternyata bener ya kata pepatah."
"Pepatah apa, Mas?"
"Cinta itu buta," Bara menghela napas panjang. "Tapi buaya raksasa yang perutnya isi duit setengah miliar... matanya nyala warna merah. Udah sana, lap meja. Gara-gara ini oven Frankenstein kita mesti dibongkar lagi. Besok kita close order, gue mau tidur tiga hari."
Di tengah keruwetan percintaan orang-orang gila di Kota X, Bara semakin mantap dengan keputusannya: Singles for life. Setidaknya sampai dia bisa beli oven deck otomatis seharga lima puluh juta tanpa harus diancam preman.