Cerita tentang Najma, gadis 24 tahun yang sedang mengusahakan hidupnya untuk jadi semenarik mungkin. Tapi, bayang-bayang masa lalu dari cowok di masa kuliahnya, serta persahabatan yang kandas karena cinta segitiga buat Najma harus menghindar dari segalanya. Tanpa Najma sadari, ada cowo aneh yang ngejar Najma dan buat hidupnya jadi tarik-menarik beneran
Najma dan Dunianya
Hai! Namaku Najma. 24 tahun dan masih single alias jomblo bahagia. Sebenarnya tidak juga sih, tetapi aku sangat menikmatinya. Aku begitu merasa kesendirian ini adalah keistimewaan hidup yang aku miliki dan aku harus memanfaatkannya semaksimal mungkin.
Aku adalah karyawan tetap di perusahaan swasta yang bergerak di bidang kreatif. Setiap brief yang kuterima dari klien perusahaanku harus kugodok dan kujadikan rangkaian kegiatan fantasi di kehidupan nyata. Klien puas dengan ide dan implementasi yang sempurna, bosku akan bahagia. Sederhana, bukan?
Tapi, tahukah kamu? Nyatanya tidak semudah itu. Aku harus begadang lembur dan berkali-kali merubah kerangka ideku agar sesuai dan terarah lurus seperti keinginan klien dan timku yang lain. Bagaimana membuat proyek dengan bujet murah namun hasil luar biasa. Apakah kamu bisa membuatnya? Bisa? Bisa?
Bosku pernah mengatakan, “Nggak ada yang nggak bisa jika kamu mengusahakannya. Katakan bisa dan jadilah Ia. Bisa! Coba, Najma, bilang bisa! Bilang yang keras!”
Meskipun banyak air mata dalam melakukan pekerjaanku, namun perlahan aku begitu menyukainya. Impianku untuk selalu membuat ideku dipakai oleh merek-merek terkenal karena diliput media massa selalu membuatku puas dan merasa berharga. Aku merasa begitu sempurna sebagai seorang Najma.
Tapi itu hanya sementara.
Bahkan aku tak bisa ikut berkumpul dengan Magi dan Iman jika mereka mengadakan kopi darat di sore hari sepulang mereka kerja (mereka saja yang pulang, aku tidak termasuk) karena ide kerangkaku belum selesai dan harus kujelaskan dalam perkumpulan malam bersama semua divisi.
Jadi, sebenarnya aku suka pekerjaanku atau tidak, sih?!
Aku menggaruk-garuk rambutku yang sudah kukuncir rapi sambil terus setengah berlari. Mengapa? Karena aku terlambat pitching!
Aku tidak peduli lagi jika wajahku yang sudah kurias sedari pagi harus lumer karena keringat yang bercucuran berkat cuaca ibukota yang sungguh panas tidak terkira. Dan mengapa gedung yang harus aku datangi begitu jauh jarak dari pagar hingga lobi utamanya?
“Selamat pagi! Maaf saya terlambat.”
“15 menit, Mbak. Kami sudah menunggu.”
Gawat, muka masam mereka sudah terbentuk untuk menyambutku.
Aku langsung menyiapkan laptop dan konektor untuk presentasi tentang proposalku. Kali ini aku harus menyiapkan semuanya sendiri karena timku yang datang untuk mendampingi hanyalah anak baru yang baru dua hari bekerja sebagai Business Executive, yaitu seseorang yang bertugas sebagai handling client service dan seisinya.
Najma, you can do this!
Najma, you can always do this!!!!
“Baiklah. Thanks for having me today … and my team. I apologise for coming late. Langsung saya mulai ya, presentasinya.”
“Silakan.” Klien dengan tatapan paling tajam mempersilakanku dengan nada yang sangat datar hingga membuat aku yakin tidak akan merasa lapar hingga esok hari.
**
“Halo, di sini Najma.”
“Elo telat, ya?”
Bosku yang memiliki slogan hidup “bisa untuk semua” bersiap menghardikku secara langsung via telepon. Luar biasa bagaimana sebuah info bisa sampai tidak kurang dari 5 menit dari durasi sejak aku keluar dari gedung ini. Aku pun hanya menoleh lemas pada anak baru yang kini duduk di sampingku.
“Iya, Pak. Maaf. Tadi saya kurang enak badan jadinya bulak-balik kamar mandi. “
“Terus gimana presentasinya?”
“So far so good, Pak.”
“Gue nggak mau good, gue maunya great.”
Aku hanya menoleh pada anak baru yang memperhatikanku sedari tadi.
“Iya, Pak. Siap.”
KLIK. Kumatikan panggilannya lebih dulu dan kukantongi ponselku ke dalam tas gendong warna biru toska yang sudah 3 tahun kumiliki.
“Pulang, Yuk! Eh nama lo siapa gue lupa, sorry.”
“Ica. Icana.”
“Oh. Umur berapa?”
“Dua satu!” ujarnya penuh semangat. Aku hanya tersenyum dan berangsur pergi bersamanya mencari taksi untuk menuju kantor kami.
Umur dua satu aku sedang apa, ya?
Sepertinya itu adalah masa-masa paling favoritku di dunia. Enam bulan bersenang-senang dengan para kawan kampus tanpa libur, sedangkan sisa enam bulannya harus kerja keras bagai kuda mengerjakan skripsi. Okelah. Tidak begitu favorit juga.
**
Najma, apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidup, sih?
Melihat dua papan hitam dari karton tipis yang kutempelkan penuh guntingan majalah dan foto-foto yang kucetak dari Pinterest, membuatku masih tak menemukan jawaban mengapa aku menjadi pendiam seperti ini. Mengapa aku kini sungguh tidak asyik dan antusias. Apakah ini pertanda bahwa aku sudah dewasa?
Sepertinya bukan karena itu.
Telepon berbunyi, lalu kutengok siapa foto yang muncul memenuhi layar ponselku. Oh, Magi. Sahabatku dari SMP. Si perempuan kecil yang semangatnya bisa membakar seantero bumi untuk menjadi dosen impian seluruh mahasiswa di kampus tempatnya mengajar.
“Ada apa ya, Bu Dosen?”
“Hei Nanas my love! What’s up, Babe? AHAHA.”
Aku bangunkan kepalaku dari meja kerja dan menaruh ponselku di telinga berikutnya, “Kenapa WOY?”
“Malem ngopi, yuk. Ajak Iman, cepetan.”
“Lo aja yang telepon ah.”
“Ih, lo aja. Gue abis ini mau ngajar. Cepaaaaat.”
KLIK. Telepon ditutup dari seberang.
Aku pun menurut untuk menelepon Iman, seorang pria berpenampilan super sederhana namun pikirannya rumit bagai benang kusut. Pasti banyak yang tak mengerti kenapa perempuan berjiwa bebas sepertiku dan Magi sang perempuan feminin yang rajin belajar bisa berteman dengannya.
Sebenarnya alasan kami cukup sederhana sih. Iman adalah tetangga Magi dan mereka sudah berteman dari kecil karena selalu satu jemputan. Lalu ada aku yang dekat dengan Magi karena satu kelas di SMP, lalu bertemu Iman via Magi dan kami selalu pulang sekolah bersama.
“Imannya ada?” ujarku ketika panggilan diterima.
“Ada. Selamat siang.”
“Siang juga.” Jawabku terkekeh.
“Ngopi?”
“Kok tahu?”
“Gue kan punya kekuatan telepati.”
“Iman ditanyain sama Magi. Mau ikut apa, nggak?”
“Lo kok nanya gitu? Lo nggak mau gue ikut, ya?”
“Loh, bukan. Gue cuma nanya kok.”
“Sepertinya kalau urusan ngumpul pakai kopi Magi nggak pernah nanya gue mau ikut atau nggak, deh. Kalau pertanyaan lo seperti itu bisa jadi ada indikasi kalau lo nggak mau gue ikut. Iya, kan?”
“Terserah. Ikut, nggak?” tanyaku galak.
“Ikut.”
“Yaudah. Tempat biasa.”
Begitulah Iman. Sahabat jenis kelamin lelaki yang mulutnya kadang kayak perempuan.
**