(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup di Malam Hari
Di Tempat Lain di Jinling - Markas Rahasia Su Qingxue.
Di dalam sebuah ruangan bawah tanah yang mewah, Su Qingxue sedang duduk di depan sebuah peta besar Kota Jinling dan struktur Sekte Iblis Langit.
Di depannya, berlutut seorang bayangan.
"Lapor, Nona Suci," bayangan itu berbicara. "Tuan Muda Xue Mochen telah 'sembuh total'. Tabib tua yang Anda rekomendasikan, telah berhasil mendapatkan kepercayaannya dan kini berada di kediamannya."
Su Qingxue tersenyum, menyesap tehnya dengan elegan.
"Bagus. Orang tua serakah itu ternyata benar-benar punya kemampuan," gumam Su Qingxue puas. "Xue Mochen si bodoh itu mengira dia sudah kembali ke puncak, padahal dia hanya sedang menghitung mundur kematiannya sendiri."
"Apakah kita perlu mengawasi Tabib itu, Nona? Dia menuntut akses ke perpustakaan dan gudang herbal mereka."
"Biarkan saja dia bermain-main dengan daun kering dan buku tua," Su Qingxue mengibaskan tangannya meremehkan. "Dia hanyalah pion tua yang terlalu mencintai nyawanya. Begitu Turnamen Perebutan Takhta selesai dan Xue Mochen meledak di arena, kita akan 'membersihkan' tabib itu. Tidak boleh ada saksi yang hidup untuk mengaitkanku dengan kematian Xue Mochen."
"Sesuai perintah Anda, Nona."
Su Qingxue menatap peta di depannya dengan mata merah yang berkilat penuh ambisi. Dia merasa memegang kendali penuh atas papan catur ini.
Dia sama sekali tidak sadar bahwa bidak yang dia pikir sedang dia mainkan, sebenarnya adalah Sang Dalang yang sedang menyiapkan tali gantungan untuknya.
Malam Hari - Atap Kediaman Bintang Darah.
Han Luo (dalam wujud pemuda biasa dengan rambut hitam) berjongkok di atas genteng, menyatu dengan bayangan. Dia telah melepas penyamaran Tabib Qiu untuk sementara waktu.
Dia sedang menguji mainan barunya: Raja Ulat Sutra Penenun Hampa yang baru saja memakan informasi dari perpustakaan semalam.
"Ulat, tunjukkan padaku jalur keamanan istana sekte utama," bisik Han Luo.
Ulat transparan di bahunya memancarkan gelombang telepati. Di dalam pikiran Han Luo, sebuah peta tiga dimensi terbentuk, lengkap dengan titik-titik merah yang menandakan formasi pertahanan dan penjaga.
"Penjagaannya ketat. Turnamen itu akan dihadiri oleh Ketua Sekte (Jiwa Baru Lahir Puncak) dan beberapa Leluhur. Aku tidak bisa bergerak sembarangan."
Tiba-tiba, telinga Han Luo menangkap suara gesekan kain di atap sebelahnya.
Seseorang sedang mengendap-ngendap.
Han Luo mengaktifkan Pernapasan Kayu Mati, membuat dirinya benar-benar hilang dari deteksi. Dia merayap mendekat.
Seorang sosok berpakaian serba hitam sedang mengutak-atik genteng di atas kamar Xue Mochen.
Pembunuh? Dari kubu mana? pikir Han Luo.
Sosok itu membuka satu genteng dan memasukkan sebuah tabung bambu kecil ke dalamnya, berniat meniupkan racun.
Han Luo tidak membiarkan itu terjadi. Jika Xue Mochen mati sekarang (oleh racun), rencana ledakan epik di turnamen akan gagal. Xue Mochen harus mati di panggung, di depan semua orang, akibat kekuatannya sendiri, agar Su Qingxue yang disalahkan.
Han Luo menjentikkan jarinya.
Sebuah batu kerikil melesat dengan kecepatan peluru, menghantam tangan pembunuh itu.
"Argh!" Pembunuh itu menjatuhkan tabung bambunya. Tabung itu jatuh ke halaman bawah dan pecah, mengeluarkan asap ungu.
"PENYUSUP!" teriak penjaga di bawah.
Pembunuh itu panik. Dia menoleh ke arah Han Luo, tapi Han Luo sudah pindah posisi. Pembunuh itu tidak punya pilihan selain melarikan diri, melompat dari atap ke atap dengan penjaga Kediaman mengejarnya.
Han Luo menonton pengejaran itu dengan senyum tipis.
"Jangan coba-coba mencuri panggungku."
Pertarungan sebenarnya belum dimulai, namun bidak-bidak catur telah bergerak ke posisi masing-masing.
Dua hari lagi, di Turnamen Perebutan Takhta Sekte Iblis Langit, sebuah ledakan besar akan terjadi. Dan Han Luo, sang dalang, akan duduk di kursi penonton VIP, menikmati pertunjukannya.
tpi gw demen....