Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Senin pagi tiba dengan cahaya matahari yang cerah, seolah ikut menyambut berakhirnya masa liburan "darurat" yang penuh dengan drama, tawa, dan tangis.
Suasana di dalam mansion Wijaya yang biasanya tenang kini kembali sibuk dengan rutinitas profesional.
Tidak ada lagi daster batik atau kaos oblong putih yang berserakan; kini yang ada adalah wibawa dan keanggunan.
Rengganis berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja blusnya yang dipadukan dengan celana kain formal.
Ia menyampirkan jas putih dokternya di lengan, menatap pantulan dirinya yang nampak jauh lebih segar dan bercahaya.
Trauma beberapa hari lalu seolah telah terkikis habis oleh kasih sayang Permadi.
Di pintu kamar, Permadi berdiri gagah mengenakan setelan jas navy tailor-made yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna.
Jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, dan rambutnya tertata rapi dengan pomade.
Aura CEO yang dingin dan tegas telah kembali, namun tatapan matanya tetap melembut saat mendarat pada istrinya.
"Sayang, ayo kita berangkat," ajak Permadi sambil mengancingkan jasnya.
Rengganis menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Ayo, Mas. Aku juga sudah rindu dengan pasien-pasienku." Ia menyambar tas kerjanya dan melangkah menghampiri suaminya.
Mereka turun menuju garasi. Kali ini, Permadi tidak memilih sedan mewah yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Ia justru mengeluarkan salah satu koleksi mobil sport dua pintu miliknya.
Deru mesinnya yang gahar memecah kesunyian pagi, seolah mengumumkan bahwa Sang Raja dan Ratunya telah kembali ke lapangan.
Permadi melajukan mobil sport itu membelah jalanan Jakarta yang mulai padat.
Ia sengaja mengambil rute menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk mengantarkan istrinya sebelum ia sendiri pergi ke kantor pusat Wijaya Group.
Di dalam mobil, tangan kiri Permadi tidak pernah lepas menggenggam tangan kanan Rengganis.
"Ingat, kalau ada yang berani menatapmu dengan aneh atau membahas berita sampah itu lagi, langsung hubungi aku. Aku akan pastikan orang itu kehilangan pekerjaannya sebelum jam makan siang," ucap Permadi dengan nada protektif yang tidak bisa dibantah.
Rengganis terkekeh, ia mengusap punggung tangan suaminya.
"Mas, tenang saja. Aku ini dokter, aku punya cara sendiri untuk menangani 'pasien' yang tidak sopan. Kamu fokus saja pada rapat-rapatmu, oke?"
Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan lobi utama rumah sakit.
Kehadiran mobil sport mewah itu langsung menjadi pusat perhatian para perawat, dokter muda, dan pengunjung yang ada di sana.
Permadi turun terlebih dahulu, memutari mobil, dan membukakan pintu untuk istrinya dimana sebuah perlakuan bak ratu yang disaksikan oleh banyak pasang mata.
"Kerja yang baik, Dokter Rengganis," ucap Permadi sambil mengecup dahi istrinya dengan berani di hadapan publik.
"Nanti sore aku jemput. Jangan pulang sendirian."
Rengganis tersenyum manis, mengabaikan bisik-bisik kagum dari orang-orang di sekitar mereka.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya, Rahul."
Permadi mengedipkan mata mendengar panggilan rahasia itu, lalu kembali masuk ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin dan kesan mendalam bagi siapa saja yang melihatnya.
Rengganis menarik napas dalam, membetulkan posisi jas dokternya, dan melangkah masuk ke rumah sakit dengan kepala tegak.
Langkah kaki Rengganis bergema di koridor rumah sakit yang bersih dan beraroma disinfektan.
Begitu ia melangkah masuk ke area ruang poli, suasana yang biasanya tegang dan sibuk mendadak berubah.
"Selamat datang kembali, Dokter Rengganis!"
Suara koor dari para perawat dan dokter muda menyambutnya.
Dina, perawat setianya, berlari kecil membawakan buket bunga kecil yang nampaknya hasil iuran staf bagian obgyn.
Dokter Sinta pun muncul dari ruangannya, langsung memeluk Rengganis dengan erat.
"Lihat siapa yang kembali! Wajahmu segar sekali, Ganis. Sepertinya liburan 'India' kemarin benar-benar manjur ya?" goda Sinta sambil berbisik, membuat Rengganis tertawa sekaligus sedikit tersipu.
Tidak ada tatapan menghakimi. Yang ada hanyalah rasa rindu dan dukungan tulus.
Rengganis merasa beban di pundaknya benar-benar terangkat.
Ia kembali ke tempat di mana ia dibutuhkan, siap untuk menolong nyawa dan mengabaikan drama sampah yang sempat mampir di hidupnya.
Di sisi lain kota, suasana di kantor pusat Wijaya Group jauh lebih formal dan kaku.
Permadi duduk di kursi kebesarannya di ruang rapat utama, dikelilingi oleh jajaran direksi yang sedang memaparkan laporan kuartal.
Wajahnya yang tadi lembut saat bersama Rengganis, kini berubah menjadi sedingin es dan setajam silet.
Selesai rapat sesi pertama, Permadi melangkah kembali ke ruang kerjanya diikuti oleh Hardi, sekretaris setianya yang sangat cekatan.
"Pak Permadi, ada perubahan jadwal yang mendesak," lapor Hardi sambil membuka tabletnya.
Permadi menghentikan langkahnya tepat di depan jendela besar yang menghadap gedung pencakar langit Jakarta.
"Apa itu?"
"Dewan Komisaris meminta Bapak untuk hadir secara langsung dalam rapat konsorsium pembangunan rumah sakit baru dan hotel di Yogyakarta. Rapat ini sangat krusial karena melibatkan investor dari Singapura. Jadwalnya besok pagi, Pak," jelas Hardi.
Permadi mengernyit. Yogyakarta? Itu berarti ia harus berangkat sore ini atau besok pagi-pagi buta. Itu berarti ia harus meninggalkan Rengganis di saat hubungan mereka sedang sangat hangat-hangatnya.
"Berapa lama?" tanya Permadi singkat.
"Paling cepat dua hari, Pak. Mengingat ada peninjauan lokasi di area Sleman juga."
Permadi terdiam sejenak. Ia baru saja berjanji tidak akan membiarkan Rengganis sendirian, namun tanggung jawab bisnis sebesar ini tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Terutama karena proyek rumah sakit di Yogyakarta itu juga merupakan salah satu ambisinya untuk Rengganis di masa depan.
"Siapkan jet pribadi untuk keberangkatan sore nanti setelah saya menjemput istri saya," perintah Permadi. "Dan Hardi, pastikan keamanan di rumah sakit dan di mansion diperketat selama saya tidak ada di Jakarta. Saya tidak mau ada 'hama' seperti Laras yang berani mendekat."
"Baik, Pak. Semua sudah dalam pengawasan," jawab Hardi patuh.
Permadi menatap ponselnya, ragu sejenak. Bagaimana ia harus bilang pada "Anjali"-nya bahwa "Rahul" harus pergi ke luar kota tepat di hari pertama mereka kembali bekerja?
Di sebuah apartemen pinggiran kota yang suram, Laras menatap layar ponselnya dengan mata merah karena kurang tidur.
Sebuah pesan singkat masuk dari orang bayarannya yang masih tersisa di lingkaran luar Wijaya Group.
“Bos besar berangkat ke Yogyakarta sore ini. Jet pribadi disiapkan pukul 17.00.”
Seringai licik muncul di wajah Laras yang kini nampak tirus.
"Yogyakarta, ya? Kota yang romantis untuk sebuah kecelakaan, atau mungkin untuk pertemuan yang tidak disengaja," gumamnya sinis.
Ia merasa memiliki peluang. Di luar Jakarta, penjagaan Permadi mungkin tidak akan seketat di markas besarnya.
Laras mulai menyusun rencana gila, mengabaikan fakta bahwa polisi sedang melacak keberadaannya.
Sementara itu, di dalam mobil sport menuju rumah sakit untuk menjemput Rengganis,
Permadi tidak memegang kemudi dengan santai.
Ia sedang menatap dua kotak beludru kecil di pangkuannya.
Ia baru saja mengambil sepasang cincin pernikahan mereka yang baru saja "dimodifikasi" secara rahasia oleh ahli teknologi kepercayaannya.
Dari luar, cincin itu tetap nampak seperti emas putih bertahtakan berlian yang mewah, namun di dalamnya tertanam micro-chip GPS generasi terbaru dengan baterai kinetik yang mengisi daya dari denyut nadi pemakainya.
Begitu sampai di lobi rumah sakit, Rengganis muncul dengan wajah lelah namun bahagia.
Permadi langsung menyambutnya, namun sebelum Rengganis sempat menyapa, Permadi menarik tangan istrinya.
"Ganis, pakai ini," ucap Permadi sambil mengeluarkan cincin baru itu.
"Loh, Mas? Kan aku sudah pakai cincin nikah kita?" tanya Rengganis bingung, menatap cincin di jari manisnya.
"Ganti dengan yang ini, Sayang. Yang lama perlu dibersihkan," bohong Permadi demi menenangkan istrinya.
Ia memakaikan cincin itu dengan lembut. "Cincin ini terhubung langsung ke satelit keamananku. Di mana pun kamu berada, bahkan jika ponselmu mati, aku akan selalu bisa menemukanmu."
Rengganis tertegun. Ia menyadari ini bukan sekadar perhiasan, melainkan bentuk proteksi yang luar biasa atau mungkin sedikit posesif. Namun, setelah kejadian Laras, ia tidak merasa keberatan.
"Kamu sekhawatir itu meninggalkan aku ke Yogyakarta?" tanya Rengganis.
Permadi menghela napas, mengecup punggung tangan Rengganis yang kini sudah terpasang GPS rahasia itu.
"Aku harus pergi sore ini, Ganis. Hanya dua hari. Tapi rasanya seperti harus pergi ke bulan tanpa oksigen."
Rengganis tersenyum, mengelus rahang suaminya yang tegas.
"Aku akan baik-baik saja, Rahul. Cincin ini akan menjagaku, kan? Kamu fokuslah pada bisnismu di sana. Aku akan menunggumu pulang."
Permadi menarik Rengganis ke dalam pelukannya di samping mobil, mengabaikan tatapan iri para suster yang lewat.
"Aku juga memakai yang sama. Jika sesuatu terjadi padaku, kamu adalah orang pertama yang akan tahu koordinatku. Jaga dirimu baik-baik, Nyonya Wijaya."
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh