NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Suasana kamar VVIP terasa begitu mencekam saat Rengganis perlahan membuka matanya.

Oksigen masih mengalir melalui selang kecil di hidungnya, namun tatapannya kosong, menatap langit-langit dengan sisa air mata yang mengering di sudut mata.

Begitu melihat Permadi yang duduk bersimpuh di samping ranjang dengan tangan terbalut perban, tangis Rengganis pecah kembali.

"Aku bukan pelakor, Mas..." bisiknya dengan suara bergetar hebat.

Trauma psikis itu membuatnya terus mengulang kalimat yang sama.

"Mas sendiri tahu kan, kalau orang tua kita yang menjodohkan kita? Mas juga tahu kalau waktu itu kita melakukan taruhan."

Rengganis memalingkan wajah, merasa hancur karena masa lalu mereka yang diawali dengan ego dan taruhan kini diputarbalikkan oleh Laras menjadi cerita perselingkuhan yang menjijikkan.

Permadi langsung naik ke atas ranjang, menarik tubuh rapuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat.

Ia tidak peduli jika luka di tangannya terasa perih; rasa sakit di hatinya jauh lebih besar.

"Aku tahu, Sayang. Aku tahu segalanya. Dunia mungkin tidak tahu kalau aku yang mengejarmu, kalau aku yang memenangkanmu dari taruhan bodoh itu karena aku sangat menginginkanmu," ucap Permadi.

Permadi mengusap rambut Rengganis dengan penuh kasih, mencoba menghentikan getaran di tubuh istrinya.

"Cukup tangisannya, Ganis. Aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injak kehormatanmu lebih lama lagi."

Permadi menjauhkan sedikit wajahnya untuk menatap mata Rengganis.

"Malam ini kita pulang, Sayang. Kita kembali ke Jakarta dengan jet pribadi. Kita adakan konferensi pers yang jauh lebih besar dari apa yang dilakukan wanita gila itu. Aku akan menunjukkan pada dunia siapa yang sebenarnya memohon-mohon untuk menikah, dan siapa yang sebenarnya hanya sampah masa lalu."

Rengganis menatap suaminya, mencari kepastian di mata tajam Permadi.

Melihat keyakinan dan kemarahan pelindung di sana, perlahan ketakutannya mulai surut.

Ia tahu Permadi tidak akan membiarkannya hancur sendirian.

Dengan gerakan lemah namun pasti, Rengganis menganggukkan kepalanya.

"Iya, Mas. Kita pulang."

"Bagus," desis Permadi.

"Biar mereka tahu, menyentuh Rengganis Wijaya berarti mengundang kehancuran dari seluruh kekuasaan keluarga Wijaya."

Di depan lobi rumah sakit, Affan berdiri mematung di balik pilar.

Matanya menatap nanar saat melihat Permadi membopong tubuh Rengganis yang masih sangat lemah masuk ke dalam mobil mewah yang akan membawa mereka ke bandara.

Affan mengepalkan tangannya. Sebagai pria yang pernah ada di masa lalu Rengganis, ia merasa tidak berdaya.

Ia melihat berita itu di ponselnya, dan ia tahu karir kedokteran Rengganis sedang dipertaruhkan. Namun, melihat betapa posesif dan protektifnya Permadi saat membungkus tubuh istrinya dengan jas mahal, Affan sadar bahwa tempatnya memang bukan di sana.

Beberapa saat kemudian, jet pribadi keluarga Wijaya sudah membelah awan menuju Jakarta.

Suasana di dalam kabin mewah itu sangat kontras dengan kemegahannya. Hening dan mencekam.

Permadi duduk di sofa kulit yang luas, memangku laptopnya.

Di depannya berserakan dokumen-dokumen penting: akta perjodohan yang ditandatangani kedua orang tua mereka, hingga rekaman CCTV rahasia di rumah makan saat pertemuan pertama keluarga.

Rekaman itu menunjukkan dengan jelas bagaimana Rengganis awalnya menolak, dan bagaimana kedua orang tua mereka yang mengatur segalanya dimana membuktikan bahwa tidak ada istilah "merampas" di sini.

Permadi juga membuka sebuah file berisi bukti-bukti transfer dan pesan singkat dari Laras yang selama ini ia simpan; bukti bahwa Laras lah yang selalu mengejarnya bahkan setelah mereka putus.

"Lihat ini, Sayang," bisik Permadi pelan.

Rengganis tidak menjawab. Ia hanya duduk bersandar, menatap kosong ke luar jendela jet yang menampilkan kegelapan malam.

Pikirannya masih melamun, membayangkan bagaimana rekan-rejawat nya di rumah sakit dan pasien-pasiennya memandangnya setelah ini.

Trauma itu begitu dalam hingga ia merasa kotor oleh fitnah Laras.

Permadi menghentikan kegiatannya. Ia menutup laptop itu, lalu meraih tangan Rengganis yang terasa sedingin es.

Ia menggenggamnya erat, mencoba menyalurkan kehangatan dan kekuatan dari tubuhnya.

"Ganis, lihat aku," pinta Permadi lembut.

Rengganis menoleh perlahan dengan mata yang masih kosong.

"Rekaman di rumah makan saat orang tuamu membawamu bertemu denganku siang itu, itu adalah bukti paling kuat. Semua orang akan tahu bahwa kamu adalah pengantin yang sah, yang dipilih oleh keluargaku, bukan wanita yang merebut suami orang. Aku akan membuat mereka semua berlutut meminta maaf padamu," ucap Permadi dengan nada penuh penekanan.

"Tapi Mas, jejak digital itu kejam," suara Rengganis nyaris tak terdengar.

Permadi mencium punggung tangan istrinya lama.

"Aku lebih kejam, Ganis. Jika mereka bisa membuat jejak digital, aku bisa menghapus masa depan mereka. Tidurlah sebentar, saat kita mendarat nanti, aku pastikan seluruh Jakarta akan bergetar saat kebenaran ini terungkap."

Tiga jam penerbangan yang penuh ketegangan berakhir saat jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Jakarta.

Tanpa membuang waktu, iring-iringan mobil hitam antipeluru langsung meluncur menuju salah satu hotel berbintang milik keluarga Wijaya, tempat di mana seluruh pusat perhatian nasional tertuju malam itu.

Di lobi hotel yang dijaga ketat, kedua orang tua Permadi dan Rengganis sudah menunggu dengan wajah cemas sekaligus geram.

Begitu pintu mobil terbuka, Mama Rengganis langsung menghambur dan memeluk putrinya yang tampak sangat rapuh.

"Anakku, maafkan Mama. Harusnya kita tidak membiarkan ini terjadi," isak ibunya.

Rengganis hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu, air matanya kembali luruh.

Papa Baskoro dan Papa Rengganis saling berpandangan, memberikan dukungan bisu sebelum badai dimulai.

Permadi membantu Rengganis duduk di kursi roda.

Meski Rengganis sebenarnya bisa berjalan pelan, Permadi tidak ingin istrinya kelelahan atau jatuh karena tekanan mental yang luar biasa.

Ia sendiri yang mendorong kursi roda itu menuju ruang ballroom utama.

Begitu pintu ganda terbuka, ratusan lampu flash kamera menyambar seperti kilat yang membutakan.

Puluhan wartawan yang sudah menunggu berjam-jam langsung merangsek maju, tertahan oleh barikade security.

"Dokter Rengganis! Benarkah Anda menghancurkan hubungan Laras dan Permadi demi kekayaan?"

"Permadi, apa benar Anda meninggalkan Laras karena dipaksa orang tua?"

"Bagaimana perasaan Anda disebut sebagai pelakor, Dokter?"

Cemoohan dan pertanyaan tajam menghujani mereka.

Beberapa wartawan bahkan melontarkan kata-kata kasar yang membuat bahu Rengganis gemetar hebat di kursi rodanya.

Ia menunduk, meremas pegangan kursi roda dengan buku-buku jari yang memutih.

Mendengar cemoohan itu, Permadi menghentikan langkahnya tepat di tengah kerumunan.

Ia tidak tampak panik atau marah. Sebaliknya, Permadi menyunggingkan sebuah senyum sinis yang sangat dingin dimana ia sedang memegang kartu mati untuk semua orang di ruangan itu.

Ia menatap satu per satu wartawan yang paling vokal dengan tatapan predator.

Suasana yang tadinya bising perlahan mulai senyap, terintimidasi oleh aura gelap yang dipancarkan sang pewaris tunggal Wijaya Group.

Permadi mencondongkan tubuhnya ke arah mikrofon yang terpasang di podium depan.

"Sudah selesai bicaranya?" suara Permadi menggema rendah namun penuh otoritas.

"Silakan simpan pertanyaan sampah kalian. Karena setelah saya memutar video ini. Saya ingin melihat siapa di antara kalian yang masih berani mengangkat wajah di depan istri saya."

Permadi memberi isyarat pada asistennya. Layar raksasa di belakang mereka perlahan menyala.

Layar raksasa di belakang Permadi mulai memutar rekaman dengan kualitas suara yang sangat jernih.

Seluruh ruangan mendadak senyap, hanya suara dari video yang menggema.

Video pertama menampilkan suasana sebuah rumah makan privat enam bulan yang lalu.

Di sana terlihat Rengganis yang tampil sangat sederhana, duduk di antara kedua orang tuanya dan orang tua Permadi.

Wajah Rengganis di video itu tampak terkejut, bahkan sempat menolak perjodohan tersebut.

Ia terlihat bingung dan tertekan, sangat jauh dari citra "pelakor" yang haus kekayaan.

Publik bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ini adalah murni kesepakatan dua keluarga besar, bukan hasil rampasan.

Lalu, layar berganti menampilkan rentetan tangkapan layar pesan singkat dan rekaman CCTV di depan kantor Permadi sebulan yang lalu.

Terlihat Laras yang berulangkali mencoba masuk, namun diusir oleh petugas keamanan atas perintah Permadi.

Bahkan ada bukti digital berupa dokumen perceraian Laras dengan seorang pria berkebangsaan Kanada di tahun sebelumnya.

Permadi melangkah maju ke depan podium, menatap tajam ke arah kamera yang sedang menyiarkan secara langsung ke seluruh negeri.

"Kalian dengar baik-baik," suara Permadi dingin dan menusuk.

"Laras memilih pria Kanada itu saat saya bukan siapa-siapa. Dia meninggalkan saya demi ambisinya sendiri. Jadi, bukan salah saya, dan sama sekali bukan salah istri saya, Rengganis, jika saya menolak mentah-mentah saat sampah itu mencoba kembali ke hidup saya setelah saya sukses."

Permadi berhenti sejenak, memegang bahu Rengganis yang duduk di kursi roda untuk menunjukkan dukungannya.

"Istri saya adalah wanita terhormat yang saya kejar dengan susah payah melalui perjodohan ini. Dia adalah dokter yang mengabdikan hidupnya, bukan wanita yang mencari panggung seperti yang dituduhkan."

Permadi tersenyum sinis, menatap lurus ke lensa kamera seolah-olah sedang menatap Laras di ujung sana.

"Laras mengira dia bisa menghancurkan nama baik istri saya dengan air mata buaya? Dia salah besar. Karena di mata saya, sampah tetaplah sampah, ke mana pun ia dibuang atau seberapa cantik pun ia dikemas."

Ruangan itu hening total. Wartawan yang tadi mencemooh kini hanya bisa terdiam dengan wajah pucat, menyadari bahwa mereka baru saja mendukung orang yang salah. Permadi menunduk, menatap Rengganis dengan lembut, lalu kembali menatap massa dengan tajam.

"Konferensi pers selesai. Dan untuk setiap media yang telah menyebarkan fitnah. Pengacara saya sudah menyiapkan surat gugatan untuk kalian semua. Selamat malam."

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!