NovelToon NovelToon
Laluna Si Penerang Kegelapan

Laluna Si Penerang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Cun

sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyusup

Di halaman belakang rumah yang luas itu terdapat lapangan basket yang memang untuk menunjang hobby Fadli dan anaknya, tak disangka ketika Laluna bermain basket dia mahir sekali, dulu memang semua cabang olah raga di ikuti ketika di bangku SMA dan kuliah, ketiga orang itu seperti sebuah keluarga, Laluna yang kini berganti celana training dan kaos panjang tapi tetap memakai hijab instan milik Laila dengan gesit berlari kesana kemari rebutan bola, jika dilihat sekilas sungguh seperti sebuah keluarga bahagia penuh canda dan tawa, dari jauh Bu Rahayu yang seorang janda menikmati segelas teh Rosemary kesukaannya sambil membatin dan berdoa , ya Allah semoga mereka berjodoh, Fadli belum tua tua amat jika harus bersanding dengan Laluna.

Sementara di sisi lain dua orang yang baru kenal kini berbincang ringan di kursi sebelah lapangan, Laila dan Dandy ternyata punya hobby sama sama suka fashion dan game, Laila yang berpenampilan sederhana itu klop banget dengan Dandy jika membicarakan hobby mereka, Laila berjanji akan menunjukkan tas koleksinya dan akan barter dengan Dandy suatu hari nanti.

Fadli memanggul Azka , Laluna merebut bola dari Azka, Azka berusaha melempar bola dan masuk gawang, 1_1.

Balik lagi kini Laluna yang memegang bola dia mainkan dribbling berkali kali kemudian berusaha memasukkan bola tapi Fadli merebutnya, dan Luna kembali berusaha kembali merebut dari pria kharismatik itu dan berhasil, Luna berhasil memasukkan sekali lagi ke gawang dan nilainya seri 8_8 selama permainan 48 menit, istirahat 10 menit cukup ambil nafas dan minum air putih memasuki permainan kedua, Azka sudah lelah diambil oleh Mbak nya, kemudian karena masih seru kini Fadli dan Laluna berdua yang main, sampai mereka berdua terkapar kelelahan dengan peluh yang bercucuran.

Keduanya terbaring di lapangan basket dengan nafas yang memburu karena kecapekan setelah main bola, Laluna berbantalkan kedua tangannya yang di letakkan di belakang kepala, demikian juga Fadli, berdua saling memandang bintang tanpa suara, silent!.

Tiba tiba Laluna merasakan sebuah pergerakan, dengan insting nya yang tajam dia bergerak kesamping untuk menghindari sebuah lemparan, entah itu lemparan apa karena belum sempat mengeceknya, Laluna menubruk tubuh kekar Fadli, Fadli terkejut dengan aksi yang di lakukan Luna, sekali lagi lemparan hampir terkena punggung Luna andai dia tidak berguling ke kanan secepatnya, jika Luna tak membawa Fadli berguling sekalian pasti sesuatu itu akan menancap di dada Fadli, Laluna tidak mau karena musuh itu mengancam dirinya Fadli yang terluka, kini Fadli berada tepat diatas tubuh Laluna dengan posisi yang sangat kurang enak dilihat, hati Fadli berdegup kencang tapi tidak dengan Laluna, fikiran Laluna fokus ke musuh tidak terpecah ke suatu hal yang lain.

Laluna mengambil sesuatu yang ternyata sebilah pisau lempar yang sangat tajam dan lancip, lalu di lemparkan ke suatu tempat dan dari balik rerimbunan pohon jambu air yang sedang berbuah lebat, sosok itu melolong menjerit kesakitan dengan memegangi matanya berlari ke seseorang yang tengah menunggunya diatas motor trail, Laluna segera bangkit, Fadli melongo, dia sungguh tak menyangka sesuatu akan terjadi.

"Bagaimana kamu tahu kita diserang?" tanya Fadli.

"Insting seorang petarung harus tajam". Jawab singkat Laluna.

Kemudian Luna mencari keberadaan pisau yang satunya sedang tadi yang satu sudah di lempar balik pada pelemparnya, sementara itu Fadli menghubungi Hasan untuk mengecek seluruh cctv di kawasan rumahnya dan segera melaporkan jika ada sesuatu yang mencurigakan.

Keduanya tidak beranjak masih menata degup jantung masing-masing, setelah sekian menit Fadli mengulurkan tangan untuk membantu Laluna berdiri, Laluna menerima uluran tangan itu sementara hatinya kini malah rock and roll sendirian, setelah berdiri Laluna melepaskan tangannya dari genggaman Fadli ,keduanya berpandangan dengan canggung.

"Kita makan malam dulu ibu sudah menunggumu". Ajak Fadli yang ternyata semua orang sudah duduk manis di meja makan termasuk Dandy dan Laila yang kelihatannya begitu kompak.

"Ada sesuatu yang terjadi nak?" tanya ibu Rahayu pada putranya.

Fadli dan Luna berpandangan sejenak, Luna menggeleng tak usah di ceritakan daripada membuat semua orang was was.

"Nggak ada ibu, kami hanya main basket". Jawab Fadli.

"Tapi sepertinya ada jeritan tadi, ibu mendengar samar samar". Tambah ibu Rahayu.

"Ah masa, nggak ada kok kami nggak dengar, salah dengar kali ibu?, oh iya Azka mana?" tanya Fadli mengalihkan perhatian.

"Sudah tidur sama Mbak nya setelah tadi di cubit oleh Laila ". Jawab ibu sambil menggelengkan kepala, sementara Luna terbengong mendengarkannya.

"Tetep aja sudah besar nggak mau ngalah sama bocil kamu Laila". Fadli memandang adiknya sambil ngomel, sungguh Laila ini musuh bebuyutan si Azka, gadis dua satu tahun itu tak pernah mau mengalah sama anak umur empat tahun, dan itu terjadi tiap hari karena hal hal sepele misalnya rebutan permen kaki, padahal jangankan beli sekarung, beli pabriknya permen itu saja pasti hanya hal kecil bagi keluarga konglomerat itu.

Setelah makan malam usai Laluna dan Dandy pamit pulang, Fadli masih was-was dengan kejadian tadi, dia menawarkan Luna untuk menginap, ibu dan Laila mengerutkan keningnya, tak biasanya seorang Fadli yang cuek dengan wanita menginginkan Luna menginap, padahal keduanya tak tahu alasan Fadli yang sebenarnya, fikiran ibu dan adiknya itu sama sama mengarah ke suatu tanda kutip.

"Semua tidak seperti yang kalian pikirkan, pasti aku punya alasan tertentu untuk membuat nya menginap". Jelas Fadli pada dua wanita yang curiga itu.

"Ah nggak usah bang, aku insyaallah bisa melindungi diri". Jawaban Laluna dan akhirnya Laluna dan Dandy pun pamit setelah tidak lupa tadi Laluna nitip salam ke Azka dan minta maaf padanya bahwa dia tak sempat pamit pada bocil itu karena keburu tidur.

Setelah dalam mobil, Dandy menanyakan apa yang terjadi, Laluna menjawab dengan jujur bahwa tadi mereka di serang, dan jeritan yang ditanyakan ibu Rahayu itu berasal dari laki laki yang menyerangnya tapi senjatanya di kembalikan oleh Laluna kepada si penyerang.

"Memang nya lu nggak dengar jeritan sekeras itu?" tanya Luna, mungkin saja si Dandy ini budeg.

"gue main game tadi di ruang belakang sama Laila, jadi nggak dengar". Jawab Dandy.

"cie cie yang langsung akrab, kayaknya ada yang lagi terpesona ini?" ledek Luna.

Dandy senyam senyum macam orang kurang se ons, dia memang merasa cocok bersahabat dengan gadis itu, benar benar wanita idamannya, seperti Nurmala,mamanya yang berhijab panjang tidak seperti Laluna yang hijabnya hanya se uprit di lilitkan di kepalanya.

"Kalau mau kenal seorang gadis harus berubah Dandy, gue tahu lu normal tapi cara dandan lu yang berlebihan membuat orang alah menilai, berdandanlah selayaknya saja, misalnya nggak usah make makeup, boleh pake skincare tapi skip blush on dan lipstik serta maskara nya, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan, dua jenis saja tak ada jenis ketiga dan keempat, jenis lain itu hanya bikinan dan karangan manusia saja". Nasehat Laluna serius sambil menatap jalanan sepi, dan Dandy mengangguk faham karena hakekatnya memang harus begitu, laki ya laki wanita ya wanita, ketika Dandy mengangguk tiba tiba Dandy terkejut karena mobilnya di gadang oleh beberapa preman yang langsung berhenti di depan mobilnya dengan mengendarai motor.

@@&@@

Nb ; maaf kemarin nggak off sehari karena listrik mati wifi ikutan modiar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!