NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Langkah kaki Freya yang terbungkus sepatu hak rendah pemberian Kaisar terdengar berirama di atas lantai marmer koridor istana. Alih-alih menuju kamarnya untuk melepas penat setelah seharian menjadi pusat perhatian di kampus, tujuannya hanya satu: paviliun pribadi Permaisuri Ratna.

Tanpa perlu pengumuman formal—karena para pelayan sudah tahu betapa "spesialnya" gadis ini bagi sang Ibu Negara—Freya mendorong pintu kayu berukir itu. Di sana, Ibu Kaisar sedang duduk santai di kursi malasnya sembari membaca beberapa dokumen yayasan sosial.

"Ibuuuu!" seru Freya, suaranya yang ceria seketika menghidupkan suasana ruangan yang tenang itu.

Permaisuri Ratna menatapnya, meletakkan kacamatanya, dan tersenyum lebar. "Eh, bidadari Ibu sudah pulang? Sini, sayang. Bagaimana kampus hari ini?"

Freya langsung duduk di sofa beludru di samping Permaisuri, melepas sepatunya tanpa ragu—sebuah tindakan yang jika dilakukan di depan protokol istana akan dianggap skandal, tapi di sini, ia merasa seperti di rumah sendiri.

"Aduh Bu, hari ini bener-bener... chaos!" Freya mulai bercerita dengan tangan yang bergerak lincah ke sana kemari. "Ibu tahu nggak? Tadi pagi pas aku turun dari mobil pake dress ini, Kholid sampe melongo kayak ikan koki kekurangan oksigen! Terus Jihan... aduh, Jihan malah bilang aku dapet cahaya illahi. Aku berasa kayak barang pajangan museum yang tiba-tiba dipoles, Bu."

Permaisuri tertawa kecil, tangannya mengusap rambut Freya yang halus. "Itu karena kamu memang cantik, Freya. Ibu senang Kaisar akhirnya punya selera yang bagus untuk membelikanmu baju."

"Tapi capek banget, Bu," keluh Freya lagi, nada suaranya mulai merendah. "Capek akting jadi 'kalem', capek dipandangin orang dari ujung rambut sampe kaki, capek juga ngadepin Ethan yang ledekannya nggak abis-abis. Belum lagi Kai... dia makin hari makin pinter ngomong yang aneh-aneh. Masa dia bilang dia bangga punya aku? Geli banget tahu nggak sih, Bu!"

Meskipun mulutnya mengomel, sudut bibir Freya tidak bisa menyembunyikan senyum tipis. Permaisuri Ratna hanya mendengarkan dengan sabar, menjadi pendengar setia bagi segala keluh kesah gadis yang kini sudah ia anggap seperti putri kandungnya sendiri.

Keheningan perlahan menyelimuti ruangan seiring dengan matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, membiarkan cahaya jingga masuk melalui jendela-jendela besar. Freya yang tadinya menggebu-gebu, kini mulai merasakan kantuk yang luar biasa. Ketegangan selama 20 hari terakhir, skandal foto, pertunangan mendadak, hingga transformasi penampilannya hari ini, benar-benar menguras energinya.

Tanpa sadar, Freya menggeser duduknya, lalu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Permaisuri Ratna.

"Capek banget, Bu..." bisiknya pelan. Matanya mulai terpejam.

Permaisuri sedikit terkejut, namun hatinya seketika menghangat. Di istana yang penuh dengan aturan kaku ini, jarang sekali ada orang yang berani menunjukkan kerentanan dan keintiman fisik seperti ini padanya. Bahkan putra-putranya sendiri, sejak kecil sudah dididik untuk menjaga jarak dan martabat. Namun Freya berbeda. Gadis ini membawa kehangatan manusiawi yang selama ini hilang dari dinding istana yang dingin.

"Tidurlah, Freya. Ibu di sini," bisik Permaisuri lembut.

Permaisuri Ratna menepuk-nepuk lengan Freya dengan gerakan ritmis, persis seperti seorang ibu yang sedang menidurkan bayinya. Napas Freya perlahan mulai teratur. Dada gadis itu naik-turun dengan tenang, menandakan ia telah jatuh ke dalam tidur yang lelap karena merasa aman.

Beberapa menit berlalu, pintu ruangan sedikit terbuka. Kaisar berdiri di sana. Ia baru saja selesai mengganti pakaiannya dan berniat mencari Freya yang katanya langsung menuju ruangan ibunya.

Langkah Kaisar terhenti tepat di ambang pintu saat melihat pemandangan di depannya. Ibunya duduk tenang sembari membelai rambut Freya yang tertidur lelap di bahunya. Pemandangan itu begitu kontras; sang Permaisuri yang anggun dan sang pelukis rebel yang kini tampak sangat damai dalam tidurnya.

Kaisar ingin masuk, namun ia mengurungkan niatnya. Ia hanya berdiri mematung, menatap Freya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasih sayang, rasa protektif, dan kedamaian.

Permaisuri Ratna menyadari kehadiran putranya. Ia memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuk di bibir, menyuruh Kaisar untuk tidak berisik.

"Dia baru saja bercerita betapa lelahnya dia hari ini karena kamu," bisik Permaisuri dengan suara yang sangat pelan, namun cukup terdengar oleh Kaisar.

Kaisar melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seolah-olah lantai marmer itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. Ia berdiri di samping sofa, menunduk untuk melihat wajah Freya yang polos saat tidur. Tanpa riasan yang mencolok dan tanpa ocelan pedasnya, Freya terlihat sangat rapuh sekaligus indah.

"Aku memaksanya terlalu banyak hari ini," gumam Kaisar, suaranya nyaris seperti bisikan angin.

"Tidak, Kaisar," sanggah Ibunya. "Kamu memberinya perlindungan. Tapi ingat, bunga liar seperti dia butuh waktu untuk terbiasa tumbuh di dalam taman kerajaan. Jangan terlalu keras padanya."

Kaisar mengangguk pelan. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya menyentuh pipi Freya dengan ujung jarinya—sangat lembut, takut membangunkan sang bidadari yang sedang beristirahat.

Malam mulai turun sepenuhnya. Lampu-lampu kristal di paviliun dinyalakan dengan cahaya yang redup. Freya masih belum terbangun. Ia tampak begitu nyaman di bahu Permaisuri, seolah beban sebagai "tunangan kerajaan" sejenak terangkat dari pundaknya.

Kaisar akhirnya memutuskan untuk mengangkat Freya agar gadis itu bisa tidur dengan lebih nyaman di kamarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Kaisar menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Freya, lalu mengangkatnya dalam gendongan bridal style.

Freya sempat bergumam kecil dalam tidurnya, tangannya secara refleks melingkar di leher Kaisar, mencari posisi yang lebih hangat. Jantung Kaisar berdegup kencang, namun ia berusaha tetap tenang.

"Bawa dia ke kamarnya, Kaisar. Dan pastikan dia tahu bahwa besok... dia boleh menjadi dirinya sendiri lagi," pesan Permaisuri sebelum Kaisar keluar dari ruangan.

Kaisar berjalan menyusuri koridor istana yang sepi dengan Freya di pelukannya. Ia menatap wajah tunangannya itu sekali lagi. Sepuluh hari terakhir menuju akhir perjodohan? Tidak. Baginya, setiap detik yang ia habiskan melihat Freya tertidur seperti ini, semakin menguatkan keyakinannya bahwa ia tidak akan pernah membiarkan sepuluh hari itu berakhir dengan perpisahan.

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!