NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Citra Hamizah

Stella sudah pernah berada di kantor polisi sebelumnya, tapi ia belum pernah datang sebagai tersangka, belum pernah juga diinterogasi. Dan itu membuatnya sangat ketakutan.

“Stella, gue pengacara perceraian. Lo butuh orang lain,” papar Riggs saat dia duduk di samping Stella.

Stella cuma membungkuk di kursi. Mereka menunggu untuk diinterogasi.

Bukan mereka.

Stella.

Dia tersangkanya.

“Jangan lo berani-berani ninggalin gue!”

“Gue enggak ninggalin lo. Tapi gue udah hubungin temen yang ahli hukum pidana. Dia bakal sampai sekitar satu jam lagi. Jangan ngomong apa pun sampai Nathaniel datang, oke?”

Stella pun juga tidak tahu Kayson ada di mana.

Kayson, Wallen, dan Vanylla mengikuti dia dan Detektif Hamizah ke kantor polisi, tapi ketika dia dibawa kembali ke ruang interogasi, mereka ditahan di luar. Karena Riggs pengacara dan dia menyatakannya sebagai kuasa hukumnya, jadi Riggs diizinkan masuk.

“Gue enggak ngelakuin ini.” Stella harus menelan ludah dua kali untuk mengusir rasa kering di tenggorokannya. “Ada yang lagi ngejebak gue. Gue enggak mungkin ngebunuh Igor.”

“Gue tahu.” Riggs menggenggam tangannya dan meremasnya pelan. “Lo bukan pembunuh, Stella. Sedetik pun gue enggak pernah mikir lo kayak gitu.”

“Gue enggak ngirim email ke dia. Lo tahu gue lagi di luar kota. Laptop gue bahkan enggak gue bawa. Laptop itu ada di galeri gue terus dan ....” Matanya membelalak. “Betania ... Kita harus cari dia. Dia punya akses ke laptop gue. Bisa jadi dia yang ngirim pesan itu.”

Riggs mengernyit. “Buat apa?”

“Gue enggak tahu.” Suara Stella meninggi karena dia mulai kehilangan kendali.

Dia takut.

Igor mati, ada orang gila yang menerornya, dan sekarang dia jadi tersangka pembunuhan?

Pintu terbuka. Detektif Hamizah berdiri di ambang pintu, tatapannya menyapu Stella, lalu Riggs, lalu tangan mereka yang saling menggenggam.

Kemudian Stella menoleh ke belakang, sedikit berkerut saat fokus pada pria di belakangnya, Kayson.

Hanya dengan melihatnya saja, itu sudah membuat Stella merasa sedikit lega.

“Lo baik-baik aja?” tanya Kayson dengan suara tenang.

Stella menggeleng. “Nggak sama sekali.”

Tapi setidaknya dia masih hidup, tidak seperti Igor.

Stella berdiri dan menatap detektif itu. “Sebenernya apa yang sedang terjadi? Gue enggak ngebunuh Igor dan gue juga enggak ngirim email itu.”

“Stella.” Riggs menarik tangannya dan membuatnya duduk kembali. “Gue pengacara sementara lo, dan saran gue lo diem.”

Detektif itu masuk dengan langkah pelan dan mantap. Dia menarik kursi di seberang meja dan sengaja meluangkan waktu sebelum duduk.

Kayson masuk dan menarik kursi mendekat ke Stella, lalu duduk di sampingnya. Bahunya menyentuh bahu Stella.

Alis detektif itu terangkat, lalu dia mengangguk pelan. “Bagus. Jadi sekarang kita tahu posisi masing-masing.”

Riggs membungkuk ke depan. “Stella bukan pembunuh. Dia itu—”

“Iya, iya, pasti dia cewek baik-baik yang bersinar seperti matahari dan debu peri.” Detektif itu memutar mata, mengibaskan tangan ke arah Stella. “Tapi email-email itu dikirim dari komputer Anda, Nona Allesandra. Ehh ...Stella!" koreksinya pelan.

Rasanya aneh dipanggil formal saat sedang dituduh membunuh.

“Gue punya tim teknisi yang bisa melacak apa pun. Mereka bilang email-email itu jelas dikirim dari komputer lo, dari alamat email lo.”

“Lo harus ngomong sama asisten gue,” bantah Stella spontan. “Betania punya akses ke komputer gue, dan dia ... gue baru tahu kalau dia bohongin gue. Katanya dia lagi jenguk Mamanya, tapi ....”

Tangan Kayson langsung mencengkeram lutut Stella dan menekannya pelan. Stella meliriknya kesal.

Kenapa Kayson menghentikannya, padahal Stella cuma mengatakan yang sebenarnya?

Detektif itu berdeham, menarik kembali perhatian Stella. Lalu dia tersenyum manis. “Lo tahu dari mana dia lagi jenguk Mamanya?”

“Dia kirim pesan ke gue, bilang begitu.” Stella menggeleng. “Tapi ternyata nggak. Tim Kayson nemuin kalau Mamanya Betania udah meninggal tahun lalu.”

Detektif itu menoleh ke Kayson. “Betul,” katanya. “Mamanya memang sudah meninggal.” Dia berhenti sejenak. “Dan sayangnya, Betania juga.”

Betania tidak mungkin mati.

Stella menggeleng cepat. “Nggak, dia—”

“Mobilnya ditemukan pagi ini. Hancur. Betania Sonnata ada di dalamnya.”

"Kapan tepatnya lo terima pesan dari dia?”

Mual langsung naik ke tenggorokan Stella. “Dia … dia mati?”

“Iya. Gue mau lihat HP lo, ya. Maksud gue, kalau lo enggak punya apa-apa buat disembunyiin, lo bisa kasih ke gue dan biarin gue lihat pesan yang lo terima.”

“Stella .…” Suara Riggs penuh peringatan. “Kita tunggu Nathaniel datang dulu.”

“Gue enggak nyembunyiin apa-apa.” Stella melepaskan tangan Riggs. Sesaat kemudian dia membuka kunci HPnya dan mendorongnya ke atas meja.

Detektif itu memeriksa pesan-pesannya. Matanya menyipit. “Menarik.”

“Apa?”

Dia menatap Stella. “Lo terima pesan itu setidaknya sehari setelah dia meninggal. Itu menurut laporan awal dari pemeriksa medis di Bandung. Tubuh Betania ada di mobil itu cukup lama. Mobilnya keluar jalur. Enggak ada yang melihatnya.”

Rasa mualnya makin parah. Begitu juga ketakutannya. Dan rasa sakit itu.

Betania sudah pergi.

“Gue udah bilang,” suara Kayson rendah dan tertahan saat dia menatap tajam detektif itu. “Stella bukan ancaman. Dia targetnya. Bajingan itu yang lagi ngincer dia. Dan iya, gue tahu lo punya tim teknisi, Hamizah, tapi kita berdua tahu kemampuan mereka enggak ada apa-apanya dibanding gue. Kasih gue akses dan gue bisa buktiin Stella enggak ngirim email apa pun ke Igor. Pembunuh aslinya yang kirim. Dia yang mancing Igor ke sini, lalu membunuhnya.”

“Dia menyiksanya dulu,” potong detektif itu. “Disiksa, baru dibunuh.”

Stella tercekat. “Disiksa?”

“Iya.” Tatapan gelap detektif itu tetap tajam. “Mantan kekasih lo ditusuk sebelas kali. Dia jelas punya kemarahan yang besar.” Tatapannya bergeser.

Tatapan detektif itu beralih ke Kayson, lalu ke Riggs. “Lo kenal seseorang yang punya amarah sebesar itu? Cemburu mungkin?”

Jadi sekarang polisi itu menyiratkan Kayson atau Riggs pelakunya?

“Nggak.” Stella menegakkan bahu saat amarah dingin memenuhi dadanya.

Sudah cukup buruk dia dituduh, sekarang mereka juga diseret?

 “Sama sekali nggak. Mereka enggak ngelakuin ini, jadi jangan berani-berani nuduh. Mereka bantuin gue. Ada orang sakit di luar sana. Dia nerobos masuk ke rumah gue dua kali dan polisi enggak ngelakuin apa-apa. Dia bakar rumah gue. Dia ngerusak karya gue dengan nyiram cat merah ke lukisan-lukisan di galeri gue.”

“Iya, soal itu …” Detektif membuka map cokelat yang tadi dia bawa masuk. “... gue baru dapat laporan analisis TKP dari galeri lo. Gue ambil filenya karena gue pikir bisa bantu kasus pembunuhan gue. Dan tahu nggak? Yang ada di kanvas lo itu bukan cuma cat. Itu darah.”

“Apa?”

“Dan gue yakin darah itu bakal cocok sama Stevanus Igor. Sebelas tusukan … itu jelas bikin banyak luka dan banyak darah.”

Jangan pingsan Stella.

Jangan.

Stella merasa wajahnya seperti ditusuk jarum es.

Kenapa dia tidak bisa bangun saja dari mimpi buruk ini?

“Lo yakin kenal mereka sebaik itu?” Detektif itu memberi isyarat ke Riggs lalu ke Kayson. “Lo pikir mereka pelindung lo, kan?”

“Yang gue tahu, mereka bukan orang gila yang bakal nusuk seseorang sebelas kali lalu ngambil darahnya buat disiram ke lukisan gue. Apa-apaan sih? Gue yakin bukan mereka.”

Detektif itu tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Dulu gue juga pikir gue kenal Kayson dengan sangat baik. Tapi ternyata dia suka main di belakang departemen kepolisian. Kayaknya kita memang enggak pernah benar-benar mengenal Kayson, ya?”

Pelipis Stella berdenyut. “Gue mau tahu lebih banyak soal kecelakaan Betania.”

“Oh, lo pasti bakal tahu. Mobilnya kelihatan keluar jalur. Seperti yang gue bilang, awalnya enggak ada yang sadar. Untungnya beberapa pendaki akhirnya nemuin mobil itu. Polisi di lokasi ngira itu cuma kecelakaan. Tapi dengan semua yang sedang terjadi sekarang, jelas gue bakal pastiin ada penyelidikan menyeluruh.”

Kayson membungkuk ke depan. “Gue mau komputer Igor. Kasih gue sepuluh menit. Lima menit juga cukup. Biar gue lihat apa yang bisa gue temuin.”

“Itu melanggar aturan dan gue enggak bisa langgar aturan, bahkan buat lo, Kayson!” bentak Detektif Hamizah. Ia tidak mengembalikan HP Stella. Dia malah meletakkannya di meja dekat tangan kirinya.

...────୨ৎ────...

...Hi....

...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....

...Terima kasih....

...────୨ৎ────...

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!