NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Akhsan berdiri mematung di koridor rumah sakit yang dingin, menatap ibu Sisil yang masih terisak di lantai dan pintu ruang operasi yang tertutup rapat.

Di telinganya, suara detak jam terasa seperti dentuman palu yang menghakimi.

Ia melirik Aruna yang berdiri tenang dengan aura kemenangan yang mutlak.

"Baiklah, aku akan melakukannya," bisik Akhsan pelan.

Suaranya terdengar seperti pria yang baru saja menyerahkan jiwanya.

Ia mengambil ponselnya, menghubungi tim Hubungan Masyarakat Hermawan Group dan beberapa media utama.

"Siapkan ruang konferensi pers di lobi rumah sakit sekarang juga. Saya akan membuat pernyataan resmi."

Hanya dalam waktu tiga puluh menit, lobi rumah sakit sudah penuh dengan kerumunan wartawan yang membawa kamera dan mikrofon.

Mereka mencium aroma skandal besar antara CEO Hermawan Group, tunangannya yang malang, dan sang investor misterius, Aruna Adrian.

Akhsan melangkah maju ke depan podium darurat, sementara Aruna berdiri di sampingnya—mengenakan topeng renda hitamnya yang ikonik—sebagai saksi bisu kehancuran hubungan pria itu.

"Selamat sore rekan-rekan media," suara Akhsan bergetar, namun ia mencoba menstabilkannya.

"Saya di sini untuk menyampaikan pengumuman penting mengenai hubungan pribadi saya. Terhitung sejak saat ini, hubungan pertunangan antara saya, Akhsan Hermawan, dengan Sisil Permata, resmi berakhir."

Suasana lobi mendadak riuh dengan jepretan kamera.

"Keputusan ini saya ambil secara sadar karena adanya tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh pihak yang bersangkutan, yang tidak hanya merugikan saya secara pribadi, tetapi juga mengancam keselamatan rekan bisnis internasional kami, Nona Aruna Adrian," lanjut Akhsan dengan wajah pucat pasi.

Aruna melirik ke arah kamera dengan dagu terangkat.

Ia sengaja memperlihatkan tangannya yang masih terbungkus perban tipis akibat kuah panas tadi.

"Saya tidak memiliki keterkaitan lagi dengan Nona Sisil. Segala tindakan yang ia lakukan di masa depan bukan lagi tanggung jawab saya maupun Hermawan Group," tutup Akhsan dengan suara yang hampir habis.

Ibu Sisil yang menonton dari kejauhan berteriak histeris, namun segera diamankan oleh petugas keamanan.

Sementara itu, para wartawan mulai melontarkan pertanyaan tajam tentang apakah Aruna adalah penyebab dari perpecahan ini.

Aruna maju satu langkah, mendekati mikrofon.

"Saya di sini hanya untuk memastikan bahwa profesionalisme adalah yang utama. Hermawan Group butuh pemimpin yang bersih dari skandal emosional yang berbahaya. Sekarang, mari kita fokus pada masa depan ekonomi perusahaan."

Konferensi pers itu berakhir dengan Akhsan yang tertunduk lesu, sementara nama Aruna Adrian semakin melambung sebagai wanita yang memiliki kendali penuh atas sang CEO.

Ia melihat notifikasi di ponselnya. Christian mengirimkan pesan singkat.

[Kerja bagus, Sayang. Dia baru saja membunuh masa lalunya sendiri di depan seluruh dunia. Aku menunggumu di apartemen.]

Ia tahu, dengan berakhirnya hubungan Sisil, Akhsan kini benar-benar sendirian dan tidak punya pilihan selain bergantung sepenuhnya pada dirinya.

"Satu per satu mereka jatuh, Zahra..." bisik Aruna pada dirinya sendiri sambil menatap pantulan wajahnya di kaca mobil.

"Dan Akhsan, kamu baru saja menyerahkan lehermu ke dalam taliku."

Setelah konferensi pers yang menghancurkan reputasi Sisil itu berakhir, Aruna melangkah mendekati Akhsan yang masih berdiri mematung di tengah kerumunan wartawan yang mulai bubar.

Ia mendekatkan wajahnya, membiarkan aroma parfumnya yang memabukkan memenuhi indra penciuman Akhsan untuk terakhir kalinya hari itu.

"Aku pulang dulu dan jangan lupa mandikan aku besok," bisik Aruna sangat rendah di telinga Akhsan, sebuah perintah yang lebih mirip godaan maut.

Tanpa menunggu jawaban, Aruna melambaikan tangan pada asistennya dan memanggil taksi mewah untuk mengantarkannya kembali ke hotel, sengaja tidak menggunakan mobil Akhsan untuk menunjukkan bahwa pria itu kini bukan siapa-siapa baginya.

Tak berselang lama, begitu pintu Presidential Suite tertutup rapat, benteng pertahanan Aruna runtuh.

Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, napasnya tersengal.

Perlahan, air mata jatuh membasahi pipinya, mengalir di balik topeng renda hitam yang masih melekat.

"Akhirnya aku bisa membalasnya," isaknya pelan.

Rasa puas itu bercampur dengan kepedihan masa lalu yang kembali terangkat.

Tiba-tiba, sepasang lengan yang kokoh dan hangat memeluk tubuhnya dari belakang.

Christian muncul dari kegelapan kamar, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Sayang. Menangislah, lepaskan semua beban itu. Aku di sini," bisik Christian lembut.

Ia memutar tubuh Aruna, menghapus air matanya, dan memberikan ketenangan yang tidak akan pernah Aruna dapatkan dari pria lain.

Sementara itu, Akhsan melangkah keluar dari lobi rumah sakit dengan tatapan kosong. Namun, langkahnya terhenti saat Ibu Sisil mengejarnya dan menarik lengan jasnya dengan kasar.

"Akhsan! Kamu mau ke mana? Anakku sedang sekarat di dalam! Temani aku, Akhsan! Kamu calon suaminya!" teriak wanita tua itu dengan suara parau karena tangis.

Akhsan berhenti, namun ia tidak menoleh. Ia melepaskan tangan Ibu Sisil dengan gerakan dingin yang tak terbantahkan.

"Maaf, Bu. Saya bukan tunangannya lagi. Saya sudah mengumumkannya pada dunia," ucap Akhsan datar.

"Semua biaya pengobatan hari ini sudah saya lunasi, tapi jangan harapkan kehadiran saya lagi."

"Kamu kejam, Akhsan! Kamu tidak punya hati!" kutuk Ibu Sisil yang kembali histeris.

Akhsan tidak peduli. Ia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu, dan menginjak pedal gas dalam-dalam.

Ia meninggalkan rumah sakit itu, meninggalkan jeritan wanita yang dulu ia hormati sebagai calon mertua.

Di dalam mobil, Akhsan merasa separuh jiwanya hilang.

Ia tidak pulang ke rumah besarnya yang penuh dengan bayang-bayang orang tuanya dan justru melajukan mobilnya menuju apartemen pribadinya, tempat di mana ia sering menyendiri untuk meratapi foto Zahra.

Ia duduk di sofa apartemennya yang gelap, menatap langit-langit.

Pikirannya dipenuhi oleh bisikan Aruna tentang "mandi susu" besok pagi.

Akhsan sadar, ia telah terjebak dalam permainan Aruna, namun anehnya, ia justru menantikan hari esok, menantikan saat ia bisa menyentuh kulit wanita yang sangat mirip dengan istrinya yang telah tiada.

Disisi lain dimana heningnya bangsal rumah sakit pecah seketika saat jam dinding menunjukkan pukul satu pagi.

Di atas ranjang perawatan, tubuh Sisil tersentak hebat.

Ia terbangun dengan napas yang memburu, namun hal pertama yang ia rasakan bukanlah kesadaran, melainkan rasa perih yang luar biasa di seluruh wajahnya.

Tangan Sisil gemetar, ia mencoba menyentuh wajahnya, namun yang ia rasakan hanyalah tekstur kasar dari perban yang melilit tebal.

"Argh! Wajahku! Apa yang terjadi dengan wajahku?!" teriak Sisil histeris.

Ibunya yang tertidur di kursi samping ranjang segera terbangun dan memeluk putrinya.

"Tenang, Nak, tenang. Besok dokter akan melakukan operasi rekonstruksi. Kamu akan baik-baik saja."

Sisil terdiam sejenak, matanya yang tidak tertutup perban berkilat penuh kecurigaan.

"Operasi? Pakai uang siapa? Mas Akhsan sudah tidak punya uang, perusahaannya hancur!"

Ibunya tertunduk, suaranya mengecil. "Nona Aruna Adrian, dia yang membayar semuanya, Sisil. Dia sudah melunasi deposit operasinya."

"Aruna? Dan Mas Akhsan, di mana dia?"

"Akhsan sudah membuat konferensi pers, Nak. Dia memutuskan pertunangan kalian secara resmi di media. Dia meninggalkan kita."

Mendengar itu, bukannya menangis, Sisil justru tertawa.

Suara tawa yang melengking dan mengerikan, menggema di ruangan sunyi itu.

Ia tertawa terbahak-bahak hingga tubuhnya terguncang.

"Hahaha! Lucu sekali! Wanita itu merusak wajahku, lalu membayar operasinya agar dia terlihat seperti pahlawan? Dan Akhsan, dia membuangku seperti sampah?"

Sisil mendadak berhenti tertawa. Matanya dipenuhi kegilaan murni.

"Sampai mati aku tidak mau dioperasi dari uang wanita itu! Aku tidak sudi memakai kulit hasil pemberiannya!"

Dengan kekuatan yang tak terduga, Sisil merobek selang infus dari tangannya hingga darah segar memuncrat ke seprai putih.

"Sisil! Apa yang kamu lakukan?!" teriak ibunya panik.

"Jangan sentuh aku!" Sisil mendorong ibunya dengan kasar hingga wanita tua itu jatuh tersungkur.

Tanpa alas kaki, dengan gaun rumah sakit yang berantakan dan wajah yang masih terbungkus perban seperti mumi, Sisil berlari keluar kamar.

Ia melewati lorong-lorong rumah sakit dengan kecepatan gila, mengabaikan teriakan perawat yang mencoba menghentikannya.

Ia terus berlari keluar menuju jalan raya yang masih cukup ramai oleh kendaraan malam.

Sisil berdiri di tengah jalan, di bawah sorot lampu jalanan yang remang-remang, tampak seperti sosok hantu yang mengerikan.

"Aku tidak butuh wajah ini lagi!" teriaknya ke langit malam.

"Aku akan membalas semuanya, Aruna Adrian! Jika aku masuk neraka, aku akan menyeretmu bersamaku!"

Sisil menoleh ke arah sebuah truk besar yang melaju kencang ke arahnya.

Ia tidak menghindar, melainkan tersenyum di balik perbannya.

Ia tahu, kematian atau kehancuran total adalah satu-satunya cara untuk menghantui Akhsan dan Aruna selamanya.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!