NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FAKTA DI ZURICH

Maximilian berdiri mematung di depan jendela besar jet pribadinya, menatap hamparan salju abadi Pegunungan Alpen yang berkilauan di bawah sinar rembulan yang pucat. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi air mineral bergetar halus mengikuti turbulensi kecil pesawat yang sedang melintasi wilayah udara Swiss. Vivien Aksara duduk di kursi kulit di belakangnya, menatap layar tablet yang menampilkan dokumen-dokumen kuno yang baru saja mereka dekripsi dari chip memori jam tangan peninggalan ayahnya. Suasana di dalam kabin begitu sunyi, hanya deru mesin jet yang terdengar seperti bisikan hantu yang mengejar mereka sejak lepas landas secara rahasia dari Jakarta.

"Max, kau harus melihat ini sebelum kita mendarat," suara Vivien memecah keheningan, terdengar parau dan penuh kecemasan. "Kontrak ini... ini bukan sekadar pinjaman modal usaha. Ini adalah akta penyerahan jiwa. Ayahmu, Arthur Alfarezel, dan ayahku, Aksara... mereka menandatangani perjanjian ini di Zurich tepat tiga puluh tahun yang lalu, di gedung yang sama dengan tempat kita akan mendarat sekarang."

Maximilian berbalik perlahan, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua di bawah lampu kabin yang redup. "Aku sudah membacanya melalui transmisi Gideon, Vivien. Aku sudah membacanya berulang kali hingga hafal setiap kata terkutuk di dalamnya. Fakta bahwa kita berdiri di sini hari ini, memiliki perusahaan raksasa itu, dan bahkan pernikahan kita sendiri... semuanya hanyalah bagian dari orkestra panjang milik Elena Von Zurich."

"Apa maksudmu dengan bagian dari rencana?" tanya Vivien, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kau bilang kita menikah karena wasiat terakhir mereka untuk menyatukan kekuatan melawan musuh. Kau bilang itu adalah cara satu-satunya untuk melindungiku dari sisa-sisa pengikut Julian Vane!"

Maximilian melangkah mendekat, berlutut di depan kursi Vivien dan menggenggam kedua tangannya yang terasa sedingin es. "Itulah kebohongan yang mereka suntikkan kepada kita sejak awal, Viv. Tapi lihat klausul nomor dua belas di halaman terakhir kontrak ini. 'Penyatuan garis keturunan Alfarezel dan Aksara harus dijamin melalui ikatan permanen untuk memastikan keberlanjutan operasional Phoenix Syndicate di Asia.' Mereka tidak ingin kita bersatu untuk melawan mereka, Vivien. Mereka ingin kita bersatu agar seluruh aset keluarga kita lebih mudah dikendalikan dalam satu wadah tunggal di bawah pengawasan mereka."

Vivien menarik tangannya dengan kasar, wajahnya memucat. "Jadi, selama ini kau tahu? Kau tahu bahwa pernikahan kontrak kita di Melbourne adalah pesanan dari sindikat di Swiss ini? Bahwa setiap janji yang kita buat adalah bagian dari skenario perbankan mereka?"

"Tidak! Aku bersumpah demi nyawa anak kita, Alaric, aku baru mengetahuinya saat chip memori itu terbuka sepenuhnya dua jam yang lalu," potong Maximilian dengan nada mendesak. "Selama ini aku pikir aku adalah pemain catur yang cerdik, Viv. Aku pikir aku sedang membalaskan dendam kematian ayahku, Arthur. Tapi faktanya, aku hanyalah bidak yang sedang menjalankan instruksi yang sudah tertulis bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini."

Pesawat mulai merendah, tanda bahwa mereka hampir tiba di Bandara Kloten, Zurich. Pilot memberikan pengumuman melalui interkom bahwa suhu di luar mencapai minus lima derajat Celsius. Maximilian berdiri, mengenakan jas wol panjangnya yang berwarna hitam legam. "Dengarkan aku baik-baik, Vivien. Fakta di Zurich mungkin akan menghancurkan segala yang kita percayai tentang orang tua kita selama ini. Tapi kita punya satu hal yang tidak mereka miliki. Kita memiliki satu sama lain secara nyata, dan kita memegang kebenaran ini sekarang. Elena tidak tahu bahwa kita sudah memegang kunci enkripsi kedua yang dikembangkan Gideon."

Begitu pintu jet terbuka, udara dingin Zurich langsung menusuk hingga ke tulang, memberikan sensasi perih yang nyata. Di bawah tangga pesawat, dua pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam tanpa ekspresi sudah menunggu di samping mobil antipeluru. Salah satu dari mereka melangkah maju dan membungkuk hormat, namun sorot matanya tetap sedingin salju di sekeliling mereka.

"Selamat datang kembali di rumah yang sesungguhnya, Tuan Maximilian Alfarezel, Nyonya Vivien Aksara," ucap pria itu dalam bahasa Inggris dengan aksen Swiss yang kaku. "Madam Elena sudah menunggu kehadiran Anda di kediaman lama di pinggiran Danau Zurich. Silakan naik ke kendaraan, semua keamanan sudah kami sterilkan."

"Di mana ayahku?" tanya Maximilian langsung tanpa basa-basi, suaranya menggelegar di landasan pacu yang sunyi. "Elena mengirim pesan bahwa dia ada di sini. Di mana Arthur Alfarezel?"

Pria itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak mencapai matanya sama sekali. "Semua fakta akan diungkapkan secara langsung oleh Madam pada waktunya, Tuan. Beliau tidak suka jika tamu kehormatannya terlambat."

Di dalam van yang melaju kencang menyusuri jalanan Zurich yang bersih dan sunyi, Vivien terus menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Bangunan-bangunan batu kuno yang berjajar di kota ini tampak seperti penjara raksasa di matanya. "Max, jika benar Arthur masih hidup... jika benar ayahmu ada di sini selama sepuluh tahun tanpa memberi kabar sedikit pun pada kita... apa itu artinya dia mengkhianati perjuangan kita juga? Apa dia membiarkan kita menderita demi keselamatannya sendiri?"

"Aku belum bisa memberikan jawaban, Viv," jawab Maximilian pendek, matanya terpaku pada jam tangan pintarnya yang terus mengirimkan koordinat lokasi mereka ke pusat data rahasia di Jakarta. "Mungkin dia dipaksa dengan ancaman. Mungkin dia sedang melindungi kita dengan cara tetap menjadi tahanan agar Phoenix tidak menghabisi kita di Jakarta. Tapi, jika aku menemukan bahwa dia diam karena dia adalah bagian dari mereka secara sukarela... maka aku sendiri yang akan menyeretnya ke pengadilan."

Mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga ketat oleh kamera pengawas dan sensor biometrik. Begitu masuk ke area perkebunan yang luas, sebuah mansion megah bergaya neoklasik berdiri kokoh menghadap danau yang berkabut. Mereka dituntun masuk ke sebuah aula besar yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan abad pertengahan yang sangat mahal. Di ujung ruangan, duduk seorang wanita yang tampak begitu anggun namun memancarkan aura otoritas yang sangat menekan. Elena Von Zurich.

"Maximilian," Elena berdiri perlahan, suaranya lembut namun tajam. "Kau sangat mirip dengan Arthur saat dia masih muda. Gigih, ambisius, dan sedikit terlalu emosional untuk bisnis sebesar ini. Dan Vivien... kau memiliki mata tajam milik Aksara yang selalu penuh dengan kecurigaan yang tidak perlu."

"Cukup dengan basa-basi diplomatik ini, Elena," desis Maximilian sambil melangkah maju ke tengah aula. "Kami sudah membaca kontrak berdarah itu. Kami sudah tahu tentang keberadaan Phoenix Syndicate dan bagaimana kalian menjerat keluarga kami. Sekarang, tunjukkan fakta yang kau janjikan dalam pesanmu. Di mana ayahku, Arthur?"

Elena tertawa kecil, suara tawa yang kering dan meremehkan. "Sabar, Sayang. Fakta adalah hidangan yang harus dinikmati perlahan agar tidak tersedak. Tahukah kau bahwa setiap peluru yang ditembakkan Julian Vane di Phuket, setiap sen yang ia gunakan untuk memburu kalian berdua, sebenarnya berasal dari rekening yang dibekukan atas namamu sendiri di bank ini? Kau mendanai pemburuan nyawamu sendiri, Maximilian. Itulah cara Phoenix bekerja. Kami selalu menggunakan kekuatan dan harta lawan untuk menghancurkan lawan itu sendiri tanpa perlu mengotori tangan kami."

Vivien melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah yang meledak. "Kau monster! Kau memanipulasi hidup kami sejak kami masih anak-anak! Kau yang memerintahkan pembunuhan ayahku, bukan?"

"Membunuh Aksara?" Elena mengangkat alisnya dengan pura-pura terkejut. "Aksara tidak dibunuh oleh perintahku, Vivien. Dia memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena dia tidak tahan lagi dengan rasa bersalahnya yang membukit. Dia tahu bahwa suatu hari kau akan menyadari bahwa pendidikan mewahmu di luar negeri, kemewahan hidupmu di Jakarta, semuanya dibayar dengan uang hasil perdagangan manusia di Eropa Timur yang dicuci melalui pabrik tekstil milik ayahmu. Ayahmu bukan pahlawan moral, Vivien. Dia adalah akuntan paling berbakat yang pernah dimiliki Phoenix untuk wilayah Asia."

Vivien terhuyung mundur, dunianya seolah runtuh seketika mendengar pengakuan itu. "Bohong... itu pasti bohong! Ayahku orang baik!"

"Tanyakan pada suamimu yang hebat ini," lanjut Elena dengan nada mengejek yang kental. "Maximilian sudah menemukan dokumen manifes pengiriman 'barang' di pelabuhan Odessa dalam chip memori itu, bukan? Dia hanya terlalu takut untuk mengatakannya padamu di dalam pesawat tadi karena dia tahu kau akan hancur."

Vivien menoleh ke arah Maximilian dengan tatapan menuntut penjelasan yang sangat hancur. "Max... tolong katakan padaku bahwa wanita tua ini berbohong. Katakan padaku itu tidak benar."

"Data itu... memang ada dalam dokumen tersebut, Viv. Tapi kita tidak tahu apakah itu dipalsukan atau tidak oleh mereka untuk memecah belah kita," ucap Maximilian dengan nada suara yang rendah, mencoba menenangkan istrinya meskipun hatinya sendiri sedang berkecamuk.

"Konteksnya sangat sederhana," sela Elena, memotong pembicaraan mereka dengan dingin. "Phoenix adalah tuhan yang mengatur aliran uang di dunia ini. Dan sekarang, saatnya kalian membayar cicilan terakhir dari hutang nyawa orang tua kalian. Arthur Alfarezel ada di ruang bawah tanah bangunan ini. Dia masih hidup secara biologis, namun jiwanya sudah mati sejak lama. Jika kalian ingin membawanya pulang ke Jakarta, kalian harus menandatangani penyerahan total aset Alfarezel-Aksara Global kepada dewan direksi Phoenix di Zurich. Detik ini juga."

"Dan jika kami menolak untuk tunduk pada pemerasan ini?" tanya Maximilian, tangannya perlahan meraba saku jasnya di mana ia menyembunyikan sebuah perangkat kecil.

"Maka Arthur akan benar-benar menjadi sejarah yang dihapus dari ingatan," ucap Elena tanpa ragu sedikit pun. "Dan putra kecilmu, Alaric, yang saat ini berada di Sentul... haruskah aku memberitahumu bahwa pengasuh utamanya adalah agen kami yang paling setia selama dua tahun terakhir? Kami bisa menjemputnya kapan saja."

Hening yang mematikan menyelimuti aula besar itu. Maximilian menatap Vivien, dan di dalam mata istrinya, ia melihat ketakutan dan kehancuran yang total sebagai seorang ibu. Namun, di tengah keputusasaan yang menghimpit itu, Maximilian teringat satu hal yang pernah dikatakan ayahnya dalam rekaman rahasia: 'Kebenaran memang akan membebaskanmu, tapi pertama-tama ia akan membuatmu menderita luar biasa.'

"Kau pikir kau sudah memenangkan segalanya hari ini, Elena," ucap Maximilian dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat tenang. "Kau pikir dengan mengungkap fakta-fakta kotor masa lalu orang tua kami, kami akan tunduk padamu karena rasa malu. Tapi kau lupa satu fakta paling mendasar tentang kami di Zurich hari ini."

"Apa itu? Jangan mencoba menggertakku, Maximilian," tanya Elena dengan nada sombong.

"Bahwa aku bukan Arthur. Dan Vivien bukan Aksara," Maximilian menarik ponsel satelitnya dan menekan satu tombol merah di layar. "Detik ini juga, seluruh data perdagangan Phoenix di Odessa, seluruh daftar nama direksi kalian, dan bukti pencucian uang yang melibatkan bank-bank besar di Zurich ini, sedang diunggah secara otomatis ke server Interpol dan semua kantor berita utama di dunia. Jika kami jatuh dan hancur hari ini, maka kau tidak akan punya imperium atau bank lagi untuk kau perintah besok pagi."

Wajah Elena yang tadinya merah karena kemenangan, kini berubah menjadi pucat pasi seputih salju di luar. "Kau... kau gila! Kau berani melakukan itu? Kau akan menghancurkan nama keluargamu sendiri selamanya di mata publik!"

"Nama kami sudah hancur sejak kami menginjakkan kaki di gedung terkutuk ini, Elena," sahut Vivien, kini berdiri tegak kembali di samping Maximilian dengan sisa-sisa keberaniannya. "Kami lebih baik tidak punya apa-apa lagi di dunia ini daripada harus memiliki segalanya namun berada di bawah telapak kakimu yang berlumuran darah."

Alarm keamanan mulai berbunyi di seluruh mansion dengan suara yang memekakkan telinga. Suara sirine polisi Zurich terdengar semakin dekat dari arah gerbang utama. Maximilian menarik tangan Vivien dengan kuat. "Sekarang, tunjukkan di mana ayahku berada. Sebelum tempat ini dikepung!"

Elena mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar karena amarah yang tak terkendali. "Kalian tidak akan pernah keluar dari Zurich hidup-hidup!"

"Kita lihat saja siapa yang akan bertahan," ucap Maximilian sambil mengeluarkan pistol Glock yang ia sembunyikan di balik pinggangnya dengan gerakan kilat. "Bara, masuk sekarang melalui jalur belakang! Amankan perimeter bawah tanah!"

Pintu aula meledak terbuka dengan suara dentuman yang dahsyat. Bara dan tim taktis rahasianya yang telah menyusup melalui danau Zurich merangsek masuk dengan senjata lengkap dan pelindung wajah. Di tengah kekacauan dan asap yang mulai memenuhi ruangan, fakta di Zurich akhirnya mencapai puncaknya: sebuah perjuangan berdarah untuk merebut kembali martabat yang telah digadaikan oleh generasi masa lalu. Maximilian dan Vivien berlari menuju tangga menuju ruang bawah tanah, siap menghadapi kenyataan pahit apa pun yang ada di sana.

Di kedalaman ruang bawah tanah yang dingin dan lembap, di balik sebuah pintu baja berat, Maximilian akhirnya melihat sosok itu. Seorang pria tua dengan rambut putih yang berantakan dan tubuh yang kurus kering, sedang duduk di pojok ruangan yang remang-remang. Saat pria itu mendongak, matanya yang redup bertemu langsung dengan mata Maximilian yang penuh amarah dan kesedihan.

"Ayah?" bisik Maximilian, suaranya pecah menahan tangis.

Pria itu, Arthur Alfarezel, tersenyum pahit, air mata perlahan jatuh di pipinya yang sudah keriput. "Kau seharusnya tidak datang ke sini, Maximilian. Ada beberapa fakta di dunia ini... yang lebih baik tetap terkubur selamanya di bawah lapisan salju Zurich yang dingin."

Namun Maximilian tidak memedulikan peringatan itu. Ia segera menghambur dan memeluk ayahnya dengan erat, sementara Vivien menjaga pintu dengan senjata di tangan. Di atas mereka, dunia Phoenix sedang runtuh berkeping-keping seiring dengan terungkapnya rahasia sindikat tersebut ke jaringan global, namun bagi Maximilian dan Vivien, ini adalah pertama kalinya mereka benar-benar bernapas sebagai manusia yang merdeka, lepas dari segala bayang-bayang imperium yang selama ini dibangun di atas fondasi darah, air mata, dan kebohongan yang sangat panjang. Perjalanan mereka untuk pulang memang belum berakhir, namun mulai hari ini, mereka sendirilah yang memegang kendali penuh atas nasib dan masa depan keluarga Alfarezel-Aksara.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!