Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rengganis menarik napasnya dalam-dalam, sambil mencoba memanggil kembali sisa-sisa wibawanya sebagai seorang dokter senior.
Ia berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan dan menatap Permadi dengan tatapan sedingin es, meski jantungnya masih berdegup karena malu.
"Oke, Permadi. Mari bicara secara profesional," ucap Rengganis sambil melipat tangan di dada.
"Sebutkan harganya. Kamu mau apa? Kartu kredit? Rahasia Papa yang paling memalukan? Atau kamu mau aku belikan mobil baru? Sebutkan saja, asal hapus foto menjijikkan itu sekarang!"
Permadi berjalan mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Rengganis terpaksa mundur menabrak pinggiran ranjang.
Senyum di wajah Permadi berubah dari jahil menjadi sesuatu yang jauh lebih intens dan provokatif.
"Aku nggak butuh uangmu, Tante. Perusahaanku sedang naik daun, ingat?" ucap Permadi sambil mencondongkan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Cium aku, Sayang. Sebagai salam pembuka pagi yang indah."
Rengganis terpaku, namun sebelum ia sempat memprotes, Permadi melirik ke arah bawah celana boxer-nya dengan seringai tanpa dosa.
"Lagi pula, Tante kan dokter kandungan. Harusnya tahu dong siklus biologis pria di pagi hari? Bukankah 'si Joni' memang sedang berdiri tegak dan butuh perhatian?"
"PERMADIIII!!" jerit Rengganis, wajahnya kini benar-benar meledak dalam warna merah padam.
"Kamu, benar-benar tidak punya sopan santun! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu di depan istrimu yang lebih tua?!"
Permadi tertawa terbahak-bahak sampai suara baritonnya terasa bergetar di dada Rengganis.
"Justru karena Tante adalah istriku, aku bicara jujur. Kenapa harus malu? Tante sudah melihat ribuan proses kelahiran, masa melihat 'antusiasme' suaminya sendiri saja langsung mau pingsan?"
Permadi menaikkan ponselnya kembali. "Jadi, bagaimana? Satu ciuman di bibir, atau foto ini aku kirim ke grup WhatsApp rumah sakit tempat Tante praktik?"
Rengganis langsung terdiam sambil memikirkan caranya agar bisa lepas dari hukuman pagi suaminya.
Di satu sisi, harga dirinya sebagai dokter dipertaruhkan jika foto itu tersebar.
Di sisi lain, menuruti kemauan "berondong" ini sama saja dengan menyerahkan kedaulatannya sepenuhnya.
Rengganis terjepit di antara tembok dan gairah muda yang meledak-ledak.
Melihat tidak ada celah untuk kabur, ia memejamkan mata rapat-rapat.
'Hanya sekali, Ganis. Anggap saja ini biaya administrasi penghapusan foto,' batinnya berusaha rasional.
Dengan gerakan secepat kilat, Rengganis memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan singkat pada pipi kanan Permadi.
"Sudah! Sekarang hapus—"
Namun, kalimat Rengganis terputus. Permadi bukanlah pria yang mudah dipuaskan dengan "uang muka" sekecil itu.
Sebelum Rengganis sempat menjauh, tangan kokoh Permadi sudah berpindah ke tengkuknya, menahan kepala Rengganis agar tetap di tempat.
Dalam satu gerakan yang sangat presisi dan penuh perhitungan, Permadi memutar wajah Rengganis dan membungkam bibir istrinya itu dengan ciuman yang dalam.
Rengganis mematung saat suaminya memberikan ciuman khasnya.
Otaknya yang biasanya berisi daftar dosis obat mendadak blank.
Sensasi lembut sekaligus tegas dari bibir Permadi membuat pertahanannya runtuh sesaat, sebelum akhirnya kesadarannya kembali pulih.
Bugh!
Rengganis mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong dada bidang Permadi.
Begitu pegangan itu terlepas, tanpa menunggu sedetik pun, Rengganis langsung menyambar handuknya dan lari tunggang langgang menuju kamar mandi.
BRAK!
CEKLEK!
Pintu kamar mandi ditutup dengan bantingan keras dan dikunci dari dalam.
Di balik pintu, Rengganis menyandarkan punggungnya yang gemetar.
Ia merasakan jantungnya berdegup kencang seperti baru saja lari maraton sejauh sepuluh kilometer. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa panas.
"Hiii! Memalukan! Benar-benar memalukan!" gerutunya pada diri sendiri sambil membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali.
"Ganis, sadar! Dia itu anak ingusan! Dia itu berondong! Kenapa jantungmu harus bereaksi seperti ini?!"
Sementara di luar kamar mandi, Permadi berdiri mematung sambil menyentuh bibirnya sendiri.
Ia terkekeh pelan, suara tawanya terdengar sangat puas hingga menembus pintu kamar mandi.
"Tante! Jangan kelamaan mandinya! Inget ya, ciuman tadi itu cuma bunganya, pokoknya belum lunas!" teriak Permadi dari luar sambil mengetuk-ngetuk pintu dengan riang.
"Aku tunggu di meja makan, Sayang! Jangan lupa pakai baju yang cantik!"
Rengganis menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam kamar mandi.
Ia sengaja melama-lamakan diri, berharap saat ia keluar nanti, kadar hormon dan rona merah di wajahnya sudah kembali normal.
Setelah merasa cukup tenang, ia mengenakan blouse sutra berwarna zamrud yang dipadukan dengan celana kulot hitam.
Ia keluar dengan langkah angkuh, mencoba mengabaikan keberadaan Permadi yang mungkin sedang menertawakannya di dalam hati. Namun, aroma sedap mentega dan kopi segar yang merayap dari arah dapur membuat perutnya yang belum terisi sejak kemarin sore meronta.
Di meja makan, Permadi sudah duduk dengan santai sambil membaca berita di tabletnya.
Di depannya tersedia sarapan yang tampak terlalu mewah untuk dibuat oleh seorang pria lajang dalam waktu singkat.
Classic Eggs Benedict, potongan buah segar, dan secangkir latte dengan seni foam berbentuk hati.
"Silakan duduk, Dokter Istriku," ujar Permadi tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya, namun sudut bibirnya terangkat tipis.
Rengganis duduk dengan kaku di samping suaminya.
"Terima kasih. Aku harus cepat, jadwal operasiku tidak bisa menunggu."
Ia meraih piringnya, namun saat ia mengangkat piring porselen putih itu untuk menggeser posisinya, matanya menangkap sesuatu.
Di balik alas piring itu, terdapat sebuah benda pipih berwarna merah muda metalik yang sangat familiar di mata seorang dokter kandungan.
Rengganis sedikit terkejut danmengambil benda itu dengan tangan gemetar.
"Testpack."
Wajah Rengganis yang tadinya sudah tenang, kini kembali menegang.
Di atas testpack itu, Permadi menuliskan sesuatu dengan spidol permanen.
'Target Bulan Depan: Garis Dua.'
"Apa-apaan ini, Permadi?!" Rengganis membanting testpack itu ke atas meja.
"Kamu pikir kehamilan itu seperti memesan makanan di ojek online? Aku ini dokter! Aku tahu statistik, aku tahu risiko medis di usiaku! Kamu tidak bisa seenaknya memasang target konyol begini!"
Permadi perlahan meletakkan tabletnya sambil menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Rengganis dengan tatapan yang sangat tenang namun sangat provokatif.
"Tante takut ya?" tanya Permadi pelan. "Atau Tante tidak percaya diri kalau 'mesin' Tante masih berfungsi dengan baik? Tenang saja, aku ini 'montir' yang sangat ahli dan punya banyak waktu untuk melakukan servis rutin. Lima kali sehari, ingat poin kontraknya?"
Rengganis nyaris tersedak kopinya sendiri.
"Kamu, benar-benar tidak punya urat malu!"
"Daripada Tante marah-marah, lebih baik makan yang banyak. Tante butuh nutrisi tinggi untuk mematangkan sel telur," lanjut Permadi sambil menyodorkan potongan alpukat ke arah Rengganis.
"Tante, jangan lupa. Kalau foto semalam masih tersimpan rapi. Satu garis dua di testpack itu bulan depan, atau foto 'Tante Mangap' akan jadi wallpaper di tablet resepsionis rumah sakitmu." ucap Permadi sambil menikmati kopinya.