Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pembantaian
Teriakan itu seketika membuat aula meledak dalam kegaduhan. Xuan Yao bangkit dari singgasananya, wajahnya menegang.
Runtuhnya Gerbang Timur berarti pertahanan utama mereka telah ditembus.
Di luar, malam yang seharusnya sunyi berubah menjadi lautan api dan darah. Pasukan Paviliun Darah menyerbu masuk ke dalam markas Paviliun Senyap seperti badai merah yang tak terbendung.
Mereka mengenakan jubah merah gelap yang berkibar liar, wajahnya tertutup topeng besi, dan mata mereka kosong—seolah-olah mereka telah kehilangan emosi manusiawi dan hanya menyisakan naluri untuk membunuh.
Teknik berdarah dilepaskan tanpa ragu, mengubah udara menjadi lembap oleh partikel energi merah. Ledakan energi beruntun menghantam formasi pertahanan yang tersisa, menciptakan dentuman yang menggetarkan fondasi tanah lembah.
Jeritan para murid yang terdesak bercampur dengan raungan senjata yang saling beradu.
"Mereka membawa formasi pembantai!" teriak seorang murid Paviliun Senyap yang berlumuran darah, suaranya melengking karena ketakutan.
"Jangan biarkan mereka mengunci formasi! Jika mereka berhasil, kita semua akan terkunci di dalam perangkap energi ini!"
Pertempuran pecah di setiap sudut paviliun. Langit di atas Lembah Awan Retak kini dipenuhi oleh kilatan energi hijau dan merah yang saling beradu, menciptakan cahaya yang menyilaukan di tengah malam yang gelap.
Tanah mulai retak, bangunan-bangunan batu yang kokoh runtuh dan menimpa siapa pun yang berada di bawahnya.
Di tengah kekacauan itu, muncul lima sosok berjubah merah gelap yang melayang dengan kecepatan tinggi. Aura mereka jauh melampaui prajurit biasa, itu adalah aura para Pembunuh Inti Paviliun Darah.
Kultivasi mereka stabil berada di antara Pembentuk Inti tahap menengah hingga puncak, sebuah tingkat kekuatan yang seharusnya cukup untuk meratakan paviliun menengah sendirian.
Salah satu dari mereka mendarat di atas puing-puing bangunan, tersenyum dingin di balik topengnya.
"Paviliun Senyap sudah terlalu lama berdiri di wilayah ini. Sudah waktunya diratakan agar tanah ini bisa kembali bersih."
Kelima pembunuh itu bergerak bersamaan, sebuah sinkronisasi yang menakutkan. Dalam hitungan napas, tiga tetua Paviliun Senyap yang mencoba menghadang mereka terdesak mundur.
Tekanan kultivasi yang dilepaskan para pembunuh itu menghancurkan formasi pertahanan dalam satu hentakan telapak tangan. Darah kembali tumpah, mewarnai batu-batu paviliun menjadi merah pekat.
Di tempat lain, jauh dari pusat pertempuran yang membara, Ye Chenxu duduk bersila di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi.
Formasi penyamaran berlapis-lapis melindunginya, menyembunyikan auranya dari segala bentuk pelacakan. Qi di sekitarnya berputar perlahan, ditarik masuk ke dalam intinya yang kini telah stabil sebagai Pembentuk Inti tahap awal.
Napasnya teratur, dalam, dan lambat. Di dalam lautan kesadarannya, roh Dewa Kehampaan berdiam dalam keheningan yang dalam, seolah sedang mengamati sesuatu dari jauh.
Namun malam ini, ketenangan itu terusik. Roh itu bergetar, dan suara samar yang purba bergema di benak Chenxu.
"Darah ... kebencian ... kehancuran ... mereka telah membuka gerbangnya ..."
Chenxu membuka mata secara perlahan. Alisnya berkerut ketika merasakan sesuatu yang salah, sesuatu yang fundamental telah berubah di luar sana.
Detak jantungnya yang tadinya tenang tiba-tiba terasa berat, seolah dipukul oleh palu godam. Insting bertahan hidupnya menjerit, memintanya untuk segera pergi, namun nuraninya berteriak untuk membantu.
Ia berdiri, merasakan fluktuasi energi besar yang merambat melalui dinding batu ruang bawah tanah. Ledakan-ledakan Qi terasa seperti palu yang menghantam dadanya.
"Ini bukan sekadar konflik biasa," bisiknya pada diri sendiri. Ia tahu, jika tetap berdiam diri di sini, ia mungkin akan selamat, namun ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Chenxu berlari menembus lorong bawah tanah dengan kecepatan penuh. Saat keluar dari pintu rahasia di balik air terjun buatan, pemandangan di hadapannya membuat napasnya tercekat.
Api membakar sebagian besar paviliun, melahap perpustakaan kuno dan menara pengintai. Mayat bergelimpangan di mana-mana, dan energi berdarah menodai udara hingga ia bisa merasakan rasa logam di lidahnya.
Pemuda itu melihat murid-murid Paviliun Senyap bertarung mati-matian, beberapa bahkan meledakkan inti Qi mereka sendiri hanya untuk menahan musuh selama beberapa detik.
Ye Chenxu menggertakkan gigi, kemarahan yang panas dan dingin bercampur di dadanya.
"Kalau aku mundur sekarang, semua orang yang melindungiku akan mati. Jika aku pergi, Paviliun Senyap akan habis dalam hitungan menit," pikirnya.
Namun, ia juga sadar akan kenyataan pahit: dengan kekuatannya saat ini, ia belum pantas menghadapi para elit Paviliun Darah secara terbuka.
Di saat keraguannya memuncak, ia melihat seorang murid perempuan, yang sepertinya adalah adik seperguruan yang pernah memberinya makan, terpojok dan terluka parah.
Seorang pembunuh berjubah merah hendak menghunuskan pedang ke arah jantungnya.
Refleksnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Chenxu melesat, memotong udara dengan kecepatan yang membuat bayangannya tertinggal.
Satu tebasan energi kehampaan yang samar, dilepaskan tanpa teknik yang rumit, hanya pancaran naluri murni.
Blar!
Serangan itu menghantam sang pembunuh Paviliun Darah, membuatnya terpental ke belakang dan menghantam dinding batu hingga hancur. Pembunuh itu menatap Chenxu dengan mata yang membelalak terkejut.
"Aura ini ...? Aura macam apa ini?" sang pembunuh menatap Chenxu dengan intensitas yang mengerikan. "Siapa kau sebenarnya?"
Ye Chenxu tidak menjawab. Ia menarik murid perempuan yang terluka itu, lalu melompat mundur ke balik bayang-bayang pilar. Dadanya naik turun dengan liar. Untuk sesaat, roh Dewa Kehampaan di dalam dirinya berdenyut kuat, seolah hendak mengambil alih tubuhnya.
Suara roh itu bergema pelan di kepalanya, "Belum waktunya ... jika kau melepaskan segel itu sekarang, kau akan binasa bersama mereka."
Di sisi lain medan tempur, seorang pria berjubah merah dengan topeng tulang yang menyeramkan berdiri di atas menara yang sudah runtuh.
Dialah Darah Ketujuh, salah satu komandan tertinggi Paviliun Darah yang ditakuti karena kekejamannya. Ia memandang kehancuran di bawahnya dengan mata yang datar, seolah-olah sedang melihat pertunjukan teater.
"Target utama belum muncul," gumamnya, suaranya terdengar seperti gesekan dua benda tajam.
Seorang bawahan bersujud di dekat kakinya, tubuhnya gemetar ketakutan. "Kami mendeteksi fluktuasi energi yang sangat aneh di dalam paviliun, Tuan."
Senyum tipis dan menyeramkan terbit di balik topeng tulang tersebut.
"Bagus ... berarti dia benar-benar ada di sini. Terus tekan mereka. Hancurkan pertahanannya sampai ke akar-akarnya. Buat mereka putus asa. Saat mereka tidak punya pilihan lain, umpan ini akan memancing ikan besar keluar ke permukaan."
Di tengah api dan darah yang terus berkobar, Chenxu berdiri terpaku di balik pilar yang retak. Ia sadar sepenuhnya sekarang, serangan ini bukan sekadar konflik antar paviliun untuk wilayah atau kristal.
Tetapi ada tujuan tersembunyi, ada jebakan yang dirancang khusus untuk memaksanya muncul.
Entah mengapa, setiap serat di tubuhnya memberitahunya bahwa ia adalah sasaran utama, pion yang sedang dipancing ke dalam perangkap besar. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya menembus kulit.
"Kalau mereka memang mengincarku ..." bisiknya pada kegelapan malam, "maka aku tidak bisa terus bersembunyi. Aku akan menjadi api yang membakar kalian semua."
Di kejauhan, langit malam yang tadinya kelabu kini berubah warna menjadi merah darah yang menyala, seolah langit sendiri sedang meneteskan air mata darah.
Pertanda bahwa malam ini adalah awal dari pembantaian besar, sebuah malam di mana nasib seorang pemuda dan masa depan Paviliun Senyap akan ditentukan dalam lautan api yang tak akan pernah bisa dipadamkan.
Chenxu menarik napas dalam, memusatkan sisa energi di intinya, dan bersiap untuk melangkah keluar dari balik tirai senyap, menuju kematian atau takdir yang jauh lebih besar.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya