NovelToon NovelToon
Married To My Enemy

Married To My Enemy

Status: tamat
Genre:Menikah dengan Musuhku / Enemy to Lovers / Cintapertama / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.

Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.

Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.

୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Backstreet

"Rasanya kayak habis ditabrak truk," keluh Riggs. Suaranya memenuhi kamar rumah sakit.

Stella langsung menegang dan bangkit dari kursinya. Sejak tadi dia duduk di samping ranjang Riggs. Mendengar gumaman itu, dia tahu Riggs akhirnya kembali sadar sepenuhnya.

"Bukan truk, cuma orang idiot!"

Mata Riggs terbuka perlahan. "Stella? Kenapa lo kelihatan kayak lagi lihat orang mati?" Matanya melebar. "Sial, gue mati ya?"

Sudut bibir Stella terangkat tipis. "Nggak. Tapi lo lagi dibius. Lo dapat jahitan di punggung dan pinggang, dan dokter bilang lo kena gegar otak."

Bibir Riggs bergerak kaku. "Pantes kepala gue kayak agak aneh."

Senyumnya memudar. "Dia nyiksa lo."

Riggs mengernyit menatapnya.

"Lo ingat apa yang terjadi?" jari-jari Stella menyentuh tangan Riggs dengan hati-hati, memastikan tidak mengganggu selang infus.

"Gue ... ingat lagi di rumah. Lampu ... nyala. Di kamar gue."

Stella menunggu. Dia bisa melihat Riggs berusaha merapikan ingatannya.

"Gue masuk ... terus ada yang mukul gue dari belakang." Tangan kirinya terangkat, mau menyentuh luka, lalu berhenti. "Kayaknya dia nusuk gue."

Hati Stella seperti diremas.

"Satu," suara Riggs makin pelan. "Dua ...."

Kening Stella berkerut. "Riggs. Lo lagi ngapain?"

Tatapannya mengunci wajah Stella. Kebingungan di matanya perlahan memudar. "Kayaknya bajingan itu ngitung waktu nusuk gue."

Stella menarik napas dalam. "Lo lihat mukanya?"

Polisi sudah datang dua kali dan terus menanyakan itu.

Riggs menggeleng. "Dia pakai masker. Gue enggak lihat apa-apa."

Jantung Stella berdetak makin cepat.

"Polisi ... belum nangkep dia?"

Kini Stella yang menggeleng. "Belum. Dia udah kabur sebelum polisi sampai."

"Anjing." Mesin di sekeliling Riggs mulai berbunyi lebih cepat saat dia berusaha bangkit.

Stella langsung menekan bahunya. "Berhenti! Lo bisa tambah parah!"

"Dia udah nyakitin gue! Orang sinting!" Napasnya terengah. "Tapi gue juga nyerang dia." Matanya berkilat. "Gue nusuk dia balik."

"Gue minta maaf," kata Stella pelan. Permintaan maaf itu lepas begitu saja.

Garis di antara alis Riggs makin dalam.

"Dia ngejar lo gara-gara gue."

Dan kalau Riggs sampai terbunuh ... tidak.

Stella tidak mau memikirkan itu.

Napas Riggs naik turun tidak teratur.

Terdengar ketukan cepat di pintu. Bahu Stella langsung menegang saat dia menoleh.

Pintu terbuka dan Kayson masuk. Begitu melihat Riggs sudah sadar dan berusaha duduk, senyum lebar muncul di wajahnya.

Dalam sekejap, Kayson sudah berada di sisi ranjang. Dia membungkuk dan memeluk adiknya. "Lo bikin gue khawatir."

Riggs berusaha membalas pelukan itu. Selang infus membatasi geraknya.

Tenggorokan Stella terasa sesak. Dia hampir bisa merasakan kasih sayang di antara dua pria itu. Mereka memang sering bertengkar. Saudara memang begitu. Keluarga juga. Tapi Stella tidak pernah meragukan ikatan antara Kayson dan Riggs. Dan saat dia memandangi mereka, melihat rambut gelap mereka dan kemiripan wajah keduanya ... Dia menyadari sesuatu. Dua pria itu adalah pria-pria yang dia cintai.

Riggs. Stella mencintai Riggs sebagai sahabat terbaiknya. Bersamanya, dia bisa jadi konyol, bisa gila, atau apa pun tanpa takut dihakimi. Tidak pernah ada tekanan.

Tapi Kayson berbeda. Dan meski dia sudah berusaha melawan perasaan itu, berusaha menyangkalnya selama bertahun-tahun, cinta itu tetap ada.

Semua bermula saat dia berusia lima belas tahun, ketika Kayson menciumnya di bawah hujan. Berlanjut ketika Kayson menggenggam tangannya di pemakaman Mamanya. Ketika Kayson berdiri, bertepuk tangan paling keras, bersiul nyaring, dan meneriakkan namanya dengan bangga saat kelulusannya.

Kayson sering menggodanya, memancing emosinya, bahkan menyakitinya. Tapi mereka selalu kembali satu sama lain.

Kayson selalu ada untuknya. Dan jauh di dalam hatinya, dia tahu Kayson akan selalu ada.

Stella bisa mengandalkan pria itu. Dan apa yang dia rasakan bukan sesuatu yang main-main.

Perasaan itu menakutkan, melelahkan, dan terasa begitu besar. Stella ingin menyangkalnya, tapi tidak bisa.

Stella hanya bisa mematung ketika menyadari bahwa dia tidak sekadar menyukai Kayson Sheridan.

Dia jatuh cinta pada Kayson. Dan mungkin, dia sudah jatuh cinta sejak usia lima belas tahun.

"Stella?" Kayson mengerutkan kening padanya. Dia berpindah ke sisi lain ranjang, tepat berhadapan dengannya. "Lo enggak apa-apa?"

"Gue baik-baik aja."

Stella harus bisa mengendalikan diri. Sekarang yang terpenting Riggs. Jadi tatapannya kembali ke pria itu.

Dan dia mendapati Riggs sedang menatapnya. Dan sial, kerut di wajahnya sangat mirip dengan milik kakaknya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Riggs. Tatapannya berpindah dari Stella ke Kayson.

 " Bro?" Riggs berdeham. "Cowok itu ... gue ingat dia sempat nanya sesuatu ... soal lo. Soal Stella ...."

Bahu Kayson langsung menegang. "Dia nyerang lo karena dia pikir lo terlibat sama Stella. Mungkin itu yang Igor bilang ke dia."

Mungkin saja bajingan itu menyiksa Igor sampai dia menyebutkan satu nama, nama-nama pria yang terlibat dengan Stella. Igor pernah bilang dia curiga hubungan mereka lebih dari sekadar teman.

Stella mengembuskan napas pelan.

“Dia salah sasaran. Dia nyerang orang yang salah,” kata Kayson tegas.

Hening.

“Bisa lo ulangi lagi omongan lo barusan?” tuntut Riggs. Suaranya lebih kasar dari sebelumnya.

Kayson menarik napas panjang. “Dia nyerang orang yang salah.”

Tatapan Riggs beralih ke Stella. Stella tidak memerah. Tidak menghindar. Dia menatap balik dengan mantap.

Bukan begini caranya Stella ingin memberi tahu Riggs. Dia jauh lebih ingin sahabatnya itu tidak terbaring di ranjang rumah sakit, memulihkan diri dari luka tusuk dan gegar otak. Hidungnya juga patah, sepertinya Riggs belum sadar kalau hidungnya masih diperban.

Stella tidak berniat memberi tahu kabar itu sekarang. Riggs selalu sedikit bangga dengan hidungnya yang mancung sempurna itu. Hidung Kayson pernah patah saat pertandingan basket. Ada sedikit tonjolan kecil di batangnya. Stella tidak pernah bilang pada Kayson kalau dia menyukai tonjolan kecil itu.

“Stella, lo tidur sama kakak gue?”

Riggs tampak ... terluka. Dan itu menyakitinya. Stella tidak bermaksud untuk menyakiti Riggs.

“Iya.”

“Sial.” Kini ada amarah dalam suara Riggs. “Sejak kapan?”

Tatapannya beralih ke Kayson. “Kalian berdua bohongin gue? Ngeumpetin hal kayak gini? Udah lama, kan? Dan gue cuma jadi orang bego yang gak tahu apa-apa? Gue ini—”

“Kita belum lama, baru aja,” potong Stella. “Dan lo bukan orang bego. Lo sahabat gue.”

Tatapan Riggs kembali padanya. “Sahabat gak nyimpen rahasia.”

Stella tetap tenang. “Gue minta maaf lo terluka gara-gara bajingan itu. Gue sedih banget. Gue gak pernah, sama sekali gak pernah, pingin lo kenapa-kenapa.”

Riggs menggeram.

“Tapi kenapa harus Kayson?”

Kepala Kayson langsung menoleh ke arahnya. “Gue udah lama suka dia. Dan kita sama-sama suka.”

Riggs menggeleng. “Ada batas yang gak boleh lo lewatin.”

Dada Stella terasa sesak lagi. Riggs menatapnya dengan marah dan sakit hati, dan dia lah yang menyebabkan itu.

Stella tahu Riggs tidak akan suka kalau dia tidur dengan kakaknya. Tapi meski tahu risikonya, meski takut pada reaksi Riggs. Dia tetap saja memilih Kayson. Dia menginginkan Kayson.

“Gue yang lewatin batasnya. Gue yang milih!” sanggah Stella.

Itu tanggung jawabnya. Pilihannya. Tapi tetap saja sakit. Sakit sekali saat Riggs menatapnya seperti itu.

“Jangan marah sama Stella,” balas Kayson. “Gue yang ngejar-ngejar dia. Gue udah suka dia bertahun-tahun. Gue mau dia dan gue—”

“Kasih kami waktu berdua, Stella!” Mesin-mesin di ruangan itu terus berbunyi. Tatapan Riggs menjauh dari Stella. “Gue mau ngomong sama kakak gue.”

Tatapan Stella langsung beralih ke Kayson.

“Gue mau ngomong sama kakak gue,” ulang Riggs.

Bunyi mesin terdengar makin keras.

Seakan menjawab ketegangan itu, seorang perawat masuk dengan tergesa.

“Anda sudah sadar!” Perawat itu cantik, berkulit cokelat lembut seperti kopi susu dan berambut hitam legam. Dengan gerakan cepat dan cekatan, dia mulai memeriksa tanda-tanda vital Riggs.

Stella mundur. Otot di rahang Riggs menegang. Tangannya terangkat menyentuh wajahnya, dan akhirnya Riggs menyadari ....

“Sial! Bajingan itu bikin hidung gue patah!”

Stella meringis.

Perawat itu berdecak pelan. “Anda tidak boleh emosi. Anda baru saja melalui kejadian berat dan perlu istirahat.” Tatapannya beralih ke Stella dan Kayson. “Kalian keluarganya? Saat ini hanya keluarga yang boleh di sini.”

“Mereka keluarga,” potong Riggs.

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menancap di dada Stella. Dia mundur selangkah lagi. “Gue minta maaf lo sampai terluka. Karena orang itu ... dan karena gue. Gue benar-benar minta maaf.”

Stella berbalik dan melangkah pergi.

Sebelum sempat mencapai pintu, Kayson sudah berdiri di sana, menghalangi jalannya. Mata gelapnya menatapnya tajam.

Tatapan itu makin dalam ketika Stella harus berkedip cepat untuk menahan air mata.

“Stella?”

Stella menggeleng. “Dia mau ngomong sama lo. Gue tunggu di luar.”

Stella harus keluar dari ruangan itu sekarang juga.

“Joel ada di luar. Gue bakal suruh satu agen buat jaga Riggs,” kata Kayson. Dia masih belum menyingkir. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh.

Karena Kayson tidak bergerak, Stella menyelinap melewatinya. Dia memastikan bahunya tetap tegak dan kepalanya terangkat. Air mata pertama baru jatuh saat pintu kamar rumah sakit tertutup.

“Stella!” Suara Joel terdengar cemas. “Ada apa? Riggs baik-baik saja?”

Tidak.

Riggs tidak baik-baik saja. Dan sepertinya tidak akan baik-baik saja dalam waktu dekat.

Stella menelan ludah. Dia berpaling dari Joel agar pria itu tidak melihat air matanya.

1
Rita
like seru tegang
DityaR: Maacii kak
total 1 replies
Rita
bagus biarpun awal2 bingung ma obrolan nya ceritanya seru tebak2an siapa penjahaty semangat terus
Rita
sdh g sabar nervous
Rita
hhhmmmmmmm👀
Rita
😂😂😂😂saking kuaty
Rita
tegang,trauma,kecewa,sedih takut jadi satu kmu sdh bener
Rita
buruan mumpung lengah
Rita
seru g diduga
Rita
nah lho👀👀👀👀
Rita
😂😂😂😂
Rita
ini diluar pengamanan 🥰🥰🥰
Rita
👍👍👍👍👍👍bener
Rita
Mudah2n beneran selesai
DityaR: pembunuhnya aja belum ketemu, selesai gimana wkwkwk
total 1 replies
Rita
akhirnya
Rita
bikin deg2an Kayson
Rita
nikahin lah
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhmmm bnr2 sdh selesai blm?
Rita
🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!