Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kolam Sumsum Darah dan Sisa Jiwa
Gerbang batu di ujung lorong itu bergeser terbuka dengan suara gemuruh yang menggetarkan dada.
Di balik gerbang, terhampar sebuah gua bawah tanah yang sangat luas. Dinding-dindingnya ditutupi oleh kristal merah darah yang memancarkan cahaya temaram. Di langit-langit gua, batu-batu runcing meneteskan cairan merah kental yang jatuh dengan irama pelan.
Tes... Tes...
Tetesan itu jatuh ke dalam sebuah kolam melingkar berdiameter sepuluh meter yang berada tepat di tengah gua. Cairan di dalam kolam itu mendidih pelan, mengeluarkan gelembung-gelembung yang pecah menjadi kabut merah beraroma amis namun dipenuhi energi spiritual kehidupan yang sangat padat.
"Kolam Sumsum Darah," bisik Bai Qing'er. Matanya yang biasa tenang kini memancarkan kilau ketamakan yang jarang terlihat.
Di tengah kolam tersebut, mengapung sebuah bunga teratai yang terbuat dari tulang putih murni. Di atas kelopak teratai itu, tergeletak sebuah kotak giok hitam yang disegel dengan rantai Qi Yin.
"Kotak giok itu berisi Sutra Iblis Bunga Darah yang asli. Itulah tujuanku," kata Bai Qing'er, melangkah maju. "Kolamnya milikmu. Berendamlah di sana, dan retakan di fondasimu akan pulih sepenuhnya."
Lin Xuan tidak langsung bergerak. Ia berdiri di ambang gerbang, matanya yang sedingin es menyapu seluruh penjuru gua.
"Terlalu tenang," batin Lin Xuan.
"Mundur, Lin Xuan!" teriakan Gu Tianxie tiba-tiba meledak di dalam kepalanya. "Cairan di kolam itu bukan hanya Sumsum Darah. Itu adalah Formasi Pengumpulan Jiwa! Ada yang tidur di dasar kolam itu!"
Tepat saat peringatan Gu bergema, Bai Qing'er baru saja menginjakkan kakinya di tepian kolam.
BLUUB!
Kolam yang tadinya mendidih pelan tiba-tiba bergolak hebat. Permukaan cairan darah itu naik, membentuk pusaran air yang ganas. Dari pusat pusaran, sebuah pilar darah melesat ke udara dan memadat membentuk sesosok wajah raksasa yang mengerikan.
Wajah itu tidak memiliki kulit, hanya otot dan tulang yang tersusun dari Qi Darah. Sepasang mata berwarna hijau hantu menatap tajam ke arah dua penyusup muda di bawahnya.
"Setelah tiga ribu tahun... akhirnya ada darah segar yang datang mengantar nyawa!" Wajah raksasa itu tertawa. Suaranya bergema menembus tulang, membuat darah di dalam tubuh terasa ingin meledak keluar.
Bai Qing'er mundur beberapa langkah dengan cepat, tangannya langsung menyebar delapan Bendera Formasi ke udara. "Sisa Jiwa Patriark Seribu Tulang! Dia belum sepenuhnya mati!"
Sisa Jiwa (Remnant Soul) adalah bentuk pertahanan terakhir kultivator tingkat tinggi. Ketika tubuh fisik mereka hancur, jiwa mereka yang kuat bisa bertahan di dalam artefak atau formasi khusus, menunggu wadah baru untuk direbut.
Mata hijau hantu Patriark itu menatap Bai Qing'er, lalu beralih ke Lin Xuan.
Seketika, tawa Patriark itu berhenti, digantikan oleh keterkejutan dan ekstasi yang luar biasa.
"Tubuh yang sekeras besi hitam... Qi Darah yang begitu pekat dan buas... Fondasi sembilan pilar yang sempurna!" Wajah raksasa itu menukik turun, menatap Lin Xuan seolah melihat harta karun terhebat di dunia. "Langit tidak buta! Langit mengirimkan wadah fisik yang bahkan lebih sempurna dari tubuh asliku!"
Patriark Seribu Tulang tidak mempedulikan Bai Qing'er. Baginya, tubuh Lin Xuan adalah kunci untuk bangkit kembali dan menguasai dunia.
Rantai-rantai yang terbuat dari cairan darah melesat keluar dari kolam, meluncur bagaikan ratusan ular berbisa ke arah Lin Xuan.
"Tahan dia! Jika dia berhasil merebut tubuhku, kau tidak akan pernah mendapatkan kotak giok itu!" teriak Lin Xuan kepada Bai Qing'er. Ia mencabut pedang besinya dengan tangan kiri, mengayunkannya untuk memotong rantai-rantai darah yang mendekat.
Sring! Sring!
Meski tangan kirinya tidak secepat tangan kanannya, tenaga dari Tulang Asura mampu mematahkan beberapa rantai darah. Namun, rantai itu terbuat dari cairan; begitu dipotong, mereka kembali menyatu dalam hitungan detik.
Bai Qing'er menggigit ujung jarinya hingga berdarah, lalu mengusapkan darahnya ke sebuah cermin perunggu kecil.
"Formasi Penekan Jiwa Enam Kutub!"
Cermin itu memancarkan enam pilar cahaya perak yang menghantam sudut-sudut kolam. Cahaya perak itu membentuk jaring energi yang menekan Wajah Raksasa tersebut, membuat gerakan rantai darahnya melambat.
"Hanya formasi tingkat bumi yang dimainkan oleh bocah Foundation Establishment? Jangan bermimpi menahanku!" raung Patriark Seribu Tulang.
Gelombang Niat Membunuh yang berasal dari ribuan tahun pembantaian meledak dari kolam, langsung menghancurkan tiga dari enam pilar cahaya milik Bai Qing'er. Wanita itu memuntahkan seteguk darah segar, wajahnya pucat pasi menahan tekanan batin yang luar biasa.
"Mu Chen! Aku tidak bisa menahannya lama!" teriak Bai Qing'er.
Satu rantai darah berhasil menembus pertahanan pedang Lin Xuan, melilit pergelangan kaki kirinya. Rasa dingin yang membekukan jiwa langsung merambat naik.
"Wadah yang sempurna... JADILAH MILIKKU!"
Wajah raksasa dari Qi Darah itu hancur menjadi kabut merah tebal, lalu melesat dengan kecepatan kilat, menyusup masuk melalui pori-pori dan lubang pernapasan Lin Xuan.
Lin Xuan mematung seketika. Pedangnya jatuh berdenting ke lantai batu. Matanya membelalak, pupil hitamnya perlahan mulai tergantikan oleh warna hijau hantu.
"Sial!" Bai Qing'er mengutuk pelan. Jika Sisa Jiwa itu berhasil menguasai Lautan Kesadaran (Sea of Consciousness) pemuda itu, ia akan menghadapi monster kuno yang memiliki fisik tak tertembus.
Di dalam Lautan Kesadaran Lin Xuan.
Ini adalah ruang mental di mana jiwa seseorang bersemayam. Ruang milik Lin Xuan tampak seperti lautan darah yang tenang dengan langit yang kelam cerminan dari jalan kultivasi dan traumanya.
Sisa Jiwa Patriark Seribu Tulang masuk ke dalam ruang itu dalam wujud seorang pria tua berjubah merah. Ia tertawa penuh kemenangan.
"Lautan kesadaran yang sangat luas untuk ukuran Foundation Establishment! Mulai sekarang, tubuh ini, ingatan ini, dan takdir ini adalah milik... eh?"
Tawa Patriark itu terhenti.
Di tengah lautan darah mental Lin Xuan, ia tidak menemukan jiwa seorang pemuda yang ketakutan.
Sebaliknya, ia melihat sebuah Cincin Hitam raksasa yang mengambang di langit-langit mental. Dan di atas cincin itu, duduk sesosok bayangan yang auranya lebih kuno, lebih jahat, dan lebih mengerikan daripada dirinya.
Gu Tianxie menatap ke bawah. Mata merahnya memancarkan kekejaman seorang Kaisar yang melihat seekor cacing tanah mencoba merayap ke singgasananya.
"Kau... merebut wadah... yang salah," suara Lin Xuan bergema dari segala penjuru Lautan Kesadaran.
Di dunia nyata, Cincin Samsara Darah di jari Lin Xuan meledak dengan cahaya merah yang menyilaukan.
Di dalam Lautan Kesadaran, Gu Tianxie mengangkat tangannya. Lautan darah mental Lin Xuan bergolak, membentuk puluhan tangan raksasa yang langsung mencengkeram jiwa Patriark Seribu Tulang.
"T-Tunggu! Energi macam apa ini?! Siapa kau sebenarnya?!" Patriark itu menjerit panik. Kesombongannya hancur lebur. Ia mencoba meledakkan jiwanya untuk melarikan diri, namun ruang mental itu telah dikunci mati oleh cincin Lin Xuan.
"Aku adalah leluhur dari segala iblis di bawah langit," seringai Gu Tianxie. "Dan kau hanyalah pil penambah darah bagiku dan inangku."
KRAAAK!
Tangan-tangan mental itu merobek Sisa Jiwa Patriark menjadi cabikan-cabikan energi murni. Cincin Samsara Darah menyedot habis serpihan jiwa tersebut dengan rakus.
Di dunia nyata, tubuh Lin Xuan tersentak ke belakang. Warna hijau hantu di matanya hancur, kembali menjadi hitam pekat yang dingin.
Ia memuntahkan seteguk darah hitam berbau busuk sisa-sisa kotoran dari jiwa Patriark yang ditolak oleh tubuhnya.
Bai Qing'er, yang tadinya sudah bersiap untuk kabur, menatap Lin Xuan dengan mata membelalak tak percaya.
"Kau... menelan Sisa Jiwa seorang ahli kuno?!" suara Bai Qing'er kehilangan ketenangannya untuk pertama kali. Di dunia kultivasi, melawan perebutan tubuh sudah merupakan keajaiban, apalagi menelan jiwa penyerangnya tanpa sisa.
Lin Xuan menyeka darah dari bibirnya. Ia merasakan energi Qi murni yang membanjiri Dantian nya. Energi dari jiwa Patriark itu sebagian besar ditelan oleh Gu Tianxie untuk memulihkan sedikit kekuatannya, namun sisa yang diberikan kepada Lin Xuan sudah cukup untuk membuat sembilan pilar di Dantian nya bergetar hebat.
"Kolamnya sudah aman," kata Lin Xuan datar, seolah ia baru saja membunuh seekor nyamuk.
Tanpa mempedulikan tatapan horor Bai Qing'er, Lin Xuan melangkah maju dan menjatuhkan dirinya ke dalam Kolam Sumsum Darah yang mendidih.
PSSSHHH!
Rasa sakit yang gila langsung menyengat seluruh tubuhnya. Cairan merah kental itu terasa seperti jutaan jarum tajam yang berusaha menembus kulit, menyusup ke dalam otot, dan merajut ulang tulang-tulangnya.
"Fokus, Lin Xuan!" perintah Gu Tianxie, yang kini terdengar lebih kuat setelah memakan jiwa tadi. "Gunakan Sumsum Darah ini untuk memadatkan Tulang Besi Hitam mu ke tahap puncak! Dan biarkan energi ini mengalir ke Dantian mu untuk menutup retakan pilar!"
Lin Xuan duduk bersila di tengah kolam, hanya menyisakan kepala dan bahunya di atas permukaan cairan. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuh Asura nya melahap energi kehidupan kuno tersebut.
Sementara itu, Bai Qing'er perlahan mendekati tepian kolam. Ia melirik Lin Xuan yang sedang bermeditasi dalam penderitaan. Pemuda ini adalah anomali mutlak. Semakin lama Bai Qing'er melihatnya, semakin ia menyadari bahwa Mu Chen bukanlah pion yang bisa dikendalikan.
Namun, fokusnya beralih ke bunga teratai tulang di tengah kolam.
Dengan gerakan ringan, ia melompat ke atas kelopak teratai itu, mengambil kotak giok hitam, dan menyimpannya ke dalam Cincin Penyimpanannya. Matanya memancarkan kepuasan. Sutra Iblis Bunga Darah akhirnya kembali padanya.
Bai Qing'er kembali mendarat di tepian kolam. Ia berdiri dalam diam, menatap wajah Lin Xuan yang mengeras menahan sakit.
Tangannya diam-diam merogoh lengan bajunya, menyentuh sebilah belati beracun. Pemuda di depannya ini sedang berada di titik paling rentan. Jika ia membunuhnya sekarang, tidak akan ada yang tahu. Hantu Malam akan mati, dan rahasia Makam Darah Abadi akan menjadi miliknya seorang.
Niat Membunuh melintas sesaat di mata bulan sabitnya.
Namun, di tengah kolam darah yang mendidih itu, tanpa membuka matanya, bibir pucat Lin Xuan bergerak pelan.
"Langkahmu terlalu berat, Bai Qing'er. Niat membunuhmu membuat cairan di kolam ini beriak."
Bai Qing'er membeku. Tangan yang memegang belati terhenti di dalam lengan bajunya.
Lin Xuan perlahan membuka kelopak matanya. Mata hitam itu menatap lurus ke arah Bai Qing'er, tanpa ada sedikit pun rasa takut.
"Jika kau ingin menusukkan belati itu," tantang Lin Xuan dengan suara pelan namun menggema di seluruh gua. "Pastikan kau membidik jantungku. Karena jika aku masih hidup sedetik setelahnya, aku akan menenggelamkanmu di kolam ini dan menjadikan tulangmu sebagai hiasan."
Bai Qing'er menatapnya sejenak. Niat membunuh di udara tiba-tiba memudar, digantikan oleh tawa lembut yang menggoda. Ia melepaskan genggamannya pada belati.
"Kau benar-benar tidak tahu cara menerima lelucon wanita, Mu Chen," Bai Qing'er tersenyum manis di balik cadarnya. "Aku hanya menjaga agar tidak ada lalat yang mengganggumu. Selesaikan mandimu. Aku akan berjaga di pintu."
Wanita berjubah hitam itu berbalik dan berjalan menuju ambang gerbang. Di dalam hatinya, ia tersenyum sinis. Membunuh monster ini sekarang terlalu berisiko, apalagi dengan misteri di dalam Lautan Kesadarannya tadi.
Biarkan dia tumbuh, batin Bai Qing'er. Mata pisau yang paling tajam adalah mata pisau yang paling berguna jika kau tahu cara menggenggam gagangnya.
Di tengah kolam, Lin Xuan kembali menutup matanya. Ia tidak pernah mempercayai wanita itu sedetik pun. Tapi untuk saat ini, fondasi adalah segalanya.
Di dasar Dantian nya, sembilan pilar hitam mulai menyerap Sumsum Darah dengan rakus. Cahaya merah pekat menyelimuti retakan-retakan halus di dasar pilar. Namun, di bawah pengawasan Gu Tianxie, retakan itu tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya tertutup oleh lapisan energi, menunggu waktu yang tepat untuk retak kembali dan menghancurkan inangnya dari dalam.
Penyempurnaan berdarah di Makam Darah Abadi terus berlanjut hingga fajar menyingsing di atas dunia fana.