Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sunyi turun di antara mereka, dimana angin seolah berhenti berhembus. Axlyn menggenggam ujung cardigan-nya dengan cemas. “Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan sekarang.”
Spencer menghela napas, ia tahu Axlyn pasti tidak akan langsung mengakuinya. “Aku dulu memang musuhnya. Tapi sekarang aku orang yang paling mengerti bagaimana dia hancur saat kamu menghilang setelah malam pertemuan kalian kembali di Praha.” Tatapannya melunak, tapi tetap tegas. “Dan aku juga tahu… tentang kehamilanmu.”
Refleks, tangan Axlyn kembali menutup perutnya seakan berusaha melindungi kedua anaknya dari niat buruk Spencer. Raut wajahnya sudah semakin ketakutan dan tegang. Apalagi ingatan buruk kekejaman Spencer di masa lalu kembali terlintas dalam ingatannya.
“Bukan hanya hamil,” lanjut Spencer pelan, “kembar. Dua, bukan?”
Warna wajah Axlyn memucat. Bagaimana mungkin Spencer mengetahuinya, padahal malam itu juga ia telah menghapus semua rekaman cctv di pesta itu. Memastikan tidak ada yang mengetahui bahwa wanita yang membawa Kay keluar dari pesta dan bahkan menghabiskan malam panas adalah dirinya.
Bahkan setahu dirinya sampai detik ini Kay maupun keluarga Xavier masih kesulitan menemukan jejak tentang dirinya di sana. Karena itu juga alasan Axlyn menerima tugas sebagai pengawal Hezlyn saat ini.
“Tidak udah takut! Kali ini aku tidak datang untuk mengancammu,” katanya lagi. “Aku hanya ingin memastikan satu hal… kenapa kau tidak memberitahu Kay tentang semua ini?”
“Tidak,” jawab Axlyn akhirnya. Suaranya bergetar, namun ada kekuatan di sana. “Dan dia tidak perlu tahu, karena anak ini hanya milikku. Malam itu adalah sebuah kesalahan yang tidak perlu Kay ingat sama sekali.”
Spencer menatapnya lama. “Kenapa? Dia berhak tahu bahwa dia akan menjadi ayah. Calon anak-anak kalian juga berhak mendapatkan sosok seorang Ayah. Apa alasanmu ingin tetap menyembunyikan semua ini?”
Axlyn menggeleng, air mata menggenang. “Jangan berpura-pura baik denganku sekarang! Kau senang, bukan? Dengan Kay yang tidak mengingat tentang tindakan kejimu di Kota Xennor. Kau ingin aku mengaku bahwa aku adalah wanita yang telah dia lupakan selama lima tahun ini. Wanita yang dua bulan lalu tidur dengannya di Praha. Dan wanita yang kini tengah mengadung anak kembarnya. Lalu setelah itu apa?”
Axlyn tak kuasa lagi menahan semua kegelisahan hatinya selama ini. “Menunut tanggung jawab darinya? Menjadi istri keduanya, begitu?”
“Tidak! Lebih baik aku membesarkan anakku sendirian daripada harus menghancurkan kebahagiaannya saat ini. Aku juga tidak ingin anak sekecil Hezlyn dihadapkan dengan situasi yang membuat orang tuanya berpisah hanya karena diriku,” sambungnya.
“Astaga… jadi yang Nero perkirakan memang benar,” gumam Spencer sembari memijat keningnya yang sedikit terasa pening melihat kesalahpahaman Axlyn. “Kau benar-benar mengira kalau Hezlyn adalah anak kandung, Kay? Apa kau tidak belajar di kejadian masa lalu saat Axel juga memanggilnya dengan sebutan Papah?”
Axlyn mulai menangkap sesuatu, “Apa maksudmu Hezlyn juga….”
“Bukan, Hezlyn bukan adik Kay maupun anak kandungnya,” sela Spencer segera mengklarifikasinya. “Dia adik kandungku. Apa kau tidak melihat kemiripan aku dengannya?”
“Mirip dari mana?” gerutu Axlyn sedikit mendengus. “Hezlyn jelas seperti malaikat yang turun dari surga, sedangkan kau iblis penghuni neraka jahaman.”
“Bwahahaa… Malaikat dan iblis.”
Nero yang berdiri tak jauh dari sana, sontak tak kuasa menahan tawanya mendengar apa yang Axlyn katakan. Ditambah Tuannya bahkan tidak berkutik sama sekali, seolah pernyataan itu tidak terbantahkan.
“Tutup mulutmu, Nero!” sentak Spencer yang seketika membuat Nero kembali terdiam. “Sikapku dulu memang seperti iblis penghuni neraka seperti yang kau katakan. Tetapi tampang dan penampilanku ini selalu seperti malaikat, bukan?”
“Malaikat apanya? Lihat saja, gaya rambutmu itu… sangat menjijikan. Lain kali turunkan saja, itu lebih enak di pandang.” Perkataan Axlyn terasa de javu bagi Spencer.
“Sial, kenapa ucapanmu sama persis dengan Kay? Jangan-jangan anak di dalam perutmu itu sudah menaruh dendam padaku ‘yah?” Spencer menunjuk ke arah perut Axlyn dengan wajah tak terima.
“Jangan menunjuk anakku!” Axlyn segera menepis tangan Spencer, lalu beralih memeluk perutnya yang masih rata.
“Sudahlah, kita kembali ke topik pembahasan kita tadi. Keputusan itu bukan hanya milikmu sekarang, Axlyn.” Spencer membalas tenang. “Kamu mungkin ingin melindungi mereka… tapi Kay dan keluarganya juga sedang berusaha untuk menemukan kalian.”
Axlyn tersenyum pahit. “Apa karena anak ini mereka mencariku sekarang?”
“Kay jelas masih mencintaimu. Meski ingatan lima tahun yang lalu belum kembali dan dia bahkan lupa wajahmu malam itu. Tapi percaya ‘lah, Kay maupun keluarga Xavier tidak mencarimu hanya untuk anak itu. Tapi karena takdir yang ingin kembali menyatukan kalian berdua.”
Jantung Axlyn terasa sesak. “Aku ingin ia datang karena mengingatku sebagai Axlyn, bukan sebagai wanita yang menghabiskan malam dengannya di Praha dan kini tak sengaja mengandung anaknya.”
“Dia pasti akan datang,” jawab Spencer pelan. “Cepat atau lambat ingatannya akan kembali. Apalagi dengan dirimu yang kini berada di sisinya.”
"Tapi bukanlah itu sama saja? Wanita yang Kay cintai dan dia lupakan adalah kau. Lalu wanita yang menghabiskan malam di Praha dan mengandung anaknya juga... kau. Kay pasti datang untuk kedua alasan itu." sambungnya.
Mata mereka bertemu dalam ketegangan yang tak terucap.
“Keputusan tetap di tanganmu,” lanjutnya. “Tapi ingat, menyembunyikan kebenaran hanya akan memperpanjang luka untuk kalian berdua.”
“Kau ingin membantuku tetap merahasiakan hal ini?” tanya Axlyn tak percaya. “Sebenarnya apalagi yang kau inginkan dariku?” suara Axlyn bergetar, nyaris tak terdengar. Sebab Axlyn merasa Spencer memiliki maksud tertentu padanya.
Spencer mendongakkan wajahnya, hingga mata mereka kembali bertemu satu sama lain. Namun kini tatapannya tak lagi setajam dulu. Tidak ada bara kebencian di sana. Hanya… penyesalan yang dapat Axlyn lihat dari sorot mata Spencer saat ini.
“Axlyn,” ucap Spencer pelan.
Dan sebelum Axlyn sempat menanggapi, Spencer tiba-tiba berlutut tepat dihadapannya. Suara lututnya menyentuh tanah berbatu terdengar jelas di antara sunyi malam itu. Tindakan yang spontan membuat Axlyn membeku dan percaya dengan apa yang Spencer lakukan saat ini.
“Apa yang kau lakukan…?”
“Aku datang menemuimu sekarang bukan untuk mengulang masa lalu,” katanya, suara berat itu kini dipenuhi sesuatu yang tak pernah Axlyn dengar sebelumnya yaitu rasa bersalah. “Aku datang untuk menebusnya. Dengan tulus aku ingin meminta maaf dan pengampunan darimu atas semua kesalahanku di masa lalu.”
Bersambung ….
Aku masih nungguin loh 🤭☺
Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝
Wah, seru ini 🤭
Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌