NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Detak Jantung di Teras Panti

Hening seketika menyergap atmosfer teras panti asuhan, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling berkejaran di balik kesunyian malam. Bayu bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, beradu dengan degup jantung Nayla yang nampaknya juga sedang sangat terkejut akibat insiden mendadak itu.

Kedekatan fisik yang tidak terduga ini menciptakan sebuah momen yang sangat canggung namun terasa begitu hangat di tengah dinginnya udara malam desa. Bayu terdiam membatu, ia tidak berani bergerak sedikit pun meski posisi mereka saat ini sudah benar-benar aman dari risiko terjatuh ke tanah yang becek.

Aroma sabun cuci piring yang tadi tercium samar di dalam gudang, kini menyeruak lebih nyata karena jarak wajah mereka yang hanya terpaut beberapa inci saja. Bayu merasakan telapak tangannya yang masih melingkar di pinggang Nayla menjadi panas, seolah-olah kulitnya sedang terbakar oleh sentuhan yang tidak sengaja itu.

Nayla pun nampak mematung, jemarinya yang menghitam karena debu gudang masih mencengkeram erat kemeja Bayu di bagian pundak dengan sangat kuat. Ia seolah lupa bagaimana cara melepaskan diri, atau mungkin, rasa terkejutnya telah mengunci seluruh saraf motoriknya untuk tetap berada dalam dekapan pria itu.

"Kamu nggak apa-apa, Nay?" bisik Bayu dengan suara parau yang nyaris menghilang ditelan angin malam yang berembus pelan di antara mereka.

Nayla tersentak sadar, ia segera menjauhkan tubuhnya dengan gerakan yang sedikit terburu-buru hingga hampir saja ia kehilangan keseimbangan untuk kedua kalinya. Bayu dengan sigap menahan lengan wanita itu sebentar sampai ia yakin bahwa tumpuan kaki Nayla sudah benar-benar kokoh di atas semen teras.

"I-iya, aku nggak apa-apa, Bay. Makasih ya, aku tadi beneran nggak liat kalau tanahnya selicin itu karena air talang," jawab Nayla dengan nada bicara yang bergetar.

Ia segera merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan dan menyeka debu imajiner di pakaiannya, mencoba menutupi rona merah yang kini menjalar hingga ke telinganya. Bayu berdeham pelan, ia merasa suasana di teras yang terbuka ini mendadak menjadi lebih pengap daripada udara di dalam gudang yang baru saja mereka bersihkan.

"Lain kali hati-hati, Nay. Tanah di samping teras ini memang agak miring, jadi air gampang menggenang kalau talangnya belum dibetulkan," ujar Bayu sembari menunjuk ke arah genangan air.

Nayla hanya mengangguk cepat tanpa berani menatap mata Bayu, ia lebih memilih untuk menunduk memperhatikan ujung sandalnya yang kini dipenuhi oleh lumpur cokelat. Kecanggungan yang tadi sempat terkikis di dalam gudang kini kembali muncul, namun kali ini dengan intensitas yang jauh lebih manis dan mendalam.

Bayu merasakan telapak tangannya masih sedikit gemetar, sebuah reaksi alami yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya dari penglihatan Nayla yang tajam. Ia menyadari bahwa pelukan singkat tadi telah membangunkan sesuatu yang sudah lama ia kubur dalam-dalam di bawah tumpukan ambisi dan kesibukan dunianya.

"Ya sudah, kamu masuklah. Besok pagi aku bawain pasir sedikit buat tutup tanah yang licin itu supaya nggak ada anak-anak yang terpeleset juga," tambah Bayu.

Nayla mengangkat wajahnya sedikit, memberikan senyuman tipis yang nampak sangat malu-malu namun sarat akan rasa terima kasih yang tulus kepada sahabat lamanya itu. "Makasih ya, Bay. Kamu juga hati-hati pulangnya, jalanan ke rumah Ibu pasti sudah sangat gelap jam segini."

Bayu mengangguk pelan, ia memutar tubuhnya dan mulai melangkah menuju gerbang panti asuhan dengan perasaan yang campur aduk di dalam dadanya yang masih bergemuruh. Ia tidak menoleh lagi, namun ia tahu bahwa Nayla masih berdiri di sana, memperhatikannya sampai ia benar-benar menghilang di balik keremangan jalan desa.

Setiap langkah yang Bayu ambil terasa sangat ringan, seolah-olah gravitasi bumi tidak lagi memiliki kuasa penuh atas tubuhnya yang kini dipenuhi semangat baru. Di dalam benaknya, ia terus mengulang kejadian di teras tadi, merasakan bagaimana kehadiran Nayla benar-benar telah mengubah cara pandangnya terhadap panti asuhan ini.

Ia berjalan di bawah naungan pohon-pohon besar yang berjajar di pinggir jalan, membiarkan angin malam mendinginkan suhu tubuhnya yang masih terasa hangat karena insiden tadi. Bayu merogoh saku celananya, merasakan kunci gudang panti yang beradu dengan kunci motornya, menciptakan denting logam yang terdengar seperti melodi harapan.

"Gue nggak boleh gagal. Gue harus mastiin panti ini tetap berdiri, buat anak-anak ... dan buat dia," tekad Bayu sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku.

Ia sampai di depan rumah ibunya saat waktu sudah hampir mendekati tengah malam, di mana suasana rumah nampak sangat sunyi dengan lampu teras yang sudah dimatikan. Bayu masuk dengan langkah yang sangat pelan agar tidak membangunkan ibunya yang pasti sudah terlelap setelah kelelahan mengurus pekerjaan rumah seharian.

Di dalam kamarnya yang sederhana, Bayu tidak langsung memejamkan mata, ia justru duduk di pinggir tempat tidur sembari menatap telapak tangannya yang masih kotor. Ia tidak ingin mencuci tangan itu sekarang, seolah-olah ia ingin menyimpan sisa-sisa memori tentang kerja bakti dan pelukan singkat di teras panti asuhan semalam mungkin.

Bayu menyadari bahwa keputusannya untuk menetap di desa dan membantu panti asuhan adalah keputusan paling gila namun paling tepat yang pernah ia ambil. Sepuluh tahun di Jakarta, ia memiliki segalanya namun merasa kosong, sementara di sini, ia tidak memiliki apa-apa namun merasa sangat penuh.

"Besok pagi adalah penentuan. Gue harus mulai dengan atap, itu prioritas paling utama sebelum hujan besar datang lagi," gumam Bayu sembari mulai merebahkan tubuhnya.

Pikirannya melayang pada daftar kerusakan yang ia buat di atas kertas catatan bahan makanan, mencoba menyusun strategi perbaikan yang paling efisien dengan alat seadanya. Ia membayangkan dirinya berada di atas atap, bertarung dengan genteng-genteng tua, sementara Nayla mengawasinya dari bawah dengan tatapan penuh doa.

Rasa lelah yang luar biasa akhirnya mulai menyerang pertahanan batinnya, namun Bayu menyambutnya dengan senyuman puas yang jarang sekali menghiasi wajahnya akhir-akhir ini. Ia merasa telah menemukan kembali jati dirinya yang hilang, bukan sebagai direktur properti yang sukses, melainkan sebagai seorang pelindung bagi rumah yang telah membesarkannya.

Di kejauhan, suara kokok ayam jantan pertama mulai terdengar sayup-sayup, menandakan bahwa fajar tidak akan lama lagi akan menyapa bumi desa yang tenang. Bayu memejamkan matanya dengan tenang, membiarkan kegelapan membawanya menuju istirahat singkat sebelum perjuangan besar yang sesungguhnya dimulai beberapa jam lagi.

Ia tahu bahwa hari esok tidak akan berjalan dengan mudah, akan ada peluh yang bercucuran dan mungkin luka baru di tangannya akibat pekerjaan kasar yang menanti. Namun bagi Bayu, semua itu adalah harga yang sangat murah untuk dibayar demi melihat senyum anak-anak panti dan sorot mata Nayla yang kembali bercahaya.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!