(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen di Gudang Rahasia
Malam turun menyelimuti Kota Jinling. Di dalam Kediaman Bintang Darah, sebagian besar penghuni sedang merayakan kesembuhan Putra Suci Xue Mochen. Musik, tawa, dan aroma anggur mahal memenuhi udara.
Namun, di sayap utara kediaman yang sunyi dan dijaga ketat, Han Luo sedang bekerja.
Berbekal Medali Tamu Kehormatan Emas yang menggantung di pinggangnya, tidak ada satu pun penjaga yang berani menghentikan langkah "Tabib Qiu" yang berjalan membungkuk menuju Perpustakaan Kuno.
"Silakan masuk, Tabib Qiu," dua penjaga gerbang perpustakaan menunduk hormat, membukakan pintu kayu eboni yang tebal.
"Terima kasih, anak muda," suara Han Luo bergetar layaknya kakek tua yang ramah. "Aku mungkin akan berada di sini sampai pagi. Jangan ganggu aku."
Pintu ditutup dari luar. Suara klik tanda kunci formasi diaktifkan terdengar pelan.
Begitu dia sendirian di dalam perpustakaan yang diterangi oleh batu-batu pendar, postur bungkuk Han Luo seketika menghilang. Dia menegakkan tubuhnya, merenggangkan lehernya hingga berbunyi krek, dan matanya yang abu-abu mati kembali memancarkan kilatan tajam.
"Mari kita lihat rahasia apa yang disembunyikan Sekte Iblis di kota ini."
Perpustakaan itu luas, terdiri dari tiga lantai rak melingkar yang penuh sesak dengan gulungan bambu, buku kulit binatang, dan slip giok. Bagi orang biasa, butuh puluhan tahun untuk membaca semuanya. Bagi kultivator jenius, butuh berbulan-bulan.
Bagi Han Luo, dengan perpaduan jiwa Transmigrator dan Sutra Seribu Wajah yang telah diintegrasikan, ini hanyalah soal mengunduh data.
"Ulat."
Han Luo memanggil Raja Ulat Sutra Penenun Hampa yang selama ini bersembunyi di pori-pori kulitnya. Ulat transparan itu merayap keluar, melebarkan sayap kecilnya.
"Gunakan jaringan benang spiritualmu. Hubungkan semua slip giok di lantai satu ke otakku."
Ulat itu mendecit pelan. Ribuan benang sutra yang tak kasat mata melesat dari tubuhnya, menempel pada ratusan slip giok di rak-rak.
Han Luo memejamkan mata. Kepalanya berdenyut saat banjir informasi menghantam otaknya.
Teknik Manipulasi Darah Dasar... Sejarah Ekspansi Sekte Iblis... Peta Jalur Penyelundupan Sekte di Benua Tengah... Daftar Informan Sekte di Kerajaan...
Dalam waktu kurang dari dua jam, Han Luo telah "menyedot" seluruh isi perpustakaan tanpa perlu membalik satu halaman pun. Pengetahuannya tentang struktur, kelemahan, dan aset Sekte Iblis Langit kini melampaui sebagian besar Tetua mereka sendiri.
"Pantas saja Su Qingxue sangat ingin menguasai sekte ini," Han Luo membuka matanya, memijat pelipisnya. "Jaringan intelijen mereka mengakar hingga ke istana kekaisaran. Tapi ada satu hal yang menarik..."
Dari semua data yang dia serap, Han Luo menemukan sebuah catatan rahasia yang disembunyikan di bawah perlindungan ganda.
Catatan itu membahas tentang Teratai Es Tulang Iblis—bunga legendaris yang dia jadikan salah satu syarat bayaran pada Su Qingxue.
"Teratai itu tidak hanya menyembuhkan luka fisik, tapi juga bisa memurnikan garis keturunan iblis agar bisa berbaur sempurna dengan energi suci," gumam Han Luo. "Jika Su Qingxue mendapatkan itu, dia tidak hanya akan menjadi Ketua Sekte Iblis, dia bisa menyusup ke Sekte Langit Suci tanpa pernah bisa dideteksi oleh artefak apa pun."
Han Luo tersenyum licik. "Gadis itu tidak pernah memberitahuku detail ini. Dia ingin memakan dua dunia sekaligus."
Pengetahuan adalah senjata, dan sekarang Han Luo memegang pisau ke ambisi Su Qingxue.
Tujuan pertama selesai. Sekarang, tujuan kedua: Gudang Tanaman Obat.
Meskipun dia telah mengembalikan umurnya dengan Teratai Penambah Umur, teknik-tekniknya seperti Tarian Naga Merah dan Satu Pedang Pemutus Takdir membutuhkan cadangan Qi dan vitalitas yang masif. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk merampok gudang herbal gratis.
Han Luo keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju bangunan di sebelah barat kediaman.
"Tabib Qiu," sapa penjaga gudang herbal. "Tuan Muda Xue telah memberi instruksi. Anda bebas mengambil ramuan apa pun untuk penelitian Anda."
"Kebaikan Tuan Muda tiada taranya," Han Luo terbatuk pelan. "Aku hanya akan mengambil beberapa akar tua."
Han Luo masuk ke dalam gudang. Aroma ribuan tanaman obat langka langsung menyegarkan meridiannya.
Di sini, dia tidak menggunakan ulat. Dia menggunakan tangan kanannya.
Han Luo berjalan menyusuri rak-rak. Dia mengambil Ginseng Naga Berdarah, Jamur Awan Ungu, dan Buah Roh Sembilan Bintang. Dia tidak mengambil semuanya agar tidak mencurigakan, dia hanya mengambil 30% dari stok tanaman paling langka, dan menyelipkannya ke dalam Cincin Penyimpanannya.
"Ini cukup untuk membuat sepuluh Pil Pemulih Surga," pikir Han Luo puas. "Gudang ini benar-benar didanai dengan baik."
Sambil memilah-milah, Han Luo mendengar suara langkah kaki pelan mendekati pintu gudang dari luar. Langkah itu terlalu ringan untuk ukuran penjaga biasa.
Han Luo segera membungkukkan badannya lagi, memasang wajah kakek tua yang sedang asyik meneliti daun kering.
Pintu terbuka.
Bukan penjaga. Melainkan seorang pria paruh baya dengan jubah berwarna merah gelap. Wajahnya keras, dan matanya memancarkan kecurigaan.
tpi gw demen....