NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Unnamed Variable

Pagi datang dengan langit kelabu.

Benteng Blackwood terbangun seperti biasa—terlalu biasa untuk malam yang menyisakan keganjilan. Prajurit berganti jaga, pelayan berjalan cepat, laporan wilayah masuk rapi. Tidak ada tanda penyusupan.

Dan justru itu yang membuat Anthenia tidak tenang.

“Tidak ada jejak?” tanya Duke Kaelen untuk ketiga kalinya.

“Tidak, Yang Mulia,” jawab Komandan Rhea. “Menara pengawas melaporkan tidak ada pergerakan mencurigakan semalam. Bahkan anjing penjaga tidak bereaksi.”

Kaelen menatap putrinya tajam.

“Namun kau yakin seseorang masuk.”

Anthenia mengangguk pelan. “Aku tidak berhalusinasi.”

Ia meletakkan keping logam hitam di atas meja.

Tidak berukir. Tidak bersegel. Tidak dikenal.

Kaelen mengangkatnya, menimbang dengan telapak tangan. Alisnya berkerut.

“Logam ini… bukan buatan wilayah utara. Bukan selatan juga.”

“Dan bukan istana,” tambah Rhea.

Keheningan jatuh.

“Artinya,” Kaelen berkata pelan, “seseorang dengan sumber daya besar bergerak tanpa afiliasi.”

Jane menahan napas di dalam dada

Anthenia novel… tidak ada ini.

Di sisi lain benteng, William berdiri di halaman latihan.

Ia sedang mengamati prajurit Blackwood berlatih—gerakan mereka efisien, tidak berisik, dan tidak mencari pujian. Wilayah ini tidak dibentuk untuk parade.

Sir Aldren mendekat. “Yang Mulia.”

“Ada laporan?” tanya William tanpa menoleh.

“Ya. Blackwood menemukan indikasi penyusupan… tanpa jejak.”

William akhirnya berbalik.

“Tanpa jejak?” ulangnya.

“Tidak ada korban. Tidak ada kerusakan. Tidak ada barang hilang.”

William menyipitkan mata.

“Berarti itu bukan infiltrasi,” katanya.

“Itu observasi.”

Aldren terdiam.

“Dan siapa pun dia,” lanjut William, “cukup percaya diri untuk masuk wilayah Blackwood… dan pergi tanpa terdeteksi.”

William menoleh ke arah menara batu.

Atau cukup yakin bahwa ia ingin dilihat oleh satu orang saja.

Siang hari, Anthenia dan William bertemu kembali—kali ini di ruang strategi, tanpa Duke Kaelen.

“Bentengmu ditembus,” kata William langsung.

“Tidak,” jawab Anthenia datar. “Bentengku diuji.”

William menatapnya beberapa detik.

“Kau tidak terkejut.”

“Aku sudah menduganya,” jawabnya.

“Sejak Sungai Grey.”

William mendekat ke meja peta. “Dan kau tidak melaporkannya ke istana.”

“Karena belum ada yang bisa dilaporkan.”

“Atau karena kau tidak tahu harus melapor ke siapa,” ujar William tajam.

Anthenia mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertabrakan.

“Kau juga tahu,” katanya pelan, “bahwa tidak semua ancaman datang dengan bendera.”

William tersenyum tipis. “Dan tidak semua sekutu datang dengan izin.”

Keheningan kembali turun—kali ini penuh makna.

“Aku akan mempercepat kepulanganku ke Araluen,” kata William akhirnya.

“Namun sebelum itu—aku ingin satu hal.”

“Apa?”

“Jika orang itu muncul lagi,” kata William serius,

“aku ingin kau memberitahuku.”

Jane merasakan detak jantungnya mengeras.

Dalam novel, William tidak pernah sedekat ini dengan rahasia utama.

“Aku akan mempertimbangkannya,” jawab Anthenia.

William tertawa kecil. “Jawaban diplomatis.”

“Aku belajar dari yang terbaik.”

William berhenti melangkah.

“Itu bukan pujian,” katanya pelan.

“Itu peringatan.”

Malamnya, Jane kembali sendirian.

Ia membuka kembali ingatan lamanya, memaksa potongan cerita muncul—namun yang datang justru satu kesadaran pahit.

Jika ada pemeran yang bahkan aku tidak ingat…

Jane mengepalkan keping logam hitam itu.

Maka dia bukan tokoh sampingan.

Di luar benteng, angin bergerak ke selatan.

Dan di suatu tempat—di antara wilayah yang tidak disebut dalam novel—

seorang pria tersenyum kecil.

“Dia mulai sadar,” gumamnya.

Papan sudah terpasang.

Dan permainan yang sebenarnya

akhirnya dimulai.

Keberangkatan Putra Mahkota berlangsung tanpa upacara.

Fajar baru menyentuh puncak menara ketika rombongan William meninggalkan Benteng Blackwood. Tidak ada jamuan perpisahan. Tidak ada kata-kata panjang. Hanya anggukan singkat antara dua orang yang tahu—mereka akan bertemu lagi, entah sebagai sekutu atau lawan.

William menaiki kudanya, lalu menoleh sekali lagi.

“Wilayahmu akan segera jadi pusat perhatian,” katanya.

Anthenia berdiri di tangga batu, mantel hitamnya tak bergerak oleh angin.

“Blackwood sudah terbiasa,” jawabnya.

William tersenyum tipis.

“Kali ini bukan karena perang.”

Lalu ia pergi.

Jejak roda kereta perlahan menghilang di jalan utara, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya.

Benteng kembali ke ritmenya, namun Jane merasakan sesuatu berubah.

Ia duduk di ruang kerja kecil, keping logam hitam tergeletak di telapak tangannya. Dingin. Tidak berkarat. Tidak bereaksi pada sihir wilayah—seolah menolak dikategorikan.

Dalam novel… benda ini tidak ada, pikirnya.

Ia menutup mata, menggali ingatan sedalam mungkin.

Tokoh utama.

Tokoh antagonis.

Tokoh sampingan.

Semua punya fungsi. Semua tercatat.

Kecuali…

Jane membuka mata.

“Kecuali jika dia bukan bagian dari cerita,” gumamnya.

“Melainkan… pembaca lain.”

Napasnya tertahan.

Jika aku bisa masuk ke dunia ini…

maka kemungkinan itu tidak nol.

Jane berdiri mendadak, langkahnya cepat menyusuri lorong menuju ruang strategi. Ia membentangkan peta besar kekaisaran.

“Ada wilayah yang jarang disentuh,” katanya pada diri sendiri.

“Wilayah abu-abu. Tidak penting bagi cerita… tapi penting bagi orang yang ingin bergerak bebas.”

Jarinya berhenti di satu area kecil—jalur dagang lama, nyaris terlupakan.

“Jika aku adalah dia,” bisiknya,

“aku akan bersembunyi di sini.”

Sore hari, Duke Kaelen memanggilnya.

“Kaisar mengirim surat,” katanya, menyerahkan gulungan bersegel emas.

Isinya singkat. Terlalu sopan.

Ucapan terima kasih atas sambutan.

Pengakuan atas kestabilan Blackwood.

Dan satu kalimat penutup yang membuat Jane menegang:

‘Kekaisaran berharap Blackwood tetap transparan dalam setiap perkembangan baru.’

Kaelen mendengus pelan. “Tekanan halus.”

Anthenia menggulung kembali surat itu.

“Dan pengakuan bahwa mereka tahu… ada sesuatu.”

Kaelen menatap putrinya lama. “Kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Anthenia tidak membantah.

“Bukan karena aku tidak percaya,” katanya.

“Tapi karena jika ini benar… maka pengetahuan adalah beban.”

Kaelen menghela napas berat.

“Kau bukan lagi gadis yang bisa kusembunyikan di balik dinding,” ujarnya lirih.

“Tidak,” jawab Anthenia pelan.

“Aku adalah dindingnya sekarang.”

Malam turun sekali lagi.

Jane berdiri di menara yang sama seperti malam sebelumnya.

Ia tidak berharap siapa pun datang.

Namun hatinya tahu—ini belum selesai.

“Jika kau ada,” katanya ke kegelapan,

“kau sudah terlalu jauh untuk mundur.”

Angin berdesir.

Tidak ada jawaban.

Namun di kejauhan, di luar jangkauan menara—

Seseorang menghentikan langkahnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dunia ini,

Jane merasa alur cerita tidak hanya berubah…

Ia sedang diperebutkan.

Malam itu, Anthenia tidak tidur.

Bukan karena gelisah—melainkan karena menunggu.

Ia duduk di ruang arsip lama Benteng Blackwood, tempat yang jarang dimasuki siapa pun selain penjaga senior. Obor hanya satu. Bayangan menari di dinding batu yang dipenuhi catatan wilayah puluhan tahun.

Jane membuka buku-buku tua.

Bukan kronik perang.

Bukan silsilah bangsawan.

Melainkan laporan hilang.

“Tidak tercatat… tidak ditindaklanjuti… tidak dianggap penting,” gumamnya sambil membalik halaman.

Desa kecil yang tiba-tiba kosong.

Jalur dagang yang berhenti tanpa sebab.

Utusan yang “tidak pernah sampai”.

Semua tersebar. Tidak membentuk pola besar.

Kecuali jika kau tahu apa yang kau cari.

Jane berhenti di satu catatan pendek.

“Tiga tahun lalu—seorang pria tanpa afiliasi terlihat di perbatasan Grey-Selatan. Tidak mengganggu. Tidak meminta apa pun. Menghilang.”

Jane menutup buku perlahan.

Tiga tahun.

Itu sebelum aku masuk ke dunia ini.

Dadanya terasa dingin.

“Jadi kau sudah ada bahkan sebelum aku,” bisiknya.

Obor berkeretak pelan.

Dan di saat itu—

Sesuatu berubah.

Jane tidak mendengar langkah.

Tidak mendengar napas.

Namun instingnya—insting yang dulu menyelamatkannya berkali-kali di dunia lama—berteriak.

“Aku tahu kau di sini,” ucapnya tanpa menoleh.

Keheningan.

Lalu suara yang sama seperti malam itu—tenang, rendah.

“Dan aku tahu kau akan mencariku di sini.”

Jane berdiri perlahan, berbalik.

Pria bermantel abu gelap itu berdiri di antara rak buku, seolah muncul dari bayangan batu. Wajahnya tetap tanpa ekspresi—namun matanya kini menilai, bukan sekadar mengamati.

“Kau bukan bagian dari cerita,” kata Jane datar.

“Kau datang sebelum aku. Tapi kau tahu tentang aku.”

Pria itu mengangguk tipis.

“Kau cepat,” katanya. “Lebih cepat dari dugaanku.”

“Siapa kau?” tanya Jane lagi. “Dan jangan beri jawaban kabur.”

Ia tersenyum kecil—pertama kalinya ekspresi itu tampak nyata.

“Nama?” tanyanya balik. “Nama tidak penting.”

Jane melangkah satu langkah maju.

“Bagi seseorang yang bersembunyi di celah alur,” katanya dingin,

“nama adalah satu-satunya jangkar.”

Pria itu terdiam sejenak.

Lalu akhirnya berkata, “Panggil aku Ash.”

Nama itu tidak pernah muncul di novel.

Jane mengingatnya seketika.

“Kau tahu tentang William. Tentang Valerius. Tentang alur,” lanjut Jane.

“Kau bukan orang dunia ini sepenuhnya.”

Ash menatapnya lama.

“Kita sama,” katanya akhirnya.

“Hanya… aku masuk lebih dulu.”

Napas Jane tertahan.

“Dan kau melakukan apa selama ini?” tanyanya.

“Menunggu,” jawab Ash jujur.

“Melihat apakah cerita ini akan tetap berjalan… atau pecah.”

Jane mengepalkan tangan.

“Dan sekarang?”

Ash melirik jendela sempit, ke arah selatan—ke Araluen.

“Sekarang Putra Mahkota bergerak. Valerius panik. Dan kau…”

ia kembali menatap Jane,

“…menolak jadi karakter pendukung.”

Keheningan menekan.

“Apa yang kau inginkan?” tanya Jane.

Ash melangkah mundur, kembali ke bayangan.

“Aliansi sementara,” katanya.

“Karena jika kita tidak mengendalikan perubahan alur—”

“—cerita ini akan menelan semua orang,” sambung Jane pelan.

Ash tersenyum samar.

“Persis.”

Bayangannya memudar, menyatu dengan kegelapan.

Namun kali ini, ia meninggalkan sesuatu di meja batu.

Bukan keping logam.

Melainkan sebuah simbol sederhana terukir di kayu—tanda jalur dagang lama yang Jane tandai sebelumnya.

Jane menatapnya lama.

Untuk pertama kalinya sejak membuka mata sebagai Anthenia Blackwood,

ia tidak lagi sendirian melawan cerita.

Dan itu…

entah membuatnya lebih aman—

atau justru lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!