"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecantikan palsumu
..."Di hadapan alam, kecantikanmu tak ada harganya; yang tersisa hanyalah kejujuranmu atau kedalaman sungai yang akan menghapus namamu selamanya."...
................
Syifa melangkah keluar dari hotel dengan kaki yang terasa berat, seolah bayangannya sendiri sedang berusaha menahannya di sana. Di sampingnya, Penyang berjalan dengan langkah mantap, Lawung Kuning di kepalanya masih memancarkan aura perlindungan yang samar di bawah temaram lampu jalanan. Malam itu terasa lebih pekat dari biasanya, udara terasa lembap dan berbau tanah basah.
Mereka menyusuri jalanan malam yang mulai sepi menuju tepian Sungai Kahayan. Jembatan Kahayan berdiri kokoh dengan lampu-lampu yang memantul di permukaan air yang hitam tenang. Penyang menuntunnya menuruni jalan setapak menuju sebuah dermaga kecil di bawah bayang-bayang jembatan yang raksasa. Sebuah sapan—perahu kayu panjang—sudah tertambat di sana, bergoyang pelan mengikuti arus.
"Kenapa pergi jauh? Kenapa tidak di bawah sini saja?" tanya Syifa, suaranya gemetar saat melihat pilar-pilar beton yang menjulang seperti raksasa pelindung.
Penyang menggelengkan kepala, matanya menatap tajam ke arah jembatan. "Jangan. Nanti hancur jembatan ini. Tak sanggup aku menggantinya. Jika kekuatan itu meledak di sini, beton ini akan retak seperti kaca."
Syifa terdiam, membiarkan Penyang membantunya naik ke atas perahu. Mesin motor kecil itu menderu pelan, membelah keheningan sungai. Penyang membawa perahu melaju jauh ke tengah, menjauhi daratan, menjauhi bangunan apa pun. Kini hanya ada air di kiri dan kanan mereka. Pinggiran sungai tampak menjauh, hanya menyisakan garis hitam hutan yang sunyi.
Penyang mematikan mesin. Perahu itu kini terombang-ambing pelan di tengah luasnya Kahayan yang mistis.
"Di sini kau tak perlu takut pada apa pun. Ceritakan semuanya," ucap Penyang tenang.
Syifa menatap ke dalam air yang gelap pekat di bawahnya. Ketakutan baru mendadak menghimpit dadanya, mengalahkan rasa takutnya pada sang Kambe untuk sesaat.
"Penyang... aku tidak bisa berenang."
Penyang tertegun, tangannya yang sedang memegang dayung membeku di udara. Ia menatap Syifa dengan tatapan tak percaya.
"Hah?"
Penyang tertegun, tangannya yang sedang memegang dayung membeku di udara. Ia menatap Syifa dengan tatapan tak percaya, seolah-olah pengakuan "tidak bisa berenang" itu jauh lebih tidak masuk akal daripada kehadiran Kambe yang sedang mereka hadapi.
Penyang mengembuskan napas panjang, lalu bergumam dalam bahasa Dayak dengan nada kesal yang kental:
"Haduuuh... amun tuh ih, uras kapehe! Ikau tuh kuman nasi ato kuman sapan? Masa anak ije kalunen dia tau manesu bereng huang danum. Malu ih dengat Tambun!"
Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menancapkan dayungnya ke dasar sungai yang mulai dangkal untuk menyeimbangkan perahu agar tidak oleng oleh gerakan panik Syifa.
"Tenanglah," ucap Penyang, suaranya kembali berat dan berwibawa. "Selama aku mengenakan Lawung Kuning ini, air Kahayan tidak akan berani menyentuh kulitmu tanpa izinku. Tapi sungguh, Syifa... kau membawa beban seberat gunung dalam botol itu, tapi untuk menjaga nyawamu sendiri dari air saja kau tidak sanggup?"
Syifa hanya bisa menunduk, mencengkeram pinggiran perahu kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. Di tengah kesunyian sungai yang mencekam, ia merasa sangat kecil. Di bawahnya ada kedalaman air yang siap menelan, dan di dalam dadanya ada iblis yang siap meledak.
"Sekarang," Penyang memperbaiki posisi duduknya, matanya menatap tajam menembus kegelapan malam. "Mumpung kita sudah di tengah, jauh dari beton yang bisa hancur. Mulailah bercerita. Bagaimana kau bisa terikat dengan Kukang itu? Jangan ada yang kau tutup-tutupi, atau air ini akan menjadi saksi bisu kehancuranmu."
Syifa menarik napas panjang, udara dingin sungai merasuk ke paru-parunya. Ia mulai membuka mulut, dan saat kata pertama terucap, riak air di sekitar perahu mendadak berhenti bergerak, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas mendengarkan dosa yang akan terucap.
Angin malam di atas Sungai Kahayan mendadak berubah menjadi pusaran dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Suasana yang tadinya tenang kini mencekam; air sungai yang hitam pekat di sekeliling perahu mulai berbuih kecil, seolah-olah ribuan makhluk di bawah sana sedang berbisik menunggu Syifa binasa.
Syifa mencoba membuka suaranya, namun tenggorokannya terasa seolah dililit rantai besi yang membara. Bibirnya terkatup rapat, dipaksa bungkam oleh kekuatan gaib yang tak ingin rahasianya terbongkar. Kambe di dalam darahnya memberontak, mencakar dinding dadanya dari dalam.
Namun, saat perahu itu sampai di titik paling sunyi, rembulan muncul dari balik awan dengan cahaya perak yang menyakitkan mata. Cahaya itu jatuh tepat di atas permukaan air, menciptakan jalur mistis yang menghubungkan langit dan kedalaman sungai. Seketika, Syifa merasakan aliran kekuatan dingin merasuk ke nadinya—kekuatan murni dari alam yang ditarik oleh Lawung Kuning milik Penyang.
"Dulu... aku hanya pelayan restoran," bisik Syifa parau, suaranya pecah di tengah deru angin.
"Aku miskin, Penyang. Aku merasa hina. Di bar-bar maya dan tempat remang itu, aku dianggap sampah. Aku dijual... dipaksa menjadi wanita penghibur. Aku tak laku, aku diejek, aku diinjak-injak karena rupaku yang biasa saja."
Setiap kata yang keluar terasa seperti mencabut paku berkarat dari jantungnya. "Aku sakit hati! Aku benci dunia yang hanya memuja rupa! Maka aku mengambil jalan ini... aku meminta kecantikan yang bisa menaklukkan setiap pria, meski aku harus memelihara iblis di dalam ragaku!"
Bersamaan dengan pengakuan berdarah itu, kutukan itu menagih bayaran instannya. Syifa menjerit kesakitan, suaranya melengking tinggi lalu mendadak berubah menjadi parau dan berat. Di bawah cahaya bulan yang jujur, kulit tangannya yang porselen mendadak mengeriput, menyusut ke tulang seperti kulit kayu yang terbakar. Kuku-kukunya memanjang dan menghitam, dan punggungnya membungkuk dengan bunyi tulang yang berderak mengerikan.
"Jangan lihat! Penyang, jangan lihat aku!" jerit Syifa, suaranya kini benar-benar suara nenek tua yang penuh penderitaan.
Dengan gerakan panik, ia segera memutar tubuhnya, membelakangi Penyang. Ia meringkuk di ujung perahu yang oleng, menyembunyikan wajahnya yang kini telah menjadi rupa asli sang Kambe—buruk rupa, keriput, dengan mata yang merah meradang. Ia lebih memilih meloncat ke air yang tak bisa ia arungi daripada harus membiarkan Penyang melihat kehancurannya.
Penyang tetap kokoh memegang kemudi perahu, meski sapan itu bergoyang hebat karena transformasi Syifa. Di tangannya, botol yang terlilit tali hitam itu bergetar liar, mengeluarkan suara tawa nenek-nenek yang menyeringai puas mendengarkan kehinaan Syifa yang terbongkar.
"Duduklah, Syifa!" gertak Penyang, suaranya menggelegar mengalahkan suara angin. "Jangan sembunyikan buruk rupamu dari bulan! Alam tidak menghakimi lukamu, alam hanya menagih kejujuranmu. Jika kau terus bersembunyi, air ini akan menjadi kuburan bagi kecantikan palsumu!"
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Haduuuh... amun tuh ih, uras kapehe! Ikau tuh kuman nasi ato kuman sapan? Masa anak ije kalunen dia tau mangesu bereng huang danum. Malu ih dengat Tambun!"
Artinya:
"Haduuuh... kalau begini, repot semua! Kamu ini makan nasi atau makan perahu? Masa jadi manusia tidak tahu cara menyelamatkan diri di air. Malu-maluin kalau kedengaran Tambun—penjaga air!"
karena apa coba