"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Aroma Cemburu dan Kuman Saingan
Suasana kantor Weinstein Group biasanya berbau seperti sandalwood dan cairan pembersih premium. Namun siang itu, sebuah aroma baru merusak tatanan penciuman Calvin: aroma parfum maskulin yang terlalu ramah, terlalu hangat, dan menurut Calvin... terlalu murah.
Seorang pria jangkung dengan jaket denim yang terlihat "terlalu banyak debu jalanan" berdiri di meja asisten. Dia adalah Arga.
"Nirbi, hei! Gimana luka kamu? Masih sakit?" Arga bertanya dengan nada khawatir yang sangat nyata. Ia bahkan berani mengulurkan tangan untuk menyentuh dagu Nirbi, memeriksa plester di sana.
Nirbi mendongak, matanya berbinar. "Kak Arga! Ih, kok bisa ke sini? Aku udah mendingan kok, beneran. Makasih ya buat yang semalam, kalau nggak ada Kakak, aku mungkin udah jadi perkedel."
Arga tertawa, tangannya berpindah mengacak rambut Nirbi dengan gemas. "Kamu itu ya, masih aja bisa bercanda. Aku bawain bubur ayam langganan kita di deket kampus nih. Kamu kan nggak suka sarapan yang berat-berat kalau lagi shock."
"Wah! Bubur Ayam Mang Udin?! Kok Kakak tahu aku lagi pengen banget!" Nirbi hampir melompat kegirangan, melupakan statusnya sebagai asisten di kantor paling elit se-Jakarta.
Si Singa yang Terganggu
Di dalam ruangannya, Calvin sedang memperhatikan rekaman CCTV meja asistennya dengan tatapan yang bisa melubangi layar monitor. Tangannya mengepal erat, meremas pulpen Montblanc-nya sampai buku jarinya memutih.
Siapa pria itu? Kenapa dia menyentuh rambut Nirbita? Kenapa dia membawa kantong plastik yang baunya merembes sampai ke sini?
Tanpa aba-aba, Calvin membuka pintu ruangannya dengan kasar. Brak!
Nirbi dan Arga terlonjak.
"Nirbita. Ada laporan yang harus saya periksa," suara Calvin terdengar seperti es yang digerus. Matanya tertuju tajam pada kantong plastik di meja Nirbi. "Dan benda apa itu? Apakah saya pernah mengizinkan makanan beraroma tajam masuk ke area steril ini?"
Nirbi nyengir canggung. "Maaf Pak Bos, ini bubur ayam—"
"Bubur ayam? Di kantor saya? Kamu tahu berapa banyak partikel uap santan dan minyak yang bisa menempel di dokumen saya?" potong Calvin. Ia kemudian menatap Arga dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Dan siapa Anda? Kurir?"
Arga berdiri tegak, membalas tatapan Calvin dengan tenang. "Saya Arga, senior Nirbi di kampus. Dan saya bukan kurir. Saya orang yang menolongnya saat asisten Anda ini hampir dilecehkan semalam karena bekerja terlalu keras demi menanggung biaya hidupnya sendiri."
Suasana mendadak menjadi tegang. Calvin melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di hadapan Arga. Dua pria itu sama-sama tinggi, tapi Calvin memiliki aura otoritas yang menindas.
"Oh, jadi Anda 'pahlawan' itu?" Calvin mencibir. "Terima kasih atas bantuannya. Tapi sekarang Nirbita berada di bawah perlindungan saya. Jadi, Anda tidak perlu repot-repot membawakannya makanan sisa jalanan yang tidak higienis."
"Makanan sisa jalanan?" Arga tertawa kecil, meski matanya menyiratkan amarah. "Ini makanan kesukaan Nirbi. Setidaknya saya tahu apa yang dia suka, daripada seseorang yang hanya tahu cara membentak dan mengurungnya di ruangan AC yang dingin."
Nirbi mulai merasa suasana tidak enak. "Eh, Kak Arga, Pak Bos... udah, udah. Ini buburnya biar aku makan di pantri aja nanti—"
"Tidak," sela Calvin cepat. Ia menarik lengan Nirbi (dengan lembut namun posesif) untuk bersembunyi di belakang punggungnya. "Nirbita sedang sibuk. Dia tidak punya waktu untuk reuni kampus yang tidak produktif. Silakan keluar, Tuan Arga. Sebelum saya memanggil keamanan untuk mensterilkan keberadaan Anda dari gedung ini."
Arga menatap Nirbi. "Bi, kamu beneran nggak apa-apa di sini? Kalau dia jahat sama kamu, bilang aku. Aku jemput sekarang juga."
Nirbi menatap Calvin yang rahangnya sudah mengeras, lalu menatap Arga. "Aku nggak apa-apa, Kak Arga. Kak Calvin... eh, Pak Bos emang suka begini. Nanti aku telepon ya!"
Arga akhirnya pergi dengan wajah tidak puas. Begitu pintu lift tertutup, Calvin berbalik arah menuju Nirbi dengan aura yang lebih gelap.
Introgasi di Ruang Kerja
"Masuk ke ruangan saya. Sekarang," perintah Calvin.
Nirbi mengekor dengan kepala tertunduk. Begitu pintu tertutup, Calvin langsung menodongnya.
"Sejak kapan kamu sedekat itu dengan pria berantakan tadi? Dia menyentuh rambutmu, Nirbita! Kamu tahu berapa banyak kuman di tangannya yang baru saja memegang motor atau entah apa?"
Nirbi menghela napas, mulai berani membalas. "Kak Arga itu orang baik, Kak! Dia bantuin aku semalam! Lagian kenapa Kakak harus marah banget sih? Dia cuma nganter bubur!"
"Saya marah karena kamu tidak punya selera dalam memilih pertemanan!" Calvin berteriak, suaranya naik satu oktaf. "Dia tidak aman untukmu! Dan jangan panggil dia dengan embel-embel 'Kakak' di depan saya!"
"Kenapa? Cemburu ya?" celetuk Nirbi asal, sambil menyilangkan tangan di dada.
Calvin terdiam. Lidahnya mendadak kelu. Jantungnya berdetak liar seperti habis lari maraton. "C-cemburu? Jangan konyol. Saya hanya menjaga standar kebersihan dan keamanan di lingkungan saya."
"Masa?" Nirbi melangkah maju, mencoba menggoda Calvin. Ia mendongak, menatap mata elang Calvin yang biasanya dingin tapi kini terlihat gelisah. "Kalau nggak cemburu, kenapa mukanya merah gitu? Kayak habis makan bakso mercon."
Calvin mundur satu langkah, menghindari jarak yang terlalu dekat (atau mungkin menghindari hatinya yang makin berantakan). "Keluar. Buangkan bubur itu ke tempat sampah di luar gedung. Dan cuci tanganmu tiga kali dengan sabun antiseptik sebelum menyentuh komputer lagi."
Nirbi tertawa kecil, merasa menang. "Iya, Pak Bos Posesif! Tapi buburnya nggak bakal aku buang, sayang tau! Mau aku kasih ke Satpam aja!"
Nirbi berlari keluar ruangan sambil tertawa riang. Calvin jatuh terduduk di kursinya, menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ia mengambil hand sanitizer, menyemprot tangannya dengan kalap, tapi bayangan Arga menyentuh rambut Nirbi tidak mau hilang dari otaknya.
"Kuman... pria itu benar-benar kuman yang harus segera saya musnahkan dari hidup Nirbita," gumam Calvin penuh dendam.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka