Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.
Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Arsip Kelam Cakra Buana
Udara di ruangan tersembunyi itu terasa jauh lebih berat, seolah gravitasi bekerja dua kali lipat lebih kuat di Basement Level 4 ini. Elara Senja mengarahkan senter ponselnya ke sekeliling, menyorot rak-rak besi berkarat yang dipenuhi toples kaca berisi cairan keruh. Bau formalin yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah menusuk hidung, menciptakan sensasi mual yang tertahan di pangkal tenggorokan.
"Jangan sentuh apa pun, Neng Elara," peringat Pak Darto dengan suara parau, matanya bergerak gelisah mengawasi sudut-sudut ruangan yang gelap. Pria tua itu mencengkeram tongkat besinya erat-erat, seakan benda itu adalah satu-satunya jimat pelindung dari kegelapan yang mengintai. "Tempat ini tidak dibangun untuk manusia hidup, ini adalah gudang dosa masa lalu."
Elara mengabaikan peringatan itu dan melangkah mendekati sebuah meja mahoni besar yang terlihat tidak pada tempatnya di ruangan lembap tersebut. Di atas meja itu tergeletak sebuah buku besar bersampul kulit hitam yang tampak kusam namun utuh, seolah waktu enggan menyentuhnya. Debu tebal menyelimuti permukaannya, namun ada jejak jari baru yang menandakan seseorang baru saja berada di sini sebelum mereka.
"Bapak tahu ruangan ini ada, kan?" tanya Elara tanpa menoleh, jarinya gemetar saat menyentuh sampul buku tersebut. Kulit sampul itu terasa aneh, terlalu halus dan dingin, membangkitkan memori mengerikan tentang tekstur kulit manusia yang pernah ia pelajari di kelas anatomi. "Ini bukan sekadar gudang, Pak. Ini pusat dari semua kegilaan di RSU Cakra Buana."
Pak Darto tidak menjawab, hanya terdengar helaan napas berat yang menggema di kesunyian ruangan bawah tanah itu. Elara memberanikan diri membuka halaman pertama buku itu, dan matanya membelalak melihat tulisan tangan tegak bersambung yang rapi namun ditulis dengan tinta merah kecokelatan yang telah mengering. Tanggal yang tertera di sana merujuk pada tahun 1928, masa ketika kolonialisme masih mencengkeram erat kota Arcapura.
"Perjanjian Tanah - Eksperimen Vitalitas," gumam Elara membaca judul halaman itu, suaranya bergetar menahan kengerian yang merambat naik ke tulang punggungnya. Daftar nama pasien tertulis di bawahnya, diikuti dengan kolom 'Hasil' yang diisi dengan istilah-istilah medis asing dan simbol okultisme. "Mereka tidak menyembuhkan orang di sini, Pak. Mereka menumbalkan pasien demi... keabadian?"
Suara langkah kaki yang tenang dan berirama tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk, memecah ketegangan yang dibangun oleh kesunyian. Elara dan Pak Darto sontak memutar tubuh, menyorotkan cahaya ke arah sumber suara. Sosok tinggi tegap dengan jas putih bersih berdiri di sana, kontras dengan kekumuhan di sekitarnya.
"Keabadian adalah kata yang terlalu puitis, Elara. Saya lebih suka menyebutnya sebagai efisiensi biologis," ucap Dr. Arisandi dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Pria itu melangkah masuk dengan santai, seolah sedang berjalan di koridor bangsal VIP, bukan di ruang penyiksaan bawah tanah yang terlupakan. "Saya tidak menyangka rasa ingin tahumu akan membawamu sejauh ini, melampaui batas nalar dan keselamatan."
Elara mundur selangkah hingga punggungnya menabrak tepi meja mahoni, jantungnya berdegup kencang seirama dengan kedipan lampu bohlam tua di langit-langit yang tiba-tiba menyala redup. Kehadiran dokter itu membawa aura dingin yang berbeda, bukan dinginnya suhu ruangan, melainkan dinginnya kematian yang terorganisir. "Jadi benar dugaan saya, Dokter? Semua hantu, semua penampakan... itu adalah sisa-sisa energi dari mereka yang Anda korbankan?"
Dr. Arisandi tertawa pelan, suara tawanya memantul di dinding beton yang lembap, terdengar seperti gesekan pisau bedah di atas piring logam. Ia berjalan mendekati salah satu rak, membelai toples kaca dengan penuh kasih sayang seolah itu adalah piala kemenangan. "Cakra Buana berdiri di atas tanah yang lapar, Elara. Para pendiri rumah sakit ini membuat kesepakatan agar bangunan ini tetap berdiri kokoh dan sukses, dengan imbalan 'asupan' berkala."
Pak Darto maju selangkah, menodongkan tongkat besinya ke arah sang dokter meski tangannya gemetar hebat. Wajah penjaga tua itu pucat pasi, namun ada kilatan kemarahan di matanya yang keruh. "Cukup, Dokter! Saya sudah diam selama dua puluh tahun karena takut, tapi saya tidak akan membiarkan Neng Elara menjadi bagian dari koleksi gila ini!"
"Pak Darto, Pak Darto... loyalitasmu selalu salah tempat," desis Dr. Arisandi, matanya kini berkilat merah di bawah remang cahaya, bukan karena pantulan, melainkan sesuatu yang tidak manusiawi. "Kau pikir kenapa penyakit istrimu bisa sembuh total sepuluh tahun lalu tanpa biaya sepeser pun? Itu bukan keajaiban, itu adalah hasil dari 'donasi' pasien di kamar 404."
Pengakuan itu menghantam Pak Darto seperti pukulan fisik, membuatnya terhuyung ke belakang dengan ekspresi hancur. Elara merasakan kemarahan meledak di dadanya, mengalahkan rasa takut yang sejak tadi melumpuhkannya. Ia menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa, melainkan seseorang—atau sesuatu—yang telah terikat dengan entitas gelap penjaga tanah Arcapura.
"Anda monster," sembur Elara, tangannya diam-diam meraba ke belakang, mencari apa pun yang bisa dijadikan senjata di atas meja. Jemarinya menyentuh sebuah pemberat kertas dari kuningan yang berat dan dingin. "Ilmu pengetahuan seharusnya menyelamatkan nyawa, bukan menggadaikannya pada iblis!"
Dr. Arisandi menatap Elara dengan tatapan merendahkan, seolah sedang melihat spesimen lab yang memberontak. Bayangan di belakang dokter itu tampak menggeliat, memanjang dan melebar tidak wajar, membentuk siluet-siluet tangan yang ingin menggapai. "Sains dan mistis hanyalah dua sisi dari koin yang sama di dunia ini, Elara. Dan malam ini, siklus harus dipenuhi kembali."
Lampu di ruangan itu berkedip liar sebelum mati total, menyisakan kegelapan pekat yang mencekik. Dalam kegelapan itu, terdengar suara bisikan ribuan orang yang merintih kesakitan, suara yang berasal dari dinding, lantai, dan langit-langit. Elara menyalakan kembali senter ponselnya dengan panik, namun cahayanya kini tampak redup, seolah kegelapan di ruangan itu memakan foton cahaya.
"Lari, Neng!" teriak Pak Darto, suaranya terdengar dari arah kiri, diikuti bunyi hantaman keras dan suara benda jatuh. Elara mengarahkan senternya ke sana dan melihat Pak Darto sedang bergulat dengan bayangan hitam pekat yang memiliki wujud menyerupai manusia namun tanpa wajah.
Elara tahu ia tidak bisa melawan kekuatan ini dengan tangan kosong, ia harus menggunakan kecerdasannya untuk bertahan hidup. Matanya tertuju pada buku besar di meja; jika buku itu berisi ritual perjanjian, mungkin di sana juga tertulis cara membatalkannya. Dengan tangan gemetar, ia menyambar buku itu dan berlari menuju celah sempit di balik rak arsip yang ia lihat sebelumnya.
"Kau tidak bisa lari dari rumahmu sendiri, Elara!" suara Dr. Arisandi menggema dari segala arah, terdengar tenang namun mengancam. "Darahmu memiliki resonansi yang unik, sangat cocok untuk menutup kebocoran energi yang terjadi belakangan ini."
Elara tidak mempedulikan ancaman itu, kakinya terus melangkah cepat menyusuri lorong sempit di balik rak yang ternyata terhubung ke sebuah koridor drainase kuno. Bau busuk di sini jauh lebih menyengat, namun setidaknya tidak ada sosok dokter gila di hadapannya. Ia harus menemukan jalan keluar atau tempat yang cukup aman untuk membaca isi buku tersebut.
Di kejauhan, ia melihat secercah cahaya redup yang berasal dari ventilasi udara di atas. Harapan membuncah di dadanya, namun langkahnya terhenti ketika lantai di bawahnya bergetar hebat. Dari kegelapan di depannya, muncul sosok-sosok transparan dengan pakaian pasien zaman dulu, wajah mereka hancur dan menatap Elara dengan tatapan memohon sekaligus lapar.
Elara sadar, ia tidak hanya dikejar oleh Dr. Arisandi, tapi juga oleh para korban yang terjebak di antara dua dunia. Mereka tidak menginginkan kematiannya, mereka menginginkan pembebasan, dan entah bagaimana, mereka tahu bahwa kunci kebebasan itu ada di tangan Elara—atau mungkin, di dalam darahnya.